Aku menutup pintu setelah kendaraan Kaivan meninggalkan halaman. Bapak sudah berada di kamar. Aku membereskan gelas yang tertinggal di ruang tamu, lalu membawa tas ke dekat pintu agar besok pagi tidak perlu membangunkannya dengan suara mencari barang.
Sebelum tidur, pesan Kaivan masuk.
'Sudah sampai penginapan. Selamat malam, pacarku.'
Aku memandangi dua kata terakhir sampai tersenyum sendiri. Rasanya hampir memalukan, setelah semua hal yang pernah kami tanggung, ternyata aku masih bisa dibuat salah tingkah oleh pesan sesederhana itu. Aku membalas dengan ucapan selamat malam dan memintanya tidak terlambat besok.
Senin pagi, Bapak sudah menyiapkan sarapan ketika aku keluar kamar. Dia menunjukkan bungkusan makanan untuk perjalanan, kemudian menanyakan apakah hubunganku dengan Kaivan sekarang sudah mempunyai nama yang jelas.
Aku hampir menjatuhkan sendok.
'Kami berpacaran, Pak.'
Bapak mengangguk seolah baru mendengar bahwa kendaraan akan datang setengah jam lagi. Tidak ada pidato panjang. Dia hanya meminta aku tetap bicara kepadanya jika suatu hari merasa tidak bahagia.
Kalimat itu pernah kudengar sebelum pernikahanku. Aku masih mengingat bagaimana aku menjanjikan kejujuran, lalu menyembunyikan keadaan rumah tangga sampai Bapak menanyakannya dari ranjang rumah sakit. Pagi ini aku tidak ingin memberi jawaban secepat dulu hanya agar pembicaraan selesai.
'Aku akan berusaha jujur,' kataku. 'Tapi Bapak juga jangan langsung mengambil keputusan untukku kalau aku sedang bercerita.'
Bapak menatapku sebentar. 'Baik. Bapak dengarkan dulu.'
Aku mengangguk dan melanjutkan makan. Ada rasa lega yang tidak perlu dirayakan dengan pelukan setiap kali muncul. Kadang cukup dengan satu percakapan yang tidak berakhir menjadi larangan.
Bapak kemudian memeriksa bungkusan makanan sekali lagi. Dia menambahkan sendok meskipun aku sudah mengatakan kami akan berhenti di rumah makan. Aku membiarkannya melakukan itu. Tidak semua perhatian adalah usaha mengatur, sama seperti tidak setiap keberatanku berarti menolak dicintai.
'Jangan lupa kotaknya dikembalikan kalau pulang lagi,' katanya.
'Jadi aku harus datang karena kotak?'
'Kalau itu yang membuatmu ingat jalan pulang, boleh.'
Aku tertawa, lalu mengambil foto Bapak yang sedang menutup wadah. Dia protes karena rambutnya belum disisir, tetapi tidak menyuruhku menghapusnya. Foto itu kukirim kepada Aries bersama kabar bahwa kami akan berangkat. Aku ingin adikku menerima sesuatu selain jadwal pemeriksaan dan kekhawatiran tentang kesehatan Bapak.
Risa juga mengirim pesan menanyakan perjalanan kami. Aku membalas bahwa sebentar lagi berangkat dan berterima kasih atas waktunya kemarin. Sesudah itu kusimpan ponsel. Orang-orang yang membantu membuka masa laluku tetap dapat kuhubungi untuk hal sederhana, bukan hanya ketika aku menemukan pertanyaan berikutnya.
Kaivan tiba bersama pengemudi sesudah sarapan. Dia membantu membawa tas dan menerima bungkusan dari Bapak dengan kedua tangan. Sebelum berangkat, mereka berbicara sebentar mengenai jalan yang sedang diperbaiki. Aku memperhatikan dari dekat pintu, masih merasa asing melihat keduanya dapat berdiri bersama tanpa saling menjaga jarak terlalu jauh.
Perjalanan pulang terasa panjang. Jalan di beberapa bagian padat, dan kami berhenti untuk makan ketika pengemudi perlu beristirahat. Kaivan mengambilkan minum, tetapi keliru memilih yang terlalu manis. Aku menukarnya dengan air putih miliknya tanpa membuat kekeliruan tersebut berarti dia tidak mengenalku.
'Sepertinya aku gagal pada tugas pertama sebagai pacar,' katanya.
'Kalau ukuran kegagalannya minuman, kita tidak akan bertahan sampai kota.'
