Aku tidur sesudah mengirim kabar kepada Hara bahwa percakapan dengan Bapak sudah berlangsung. Aku tidak meminta dia langsung membalas. Ponsel kuletakkan jauh dari bantal, sementara liontin tetap berada dalam kantong kain di meja.
Sabtu pagi, aku mengenakan pakaian sederhana dan memasukkan kantong itu ke dalam tas. Aku belum memutuskan akan memakai kalungnya. Yang sudah kuputuskan hanya datang bersama Kaivan dan Ibu Rieka ke makam ayahnya.
Mereka menjemput setelah sarapan. Ibu Rieka duduk di depan dan menoleh untuk menanyakan apakah aku sudah makan. Aku mengiyakan, lalu menerima sebotol air yang diserahkannya. Kami berbicara tentang jalan yang padat dan tempat singgah setelah selesai, seperti keluarga-keluarga lain yang sedang melakukan kunjungan pada akhir pekan.
Namun, saat gerbang pemakaman terlihat, tubuhku menegang.
Aku mengenal tempat ini. Dalam kehidupan awal, kakiku berkali-kali melewati jalan di antara nisan untuk menuju Bintang. Aku mengenali belokan, bayangan pohon, serta letak makam ayah Kaivan yang hanya dipisahkan beberapa makam dari tempat anakku kelak dikebumikan.
Kaivan memperlambat langkah ketika melihatku berhenti setelah turun dari mobil.
'Kita tidak harus langsung masuk,' katanya.
'Aku mau masuk. Sebentar saja.'
Dia menunggu. Ibu Rieka berdiri beberapa langkah di depan, tidak memanggil agar kami cepat menyusul. Aku meminum sedikit air, lalu mengembalikan botol ke tas. Aku dapat merasakan tanah di bawah sepatu dan mendengar suara orang yang sedang membersihkan jalan.
Kami berjalan bersama.
Di depan nisan ayah Kaivan, Ibu Rieka menunduk lama. Kaivan membersihkan daun yang jatuh di tepi makam, lalu duduk di dekat ibunya. Aku mengambil tempat yang tidak menghalangi mereka, memberi ruang untuk doa dan kalimat-kalimat yang tidak perlu kudengar seluruhnya.
Ada nama yang sudah tertulis di batu. Ada kehilangan yang telah terjadi sebelum semua permintaan kembali yang mulai kuingat. Ayah Kaivan tidak sedang menunggu untuk dipilih agar orang lain boleh hidup. Dia pernah menjadi seseorang yang pulang membawa makanan dingin, menyimpan baut, dan menegur anaknya karena menyembunyikan sandal.
Aku menundukkan kepala dan ikut berdoa.
Sesudah beberapa saat, pandanganku bergerak ke arah yang tidak dapat kuhindari selamanya. Tempat yang kuingat sebagai makam Bintang belum mempunyai nisan dengan namanya. Keadaan sekitarnya juga tidak sepenuhnya sama. Ada rumput yang tumbuh lebih tinggi dan bagian jalan yang kelak kuingat lebih rata.
Aku menahan napas.
Ruang itu tidak menjanjikan apa-apa. Ia tidak membuktikan anakku pasti akan hidup, tetapi juga tidak memerintahkanku mempersiapkan sebuah makam sejak sekarang. Tahun ini belum mencapai hari-hari yang kutakuti.
Kaivan mengikuti arah pandangku, lalu menatapku kembali. Dia tidak menunjuk tempat tersebut di depan ibunya atau mengatakan semua akan baik-baik saja. Dia hanya mengulurkan tangan di samping tubuhnya, dan aku menyambutnya.
'Aku tahu letaknya dalam ingatanku,' bisikku.
'Aku di sini.'
Aku mengangguk. Aku tidak berjalan ke sana untuk menandai apa pun. Tidak ada bunga yang kuletakkan seolah tanah itu sudah menjadi milik anakku. Hari ini kami datang untuk ayah Kaivan. Aku membiarkan kunjungan tersebut mempunyai tujuan yang benar-benar ada di hadapan kami.
Ibu Rieka berdiri setelah selesai berdoa. Dia menyeka sudut mata, kemudian meminta Kaivan memotret makam untuk disimpan. Aku membantu memegang tasnya. Dalam gerakan kecil itu, aku merasa ikut hadir, bukan sekadar perempuan yang sedang menunggu giliran untuk tenggelam dalam ingatannya sendiri.
Kami meninggalkan area makam perlahan. Di dekat gerbang, aku menoleh sekali lagi. Tidak ada sesuatu yang berubah mendadak. Tidak ada batu baru, cahaya aneh, atau pesan yang muncul karena aku akhirnya memilih tempat untuk berpaling.
