Kami duduk di bangku dekat jalur keluar setelah kaki mulai lelah. Kaivan melepaskan tanganku untuk mengambil air, lalu menatap botol yang belum dibukanya. Ada sesuatu yang berulang kali hampir diucapkan dan ditelannya kembali.
'Tanyakan saja,' kataku.
Dia menoleh. 'Aku takut pertanyaanku terdengar seperti tuduhan.'
'Kalau begitu katakan juga bagian itu.'
Kaivan mengusap tengkuk. 'Kalau kamu membawa ingatan tentang kami ke tahun itu, apa kamu sudah tahu ayahku akan meninggal?'
Aku menatap tanah di depan sepatu. Pertanyaan tersebut tidak datang sebagai suara keras atau tuntutan, tetapi tetap terasa berat. Aku mengingat nisan ayahnya, letaknya tidak jauh dari tempat Bintang dikebumikan dalam kehidupan awal. Aku tahu lelaki itu meninggal akibat kecelakaan kerja sebelum Kaivan lulus sekolah.
Aku tidak tahu tanggal dan rincian yang dapat kupakai untuk menunjuk satu pagi serta mengatakan jangan berangkat.
Kukatakan semua itu. Lalu kutambahkan hal yang lebih sulit: aku belum mengingat apakah saat berada di tubuh remaja aku pernah mencoba menyampaikan peringatan tentangnya. Aku tidak dapat mengaku sudah berusaha hanya untuk membuat Kaivan lebih mudah menatapku.
Dia mengangguk perlahan, tetapi matanya memerah.
'Sebagian diriku ingin bertanya kenapa kamu tidak menyelamatkannya,' katanya. 'Padahal aku baru mendengar tadi bagaimana kamu sendiri berusaha mengingat nama.'
Aku menarik napas yang terasa tidak sampai ke dasar dada. Rasanya begitu mudah mengubah seorang gadis sakit menjadi orang yang seharusnya mengetahui semua jalan keluar. Aku sudah berkali-kali melakukannya kepada diriku sendiri. Mendengar Kaivan mengakui dorongan yang sama membuatku sedih, tetapi juga membuat percakapan ini tidak lagi dipenuhi hal yang disembunyikan.
'Aku berharap aku bisa,' jawabku. 'Tapi aku tidak punya kehidupan yang membuktikan aku mampu mencegah semua kehilangan.'
'Aku tahu.'
Dia akhirnya membuka botol dan minum. Kami duduk lama, membiarkan orang-orang melewati bangku tanpa mengetahui apa yang sedang kami bicarakan. Aku ingin memeluknya, tetapi dia sedang menunduk dengan siku pada lutut. Aku tetap berada cukup dekat agar dia tahu aku tidak pergi.
'Ada hal yang juga kutakuti,' kataku setelah beberapa saat. 'Bahwa ayahmu mungkin menjadi pengganti seseorang. Bahwa setiap perubahan harus dibayar oleh orang lain.'
Kaivan mengangkat wajah. 'Ayah sudah meninggal dalam kehidupan yang pertama kamu ingat, kan? Sebelum kamu meminta kembali?'
Aku mengangguk.
'Berarti kita tidak bisa bilang kematiannya baru terjadi karena kamu membuat Bapakmu diperiksa di tahun ini.'
Aku memandangnya. Kalimat tersebut begitu sederhana, hampir kejam dalam kejernihannya. Selama ini aku membiarkan kejadian yang saling berdekatan dalam ketakutan terasa seperti pertukaran, meskipun urutannya sendiri tidak mendukung tuduhan itu.
'Tidak,' jawabku. 'Kita tidak bisa bilang begitu.'
Kaivan menatap pepohonan di seberang jalan. 'Aku tidak mau ayahku menjadi harga dalam cerita siapa pun. Dia punya hidup. Dia punya pekerjaan. Ada kecelakaan yang menewaskannya. Itu sudah cukup menyakitkan tanpa kita menambahkan bahwa dia harus pergi supaya orang lain boleh tinggal.'
Aku menangis pelan. Dia tidak sedang mengatakan mengetahui seluruh cara waktu bekerja. Dia sedang menolak sebuah kesimpulan yang tidak pernah mempunyai bukti, tetapi hampir kami perlakukan sebagai kewajiban untuk terus merasa bersalah.
Aku menggeser tangan mendekat. Kali ini Kaivan yang meraihnya.
'Aku ingin tahu lebih banyak tentang ayahmu,' kataku. 'Bukan hanya hari dia meninggal.'
