Kami masuk ke rumah dengan wajah yang mungkin terlalu mudah dibaca. Bapak melihat cincin di jariku, lalu memindahkan piring agar Kaivan dapat duduk di sebelahku. Dia tidak meminta kami mengulang pertanyaan tadi sebagai pertunjukan keluarga. Dia hanya menanyakan apakah kami sudah memikirkan kapan ingin menikah.
'Kami ingin punya waktu menyiapkannya,' jawabku. 'Bukan terburu-buru karena sudah ada cincin.'
Bapak mengangguk. 'Bagus. Sekarang makan dulu.'
Lima bulan setelah pagi itu terisi oleh persiapan yang tidak semuanya menyenangkan. Kami memilih Juli 2018 karena pekerjaan dapat diatur dan keluarga mempunyai cukup waktu merencanakan perjalanan. Tidak ada tanggal dari surat lama yang dipakai menentukan hari. Kami mempertimbangkan keadaan orang-orang yang benar-benar akan datang.
Ada daftar tamu yang berubah, perkiraan biaya yang harus dikurangi, serta perdebatan tentang hal yang menurut salah seorang penting tetapi terasa berlebihan bagi yang lain. Kaivan sempat menyetujui tambahan acara sebelum membicarakannya denganku. Aku menolak, dan kami harus kembali menemui keluarganya untuk menjelaskan bahwa keputusan sebelumnya belum selesai dibahas.
Aku takut dianggap calon istri yang sulit. Tetapi Kaivan tidak membiarkanku berdiri sebagai satu-satunya orang yang mengubah rencana.
'Aku yang terlalu cepat menjawab,' katanya di depan ibunya. 'Kami sudah menghitung lagi. Kami memilih yang lebih sederhana.'
Ibu Rieka kecewa sebentar, lalu menanyakan bagian mana yang masih dapat dia bantu. Aku mengusulkan makanan yang memang kami suka, bukan hiasan tambahan yang akan membuat biaya membengkak. Kami mulai bekerja dari hal itu.
Pada April, kami menemukan rumah sewa yang tidak sempurna tetapi masuk akal. Dapurnya kecil, salah satu pintu perlu diperbaiki, dan cahaya sore masuk terlalu terang ke ruang depan. Namun, perjalanan kerja dapat ditempuh tanpa menghabiskan seluruh tenaga, dan rumah Ibu Rieka tidak terlalu jauh untuk dikunjungi.
Kami menyewa setelah memeriksa hal-hal yang diperlukan. Aku tidak langsung pindah. Sampai pernikahan, aku tetap di kos dan Kaivan tetap tinggal bersama ibunya. Akhir pekan kami membersihkan rumah baru, mengukur tempat untuk lemari, lalu pulang dengan pakaian berdebu dan beberapa perbedaan selera yang belum selesai.
'Sofa ini terlalu besar,' kataku ketika dia menunjukkan pilihannya.
'Kalau nanti ada tamu?'
'Tamunya tidak bisa masuk karena sofanya menghabiskan ruangan.'
Kaivan menatap ukuran pada kertas, lalu tertawa. Kami memilih yang lebih kecil dan memakai selisih anggarannya untuk kebutuhan lain. Tidak ada sesuatu yang megah dari keputusan itu, tetapi aku menyukai cara rumah kami mulai terbentuk melalui pertanyaan yang dapat dijawab bersama.
Menjelang hari pernikahan, Bapak datang ke kota setelah mengatur perjalanan sesuai keadaan kesehatannya. Mama menyusul bersama keluarga, dan Aries datang dengan koper yang tampak terlalu penuh. Mereka tidak menjadi keluarga tanpa bekas luka hanya karena aku akan menikah. Ada percakapan canggung, ada pilihan kata yang perlu diperbaiki, tetapi mereka tetap duduk di meja yang sama.
Mama sempat ingin mengubah letak beberapa barang yang sudah kususun. Aku mengatakan akan lebih mudah menemukannya jika tetap di tempat semula. Dia berhenti, lalu bertanya pekerjaan apa yang benar-benar kubutuhkan bantuannya. Aku menyerahkan daftar kecil, dan kami menyelesaikannya tanpa membuat salah seorang harus pergi dengan tersinggung.
Bapak mengamati sebentar, kemudian mengajak Aries membeli sesuatu yang belum tersedia. Aku memandang mereka keluar dan menyadari keluargaku tidak perlu menyerupai gambar yang rapi agar dapat mendukungku. Mama mempunyai kehidupan lain, Bapak mempunyai kebiasaan yang belum tentu kusukai, dan Aries selalu membawa cerita yang tidak kuketahui sebelumnya.
