Aku membaca catatan itu dua kali. Pada lembar lain ada kalimat tentang kesempatan ketiga dan harga yang lebih mahal. Aku pernah mendengarnya ketika menyentuh liontin, bersama gambar diriku menggendong Bintang di dekat jendela. Tetapi gambar tersebut tidak pernah memperlihatkan seseorang yang datang untuk menetapkan aturan.
'Waktu itu aku bilang ada seseorang yang bicara,' kataku.
Kaivan mengangguk. 'Aku menuliskan yang kamu ceritakan. Kita tidak tahu siapa.'
Aku meletakkan dua lembar berdampingan. Tidak ada rekaman suara untuk bagian ini. Berbeda dari ucapan di bukit atau percakapan dengan ayah Kaivan, semua yang kami pegang berasal dari kilasan dalam kepalaku. Selama ini ketakutan membuat perbedaannya terasa kurang penting.
Aku meminta jeda. Kaivan mengambil gelas-gelas ke dapur, sementara aku duduk memandang halaman. Matahari mulai turun. Bapak menyelesaikan pekerjaannya dan menggulung selang, lalu masuk untuk beristirahat. Tidak ada seorang pun yang menunggu aku mengeluarkan jawaban.
Dalam keheningan itu, aku kembali melihat jendela apartemen.
Bintang berada di lenganku. Televisi menampilkan langit dan pembicaraan tentang komet, tetapi perhatianku tidak sepenuhnya berada di sana. Aku menatap pantulan wajah sendiri pada kaca yang mulai gelap. Ada perempuan lelah dengan seorang bayi, dan ketakutan yang tidak berkurang meskipun bayi itu masih bergerak di pelukannya.
Aku sudah pernah kembali. Dalam ingatan tersebut, aku mengetahui itu.
'Kesempatan ketiga selalu meminta harga lebih mahal.'
Mulut dalam pantulan bergerak bersama kalimat tersebut.
Mulutku.
Aku menutup mata, lalu membukanya ketika Kaivan kembali. Dia berhenti dekat kursi, menanyakan apakah aku membutuhkan sesuatu. Aku mengangkat tangan agar dia duduk, kemudian mencoba menceritakan gambar tanpa mendahului bagian yang baru muncul.
'Yang mengatakan soal harga itu aku,' bisikku.
Di dalam ingatan, Kaivan mendekat dari belakang. Dia menanyakan dari mana aku mengetahui hal tersebut. Aku tidak menunjuk surat atau seseorang. Aku menggeleng, memeluk Bintang lebih erat, lalu mengatakan tidak tahu. Aku takut. Aku merasa kalau satu usaha belum berhasil, usaha berikutnya pasti menuntut sesuatu yang lebih besar.
Sesudahnya muncul potongan lain: gambar nisan, nama Bapak, dan diriku menanyakan bagaimana jika aku hanya boleh memilih satu orang untuk diselamatkan. Pertanyaan itu berputar begitu sering hingga dalam kilasan yang pecah aku hanya mendengar bagian akhirnya.
Pilih satu orang.
Tidak ada orang yang menjawab dengan aturan. Yang ada justru suaraku yang terus mengulang ketakutan sampai terdengar seperti kepastian.
Aku membungkuk dan menangis. Kaivan meletakkan gelas di meja, lalu duduk lebih dekat. Ketika aku meraih tangannya, dia membiarkanku menggenggam tanpa mencoba menyelesaikan kalimat yang tidak sanggup kukatakan.
'Aku membuat ancaman dari sesuatu yang tidak kuketahui,' kataku setelah lebih tenang.
'Kamu sedang sangat takut.'
'Tetapi aku hampir memperlakukan orang-orang seperti harga yang harus dibayar.'
Kaivan mengangguk pelan. Dia tidak menyangkal supaya aku cepat berhenti menangis. Justru karena ketakutan itu mempunyai akibat, aku perlu mengetahui dari mana ia berasal. Mendengar suaraku sendiri tidak membuat semua misteri selesai, tetapi meruntuhkan keyakinan bahwa kami pernah menerima perintah untuk mengorbankan seseorang.
Aku menambahkan asal kilasan pada catatan, tidak merobek lembar lama. Besok aku mungkin perlu membacanya lagi. Jika ada bagian ingatan yang berubah, aku ingin melihat perubahan itu, bukan diam-diam menutupi bagaimana aku pernah sampai pada kesimpulan yang menyakitkan.
Sesudah makan malam, kami menghubungi Hara pada waktu yang sudah dia setujui lewat pesan. Bapak ikut duduk karena aku ingin dia mendengar bagian tentang namanya. Aku menceritakan suara yang baru kukenali, lalu meminta mereka tidak mengubahnya menjadi janji bahwa tidak akan ada lagi kehilangan.
