Aku tidur setelah menyimpan buku. Tidak ada mimpi yang dapat kuingat ketika bangun Kamis pagi, hanya rasa kering pada tenggorokan dan bunyi kendaraan dari jalan. Aku mandi, sarapan, lalu berangkat bekerja dengan kalimat terakhir dokter masih terasa dekat tanpa dapat kudengar seluruhnya.
Sepanjang pagi aku mengerjakan laporan yang harus selesai sebelum makan siang. Sesekali pikiranku beralih kepada Bintang, tetapi aku dapat kembali membaca angka tanpa merasa mengkhianatinya. Aku tidak perlu terus menyebut namanya agar dia tetap menjadi anak yang kucintai.
Ingatan itu datang ketika aku sedang merapikan kertas sebelum istirahat.
Di hadapanku ada seorang dokter dengan wajah lelah. Kami tidak berada di ruang konsultasi persalinan. Ada kursi yang sudah berkali-kali dipindahkan mendekati pintu, tas yang terbuka, dan baju Kaivan yang berbeda dari saat kedatangan. Aku mengenali bahwa kami telah menunggu, tidur sedikit, lalu kembali menunggu.
'Infeksi berat,' kata dokter dalam ingatan.
Aku membeku dengan kertas masih di tangan.
Penjelasan berikutnya tidak utuh. Aku mendengar bahwa keadaan Bintang memburuk, bahwa tim sedang berusaha menanganinya, dan bahwa mereka perlu terus melihat respons tubuhnya. Aku menanyakan apakah ini karena dia lahir pada hari yang berbeda dari rencana.
Dokter mengulangi hal yang sedang mereka tangani. Dia tidak menjawab dengan angka pada kalender. Ada keadaan seorang bayi yang perlu dirawat saat itu, dan pertanyaanku tentang hari kelahiran tidak memberikan penjelasan bagi seluruh kejadian.
Aku meletakkan kertas. Rekan di sebelah menanyakan apakah aku sakit. Aku mengatakan perlu duduk di tempat lebih tenang dan memberi tahu pekerjaan mana yang sudah selesai. Sesudah mengambil air, aku menuju ruang kecil yang sedang tidak dipakai.
Kaivan sedang rapat. Aku mengirim pesan bahwa ada ingatan baru dan aku tidak membutuhkan dia meninggalkan rapat segera. Hara juga sudah mengatakan minggu ini sibuk. Aku tidak mengirim panggilan berulang. Aku duduk, memegang gelas, dan menulis kata yang baru kudengar pada bagian catatan perawatan ulang.
Infeksi berat.
Bukan istilah SIDS yang kuingat dari kehidupan awal ketika Bintang meninggal mendadak pada usia empat bulan. Aku membaca kedua bagian tanpa mencoret salah satunya. Selama ini aku berusaha membuat satu penjelasan menampung dua akhir yang rupanya tidak sama.
Teleponku bergetar setelah beberapa menit. Kaivan sudah keluar dari rapat dan menanyakan tempatku berada. Aku memberitahukannya, lalu meminta dia datang jika memang ada waktu. Ketika muncul di pintu, dia membawa makanan dari kantin, masih dalam bungkusan.
'Kamu belum makan,' katanya.
'Aku baru saja ingat sesuatu.'
'Aku dengar. Makanannya bisa menunggu sebentar.'
Dia duduk di kursi seberang. Aku menceritakan ruangan, baju yang sudah diganti, dan ucapan dokter. Tidak ada cara untuk memastikan seluruh penjelasan medis dari potongan ini. Namun, aku akhirnya mempunyai sesuatu yang pernah dikatakan dokter di dalam rangkaian tersebut, bukan diagnosis yang kubuat sendiri karena mengingat keluhan menyusu.
Kaivan memandang meja dengan mata memerah. Aku menunggu sampai dia mengangkat wajah lagi.
'Apa kamu ingat aku ada di sana?' tanyanya.
'Iya. Kamu duduk di sampingku ketika dokter menjelaskan.'
Gambar berikutnya datang bersama tangannya yang bergerak mencari tisu. Aku melihat Kaivan yang lain melakukan hal serupa, tetapi tisunya sudah basah sebelum diserahkan kepadaku. Dia juga menangis. Dia tidak punya jawaban ketika aku bertanya berapa lama lagi harus menunggu agar anak kami membaik.
Kami pernah duduk bersama dalam ketidaktahuan itu.