Dia tertawa. Aku menyukai suara itu, terutama karena hari ini ia tidak perlu menjadi penutup sebuah percakapan menyakitkan. Sesudah makan, kami berjalan sebentar di halaman rumah makan. Kaivan memegang tanganku ketika melewati kendaraan yang keluar, lalu melepaskannya saat kami kembali duduk di tempat teduh.
'Di kantor kita perlu bicara dengan Pak Sam,' kataku.
'Tentang hubungan kita?'
'Tentang pekerjaan yang selama ini kita periksa bersama. Aku tidak ingin orang harus menebak apakah sebuah keputusan dibuat karena kamu pacarku.'
Kaivan mengangguk. Dia mengatakan kami akan menanyakan pengaturan yang perlu dilakukan, bukan membuat aturan sendiri. Aku juga tidak ingin mengumumkan seluruh kehidupan pribadiku di ruang rapat. Namun, hubungan ini tidak boleh menjadi alasan untuk menyembunyikan hal yang memengaruhi cara kami bekerja.
Kami membicarakannya sampai pengemudi kembali. Tidak ada kesepakatan bahwa aku harus pindah atau meninggalkan pekerjaan. Hal semacam itu perlu dibahas berdasarkan keadaan sebenarnya, bukan sebagai bukti bahwa aku cukup serius mencintai Kaivan.
Sepanjang perjalanan berikutnya, aku sempat tertidur. Ketika bangun, kepalaku bersandar pada bahunya dan sebuah jaket menutupi pangkuanku. Kaivan juga terlelap dengan posisi yang tampak tidak nyaman. Aku membetulkan duduk perlahan agar lehernya tidak terlalu miring.
Dalam kehidupan awal, aku pernah berpikir kehangatan kecil seperti itu akan cukup melindungi kami dari semua hal buruk. Sekarang aku tahu ia tidak cukup sendirian. Kami tetap perlu berbicara, meminta bantuan, dan mengakui ketika mulai memperlakukan satu sama lain dengan tidak baik.
Tetapi mengetahui batas kehangatan tidak membuatku harus menolaknya.
Aku membiarkan tanganku berada di dekat tangannya sampai kendaraan kembali memasuki kota. Lampu-lampu mulai menyala ketika kami tiba di depan kos. Kaivan menurunkan tasku, memeriksa apakah semua bungkusan sudah terbawa, lalu berpamitan pulang agar pengemudi tidak menunggu terlalu lama.
'Malam ini jangan buka berkas dulu,' katanya, kemudian mengangkat tangan sebelum aku menjawab. 'Saran. Bukan perintah.'
Aku tertawa kecil. 'Aku memang mau mandi dan tidur.'
Di kamar, aku mengabari Bapak bahwa kami sudah tiba. Hara menelepon beberapa saat kemudian. Dia menanyakan perjalanan, lalu langsung menertawakanku ketika aku mengaku masih tersenyum setiap membaca pesan Kaivan.
'Bagus,' katanya. 'Sesekali ceritamu boleh tentang pacar, bukan cuma tentang lelaki dari tiga tahun yang berbeda.'
Aku tertawa lebih keras daripada yang kuperkirakan. Sesudahnya aku menceritakan kunjungan ke ruang kegiatan dan percakapan tentang ayah Kaivan. Hara mendengar bagian yang belum sempat kubagikan, lalu mengingatkan bahwa dia akan sibuk beberapa hari dan mungkin tidak langsung mengangkat telepon.
'Aku akan kirim pesan dulu,' jawabku.
Kami menutup percakapan tanpa menjadikan kesibukannya sebagai perpisahan. Aku membereskan pakaian kotor, memanaskan makanan titipan Bapak, lalu makan sambil duduk di lantai. Tubuhku lelah, tetapi tidak lagi terasa seperti baru pulang dari perlombaan mengalahkan masa lalu.
Menjelang tidur, Kaivan mengirim kabar bahwa ibunya ingin mengajaknya berziarah ke makam ayahnya akhir pekan nanti. Dia menanyakan apakah aku mau ikut, dan menambahkan bahwa aku boleh menolak karena tahu tempat itu juga membawa ingatan tentang Bintang.
Aku memandang pesan tersebut cukup lama. Di kota ini sudah ada nisan ayah Kaivan. Di dekatnya, tempat yang pernah kudatangi hampir setiap hari belum menjadi makam anakku.
Aku ingin belajar datang tanpa hanya mencari ruang kosong itu.
'Aku mau ikut,' balasku. 'Untuk ayahmu juga.'
Sesudah mengirim pesan, aku mematikan lampu. Kali ini rencana berikutnya bukan membuka pintu ke tahun lain. Ia hanya sebuah kunjungan pada akhir pekan, bersama orang-orang yang masih bisa kuajak berjalan pulang.