Sarapan tetap kami makan sebelum menghubungi tempat pemeriksaan. Tanganku sesekali berhenti di atas piring karena aku ingin melihat hasil tes lagi, memastikan garis yang tadi kulihat tidak berubah hanya karena aku meninggalkannya di kamar mandi.
Kaivan memperhatikan, lalu menyentuh tanganku.
'Kamu boleh senang sebelum tahu semua hal,' katanya.
Aku tertawa kecil dengan mata basah. 'Kamu juga.'
Dia mengangguk, dan senyumnya akhirnya terlihat utuh.
Pemeriksaan berikutnya menjadi awal dari rangkaian kunjungan yang kami jalani sepanjang kehamilan. Aku menanyakan hal yang tidak kupahami, membawa riwayat yang diminta, dan berusaha tidak memperlakukan setiap jadwal sebagai hari ujian untuk mengetahui apakah masa lalu sedang mengejarku.
Perkiraan persalinan berada pada awal 2020. Aku menuliskannya bersama jadwal pemeriksaan, tetapi tidak melingkarinya berkali-kali. Tanggal tersebut membantu kami menyiapkan pekerjaan dan kebutuhan, bukan menjadi janji bahwa tubuhku akan mengikuti angka tanpa perubahan.
Bulan-bulan pertama tidak selalu mudah. Aku lebih cepat lelah, beberapa makanan membuatku tidak nyaman, dan ada pagi ketika bersiap ke kantor terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Kaivan mengambil bagian pekerjaan rumah yang sulit kukerjakan saat itu. Kami menyesuaikan tanpa mengatakan bahwa mulai sekarang seluruh hidupnya harus berhenti agar aku tidak takut.
Ketika ada keluhan yang membuatku ragu, aku menghubungi layanan kesehatan yang merawatku. Aku tidak membuka catatan Bintang untuk memutuskan sendiri apakah gejalanya cocok dengan ingatan. Keadaan kehamilan ini perlu dilihat sebagai dirinya sendiri.
Kami memberi tahu keluarga setelah pemeriksaan awal dan setelah aku siap menerima pertanyaan. Bapak lama diam di telepon, lalu mengatakan ingin membuatkan sesuatu untuk cucunya. Aku tertawa karena dia langsung membicarakan barang yang perlu disiapkan, kemudian mengingatkannya tidak perlu memaksakan tenaga.
'Bapak masih bisa memilih selimut,' katanya.
'Itu boleh.'
Ibu Rieka datang membawa makanan dan bertanya lebih dahulu sebelum membereskan dapur. Mama mengirim pesan hampir setiap hari, tetapi tidak marah ketika aku baru membalas sesudah kerja. Perhatian keluarga terasa lebih mudah diterima ketika aku tidak harus menyerahkan seluruh keputusan untuk mendapatkannya.
Pada pertengahan kehamilan, pembicaraan tentang nama mulai datang. Kami belum ingin menetapkannya hanya berdasarkan bayi yang kuingat. Aku bertanya kepada Kaivan apakah dia dapat menyambut anak ini jika wajah, kebiasaan, dan seluruh kehidupannya berbeda dari cerita yang pernah kuceritakan.
'Dia tidak harus membuktikan dirinya siapa,' jawabnya. 'Dia anak yang akan kita kenal.'
Aku mengangguk. Setelah pemeriksaan kemudian menunjukkan kami menantikan seorang anak laki-laki, nama Bintang kembali kami bicarakan. Aku mengucapkannya tanpa langsung menangis, lalu bertanya apakah memberikan nama itu akan membuat kami terus membandingkan.
'Kalau suatu hari kita mulai begitu, kita harus mengingatkan satu sama lain,' kata Kaivan. 'Namanya boleh membawa kasih sayang. Jangan sampai membawa kewajiban.'
Kami menyimpan pilihan itu dan tidak mengumumkannya kepada semua orang dahulu. Ada hari ketika aku menyebutnya pelan saat sendirian, membiarkan suaraku mengenal harapan yang tidak sepenuhnya dapat dipisahkan dari duka, tetapi juga tidak harus ditelan olehnya.
Menjelang akhir 2019, rumah mulai berubah. Ada ruang untuk kebutuhan bayi, pakaian yang dicuci, dan tas yang disiapkan tanpa terus dibongkar untuk memeriksa semuanya kembali. Hara datang membantu sambil membawa kabar kehamilannya sendiri. Kami duduk membicarakan rasa lelah dan pekerjaan, sesekali tertawa karena sama-sama ingin makanan yang ternyata sulit ditemukan pada sore itu.
Aku menanyakan keadaannya lebih banyak daripada membicarakan ingatanku tentang anaknya di kehidupan awal. Hara bukan hanya sahabat yang tersedia ketika aku ketakutan. Dia juga sedang menjalani hal besar, dan aku ingin hadir dalam hidupnya dengan cara yang selama ini dia berikan kepadaku.