Aku juga mengingat Kaivan membawa baju ganti yang salah ukuran. Dia mengambilnya dari tumpukan yang belum sempat kupisahkan, lalu meminta maaf dengan wajah begitu sedih sampai aku justru menyuruhnya berhenti meminta maaf tentang baju. Aku mengatakan masih ada pakaian lain di dalam tas.
Dalam ingatan tersebut, Bintang bukan hanya keadaan yang dibicarakan dokter. Dia anak yang bajunya kami kenali, yang namanya kami panggil berkali-kali meskipun ruangan dipenuhi suara lain. Aku ingat menanyakan apakah boleh duduk lebih dekat dan menunggu sampai petugas selesai bekerja sebelum mendekat.
Aku ingin menyimpan bagian itu juga. Perawatan tidak hanya berisi kata-kata yang akhirnya gagal kami pahami. Ada orang yang bekerja, ada kami yang bertanya, dan ada menit-menit ketika aku hanya memandang anakku tanpa menghitung tanggal. Aku tidak tahu apa yang dia dengar dari semua suara di sekitarnya. Aku hanya ingat berusaha berbicara dengan suara yang sudah dikenalnya.
'Kamu bilang kita dengarkan dokter sampai selesai,' kataku. 'Aku terus menanyakan tanggal. Kamu bilang ada hal lain yang perlu kita dengar.'
Kaivan menutup mata sejenak. Aku menyadari betapa menyakitkannya mendengar dirinya pernah melakukan sesuatu yang baik dan tetap kehilangan anak. Selama ini kami sering mencari perbedaan perilaku dengan harapan perbedaan itu otomatis menjadi jaminan akhir yang lain.
Ternyata usaha tidak selalu mempunyai hasil yang dapat dipastikan.
Kami makan perlahan. Aku tidak sanggup menghabiskan semuanya, tetapi beberapa suap membuat tubuhku tidak lagi terasa kosong. Setelah lebih tenang, aku mengambil sisa waktu istirahat dan kembali menyelesaikan pekerjaan yang masih mampu kukerjakan. Kaivan kembali ke tugasnya setelah mengatakan akan menelepon malam nanti.
Di kamar, aku melanjutkan catatan sesudah makan. Kali ini ingatan tidak berhenti pada percakapan pertama. Aku melihat pintu yang dibuka, seorang petugas memanggil kami, dan wajah dokter ketika mengatakan Bintang tidak berhasil diselamatkan.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Tidak ada gambaran tubuh yang ingin kupaksa kembali. Yang muncul justru gerakan Kaivan meraih pundakku ketika aku tidak mampu berdiri, serta Ibu Rieka yang menahan tas agar isinya tidak jatuh saat tersenggol.
Di rangkaian ini, Kaivan memelukku dan mengatakan dia juga tidak tahu bagaimana pulang.
Aku menangis lama sebelum dapat meneleponnya. Ketika kami akhirnya berbicara, aku menjelaskan bahwa kelembutan lelaki dalam ingatan baru tidak menghapus tuduhan dan ketakutan yang kualami dalam kehidupan awal. Keduanya berasal dari cerita yang tidak lagi boleh kulebur agar seseorang terlihat seluruhnya baik atau seluruhnya buruk.
'Tapi aku juga tidak mau menghapus saat kamu pernah menemaniku berduka,' kataku.
Kaivan mengembuskan napas. 'Terima kasih sudah membedakannya.'
Kami tidak membicarakan cara menjamin bayi yang belum lahir akan selamat. Kami membicarakan bahwa, jika suatu hari memilih menjadi orang tua, kami perlu mengenali keadaan yang benar-benar terjadi, bertanya kepada tenaga yang merawat, dan tidak menjadikan sebuah tanggal sebagai pengganti perhatian.
Sesudah telepon selesai, aku menulis satu kalimat di bawah catatan dokter. Mengubah hari lahir bukan jawaban untuk setiap kehilangan. Kalimat itu tidak membuktikan semua tindakan kami dulu sudah tepat. Ia hanya menghentikanku menjadikan angka sebagai penjelasan yang tidak pernah diperiksa.
Aku menyimpan dua kelompok cerita Bintang. Di dekatnya ada rencana akhir pekan yang ditulis Kaivan melalui pesan. Hidupku tidak berhenti menjadi milikku hanya karena aku pernah kehilangan anak, dan mencintai hidup sekarang tidak membuatku berhenti menjadi ibu yang mengingatnya.