Mereka tetap orang-orang yang ingin kulihat pada hari itu. Aku tidak perlu memperbaiki perceraian orang tuaku lewat pernikahanku sendiri. Aku hanya ingin kami mempunyai cukup ruang untuk hadir tanpa berpura-pura tidak pernah saling melukai.
Hara membantuku memeriksa barang yang harus dibawa. Ferdi mengurus sesuatu yang tidak selesai diambil karena kami salah memperkirakan waktu. Risa dan Bu Laila mengirim ucapan, lalu menanyakan apakah aku ingin mereka membawa salinan foto kegiatan lama. Aku berterima kasih dan mengatakan hari itu aku hanya ingin mereka datang sebagai orang yang kukenal.
Meyra mengirim pesan singkat berisi harapan baik. Aku membalas tanpa meminta penjelasan apakah dia akan hadir atau tidak. Dia tidak berutang kehadiran untuk membuktikan sudah selesai dengan perasaannya. Aku menyimpan pesannya bersama ucapan teman lain, tidak membawanya kepada Kaivan sebagai ujian.
Pagi hari pernikahan, tanganku dingin ketika Hara membantu merapikan pakaianku. Di cermin, aku melihat perempuan yang pernah mengenakan pakaian pengantin dalam kehidupan lain. Aku ingat keyakinan yang dahulu begitu penuh, seolah cinta yang besar dengan sendirinya akan cukup membuat kami saling menjaga.
Sekarang aku tetap mencintai Kaivan, tetapi tidak lagi menganggap cinta sebagai pengganti percakapan yang sulit.
'Kamu masih mau?' tanya Hara pelan ketika melihatku terlalu lama diam.
Aku menoleh dan mengangguk. 'Masih. Aku cuma sedang mengingat, bukan ingin pergi.'
Dia tersenyum dan menyentuh bahuku. Setelah selesai, Bapak masuk. Dia memandangku lama sebelum mengatakan aku cantik. Suaranya serak, dan aku hampir menangis sebelum hari benar-benar dimulai.
'Pak, jangan bikin aku harus dirapikan lagi.'
Bapak tertawa sambil mengusap mata. Dia tidak mengulang pertanyaan apakah Kaivan akan membuatku bahagia. Kami sudah cukup banyak membicarakannya. Pagi itu dia memelukku dan mengatakan aku tetap boleh pulang, dalam keadaan senang maupun ketika membutuhkan tempat untuk bicara.
Ketika berdiri di hadapan Kaivan, aku melihat tangannya juga sedikit gemetar. Dia tersenyum dengan cara yang membuatku dapat bernapas lebih lega. Upacara berjalan, kata-kata diucapkan, dan untuk beberapa saat dunia tidak berisi tahun yang saling bertumpuk. Aku hanya mendengar suara lelaki yang memilih membangun rumah bersamaku.
Sesudah kami resmi menikah, Kaivan berbisik bahwa dia hampir salah mengucapkan satu bagian karena gugup. Aku tertawa dan mengatakan aku melihatnya menarik napas terlalu panjang. Dia meraih tanganku, lalu kami menghadap keluarga yang menunggu untuk memeluk.
Ada foto yang tidak sempurna. Aries menutup mata pada salah satunya, Ibu Rieka masih memegang tisu, dan Bapak tertawa karena seseorang menginjak ujung pakaian. Aku menyukai semuanya. Hari itu tidak perlu terlihat tanpa cela agar dapat menjadi kenangan yang ingin kusimpan.
Malamnya, di rumah sewa yang masih berbau sedikit cat, aku melepas perhiasan dan duduk di tepi tempat tidur. Kaivan membawa dua gelas air. Kami terlalu lelah untuk membicarakan hal besar, tetapi aku masih ingin mengatakan satu kalimat sebelum lampu dimatikan.
'Aku menikah denganmu karena aku mau hidup bersamamu sekarang.'
Dia meletakkan gelas, lalu duduk di sampingku. 'Aku juga, Gita.'
Kami berciuman, lembut dan tidak tergesa. Di luar kamar, beberapa kardus belum dibuka. Pagi nanti kami tetap harus mencari piring, membereskan pakaian, dan belajar hidup di rumah yang sama. Untuk malam ini, aku membiarkan diriku bersandar kepada suamiku tanpa meminta malam tersebut menjamin seluruh hari yang akan datang.