Bintang menggerakkan mulut ketika aku selesai menyambutnya. Gerakan kecil itu membuatku tertawa di antara tangis, lalu kembali menatap wajahnya seolah aku baru pertama kali melihat sesuatu yang begitu sulit dipercaya.
Kaivan berdiri dekat tempat tidur. Ketika perawat menjelaskan hal yang perlu diperhatikan, dia mendengarkan dan menanyakan bagian yang belum dipahaminya. Aku ikut bertanya setelah cukup kuat untuk memusatkan perhatian. Tidak ada ingatan yang boleh menggantikan penjelasan tentang bayi yang baru saja lahir ini.
Hari-hari perawatan tidak seluruhnya berisi kebahagiaan yang mudah. Tubuhku lelah, beberapa gerakan terasa tidak nyaman, dan aku kadang menangis tanpa dapat segera mengatakan sebabnya. Kaivan juga tampak kurang tidur. Kami belajar meminta bantuan sebelum kelelahan berubah menjadi keberatan yang saling disembunyikan.
Pada malam pertama, aku terbangun setiap mendengar suara kecil. Sekalipun Bintang sudah diperiksa dan petugas berada tidak jauh, tanganku tetap ingin terus memastikan keadaannya. Kaivan melihatku kembali duduk padahal baru berbaring beberapa menit.
'Kamu belum sempat istirahat,' katanya.
'Aku takut kalau tidak melihatnya.'
Dia tidak menjawab bahwa aku harus tenang demi bayi. Dia memanggil petugas ketika aku mempunyai pertanyaan lagi, lalu mendengarkan bersamaku. Sesudahnya kami membicarakan bagaimana aku dapat beristirahat tanpa merasa semua tanggung jawab sedang kutinggalkan.
Aku tetap membutuhkan waktu. Rasa takut tidak menghilang hanya karena seseorang memberi penjelasan yang benar. Tetapi aku tidak harus menanggungnya diam-diam sampai tubuhku menyerah.
Pada suatu siang, aku meminta Kaivan membacakan pesan dari keluarga karena mataku terasa berat. Ada ucapan dari Mama, candaan Aries, dan pertanyaan Bapak yang dikirim dua kali karena mengira pesan pertama tidak masuk. Kaivan menirukan nada kesal Bapak dengan buruk, membuatku tertawa sampai harus menyuruhnya berhenti.
'Jangan bilang kepada beliau aku melakukan itu,' katanya.
'Tergantung kamu membawakan makanan apa nanti.'
Kami tersenyum, kemudian sama-sama menoleh ketika Bintang bergerak. Aku menyadari kelahirannya tidak membuat hubungan kami hanya tersisa sebagai dua orang yang sedang bertugas. Aku masih ingin mendengar Kaivan bercanda, masih ingin menanyakan apakah dia sudah makan, dan masih boleh meminta dia mendengar hal lain selain kebutuhan bayi.
Aku mengatakan itu kepadanya pada sore yang sama. Dia menggenggam tanganku sebentar, lalu menjawab bahwa dia juga ingin tetap menjadi suamiku, bukan sekadar seseorang yang berdiri menunggu daftar pekerjaan. Kami tidak mempunyai banyak waktu berdua, tetapi kami bisa mulai dengan saling melihat ketika berbicara.
Saat akhirnya kami diperbolehkan pulang, Kaivan memeriksa dokumen dan jadwal lanjutan bersama petugas. Aku menyimpan catatan yang diberikan di tempat yang mudah ditemukan. Tas bayi tidak hanya berisi pakaian; ada informasi yang perlu kami pahami dan gunakan apabila keadaan berubah.
Ibu Rieka membantu menyiapkan rumah. Sebelum kami tiba, dia mengirim foto dan bertanya apakah letak barang-barang sudah sesuai. Aku mengubah dua hal kecil, lalu berterima kasih. Dia tidak tersinggung karena aku masih mempunyai keinginan sendiri ketika sedang membutuhkan bantuan.
Perjalanan pulang berlangsung lebih pelan daripada perjalanan mana pun yang pernah kulakukan bersama Kaivan. Kami memastikan Bintang ditempatkan dengan aman untuk perjalanan, lalu berangkat tanpa terburu-buru. Aku memandang jalan yang selama ini hanya kulewati untuk bekerja, merasa seluruhnya sedikit berbeda karena sekarang ada anak kami bersama kami.
Di depan rumah, Kaivan membawa tas sementara Ibu Rieka membukakan pintu. Aku berhenti sebentar di ambang. Dalam ingatanku ada kepulangan yang berakhir tanpa Bintang, tetapi hari ini aku dapat mendengar suaranya.
