Selasa pagi aku tiba di kantor lebih dahulu daripada Kaivan. Ada beberapa berkas yang perlu kubaca setelah sehari tidak masuk. Aku menyalakan komputer, meminta kabar pekerjaan kepada rekan yang membantu kemarin, lalu mencatat hal yang belum selesai. Tidak ada waktu untuk terus memandangi pintu lift sambil menunggu pacarku datang.
Kaivan muncul ketika aku sedang berdiri di dekat printer. Dia mengucapkan selamat pagi seperti biasa, tetapi senyumnya membuatku harus kembali melihat kertas agar tidak ikut tersenyum terlalu lebar.
'Nanti setelah rapat pagi?' tanyanya.
Aku mengangguk. Kami sudah sepakat menemui Pak Sam, dan aku tidak ingin keberanian itu habis karena terlalu lama menunda.
Pak Sam menerima kami menjelang siang. Aku membiarkan Kaivan membuka percakapan, kemudian menjelaskan sendiri hal yang menjadi kekhawatiranku. Kami kini mempunyai hubungan pribadi, sementara beberapa pekerjaan menempatkan kami pada jalur pemeriksaan yang sama.
Pak Sam tidak tampak terkejut seperti yang kubayangkan. Dia menanyakan kapan hubungan tersebut dimulai, lalu meminta kami menunggu sampai dia mengecek pengaturan yang sesuai bersama pihak terkait. Untuk berkas yang sedang berjalan, dia akan memastikan ada penelaahan yang tidak hanya bergantung pada kami berdua.
'Kualitas pekerjaan kalian tetap harus bisa diperiksa orang lain,' katanya.
'Itu juga yang kami inginkan, Pak,' jawabku.
Tidak ada pembicaraan bahwa aku harus mengundurkan diri sebagai bentuk kepantasan. Namun, Pak Sam juga tidak mengatakan kami boleh mengurus semuanya seperti sebelumnya. Aku keluar dari ruangan dengan rasa lega yang disertai kesadaran bahwa hubungan ini mempunyai urusan praktis, bukan hanya percakapan manis setelah jam kerja.
Di lorong, Kaivan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku menjawab iya, lalu kembali ke meja. Ada laporan yang harus selesai sebelum sore, dan jatuh cinta tidak mengubah batas waktunya.
Setelah makan siang, Bu Ratih mengirim pembaruan tentang Pak Idrus. Tanggapan perusahaan sudah dibandingkan dengan laporan lengkap beserta lampiran. Beberapa pernyataan mereka tidak sesuai dengan dokumen yang tersimpan. Fasilitas baru tetap tidak dilanjutkan, sedangkan penanganan kewajiban lama dan aset diteruskan melalui tim yang ditunjuk.
Aku membacanya perlahan. Tidak ada kalimat yang menjanjikan seluruh dana akan kembali besok. Tidak ada putusan pidana atau akhir besar yang dapat kami rayakan. Namun, perusahaan tidak mendapatkan dana tambahan hanya dengan menekan orang yang menuliskan keberatan.
Namaku tetap berada pada laporan lengkap, bukan hanya potongan yang pernah mereka gunakan.
Adri datang untuk menanyakan satu lampiran. Kami mencocokkannya bersama, lalu dia menutup map dan mengatakan akhirnya kami bisa berhenti menjawab tuduhan yang sama lewat percakapan terpisah. Jalur penanganannya sudah jelas.
'Kamu kelihatan lega,' katanya.
'Aku lega. Tapi aku masih kesal kalau ingat mereka mengambil halaman terakhir saja.'
'Wajar. Yang penting halaman lainnya sekarang ikut dibaca.'
Aku mengangguk. Adri tidak menambahkan komentar tentang Kaivan. Aku menghargai bahwa dia dapat berada di depanku sebagai rekan kerja dan teman, tanpa harus selalu diberi tempat sebagai seseorang yang pernah mungkin menjadi pilihan lain.
Sebelum dia kembali ke mejanya, aku mengatakan ada hal pribadi yang ingin kusampaikan sebentar. Aku menyebut hubunganku dengan Kaivan, tanpa menjadikannya pengumuman yang perlu ditanggapi dengan kegembiraan berlebihan. Adri mendengar, lalu mengatakan terima kasih karena aku memberitahunya langsung.
'Aku berharap kamu bahagia,' katanya.
'Aku juga berharap begitu.'
Dia tersenyum dan menepuk map di tangannya. 'Kalau begitu, sekarang aku masih perlu mengejar tanda tangan ini sebelum orangnya rapat.'
