Pagi-pagi berikutnya tidak selalu sempat kami abadikan. Ada senyum yang muncul ketika ponsel berada di ruangan lain, ada suara kecil yang berhenti saat Kaivan mencoba merekam. Aku mulai membiarkan sebagian kebahagiaan terjadi tanpa harus menyimpannya sebagai bukti bahwa hari tersebut benar-benar pernah ada.
April membawa kabar kelahiran anak Hara dan Ferdi. Ketika Hara mengirim foto Kenzou, aku menangis sambil tertawa, lalu menelepon pada waktu yang dia pilih. Aku menanyakan keadaannya dahulu sebelum meminta cerita tentang bayi.
'Rasanya semua orang cuma ingin tahu Kenzou,' katanya dengan suara lelah.
'Aku juga ingin tahu kamu.'
Kami berbicara tidak lama. Ada suara bayi dari kedua rumah, dan pada satu saat kami sama-sama berhenti untuk menjawab kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Aku menyukai percakapan yang tidak selesai itu. Ia membuktikan kami masih mempunyai hari lain untuk saling menghubungi.
Menjelang masa cutiku berakhir, aku dan Kaivan meninjau lagi rencana pengasuhan. Kami telah bertemu dengan pengasuh yang akan membantu, memeriksa hal yang perlu diketahui, dan membicarakan kebutuhan Bintang serta cara berkomunikasi. Perempuan itu mempunyai pengalaman, tetapi kami tidak menganggap pengalaman membuat semua pertanyaan tidak perlu diajukan.
Namanya Dina. Aku memanggilnya Mbak Dina setelah dia memperkenalkan diri.
Pada awalnya aku begitu tegang setiap mendengar kata pengasuh. Dalam kehidupan awal, suara perempuan dari yayasan membawa kabar bahwa Bintang tidak bernapas. Namun, ingatan tentang panggilan yang panik bukan bukti bahwa perempuan itu menyebabkan kehilangan. Aku tidak ingin menjadikan Mbak Dina sasaran ketakutan terhadap seseorang yang bahkan belum pernah dia temui.
Kami memberi waktu agar dia mengenal rutinitas sebelum aku kembali bekerja. Kaivan ikut dalam pembicaraan, tidak hanya menerima ringkasanku setelah semuanya selesai. Ibu Rieka membantu pada waktu yang disepakati, tetapi tetap mempunyai hari-hari miliknya sendiri.
Hari pertama kembali ke kantor pada Mei, aku duduk lama di tepi tempat tidur sebelum berpakaian. Bintang sudah selesai menyusu dan berada dalam pengasuhan yang kami siapkan. Tidak ada sesuatu yang mendadak berubah di rumah. Yang berubah adalah aku harus melangkah keluar dengan kenangan lama masih ikut berdiri di ambang pintu.
Kaivan menanyakan apakah aku ingin membicarakan penyesuaian waktu dengan kantor. Aku menjawab bahwa untuk hari itu aku ingin mencoba sesuai rencana. Aku tidak harus membuktikan dapat melakukan semuanya sendirian, tetapi aku juga tidak ingin rasa takut mengambil keputusan sebelum aku sempat menjalaninya.
Di perjalanan, aku beberapa kali memeriksa ponsel. Setelah tiba, aku memberi kabar, lalu mencoba membaca pekerjaan yang menunggu. Rekan-rekan menyambutku tanpa langsung menumpuk seluruh hal yang tertunda. Ada penyesuaian yang sudah dibicarakan sebelumnya, dan aku menjalankannya sedikit demi sedikit.
Aku tetap merindukan Bintang sepanjang hari. Rindu itu tidak menjadi bukti bahwa aku salah berada di kantor.
Saat istirahat, aku memandang foto yang diambil Kaivan pagi tadi. Bintang sedang menatap sesuatu di luar bingkai, sama sekali tidak peduli bahwa aku hampir menangis ketika berangkat. Aku tersenyum melihatnya, lalu menyimpan ponsel ketika seorang rekan menanyakan pendapat tentang pekerjaannya.
Aku dapat menjawab. Kepalaku masih mengenali persoalan yang kami bahas, masih tertarik menemukan bagian yang belum jelas. Kesadaran itu membuatku lega dengan cara yang sulit kujelaskan. Aku bukan meninggalkan diriku sebagai ibu ketika memikirkan pekerjaan. Aku sedang memberi tempat kepada bagian lain dari diriku yang juga sudah lama hidup, belajar, dan ingin terus tumbuh.
