Telur yang kami perdebatkan jumlahnya akhirnya tetap masuk ke keranjang. Aku membawanya sampai kamar dengan hati-hati, sementara Kaivan mengangkat kantong yang lebih berat. Dia berhenti di depan pintu, menyerahkan belanjaan, lalu mengingatkanku menyimpan sayur sebelum lupa karena mengantuk.
'Besok aku akan mencoba resep Ibu,' kataku.
'Aku boleh mencicipi?'
'Kalau kamu berani.'
Dia tertawa. Sesudah berpamitan, aku merapikan bahan makanan dan menyelipkan resep pada dinding dekat tempat memasak bersama. Kertas itu berada di antara daftar belanja dan jadwal penghuni kos membersihkan dapur. Untuk sekali ini, sebuah tulisan tangan dalam hidupku tidak perlu disimpan di dalam map khusus.
Minggu siang, aku memasak terlalu banyak. Kaivan datang membawa wadah karena aku sudah memperingatkan kemungkinan tersebut. Hara sempat mampir di sela kesibukannya dan menjadi orang pertama yang mengatakan masakanku kurang garam. Aku menoleh kepada Kaivan, yang sejak tadi hanya mengangguk setiap ditanya rasanya.
'Kamu takut jujur?'
'Aku sedang mencari cara menyampaikannya.'
'Pakai kata kurang garam,' kata Hara sambil meraih gelas.
Kami tertawa. Aku menambahkan sedikit bumbu, lalu menyadari betapa menyenangkannya mempunyai kekeliruan yang tidak terasa seperti awal dari sebuah bencana. Masakan bisa diperbaiki. Pacarku boleh tidak menyukai rasanya. Sahabatku boleh datang hanya untuk makan tanpa harus menyiapkan diri mendengar kabar dari kehidupan lain.
Hari-hari berikutnya terisi oleh pekerjaan yang tetap menuntut perhatian. Pengaturan yang dibicarakan bersama Pak Sam akhirnya diterapkan. Berkas yang menyangkut pekerjaanku mendapat penelaahan di luar Kaivan, dan kami tidak memakai hubungan pribadi untuk mempercepat keputusan. Ada yang terasa lebih lambat, tetapi aku lebih tenang ketika hasil kerjaku dapat berdiri tanpa bantuan namanya.
Perkara Pak Idrus juga tidak lagi harus mengisi setiap makan siang. Penanganannya tetap berjalan melalui tim yang ditunjuk. Sesekali ada dokumen yang perlu kami jelaskan, lalu pekerjaan dikembalikan kepada jalurnya. Aku tidak menunggu kabar bahwa seluruh kerugian sudah pulih untuk mengizinkan diriku mengerjakan hal lain.
Beberapa pekan berlalu dengan kebiasaan yang mulai dapat kami kenali. Kaivan mengabariku jika rapat membuatnya terlambat. Aku belajar tidak membalas setiap keterlambatan dengan diam sepanjang malam. Ketika kesal, aku mencoba mengatakan apa yang membuatku kesal sebelum mengumpulkan semua kejadian lain yang terdengar mirip.
Tidak setiap percakapan berhasil pada percobaan pertama.
Pada suatu sore, Kaivan membatalkan rencana makan setelah aku sudah bersiap keluar. Dia memang memberi kabar, tetapi terlalu dekat dengan waktu bertemu. Aku marah. Ketika dia mengatakan pekerjaannya mendadak, aku menjawab bahwa aku percaya pekerjaan itu ada, tetapi tetap kecewa karena sudah menunggu.
'Kamu mau aku datang setelah selesai?' tanyanya.
'Tidak malam ini. Aku akan makan dengan Hara. Kita bicara besok.'
Dia menyetujuinya. Besoknya kami benar-benar berbicara, bukan berpura-pura pembatalan itu hilang karena salah seorang membawakan makanan. Kaivan meminta maaf karena menunda memberi kabar saat mulai tahu rapatnya mungkin meluas. Aku mengakui telah menulis balasan yang lebih menyakitkan sebelum menghapusnya.
Kami tidak langsung menjadi pasangan yang selalu tepat. Namun, kekeliruan tidak lagi harus berakhir dengan seseorang menghilang sampai yang lain menyerah meminta penjelasan.
Aku tetap menjalani pertemuan konseling sesuai jadwal. Ada minggu ketika aku lebih banyak membahas pekerjaan daripada ingatan. Pada mulanya aku merasa telah datang dengan persoalan yang terlalu kecil. Lalu aku belajar bahwa hidup yang sedang kujalani juga berhak mendapatkan perhatian, bukan hanya kehilangan yang membawaku ke sana.
