Piring baru ditemukan setelah Kaivan membuka tiga kardus yang salah. Aku duduk di lantai sambil memegang roti, menertawakannya karena dia sendiri yang menulis label saat kami mengemas barang. Dia membela diri dengan mengatakan tulisan dapur dapat berarti banyak hal.
'Termasuk seprai?' tanyaku ketika dia mengangkat isi kardus ketiga.
Kaivan menyerah dan ikut tertawa.
Hari pertama sebagai suami istri tidak membuat kami langsung mengetahui cara hidup bersama. Minggu-minggu sesudahnya justru dipenuhi penyesuaian yang dahulu mungkin kuanggap terlalu kecil untuk dibicarakan. Lampu yang dibiarkan menyala, cucian yang menunggu, kebiasaan meletakkan kunci, serta siapa yang membeli kebutuhan ketika pulang lebih dahulu.
Pada suatu malam setelah bekerja, aku marah melihat wastafel penuh. Kaivan mengatakan belum sempat mencuci, lalu menawarkan melakukannya nanti. Aku menjawab bahwa aku juga belum sempat beristirahat, tetapi beberapa pekerjaan rumah tidak berhenti menungguku hanya karena aku lelah.
'Kamu bisa bilang kalau perlu dibantu,' katanya.
'Aku tidak ingin harus menjadi orang yang mengingatkan semua hal dulu.'
Dia terdiam, lalu mulai menjelaskan pekerjaannya hari itu. Aku memotong dengan mengatakan aku juga bekerja. Suaraku lebih tinggi daripada yang kuinginkan. Kami berhenti sebelum percakapan berubah menjadi daftar siapa yang paling banyak berkorban.
Kaivan mencuci piring, tetapi persoalannya tidak selesai hanya karena wastafel kosong. Esok malam, kami duduk dan membicarakan pembagian yang lebih jelas. Aku tidak ingin membuat daftar sebagai cara mengawasinya, dan dia tidak ingin dianggap gagal setiap kali satu hal terlupa. Kami menyepakati bagian yang menjadi tanggung jawab masing-masing, lalu mengubahnya ketika jadwal kerja memang berubah.
Ada hari ketika kami tetap saling mengingatkan. Bedanya, aku tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang harus melihat semua kebutuhan sebelum sesuatu dikerjakan.
Sisa 2018 kami jalani dengan belajar seperti itu. Kami datang ke rumah Ibu Rieka, tetapi juga mempunyai akhir pekan sendiri. Aku pulang menemui Bapak ketika jadwal memungkinkan, kadang bersama Kaivan, kadang tanpa dia. Tidak setiap kunjungan harus menjadi pembuktian bahwa suamiku bersedia mengikutiku ke mana pun.
Konseling tetap menjadi bagian hidup kami sesuai kebutuhan dan jadwal yang dibicarakan dengan tenaga yang mendampingi. Ada masa ketika ingatan lebih tenang. Ada malam ketika sebuah suara membuatku kembali menangis. Kaivan belajar menemani tanpa langsung menawarkan cara menghentikan, dan aku belajar mengatakan jika yang kubutuhkan hanya didengarkan.
Menjelang akhir tahun, pertanyaan tentang anak mulai lebih sering datang dari orang lain. Sebagian disampaikan sebagai gurauan. Aku tersenyum seadanya pada beberapa kesempatan, tetapi sesudahnya merasa lelah. Di rumah, aku mengatakan kepada Kaivan bahwa aku tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut dengan berjanji kami sedang mengusahakan, jika kami sendiri belum membicarakannya.
'Aku juga tidak akan menjawab atas namamu,' katanya.
'Kamu ingin punya anak?'
Kaivan menatapku. Pertanyaan itu akhirnya berada di antara kami bukan sebagai ingatan tentang seorang bayi, melainkan sebagai percakapan tentang keinginan sekarang.
'Ingin,' jawabnya. 'Tapi aku ingin kamu bisa mengatakan yang kamu inginkan juga, bahkan kalau berbeda.'
Aku menunduk cukup lama. Aku mencintai Bintang yang kuingat. Aku juga mengenali keinginan menggendong seorang anak, membesarkannya, dan mempunyai hari-hari yang tidak hanya berisi ketakutan akan akhir. Kedua hal itu berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya sama.
'Aku ingin menjadi ibu,' kataku. 'Aku takut sekali, tapi keinginannya ada. Aku cuma tidak mau seorang anak lahir dengan tugas menghapus kesedihan kita.'