Aku dan Kaivan juga menyusun rencana pengasuhan sebelum masa cutiku dimulai. Kami membicarakan bantuan keluarga, kemungkinan pengasuh, cara berbagi kabar, dan pekerjaan yang perlu disesuaikan. Ibu Rieka tidak otomatis menjadi orang yang harus siap setiap saat. Aku tidak otomatis menjadi orang yang harus meninggalkan pekerjaan selamanya.
Semua rencana itu masih dapat berubah berdasarkan keadaan, tetapi perubahan perlu dibicarakan. Kami tidak ingin menunggu sampai kelelahan membuat setiap bantuan terasa seperti tuntutan yang terlambat disampaikan.
Pada Januari 2020, aku mulai lebih sering terbangun malam. Kadang karena tubuh tidak nyaman, kadang karena bayangan ruang rumah sakit kembali begitu jelas. Aku mengatakan kepada Kaivan jika ketakutan datang. Ada malam ketika dia memegang tanganku sampai aku kembali tenang, dan ada malam ketika kami sama-sama lelah lalu meminta bantuan untuk hari berikutnya.
Kami tidak mempercepat kelahiran untuk menghindari sebuah angka. Kami mengikuti pemeriksaan dan membicarakan perubahan keadaan dengan orang yang merawat. Aku masih takut, tetapi tidak lagi menyamakan rasa takut dengan pengetahuan bahwa aku sudah tahu apa yang akan terjadi.
Persalinan datang pada Februari. Ketika kami berangkat ke rumah sakit, Kaivan membawa tas yang sudah disiapkan dan aku membawa tubuh yang sedang menjalani sesuatu yang nyata, bukan halaman dari sebuah catatan. Aku memberi tahu keluarga, lalu memusatkan perhatian pada pemeriksaan dan penjelasan yang diberikan.
Waktu terasa panjang. Ada nyeri, pertanyaan, dan saat ketika aku meminta kalimat diulang karena sulit memusatkan pikiran. Kaivan berada di sampingku pada bagian ketika dia diperbolehkan mendampingi. Dia tidak menjanjikan semuanya pasti mudah. Dia mengingatkanku bahwa kami boleh bertanya dan bahwa aku tidak harus berpura-pura kuat agar didengarkan.
Lalu tangis itu terdengar.
Aku menangis sebelum dapat melihat wajahnya dengan jelas. Suara tersebut memenuhi ruangan tanpa memerlukan penjelasan tentang lingkaran atau tahun. Setelah pemeriksaan yang diperlukan, aku dapat merasakan tubuh kecilnya dekat denganku, hangat dan sungguh ada.
'Bintang,' bisikku.
Kaivan menunduk dengan air mata mengalir. Aku melihat wajahnya, lalu kembali memandang anak kami. Ada bagian yang mengingatkan kepadanya, ada bagian yang ingin kupelajari perlahan tanpa segera mengatakan aku sudah mengenal semuanya.
Kami menyebut nama lengkapnya bersama: Bintang Aaron Mahendra.
Sesudah keadaan memungkinkan, Kaivan menghubungi keluarga. Aku mendengar suaranya bergetar ketika berbicara kepada ibunya, lalu dia menyerahkan ponsel agar aku dapat mendengar Bapak. Lelaki itu mengucapkan syukur berulang kali sebelum sanggup bertanya bagaimana keadaanku.
'Aku lelah, Pak. Tapi aku bisa mendengar Bintang.'
Bapak tertawa sambil menangis. Dia mengatakan selimut pilihannya sudah siap dan meminta aku tidak memikirkan apa pun yang harus dibawa keluarga. Aku mendengarkan suaranya sampai perawat perlu kembali membantu, lalu berjanji akan memberi kabar setelah beristirahat.
Ketika ponsel disimpan, Kaivan berdiri memandang anak kami dengan kedua tangan menggantung kaku. Aku tersenyum melihat ketakutannya menyentuh sesuatu yang begitu kecil. Dia meminta petunjuk kepada petugas, kemudian mengikuti dengan perhatian yang membuat mataku kembali panas. Dia tidak sudah mengetahui semuanya hanya karena pernah mendengar cerita tentang menjadi ayah.
Nama itu tidak menjamin hari-hari berikutnya. Kelahirannya juga tidak menghapus dua kehilangan yang masih kusimpan. Namun, anak yang berada di dekatku sekarang tidak harus menanggung tugas memperbaiki seluruh hidupku sebelum sempat mengenal dunia.
Aku menyentuhnya dengan tangan gemetar, lalu membiarkan air mata jatuh.
'Selamat datang, Sayang,' kataku. 'Kami akan belajar mengenalmu.'