'Kita sudah sampai, Sayang,' bisikku.
Rumah tidak mendadak menjadi tempat yang selalu tenang. Malam-malam awal penuh suara bayi, langkah kami yang setengah mengantuk, serta pertanyaan tentang di mana barang terakhir diletakkan. Kaivan pernah mencari kain bersih padahal benda itu tersampir pada bahunya sendiri. Aku menatapnya, lalu tertawa begitu keras sampai dia ikut tertawa dengan wajah menyerah.
'Kita harus tidur,' katanya.
'Iya. Setelah menemukan kain yang kamu pakai sebagai syal.'
Tawa itu tidak mengurangi lelah, tetapi membuat kami kembali merasa berada di pihak yang sama.
Pembagian yang disusun sebelum persalinan perlu diubah ketika kami benar-benar menjalaninya. Ada kebutuhan yang hanya dapat kulakukan sendiri saat itu, tetapi banyak hal lain bisa diambil Kaivan. Dia tidak menunggu aku merinci setiap pekerjaan sementara aku sudah hampir menangis karena tidak sanggup memikirkan apa lagi yang belum selesai.
Kami menerima bantuan untuk urusan makan dan rumah. Ibu Rieka mempunyai waktu istirahatnya sendiri. Mama mengatur kedatangan tanpa menganggap rumah kami harus selalu penuh orang agar disebut diperhatikan. Aku belajar mengatakan ketika ingin ditemani dan ketika ingin suasana lebih sepi.
Bapak belum langsung menempuh perjalanan jauh. Dia berbicara melalui panggilan video, menunjukkan selimut pilihannya, dan mengeluh karena kamera selalu lebih banyak memperlihatkan langit-langit daripada cucunya. Kaivan membetulkan posisi ponsel sementara aku menahan tawa.
'Sekarang kelihatan, Pak?'
'Kelihatan. Mirip siapa ini?'
'Jangan mulai berdebat,' kataku.
Bapak tertawa. Aku melihat matanya basah, lalu berpura-pura sibuk membetulkan pakaian Bintang agar dia tidak perlu menjelaskan tangisnya.
Memasuki pekan-pekan berikutnya, kami mulai mengenali kebiasaan anak kami. Ada cara dia menggerakkan bibir sebelum menangis, cara dia menoleh ketika Kaivan berbicara, dan waktu-waktu ketika aku hanya ingin memandanginya tanpa mengingat bayi dari kehidupan lain.
Kadang perbandingan tetap datang. Aku pernah hampir mengatakan Bintang yang dulu tidak seperti ini, lalu berhenti dan mengulang kalimat dengan menyebut apa yang sedang dilakukan anak di hadapanku. Dia berhak tumbuh tanpa terus diuji apakah menyerupai seseorang yang hanya kukenal dalam ingatan.
Pada suatu malam di bulan Maret, aku menangis karena begitu lelah hingga merasa tidak sabar mendengar tangisnya. Rasa bersalah datang seketika. Setelah semua keinginanku memilikinya, bagaimana aku masih bisa berharap mendapat beberapa menit tanpa suara?
Kaivan mengambil alih bagian yang dapat dilakukannya, lalu memintaku duduk. Aku mengatakan apa yang kupikirkan dengan suara malu. Dia mendengarkan tanpa menatapku seolah baru menemukan ibu yang tidak mencintai anaknya.
'Aku juga lelah, Git,' katanya. 'Kita perlu bantuan. Bukan saling membuktikan siapa yang paling tahan.'
Esoknya kami membicarakan penyesuaian dukungan, bukan hanya berjanji akan lebih sabar. Aku juga menyampaikan keadaan emosiku kepada tenaga yang mendampingiku. Tidak ada hadiah bagi orang tua yang berhasil menyembunyikan kelelahan sampai tidak sanggup meminta pertolongan.
Menjelang akhir Maret, aku dapat tidur lebih lama pada beberapa malam dan kembali membaca beberapa halaman buku. Hidup belum terasa ringan, tetapi tidak seluruhnya dipenuhi ketakutan. Bintang tumbuh melalui hari-hari yang sungguh kami jalani, bukan melalui hitungan mundur di dalam kepalaku.
Suatu pagi, Kaivan memanggilku karena anak kami membuat gerakan yang menurutnya sangat penting untuk dilihat. Ketika aku datang, Bintang sudah berhenti. Kaivan mencoba menjelaskan dengan wajah begitu bersungguh-sungguh sampai aku tertawa.
Aku ingin mempunyai lebih banyak pagi seperti itu. Bukan pagi yang sempurna. Hanya pagi yang boleh terus datang.