Kaivan menggeser kursinya mendekat. 'Dia tidak akan punya tugas itu.'
'Kita yang harus mengingatnya nanti. Saat lelah, saat takut, bukan cuma malam ini.'
Dia mengangguk. Kami tidak memutuskan seluruh rencana pada percakapan pertama. Kami kembali membahasnya beberapa kali, termasuk apa yang akan dilakukan terhadap pekerjaan, kebutuhan rumah, dan bantuan yang mungkin diperlukan. Aku ingin tetap bekerja, tetapi juga ingin mempunyai ruang mengubah rencana berdasarkan keadaanku sendiri, bukan tekanan untuk membuktikan sesuatu.
Pada awal 2019, aku membuat janji konsultasi untuk membicarakan persiapan kehamilan dan riwayat kesehatanku. Aku membawa catatan perawatan yang memang ada, termasuk riwayat sakit saat remaja. Cerita kehilangan dalam ingatan kujelaskan sebagai bagian dari ketakutan yang perlu diketahui, bukan sebagai rekam medis seorang bayi yang belum pernah lahir pada tahun ini.
Dokter menanyakan keadaan sekarang dan menjelaskan pemeriksaan yang sesuai untukku. Tidak ada janji bahwa satu hasil dapat memastikan seluruh masa depan. Namun, ada hal yang benar-benar bisa diperiksa, pertanyaan yang dapat kuajukan, dan langkah yang dapat kami putuskan setelah mendengar penjelasan.
Sepulangnya, Kaivan menanyakan apakah aku masih ingin melanjutkan rencana mempunyai anak. Aku menjawab iya. Kami tidak memilih bulan agar terhindar dari angka tertentu. Kami memilih karena sudah membicarakan keinginan, ketakutan, dan kesiapan yang dapat kami usahakan.
Beberapa bulan sesudahnya tetap berisi kehidupan biasa. Tidak setiap pagi dimulai dengan pemeriksaan tanda yang membuatku berharap. Ada pekerjaan, makan bersama teman, kunjungan keluarga, dan satu akhir pekan ketika kami hanya membersihkan rumah karena terlalu lelah untuk pergi. Aku berusaha tidak menjadikan waktu menunggu sebagai penilaian terhadap tubuhku.
Usaha itu tidak selalu berhasil. Ketika menstruasiku datang pada bulan berikutnya, aku duduk di tepi tempat tidur dengan rasa kecewa yang membuatku malu sendiri. Aku baru beberapa waktu berani mengakui keinginan mempunyai anak, tetapi sudah ingin dunia menjawabnya sesuai jadwal yang tidak pernah dijanjikan.
Kaivan menemukan aku di sana dan bertanya apa yang terjadi. Setelah mendengar, dia tidak menyuruhku segera bersyukur atau berhenti memikirkannya. Dia duduk, lalu mengatakan bahwa dia juga sempat berharap. Kami membicarakan kekecewaan itu tanpa mencari seseorang untuk disalahkan.
'Aku takut mulai menghitung lagi,' kataku.
'Kita boleh tahu waktu. Tapi tidak perlu memperlakukannya sebagai nilai untuk kamu.'
Aku mengangguk. Malam itu kami tetap keluar membeli makan seperti rencana, meskipun aku lebih pendiam. Kaivan tidak memaksa menghibur sampai aku tersenyum. Dia membiarkan kesedihan kecil itu mendapat tempat tanpa harus berubah menjadi ramalan tentang semua bulan yang belum datang.
Pada Mei 2019, aku berdiri di kamar mandi dengan alat tes di tangan. Aku sudah mengikuti petunjuknya, menunggu, lalu melihat hasil yang membuat seluruh ruangan terasa sangat sunyi.
Kaivan mengetuk pintu karena sarapan mulai dingin.
'Git? Kamu baik-baik saja?'
Aku membuka pintu dan memperlihatkan benda itu. Wajahnya berubah, dari bingung menjadi begitu hati-hati hingga aku hampir menangis sebelum dia mengatakan apa pun.
'Kita periksa ke dokter,' kataku.
'Iya.'
'Aku senang, Kai. Aku juga takut.'
Dia meraih tanganku dan mengangguk. Aku tidak harus memilih salah satu perasaan agar boleh mempunyai yang lain. Kami berdiri beberapa saat di ambang pintu, dengan sarapan yang terlupakan dan kemungkinan hidup baru yang belum dapat kami lihat, tetapi sudah mulai kami sambut bersama.