'Aku cuma tidak mau lagi percaya Bapak harus pergi supaya Bintang boleh hidup,' kataku.
Bapak mengangguk dengan mata basah. Hara mengusap wajah di layar, kemudian mengatakan dia lega mendengar kami berhenti mencari orang untuk dijadikan pembayaran.
Kami membicarakan urutan yang kini dapat dilihat. Ada kehidupan yang membawaku mengenal kehilangan Bintang pada usia empat bulan. Ada percobaan mengubah masa depan yang berakhir dengan kehilangan berbeda. Ada permintaan kembali lebih jauh, tubuh remaja yang sakit, tulisan yang dibuat sebelum ingatan memudar, dan tahun-tahun yang tetap kujalani sampai dewasa.
April 2017 membangunkanku dengan ingatan yang paling keras, tetapi bukan berarti hanya ingatan itu yang pernah kumiliki.
'Kita belum tahu kenapa bagian tertentu kembali lebih dahulu,' kata Hara.
'Iya. Tapi aku tidak perlu mengarang lompatan delapan tahun untuk menjelaskannya.'
Aku melihat Bapak, lalu Kaivan. Perawatan yang tercatat dapat menjelaskan sebagian kesulitan mengingat, bukan membuktikan perjalanan waktu. Surat dan rekaman membuktikan aku pernah mengatakan hal yang tidak semestinya kuketahui, bukan membuktikan seluruh tafsirku benar. Untuk saat ini, itulah batas yang sanggup kupegang.
Setelah panggilan selesai, Bapak mengingatkan waktu keberangkatan besok. Aku membereskan berkas, menyisakan dua kelompok cerita Bintang di tempat terpisah. Penjelasan dokter tentang SIDS pada rangkaian awal tetap ada. Perawatan ulang pada rangkaian lain masih perlu didengarkan sampai lengkap. Tidak satu pun boleh digantikan dengan dugaan bahwa suatu tanggal meminta nyawa.
Kaivan berpamitan setelah membantu mengangkat tas ke dekat pintu. Aku mengikutinya ke teras. Malam terasa lebih sejuk, dan untuk pertama kali selama perjalanan ini aku melihat langit tanpa berusaha mencari sesuatu yang bisa ditawar.
'Aku ingin melanjutkan yang kita mulai Jumat itu,' kataku.
Kaivan menatapku. 'Aku juga.'
'Bukan hanya makan sesekali sambil menunggu semua ketakutanku hilang. Aku ingin menjadi pacarmu, Kai. Pelan-pelan, tapi jelas.'
Dia mengembuskan napas yang terdengar seperti sudah ditahan lama. Aku tersenyum, meskipun mata masih panas. Keputusan ini tidak memberiku jawaban tentang kesehatan anak yang mungkin kami miliki suatu hari. Ia hanya menyebut lelaki yang ingin kukenal dan cara aku ingin berada di dekatnya sekarang.
'Aku seharusnya mengatakan sesuatu yang bagus,' katanya.
'Kamu boleh mulai dengan jawaban yang jelas.'
Kaivan tertawa, kemudian mengangguk. 'Iya. Aku mau menjadi pacarmu, Gita.'
Aku menahan senyum yang terasa semakin sulit disembunyikan. Kami lalu membicarakan hal yang tidak terlalu romantis: pekerjaan kami dan perlunya menjaga keputusan kantor tetap dapat dipertanggungjawabkan. Aku mengatakan masih akan membantah jika pendapatnya tidak masuk akal. Dia menjawab bahwa dia sudah mempunyai cukup pengalaman untuk mengetahui itu.
Percakapan tersebut membuatku lebih tenang daripada janji besar. Aku tidak sedang menyetujui untuk menjadi perempuan yang selalu mengalah agar lelaki di depannya tetap baik hati. Kaivan juga tidak sedang menerima peran seseorang yang harus menebak seluruh kebutuhanku. Kami memilih hubungan yang perlu terus dibicarakan, bahkan pada hari ketika pembicaraannya tidak menyenangkan.
Kaivan meraih tanganku. Aku mendekat, mengecup pipinya singkat, lalu tertawa kecil melihat wajahnya yang mendadak kaku karena terkejut. Tidak ada janji menyelamatkan semua orang. Tidak ada permintaan agar masa lalu lenyap.
Besok kami akan kembali ke kota dengan pertanyaan yang belum selesai. Malam ini, aku memilih tinggal dalam hidupku, bersama seseorang yang tidak memintaku mengulangnya agar pantas dicintai.