Aku tertawa, lega karena percakapan dapat selesai dengan wajar. Aku tidak menanyakan apakah dia kecewa atau mencoba membuktikan bahwa persahabatan kami tetap sama dengan memaksanya terus duduk. Adri mempunyai pekerjaan dan hidup yang bergerak tanpa menunggu pilihanku. Ketika dia berjalan menjauh, aku kembali membaca laporan dengan rasa hormat yang lebih tenang terhadap hal itu.
Sore itu aku dan Kaivan berbeda pendapat mengenai susunan satu laporan lain. Dia ingin menambahkan penjelasan pada bagian depan, sedangkan aku merasa bagian tersebut justru akan mengaburkan pertanyaan utama. Kami membahasnya di meja dengan dokumen terbuka, bukan saling berkirim pesan pribadi.
Pada akhirnya, pemeriksa lain yang ditunjuk Pak Sam meminta bentuk yang lebih ringkas. Sebagian saranku dipakai, sebagian usul Kaivan masuk pada lampiran. Tidak ada yang menang seluruhnya.
Sesudah pekerjaan selesai, Kaivan menunggu dekat lift.
'Tadi kamu cukup galak,' katanya.
Aku langsung menoleh. Dia melihat wajahku dan mengangkat kedua tangan.
'Aku bercanda. Tapi ternyata bukan waktu yang tepat.'
'Aku tidak ingin keberatanku disebut galak hanya karena sekarang kita pacaran.'
Senyumnya hilang, digantikan anggukan. 'Kamu benar. Keberatanmu tadi jelas.'
Aku masih diam beberapa saat, lalu mengembuskan napas. Di dalam lift, dia tidak mencoba meraih tanganku untuk memaksa percakapan terasa selesai. Kami baru kembali berbicara ketika keluar gedung, setelah aku mengatakan ingin membeli makan sebelum pulang.
Kami memilih warung yang tidak ramai. Kaivan menanyakan apakah candaan tadi mengingatkanku pada sesuatu. Aku menjawab bahwa tidak semua rasa kesalku perlu dicari asalnya di kehidupan lain. Kadang aku memang tidak menyukai cara dia bicara hari ini.
Dia tertawa kecil, kemudian mengangguk. 'Baik. Aku terima itu.'
Makanan datang, dan kami melanjutkan percakapan tentang hal yang lebih ringan. Rasanya melegakan mengetahui sebuah koreksi tidak harus membuat seluruh hubungan terancam. Kami boleh masih belajar, selama belajar tidak dipakai sebagai alasan untuk terus mengulang hal yang sama tanpa memperhatikan akibatnya.
Rabu sepulang kerja, aku singgah ke tempat perbaikan perhiasan dengan liontin bintang di dalam kantong kain. Rantai lamanya yang putus tidak kupakai. Aku meminta pilihan rantai pengganti yang sederhana, lalu menjelaskan bahwa bagian liontin tidak perlu diubah.
Orang di balik meja memeriksa pengait dan menanyakan panjang yang kuinginkan. Tidak ada pertanyaan tentang tahun 2009, tidak ada keterkejutan karena benda tersebut menyimpan terlalu banyak cerita. Baginya, ini hanya pekerjaan yang dapat selesai sebelum akhir pekan.
Aku menyukai kesederhanaan itu.
Sesampai di kos, aku menyimpan tanda terima di laci. Kaivan menelepon ketika aku selesai makan. Aku menceritakan rantai pengganti, lalu kami membicarakan rencana berziarah bersama ibunya pada Sabtu. Dia tidak menganggap perbaikan liontin sebagai janji bahwa aku akan memakainya selamanya.
Sebelum tidur, kubuka kelompok catatan perawatan ulang Bintang. Kali ini aku tidak mencari tanggal kelahiran. Aku membaca urutan ketika bayi itu dibawa kembali, menunggu di rumah sakit, dan akhirnya pulang tanpa berada di lenganku.
Ada suara dokter yang selama ini berhenti tepat sebelum satu kata. Aku mengingat diriku menanyakan apakah keadaan itu berhubungan dengan hari kelahirannya. Dokter menjawab dengan penjelasan tentang sesuatu yang sedang mereka tangani pada tubuh kecil anakku saat itu.
Aku menuliskan pertanyaanku dahulu. Besok, kalau bagian berikutnya datang, aku ingin mendengarnya tanpa lebih dahulu memaksakan jawaban berupa tanggal.