Jumat pagi, kabar dari Bapak masuk ketika aku baru selesai sarapan. Pemeriksaan yang dijadwalkan sudah dijalani, dan dia akan melanjutkan perawatan sesuai arahan dokter. Ada hal yang tetap perlu dipantau. Dia tidak mengatakan semuanya sudah berakhir, tetapi suaranya cukup ringan untuk mengeluhkan lamanya menunggu.
Aku mendengarkan sampai selesai, lalu menanyakan kapan pemeriksaan berikutnya. Tidak ada nama Bintang dalam percakapan itu. Aku berusaha menerima kabar kesehatan Bapak sebagai kabar tentang dirinya, seperti yang pernah dia minta.
'Kamu sendiri bagaimana?' tanyanya.
'Aku bekerja hari ini. Nanti sore mengambil kalung yang diperbaiki.'
'Bapak menanyakan kamu, bukan jadwalmu.'
Aku terdiam, lalu tertawa kecil karena tertangkap menghindar. Bapak tidak langsung mengulang pertanyaan. Dia menunggu dengan cara yang dahulu sulit dilakukannya.
'Aku sedang belajar bahagia lagi,' jawabku. 'Tapi ada ingatan yang masih membuatku takut.'
Dia menanyakan apakah aku ingin membicarakannya sekarang. Aku melihat jam dan mengatakan lebih baik malam nanti. Kami menentukan waktu, lalu menutup telepon. Untuk pertama kali, menunda percakapan tidak terasa sama dengan menguburnya. Ada janji yang jelas untuk kembali membahasnya.
Hari kerja berlangsung tanpa kejadian besar. Aku menyelesaikan dua laporan, makan siang bersama rekan-rekan, dan mengembalikan satu berkas yang datanya belum lengkap. Kaivan punya pertemuan sampai sore. Kami saling mengirim kabar singkat, tidak menganggap jumlah pesan sebagai ukuran kesungguhan.
Sesudah pulang, aku mengambil liontin dengan rantai barunya. Bentuk bintangnya tetap sama, termasuk bekas kecil pada permukaan. Rantai lama dikembalikan dalam kantong terpisah. Aku menyimpan keduanya, tidak meminta benda itu dibuat tampak seperti tidak pernah rusak.
Di kamar, aku meletakkan kantong pada meja dan menelepon Bapak sesuai janji. Dia sudah selesai makan. Aku mendengar televisi dikecilkan, lalu suaranya mengatakan siap mendengarkan.
'Di kehidupan yang pertama kuingat, Bapak beberapa kali menanyakan pernikahanku,' kataku. 'Bahkan ketika Bapak sedang sangat sakit.'
Aku berhenti untuk menarik napas. Kata-kata yang paling sulit bukan mengenai komet atau tahun yang berubah. Yang paling sulit adalah mengakui kebohongan biasa yang pernah kuucapkan agar orang yang mencintaiku tidak ikut khawatir.
'Aku bilang bahagia, padahal tidak. Aku bilang Kai sibuk dan akan datang, padahal aku sendiri tidak tahu apakah dia akan datang.'
Bapak diam. Aku dapat mendengar napasnya, teratur tetapi berat.
Lalu sebuah percakapan lama kembali dengan lebih jelas. Aku berada di lorong rumah sakit ketika Bapak masih dirawat, menelepon Kaivan dari jauh. Dia mengatakan ada urusan pekerjaan yang belum selesai. Aku meminta dia menyusul. Dia mengatakan akan mengusahakan, lalu percakapan berakhir tanpa kepastian.
Aku menunggu kalimat itu menjadi kedatangan.
Bapak kemudian meninggal. Orang-orang berkumpul, memberi bantuan, bertanya tentang suamiku. Hari pemakaman berlangsung, dan Kaivan tidak datang. Sampai malam ketika rumah kosong, tidak ada kabar darinya yang dapat menjawab pertanyaan para pelayat.
'Aku tidak tahu seluruh alasan dia tidak datang,' kataku. 'Aku tidak pernah mendapat percakapan sesudah malam itu karena aku terbangun kembali di tahun ini. Tapi aku tahu aku sendirian saat membutuhkan suamiku.'
'Kamu tidak harus menemukan alasan yang membenarkan kesepian itu,' kata Bapak.
Air mataku jatuh. Aku tidak sedang meminta Bapak menghukum Kaivan sekarang atas kehidupan yang tidak dia ingat. Aku hanya ingin berhenti mengubah ketidakhadirannya menjadi sesuatu yang tidak boleh kusebut menyakitkan sebelum seluruh alasan diketahui.
