Kaivan pulang ke penginapan setelah membantu Bapak memindahkan kursi. Aku mengantarnya sampai pagar, lalu berdiri beberapa saat ketika dia belum segera melangkah menuju kendaraan. Lampu teras membuat wajahnya terlihat lebih letih daripada saat makan sore.
'Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya tadi,' ujarnya.
'Aku tahu itu menyakitkan.'
'Iya. Tapi lebih menyakitkan kalau kamu harus berpura-pura tidak pernah takut supaya aku bisa merasa baik.'
Aku menyentuh lengannya sebentar. Dia menutup tanganku dengan telapak tangannya, kemudian melepaskannya ketika aku mundur. Kami sepakat bertemu sesudah sarapan. Malam itu aku tidur di kamar sendiri, mendengar Bapak mematikan televisi sebelum berjalan menuju kamarnya.
Minggu pagi, aku dan Kaivan menemui Risa serta Bu Laila di gedung kegiatan rumah sakit. Bapak tidak ikut. Dia mengatakan ingin beristirahat dan menyiapkan makan siang, lalu meminta kami pulang sebelum terlalu sore bila tidak ada urusan lain.
Ruang kelas lama sudah berubah fungsi. Kami tidak memasukinya karena ada kegiatan lain, melainkan duduk di ruangan yang memang disediakan untuk pertemuan. Bu Laila menjelaskan perubahan letak pintu dan menunjukkan arah taman melalui jendela. Tidak ada lemari yang akan dibongkar hari itu.
'Buku yang ditemukan waktu itu sudah termasuk bahan yang kami periksa,' katanya. 'Untuk lembar perawatan yang kamu cari, kami tidak punya kewenangan menyimpannya di sini.'
Aku mengangguk. Aku sudah tahu arsip kegiatan dan catatan perawatan bukan hal yang sama. Tetap saja, ada bagian kecil diriku yang selalu berharap seseorang akan menaruh sebuah halaman lengkap di depan kami lalu mengatakan semua jawabannya ada di sana.
Risa membawa air dan duduk di seberang. Kaivan meletakkan salinan buku fisika di meja. Kami tidak meminta mereka membaca seluruh ingatan Bintang. Aku hanya ingin mendengar lagi urutan ketika aku masih menulis, mulai melupakan, lalu meminta Kaivan pergi.
'Apa aku selalu seperti orang yang tahu sesuatu?' tanyaku.
Risa menggeleng. 'Tidak. Kadang kamu cuma mengeluh pelajarannya susah. Kadang kamu menanyakan hal yang baru saja dijelaskan. Ada hari ketika kamu mau bertemu semua orang, lalu besoknya kamu tidak mau keluar.'
Bu Laila mengangguk, tetapi mengatakan tidak ingat tanggal setiap perubahan. Dia tidak ingin jawaban yang diberikan sekarang terdengar lebih pasti daripada yang sebenarnya dia saksikan. Aku menyukai kejujuran itu meskipun ia membuat pertanyaanku tidak mempunyai garis akhir yang tegas.
Kami melihat halaman tugas pada salinan. Koreksi jawaban fisika berada tidak jauh dari nama-nama dan tahun yang dulu membuatku ketakutan. Ada kegiatan belajar di antara coretan tentang masa depan. Gadis itu tidak selalu berdiri di tepi bencana. Kadang dia hanya ingin mendapat nilai yang baik.
Kaivan menunjuk satu jawaban yang salah dan tersenyum tipis. 'Ini memang sengaja kubuat salah.'
'Aku tahu,' jawabku.
Ketika dia menoleh, aku teringat ujung pensil yang hampir mengenai hidungnya karena kutarik terlalu cepat. Dia tertawa sambil mengeluh bahwa pasien rumah sakit ternyata bisa galak. Aku tidak melihat bayi atau rumah tangga yang retak dalam gambar itu. Aku melihat seorang anak laki-laki yang berusaha membuatku mau mengerjakan soal berikutnya.
Rasa sayang yang pernah tumbuh di tempat ini bukan kebohongan.
Aku menunduk dan menangis diam-diam. Selama ini aku terus mencoba menjelaskan mengapa gadis yang mengetahui luka masa depan masih mau dekat dengan Kaivan. Mungkin karena mengetahui seseorang pernah menyakitiku tidak menghapus kenyataan bahwa pada sore yang lain dia membuatku ingin hidup sampai besok.
'Aku pernah menulis janji di dalam bintang kertas,' kataku. 'Supaya kita bertemu lagi kalau gagal di kehidupan ini.'