Senyumnya muncul sedikit. Dia bercerita tentang lelaki yang gemar mencatat langit tetapi sering lupa membawa payung, tentang makanan dingin ketika menjemput, dan kebiasaan menyimpan baut kecil karena merasa suatu hari pasti diperlukan. Tidak semua cerita membuatku tertawa. Sebagian membuat Kaivan berhenti untuk mengusap mata.
Dia juga mengingat sebuah sandal yang talinya diperbaiki berulang kali. Ibunya menyuruh membeli yang baru, tetapi ayahnya bersikeras sandal itu masih nyaman. Kaivan pernah menyembunyikannya karena malu melihat ayahnya memakai sandal yang tampak selalu hampir rusak.
'Ayah mencarinya sampai ke belakang rumah,' katanya. 'Aku akhirnya mengaku. Dia tidak marah, cuma bilang lain kali tanyakan sebelum memutuskan barang orang harus dibuang.'
Aku memandang tangan Kaivan yang masih menggenggam tanganku. Ada banyak hal yang diwariskan seorang ayah tanpa pernah disimpan dalam kotak atau diberi tanggal. Sebuah cara memperbaiki benda. Sebuah teguran yang baru dipahami setelah dewasa. Aku ingin Kaivan mempunyai ruang untuk mengingat semua itu, bukan hanya memilih kalimat terakhir sebelum kecelakaan.
'Kamu boleh cerita lagi nanti,' kataku.
'Tentang sandal?'
'Tentang apa saja.'
Dia tersenyum lebih jelas. Sebelum kami bangkit, Kaivan memotret pepohonan dari bangku, lalu mengirimkannya kepada ibunya. Tidak ada benda rahasia di dalam gambar tersebut. Hanya tempat dia sempat duduk dan mengingat ayahnya pada siang itu.
Ketika kami kembali ke rumah Bapak, makan siang sudah menunggu. Bapak melihat wajah kami dan tidak langsung menanyakan hasil pertemuan. Dia mengambil piring tambahan, lalu mengeluhkan nasi yang hampir terlalu lembek karena perhatiannya teralihkan oleh telepon.
Kami makan dalam percakapan yang tidak selalu lancar. Kaivan sempat menceritakan kebiasaan ayahnya menyimpan benda kecil. Bapak tertawa karena memiliki kebiasaan serupa, kemudian menunjuk laci yang sudah lama ingin kubereskan. Untuk beberapa menit dua orang itu berbicara bukan sebagai lelaki yang pernah saling melarang dan ditolak.
Sesudah makan, Kaivan menelepon ibunya dari teras. Dia meminta Ibu Rieka menceritakan satu hal tentang ayahnya yang tidak berkaitan dengan kotak arsip ketika mereka bertemu nanti. Aku hanya mendengar bagian itu sebelum masuk membantu Bapak membawa piring.
'Bagaimana kamu sekarang?' tanya Bapak.
Aku menjawab bahwa ada yang terasa lebih jelas, tetapi tidak semuanya lebih mudah. Aku menceritakan pertanyaan Kaivan sebatas yang menjadi bagianku, terutama ketakutan tentang seseorang menjadi pengganti orang lain.
Bapak meletakkan lap. 'Bapak tidak ingin kesehatan Bapak kamu rasakan sebagai utang kematian siapa pun.'
'Aku juga tidak ingin begitu, Pak.'
'Kalau begitu, lain kali Bapak mengabarkan hasil pemeriksaan, dengarkan sebagai kabar tentang Bapak. Bukan putusan tentang nasib anakmu.'
Aku mengangguk sambil menahan tangis. Bapak mengusap punggungku sebentar, lalu kembali mengeringkan piring. Dia tidak menjanjikan akan hidup selamanya untuk membuktikan aku berhasil.
Menjelang sore, aku membuka catatan tentang suara yang pernah memintaku memilih satu orang. Kaivan duduk di seberang setelah selesai menelepon. Aku membacanya lagi, kali ini memperhatikan sesuatu yang tidak ada: nama pembicara, kalimat sebelum perintah tersebut, dan alasan kami menganggapnya sebagai aturan.
'Kita hanya punya potongan suara,' kataku.
'Iya.'
'Aku ingin mengingat siapa yang bicara sebelum mempercayai apa yang dikatakannya.'
Kaivan mengangguk. Di luar, Bapak sedang menyiram tanaman. Suara air terdengar tenang, tidak menawarkan keajaiban. Aku membiarkan suara itu masuk ke dalam ruangan, mengingatkan diriku bahwa orang yang masih hidup tidak sedang mengambil tempat orang yang sudah pergi.