Kuceritakan bahwa duka Bintang pernah berubah menjadi tuduhan, bahwa ada saat aku takut menghadapi Kaivan, dan bahwa aku menyembunyikannya karena malu mengakui pernikahan yang begitu kuyakini ternyata membuatku menderita.
'Dulu aku begitu yakin ketika Bapak bertanya apakah aku sudah memilih orang yang tepat,' kataku. 'Aku merasa kalau mengaku tidak bahagia, berarti aku harus mengaku seluruh pilihanku salah.'
Bapak menghela napas. 'Kamu boleh pernah yakin dan kemudian menemukan keadaan yang tidak baik. Bapak tidak sedang menunggu untuk mengatakan sudah memperingatkanmu.'
Aku menunduk sampai ujung rambut menyentuh ponsel. Sebagian ketakutanku memang datang dari kemungkinan mendengar kalimat itu. Aku tidak ingin menjadi anak yang pulang hanya untuk membuktikan bahwa orang tuanya selalu lebih tahu. Tetapi menjauhi kemungkinan dipersalahkan ternyata pernah membuatku menanggung semuanya tanpa memberi siapa pun kesempatan mendengar.
'Kalau Bapak marah nanti, katakan marahnya tentang apa,' pintaku. 'Jangan langsung mengambil semuanya dari tanganku.'
'Bapak akan berusaha. Dan kamu boleh mengingatkan kalau Bapak mulai begitu lagi.'
Aku mengangguk. Kami tidak sedang menjadi ayah dan anak yang tiba-tiba tidak pernah salah. Kami sedang membuat satu percakapan yang dahulu tidak berhasil kami miliki.
'Aku tidak bahagia waktu itu, Pak,' kataku akhirnya.
Kalimat yang dahulu baru sanggup kuucapkan setelah Bapak berada di dalam tanah kini sampai kepada lelaki yang masih dapat menjawabku.
'Bapak dengar, Gita.'
Aku menangis tanpa mencoba segera menenangkan suaraku. Bapak tidak menyuruhku memutuskan hubungan malam itu juga. Dia bertanya apakah aku merasa aman bersama Kaivan yang sekarang, lalu mendengarkan perbedaannya: konseling, percakapan, cara menerima keberatan, dan hal-hal yang masih perlu terus kulihat melalui tindakan.
'Aku ingin mencoba, bukan karena harus menyelamatkan siapa pun,' jawabku.
'Kalau nanti tidak baik, kamu tetap boleh bercerita. Tidak perlu menunggu sampai bisa menjelaskan semuanya dengan sempurna.'
Kami mengakhiri telepon setelah aku lebih tenang. Tidak ada kepastian tentang masa depan yang diberikan Bapak. Tetapi aku sudah melakukan sesuatu yang dahulu gagal kulakukan saat masih mempunyai kesempatan: mengatakan keadaan sebenarnya kepada orang yang ingin mendengarnya.
Kaivan menelepon tidak lama kemudian. Aku menjawab dan mengatakan baru berbicara dengan Bapak tentang malam pemakaman dalam kehidupan awal. Dia mendengarkan, kemudian menanyakan apa yang paling kubutuhkan sekarang.
'Aku tidak meminta kamu menemukan alasan untuk lelaki yang tidak datang itu,' kataku. 'Aku butuh kamu tahu bahwa kabar yang tidak jelas membuatku takut menunggu sendirian lagi.'
'Kalau aku tidak bisa datang, aku harus mengatakannya dengan jelas.'
'Iya. Dan jangan membuat aku malu karena membutuhkan orang lain ketika kamu tidak bisa.'
Kaivan mengiyakan. Dia tidak berjanji akan selalu berada di setiap tempat. Kami membicarakan hal yang lebih mungkin dilakukan: memberi kepastian, tidak menghilang ketika percakapan sulit, serta mengakui bila sebuah janji harus diubah sebelum orang lain menunggu tanpa tahu apa-apa.
'Ada satu lagi,' kataku. 'Kalau aku bilang aku tidak bahagia, jangan langsung menganggap aku sedang mengancam pergi.'
Dia menarik napas. 'Aku akan mencoba mendengar apa yang perlu berubah.'
Aku memandang liontin di atas meja. Percakapan ini tidak menghapus malam pemakaman. Ia juga tidak membuktikan kami tidak akan pernah menyakiti satu sama lain. Tetapi malam ini aku tidak menutup ponsel untuk berpura-pura semuanya baik, dan lelaki di seberang tidak meninggalkan percakapan hanya karena mendengarnya terasa tidak nyaman.