Hanya langit siang dan orang-orang yang masih berjalan.
Kami makan di rumah Ibu Rieka setelahnya. Dia bercerita tentang suaminya ketika masih muda, tentang kebiasaan yang dahulu membuatnya kesal dan kini sering membuatnya tersenyum sendiri. Kaivan menambahkan cerita sandal, lalu ibunya tertawa karena rupanya lelaki itu memang tahu siapa yang menyembunyikannya sejak awal.
'Ayahmu menunggu kamu mengaku,' katanya.
Kaivan menutup wajah dengan telapak tangan. Aku tertawa melihatnya, kemudian menyadari aku sedang tertawa sepulang dari pemakaman. Tidak ada sesuatu yang salah pada hal itu. Orang yang kami doakan mempunyai lebih banyak kenangan daripada cara dia meninggal.
Ketika membantu membawa piring, aku menanyakan bumbu untuk salah satu masakannya. Ibu Rieka mulai menyebut bahan dengan ukuran kira-kira, lalu tertawa ketika aku meminta jumlah yang lebih jelas. Dia mengambil kertas kecil dan menulis sebisanya, menambahkan bahwa aku boleh mengurangi bagian yang tidak kusukai.
Aku menerima kertas itu dengan perasaan hangat yang tidak rumit. Bukan surat dari kehidupan lain. Bukan peringatan yang harus dibaca sebelum memilih seseorang. Hanya resep yang ingin kucoba karena makan siang tadi terasa enak.
Kaivan mendekat dan mengatakan ibunya biasanya tetap menambahkan sesuatu yang tidak tertulis. Ibu Rieka membantah, lalu mengaku kadang memang begitu. Kami tertawa bersama. Aku menyimpan resep di saku tas yang berbeda dari catatan ingatan, ingin memberinya tempat sendiri dalam hal-hal biasa yang mulai terkumpul di hidupku sekarang.
Sore hari, Ibu Rieka beristirahat. Aku dan Kaivan duduk di teras sebelum dia mengantarku pulang. Aku mengeluarkan kantong kain dan memperlihatkan rantai baru pada liontin. Dia mengambilnya setelah aku menyerahkan, memeriksa pengait sebentar, lalu mengembalikannya ke telapak tanganku.
'Masih bintang yang sama,' katanya.
'Iya. Cuma sekarang bisa dipakai tanpa takut rantainya lepas.'
Aku memasangnya sendiri, lalu meminta Kaivan membantu ketika pengait sulit kuraih. Jemarinya menyentuh tengkukku sebentar. Aku menahan napas, bukan karena menunggu cahaya atau gambar dari kehidupan lain, melainkan karena lelaki yang kusukai berdiri begitu dekat.
Tidak ada kilasan yang datang.
Aku menyentuh liontin di dada dan tersenyum. Tidak munculnya ingatan tidak berarti benda itu kehilangan makna. Mungkin aku akhirnya sanggup memakainya pada satu sore tanpa menuntutnya membuka seluruh masa lalu.
'Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?' tanya Kaivan.
'Pulang, mencuci pakaian, lalu membeli bahan makanan untuk besok.'
Dia tertawa. 'Maksudku bukan cuma sore ini.'
Aku memandang halaman. 'Aku ingin melanjutkan hidup. Bekerja. Mengenal kamu. Menjenguk Bapak tanpa selalu menghitung berapa hari lagi dia akan pergi.'
'Dan pertanyaan yang belum selesai?'
'Tetap kita cari jawabannya kalau ada sesuatu yang bisa diperiksa. Tapi aku tidak ingin menunggu semua jawabannya sebelum hidup.'
Kaivan mengangguk. Kami belum membuat rencana pernikahan atau menentukan kapan harus mempunyai anak. Kami menyepakati sesuatu yang lebih dekat: minggu depan ada pekerjaan, ada waktu bertemu, ada kabar keluarga yang perlu dijaga, dan ada ruang untuk mengatakan bila salah seorang sedang tidak baik.
Ketika pulang, aku tidak meminta dia melewati rumah sakit atau kembali ke pemakaman. Aku meminta berhenti di toko bahan makanan. Kami berdebat sebentar mengenai jumlah telur, lalu tertawa karena keranjang ternyata sudah berisi lebih banyak barang daripada rencana.
Di dalam tas, buku ingatan tetap kubawa. Di dadaku, bintang itu bergerak kecil setiap kali aku berjalan. Keduanya boleh ikut dalam hidupku, tetapi tidak lagi menentukan setiap tempat yang harus kutuju.