Kaivan tidak menjawab pembicaraan malam itu dengan mengeluarkan cincin. Dia menanyakan apakah aku mau melanjutkannya setelah pergantian tahun, ketika kami mempunyai waktu untuk membahas hal-hal yang tidak selesai dalam satu makan malam.
Aku menyetujuinya.
Pada awal Januari 2018, kami duduk di meja kecil dengan dua minuman dan selembar kertas. Aku membawa catatan pengeluaran, sementara Kaivan membawa perhitungannya sendiri. Rasanya kurang romantis sampai dia mengatakan tulisanku lebih mudah dibaca daripada tulisannya, lalu meminta aku tidak memakai kesempatan tersebut untuk mengambil alih seluruh percakapan.
'Aku tidak akan,' kataku. 'Asal kamu juga tidak memutuskan dulu baru meminta pendapatku.'
Dia mengangguk dan membuka catatannya.
Kami membicarakan tempat tinggal, tabungan, tanggungan keluarga, dan bagaimana masing-masing tetap mempunyai uang yang dapat digunakan tanpa harus memohon untuk setiap kebutuhan kecil. Aku ingin terus bekerja. Kaivan tidak menawar keinginan itu dengan mengatakan penghasilannya sudah cukup.
'Kalau keadaan berubah suatu hari, kita bicarakan lagi,' katanya.
'Bukan otomatis aku yang berhenti.'
'Bukan otomatis kamu.'
Aku memandangnya sebelum melanjutkan. Dalam kehidupan awal, aku pernah melepaskan pekerjaan sambil berharap rumah tangga yang terluka dapat pulih hanya dengan kehadiran lebih lama di rumah. Sekarang aku ingin setiap keputusan mempunyai alasan yang benar-benar kami pahami, bukan menjadi hukuman karena kehilangan.
Kami juga membicarakan bantuan untuk keluarga. Aku ingin tetap bisa ikut menanggung kebutuhan Bapak ketika diperlukan, sementara Kaivan mempunyai tanggung jawab kepada ibunya. Keduanya tidak boleh muncul sebagai kejutan yang membuat salah seorang baru mengetahui setelah uang bersama terpakai.
'Kalau jumlahnya besar, kita bicarakan dulu,' katanya.
'Dan membicarakan bukan berarti orang yang keluarganya membutuhkan harus merasa sedang mengemis.'
Kaivan mengangguk. Dia mencoret satu kalimat pada catatannya, menggantinya dengan sesuatu yang lebih jelas. Aku menyadari kami tidak sedang menghitung siapa yang akan paling banyak memberikan. Kami sedang mencoba mengurangi hal-hal yang kelak mudah berubah menjadi tuduhan saat sama-sama lelah.
Sesudahnya aku menambahkan pengeluaran pribadiku yang biasanya terasa terlalu kecil untuk disebut. Kaivan melakukan hal yang sama. Ada rasa canggung ketika angka-angka itu terlihat, tetapi aku lebih menyukainya daripada kesopanan yang membuat kami baru berani bertanya setelah masalah muncul.
Pembicaraan paling sulit justru mengenai tempat tinggal. Kaivan menyebut kemungkinan tinggal bersama ibunya sementara waktu. Dia ingin tetap dekat, terutama setelah semakin sering membicarakan ayahnya. Aku dapat memahami keinginan itu, tetapi perutku langsung mengencang ketika membayangkan kembali berada dalam rumah yang tidak terasa sepenuhnya milikku.
'Aku ingin kita punya tempat sendiri,' kataku.
Kaivan bersandar. 'Ibu akan sendirian.'
'Aku tidak mengatakan kita berhenti menemani Ibu.'
'Aku tahu. Tapi kalau jaraknya jauh—'
'Kalau begitu kita cari yang jaraknya masuk akal. Jangan langsung menyimpulkan aku meminta kamu meninggalkan beliau.'
Dia terdiam. Aku meletakkan pena karena mulai merasa seperti harus membela diri di dalam percakapan yang seharusnya menjadi milik kami berdua. Kami berhenti membahasnya sore itu dan sepakat kembali bicara setelah Kaivan memikirkan apa yang sebenarnya dia takutkan.
Ketika bertemu lagi, dia mengaku takut terlihat sebagai anak yang memilih kebahagiaan sendiri sementara ibunya berduka sendirian. Aku mendengarkan tanpa menjawab bahwa karena itu aku harus tinggal di rumah Ibu Rieka. Kesedihannya nyata, tetapi tempat tinggal kami tidak dapat diputuskan hanya dengan menghindari rasa bersalah.