Pada jam yang disepakati, aku menerima kabar dari rumah. Tidak ada pertunjukan bahwa semua orang harus tampak bahagia agar aku dapat bekerja. Mbak Dina menyebut hal yang berjalan baik dan hal kecil yang perlu dibicarakan. Aku mendengar sampai selesai, bertanya, lalu kembali menyimpan ponsel.
Sore harinya aku pulang dengan langkah tergesa. Bintang tidak menyambut dengan sesuatu yang dramatis. Dia sedang tidur, dan aku harus menunggu sebelum dapat mengajaknya bicara. Aku tertawa kecil pada ketidaksabaran sendiri, lalu mencuci tangan dan berganti pakaian.
Beberapa pekan setelah aku kembali bekerja, Mbak Dina memberi tahu bahwa anaknya sakit dan dia perlu pulang lebih awal. Aku sedang menghadapi pekerjaan yang sulit ditinggalkan. Naluri pertamaku adalah meminta maaf kepada semua orang dan segera membatalkan hari kerja, seolah tidak ada orang lain yang dapat ikut mengambil keputusan.
Kaivan menanyakan jadwalku, lalu melihat jadwalnya sendiri. Dia dapat mengatur sisa pekerjaannya dan pulang lebih dahulu. Kami menghubungi Ibu Rieka untuk menjembatani waktu sebelum dia tiba, memastikan beliau memang bersedia, kemudian memberi tahu Mbak Dina.
Tidak ada tuduhan bahwa perempuan itu tidak setia pada pekerjaannya karena mempunyai anak yang membutuhkan dirinya. Tidak ada kalimat bahwa aku seharusnya sudah tahu seorang ibu tidak dapat tetap bekerja. Ada masalah yang perlu diatur, dan lebih dari satu orang bersedia ikut mengaturnya.
Malamnya, Kaivan tertidur di sofa setelah makan. Aku membangunkannya agar berpindah ke kamar, lalu mengambil bagian yang bisa kukerjakan. Tanggung jawab bersama tidak berarti kami selalu mempunyai tenaga yang sama pada waktu yang sama.
Juni datang dengan ketakutan yang tidak dapat kusembunyikan melalui kesibukan. Bintang mencapai usia empat bulan. Tanggal kelahirannya berbeda dari kehidupan awal, tetapi angka usia itu tetap membuat tubuhku menegang setiap kali melihat kalender.
Aku kembali membicarakannya dalam pendampingan yang kujalani. Di rumah, aku mengatakan kepada Kaivan bahwa aku mulai sulit tidur karena merasa perlu terus memeriksa. Kami meminta arahan mengenai perawatan yang sesuai dan mengatur dukungan agar rasa takutku tidak berubah menjadi kelelahan tanpa akhir.
Pada malam yang paling kutakuti, aku duduk di kamar dengan buku ingatan tertutup di pangkuan. Kaivan duduk di sampingku. Aku tidak meminta dia mengatakan bahwa kami sudah melewati semua bahaya. Aku hanya mengatakan nama anak yang pernah hilang, kemudian memandang anak yang sekarang berada dalam kehidupan kami.
'Aku masih ingat mereka,' bisikku.
'Kamu tidak harus berhenti mengingat.'
Aku menangis tanpa membuka buku. Ada dua kehilangan yang tidak menjadi kurang nyata bagiku hanya karena hari ini berbeda. Tetapi Bintang yang hidup sekarang juga tidak harus tinggal dalam ruang tunggu menuju kejadian yang sudah kutakuti sejak dia lahir.
Malam berjalan. Kami bergantian beristirahat sesuai kebutuhan, menerima bantuan ketika lelah, dan membiarkan waktu melakukan sesuatu yang selama ini paling sulit kuizinkan: bergerak maju.
Pagi datang bersama suara Bintang dan Kaivan yang mencari sesuatu sambil setengah mengantuk. Aku membuka mata di kamar kami, pada Juni 2020. Bukan di kos lama. Bukan di rumah kosong setelah pemakaman.
Aku bangkit dan mendekati anakku. Dia menatapku, kemudian membuat suara kecil yang tidak dapat kuterjemahkan selain sebagai bagian dari dirinya yang sedang belajar hidup.
'Selamat pagi, Bintang,' kataku.
Hari itu bukan jaminan untuk selamanya. Tetapi hari itu milik kami, dan aku tidak akan menghabiskannya dengan berpura-pura ia sudah hilang.