Kaivan mengangguk. Benda itu masih disimpannya, tetapi hari ini dia tidak mengeluarkannya seperti bukti bahwa aku harus memenuhi sesuatu.
'Aku tidak menagih janji itu, Git.'
'Aku tahu. Aku sedang mencoba memahami diriku yang menulisnya.'
Aku memandang jendela. Ingatan lain datang lebih pelan daripada sebelumnya. Aku duduk di meja dengan buku terbuka, berusaha menulis nama lengkap Bintang. Tiba-tiba aku tidak yakin pada urutan hari yang ingin kucatat. Aku membalik halaman, membaca tulisanku sendiri, lalu menyalin lagi karena takut besok kalimatnya terasa asing.
Itulah sebabnya aku menulis begitu banyak.
Aku tidak mengetahui seluruh masa depan lalu menyusun petunjuk dengan pikiran yang selalu jernih. Ada saat aku berebut dengan ingatan yang menjauh. Ada saat nama Kaivan mendatangkan rasa hangat, lalu wajahnya membawa kembali tuduhan yang belum pernah diucapkan anak laki-laki di hadapanku.
'Aku sudah mulai lupa sebelum semua surat disembunyikan,' kataku.
Risa menatapku. 'Itu yang sering membuatmu menangis. Kamu pernah memintaku membaca ulang karena kamu takut salah membaca tulisan sendiri.'
Dia tidak mengatakan tulisan itu ramalan atau delusi. Dia menyebut apa yang pernah kulakukan. Dalam ruangan tersebut, aku akhirnya dapat memegang dua hal sekaligus: sakitku memang nyata, dan keputusan orang-orang menyembunyikan cerita sesudahnya tetap mempunyai akibat.
Tidak perlu menghapus salah satunya agar yang lain dapat diakui.
Risa memutar gelas di tangannya. Dia bertanya apakah aku marah karena dia tidak berhasil mengembalikan buku saat pertama kami bertemu lagi. Aku teringat wajahnya di meja resepsionis, ketakutan yang membuat kami saling memandang seperti orang asing dengan terlalu banyak rahasia.
'Aku pernah marah,' jawabku. 'Tapi sekarang bukunya sudah ada. Aku tidak ingin setiap kali kita bertemu, kamu harus mengulang permintaan maaf yang sama.'
Dia mengangguk, lalu menarik napas lebih panjang. Aku bertanya tentang jadwal kerjanya hari itu. Risa mengeluhkan harus kembali berdiri sampai malam, dan Bu Laila menyuruhnya makan sebelum berangkat. Perhatian sederhana tersebut membuat ruangan terasa berbeda. Orang-orang ini memiliki hari yang harus dilanjutkan sesudah aku pergi. Mereka bukan hanya penjaga bagian masa laluku yang hilang.
Aku membantu mengumpulkan gelas sebelum kami menutup pertemuan. Tanganku tidak gemetar saat meraihnya. Untuk sekali ini, aku meninggalkan tempat lama dengan sesuatu yang cukup, bukan kemarahan karena tidak mendapatkan semuanya.
Kami berhenti sebelum siang. Bu Laila harus kembali mengurus kegiatannya, sementara Risa mempunyai jadwal kerja. Aku mengucapkan terima kasih, bukan karena mendapatkan lembar baru, melainkan karena mereka tidak berusaha mengisi bagian yang tidak diingat.
Di halaman, Kaivan berdiri menghadap arah taman. Aku mengenali keheningan yang berbeda pada bahunya. Ini bukan hanya tempat kami pernah saling menunggu. Ini juga tempat terakhir beberapa percakapan dengan ayahnya berlangsung.
'Kamu ingin berjalan sebentar?' tanyaku.
Dia mengangguk. Kami memilih jalur luar yang terbuka bagi pengunjung, menjauh dari pintu perawatan. Setelah beberapa langkah, Kaivan berhenti dan mengatakan ayahnya pernah menjemputnya sambil membawa makanan yang sudah dingin karena menunggu terlalu lama.
'Aku kesal karena disuruh pulang,' katanya. 'Sekarang itu salah satu hal yang paling ingin kuulang.'
Aku tidak mengatakan bahwa mungkin dia akan mendapat kesempatan. Aku hanya menggenggam tangannya dan tetap berdiri di sana. Ada kehilangan yang belum bisa kami jelaskan melalui lingkaran mana pun, dan aku tidak ingin menjadikannya janji hanya karena aku mencintai lelaki yang sedang berduka di sampingku.