Kami akhirnya mencari pilihan rumah sewa yang memungkinkan kunjungan mudah, tanpa menjadikan setiap kunjungan sebagai hak untuk masuk kapan pun. Kaivan sendiri yang membicarakannya dengan ibunya. Aku tidak duduk di samping untuk memberikan jawaban ketika pembicaraan menjadi tidak nyaman.
Ibu Rieka sempat kecewa. Saat kami makan bersama pekan berikutnya, dia mengatakannya terus terang, lalu bertanya apakah aku bersedia tetap datang memasak sesekali. Aku mengiyakan karena memang menginginkannya, bukan sebagai biaya untuk mendapatkan rumah sendiri.
'Ibu mungkin akan perlu membiasakan diri,' katanya.
'Kami juga, Bu,' jawabku.
Tidak ada pelukan panjang yang membuat semua kekhawatiran hilang. Tetapi kami dapat menyelesaikan makan tanpa saling menghukum dengan diam.
Sepanjang Januari, kami melihat beberapa tempat dan menolak lebih banyak daripada yang kusangka. Ada yang terlalu mahal, ada yang perjalanan ke kantor akan melelahkan, ada yang tampak bagus sampai hujan memperlihatkan bagian atap yang bermasalah. Kaivan sempat begitu menyukai satu tempat hingga sulit mendengarkan keberatanku tentang jarak.
Kami menghitung waktu perjalanan bersama. Setelah melihatnya sendiri, dia mengakui aku mempunyai alasan yang masuk akal. Aku tidak menuntutnya mengaku bahwa seleranya buruk. Kami hanya belum menemukan tempat yang cocok untuk kehidupan yang ingin dijalani.
Pada Februari, pembicaraan beralih kepada pernikahan. Bukan hari upacara lebih dahulu, melainkan alasan kami ingin sampai ke sana. Aku mengatakan ingin hidup bersamanya, tetapi tidak bersedia menikah sebagai cara memastikan Bintang akan kembali.
Kaivan menatapku cukup lama sebelum menjawab. 'Aku ingin menikah dengan kamu. Soal menjadi orang tua, kita memutuskan bersama ketika siap membicarakannya.'
'Kalau aku masih takut?'
'Kita dengarkan takutnya. Bukan memakai pernikahan untuk membuatmu tidak bisa menolak.'
Aku mengangguk, lalu menangis sedikit karena lega. Aku tidak membutuhkan lelaki yang menjanjikan seluruh luka akan sembuh setelah namanya melekat pada hidupku. Aku membutuhkan seseorang yang tidak memakai masa depan sebagai alasan merampas pilihan hari ini.
Kami mengunjungi Bapak pada akhir Februari setelah mengatur pekerjaan dan perjalanan. Mama bergabung lewat telepon pada malam pertama karena belum dapat datang. Pembicaraan keluarga tidak sepenuhnya lancar. Ada pertanyaan tentang biaya, tempat tinggal, dan bagaimana pekerjaanku nanti. Aku menjawab bagianku sendiri, sementara Kaivan menjelaskan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Bapak menanyakan apakah kami sudah cukup lama melihat cara masing-masing marah. Kaivan tidak tertawa menanggapinya.
'Kami masih belajar, Pak,' jawabnya. 'Tapi kami sudah tahu hal itu perlu dibicarakan sebelum menikah, bukan sesudah semuanya terlanjur menyakitkan.'
Pagi berikutnya, Kaivan mengajakku duduk di pekarangan belakang. Bapak sedang menyiapkan sarapan di dalam. Bangku besi yang pernah menjadi tempatku menangis menghadapi langit terasa dingin ketika kududuki, tetapi kali ini ada suara piring dari rumah dan aroma masakan yang sedang dibuat.
Kaivan mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
'Pertanyaannya sudah sering kita bicarakan,' katanya. 'Tapi aku tetap ingin menanyakannya dengan jelas. Sagita, mau menikah denganku?'
Aku menatap cincin itu, lalu wajahnya. Tidak ada ingatan yang memaksaku menjawab lebih cepat. Aku mempunyai cukup ruang untuk mendengar keinginanku sendiri.
'Mau,' kataku. 'Aku mau, Kai.'
Tangannya sedikit gemetar ketika memasangkan cincin. Aku tertawa sambil menangis, lalu mendekat untuk memeluknya. Dari dalam rumah, Bapak memanggil agar kami sarapan sebelum dingin. Kaivan dan aku saling memandang, kemudian tertawa lagi. Ada kehidupan yang menunggu kami sesudah jawaban itu, dan untuk pertama kali aku ingin menjalaninya tanpa meminta langit menghapus bagian sebelumnya.