Kaivan meneruskan pertemuannya sendiri. Dia tidak menyerahkan ringkasan setiap sesi sebagai bukti bahwa dirinya sedang menjadi baik. Aku melihat perubahan melalui caranya menghadapi keberatan, menerima lelah, dan meminta waktu tanpa memakai keheningan untuk menghukum.
Ketika kantor menawarkan pelatihan beberapa hari di luar kota, aku sempat ingin menolak. Aku memikirkan Bapak, pekerjaan yang akan tertunda, dan bagaimana jika sesuatu terjadi saat aku jauh. Kaivan bertanya apakah aku sebenarnya ingin mengikuti pelatihan tersebut.
'Ingin,' jawabku.
'Kalau begitu kita bedakan yang perlu disiapkan dari yang kamu takutkan.'
Aku mengurus penyerahan pekerjaan, menghubungi Bapak, lalu berangkat. Bapak menyuruhku membawa sepatu yang nyaman karena masih ingat tumitku terluka pada awal bekerja. Aku tertawa mendengar perhatian itu, kemudian menutup koper tanpa menambahkan buku ingatan pada bagian paling atas.
Selama pelatihan, aku mengirim kabar ketika mempunyai waktu. Kaivan tidak menuntut bukti keberadaanku setiap jam. Aku menikmati percakapan dengan peserta lain, mencatat sesuatu yang ingin kuterapkan, dan pulang dengan kelelahan yang menyenangkan. Ada bagian diriku yang bertumbuh tanpa harus selalu berdiri di sebelahnya.
Bulan-bulan menuju akhir 2017 membawa perubahan yang lebih tenang. Bapak terus menjalani kontrol dan masih mengeluhkan mahasiswa yang mengirim pertanyaan pada waktu makan. Mama lebih sering menelepon tanpa menunggu kabar buruk. Aries mengirim foto-foto biasa, dan aku membalas dengan hal-hal yang tidak selalu mengenai kesehatan Bapak.
Suatu malam Bapak mengirim beberapa halaman naskah yang sedang dikerjakannya. Dia meminta pendapatku mengenai bagian pembuka, bukan menawarkan bukti baru tentang tahun-tahun yang mustahil. Aku membaca sampai selesai, lalu mengatakan ada kalimat yang terlalu panjang hingga aku lupa awalnya ketika mencapai akhir.
'Itu gaya penulisan Bapak,' bantahnya.
'Bapak minta pendapat atau pujian?'
Dia tertawa, kemudian meminta aku menandai bagian yang dimaksud. Percakapan kami berlangsung cukup lama sebelum aku menyadari kami sama sekali belum membahas kesehatan atau kehilangan. Aku merasa begitu lega sampai harus menahan air mata saat mengatakan akan membaca halaman berikutnya kalau sudah siap.
Bapak masih mempunyai sesuatu yang ingin ditulis. Aku ingin mengenal keinginan itu, bukan hanya memeriksa apakah dia meminum obat. Keesokan harinya aku membawa salinan naskah dalam tas kerja, di antara dokumen dan bekal makan, lalu membacanya lagi saat istirahat.
Risa dan Bu Laila sesekali bertukar kabar denganku. Tidak ada arsip baru yang ditemukan. Aku berhenti menanyakan pencarian yang sama setiap kali menghubungi mereka. Buku dan rekaman tetap disimpan, tetapi percakapan kami tidak harus selalu kembali pada lembar yang hilang.
Pada salah satu malam menjelang pergantian tahun, aku dan Kaivan makan di tempat yang pernah kami datangi ketika baru mencoba dekat. Kami membicarakan biaya sewa tempat tinggal, rencana pekerjaannya, serta keinginanku tetap mempunyai waktu untuk pulang menemui Bapak.
'Kamu sedang membicarakan hidup yang lebih panjang dari minggu depan,' katanya.
Aku mengangguk. Kesadaran itu membuatku sedikit takut, tetapi tidak sampai ingin menarik semua kata kembali.
'Aku ingin tahu seperti apa kalau kita benar-benar merencanakannya,' jawabku. 'Bukan karena aku pernah melihat satu versi masa depan. Justru karena aku ingin membangun yang belum kita jalani.'
Kaivan meletakkan sendok dan mendengarkan. Di antara kami tidak ada surat yang menyuruh memilih. Hanya dua orang yang sudah melewati beberapa bulan bersama, dengan cukup alasan untuk tahu bahwa percakapan berikutnya perlu dilakukan secara sungguh-sungguh.