Sisa Juni berlalu dengan pekerjaan, pemeriksaan yang dijadwalkan, dan pakaian Bintang yang mulai terasa berbeda ukurannya. Aku mengemas beberapa helai yang sudah tidak dipakai, lalu berhenti ketika menyadari aku melakukannya tanpa membayangkan tas rumah sakit yang dibawa pulang setelah kehilangan.
Ada pakaian yang tidak lagi muat karena anakku tumbuh.
Aku menangis sedikit, kemudian melanjutkan pekerjaan. Kaivan membantu melipat dan tidak menanyakan apakah aku ingin berhenti. Dia tahu air mata kadang datang bersama sesuatu yang sangat ingin kusimpan.
Pada awal Juli, Bapak menelepon lebih pagi daripada biasanya. Dia mengatakan sedang berada di tempat pemeriksaan karena keluhan yang tidak ingin ditundanya. Aku mendengar napasnya dan langsung berdiri, meskipun tidak ada sesuatu yang dapat kulakukan hanya dengan berdiri di ruang makan.
'Siapa yang bersama Bapak?'
Dia menyebut orang yang membantunya datang, kemudian mengatakan pemeriksaan masih berlangsung. Sesudahnya aku mendapat kabar bahwa dokter ingin merawatnya untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Aku memegang tepi meja. Juli 2020 terasa datang seluruhnya dalam satu tarikan napas. Ingatan tentang ranjang, wajah Bapak, dan pertanyaan yang tidak pernah kujawab jujur membuat ruangan menyempit.
Namun, kali ini telepon tidak berakhir tanpa informasi. Ada tempat yang dapat dihubungi. Ada riwayat perawatan yang sudah dijalani. Ada orang yang mengetahui keadaan Bapak sebelum keluhannya disembunyikan terlalu lama.
Aku menelepon Kaivan dan menyebut apa yang diketahui, bukan seluruh ketakutan yang belum dapat kususun. Dia mendengarkan, lalu menjelaskan bahwa dia perlu menyerahkan satu urusan sebelum berangkat. Dia memberi perkiraan waktu dan mengatakan aku tidak perlu menunggunya jika ingin pergi lebih dahulu.
Aku ingin menjawab bahwa aku membutuhkannya sekarang juga. Keinginan itu begitu kuat sampai aku menekan bibir sebelum berbicara. Namun, aku dapat mendengar dia sedang berusaha membuat rencana yang sungguh bisa dilakukan, bukan menunda supaya tidak perlu mendengar kesedihanku.
'Aku takut sekali,' kataku akhirnya.
'Aku tahu. Apa ada yang bisa kuselesaikan untukmu sebelum kamu berangkat?'
Aku menyebut beberapa urusan yang masih membuatku bingung. Kaivan mengambil bagian mengatur kendaraan dan memberi tahu ibunya, sementara aku berbicara dengan keluarga serta menyiapkan kebutuhan Bintang. Setelah pembagian itu jelas, aku dapat bergerak tanpa terus berdiri di ruang makan dengan ponsel di tangan.
Rasa takut tetap ikut. Tetapi ia tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang menentukan apa yang harus kami kerjakan. Aku menerima bantuan yang tersedia sekarang, sambil tetap mengatakan bahwa aku ingin Kaivan menyusul. Keduanya tidak harus saling membatalkan.
'Aku akan menyusul dengan kendaraan dan pengemudi,' katanya. 'Kalau waktunya berubah, aku kabari sebelum kamu menunggu.'
Aku menutup mata. Kalimatnya tidak sama dengan akan mengusahakan yang pernah kutunggu sampai malam pemakaman. Ada rencana yang dapat kutanyakan kembali, dan ada izin untuk tidak menggantungkan seluruh tindakan pada kedatangannya.
Kami mengatur perjalanan. Ibu Rieka bersedia ikut membantuku dan Bintang, sementara Kaivan menyiapkan urusan yang perlu diserahkannya. Aku menghubungi kantor, memberi penjelasan yang diperlukan, lalu berangkat setelah kebutuhan bayi dan perjalanan siap.
Sepanjang jalan, kami berhenti sesuai kebutuhan. Aku tidak membawa Bintang untuk langsung berada di ruang perawatan Bapak. Setelah tiba di rumah, Ibu Rieka membantu menjaganya sementara aku pergi ke rumah sakit. Aku tetap dapat menerima kabar dan kembali ketika diperlukan.
Mama serta Aries menghubungiku untuk membagi hal yang dapat mereka bantu. Tidak semua orang dapat berada di tempat yang sama pada saat yang sama. Tetapi aku tidak lagi menganggap jarak berarti aku harus menanggung seluruh urusan sendirian.
Ketika akhirnya melihat Bapak, aku hampir menangis di ambang pintu. Wajahnya lelah, tetapi dia masih dapat mengeluh karena aku datang dengan rambut berantakan.
'Bapak bikin orang panik, masih sempat komentar rambut,' kataku.
Dia tersenyum tipis. Aku duduk di dekatnya setelah diperbolehkan, lalu mendengarkan penjelasan yang dapat diberikan mengenai keadaannya. Perawatan sebelumnya membantu dokter mengetahui riwayatnya, tetapi tidak ada yang mengatakan penyakitnya sudah hilang. Aku menerima bahwa masih ada hal yang harus ditangani tanpa langsung menerjemahkannya sebagai akhir.
Menjelang malam, Kaivan mengirim kabar posisi perjalanan. Dia tidak menungguku bertanya berkali-kali. Aku membalas dengan perkembangan yang kudengar, lalu kembali memandang Bapak.
'Kai menyusul?' tanyanya.
'Iya. Dia sudah berangkat. Aku tahu kira-kira kapan sampai.'
Bapak mengangguk. Ada sesuatu dalam pertanyaan itu yang membuat tenggorokanku mengencang, karena aku pernah memberikan jawaban serupa tanpa benar-benar mengetahui apakah aku sedang berbohong kepada ayahku atau kepada diriku sendiri.
Malam ini aku tidak perlu membuat cerita agar suamiku terlihat lebih baik.
Aku kembali ke rumah setelah urusan perawatan yang perlu kuketahui selesai dan komunikasi dengan petugas sudah jelas. Bintang terjaga ketika aku tiba. Aku menggendongnya, menghirup aroma tubuhnya, lalu menyadari betapa lapar dan lelahnya diriku sendiri.
Kaivan sampai malam itu. Dia tidak masuk dengan wajah seorang penyelamat yang menuntut rasa terima kasih. Dia meletakkan tas, menanyakan keadaan Bapak, lalu mengambil bagian pekerjaan yang dapat dikerjakannya agar aku bisa makan.
'Kamu datang,' kataku pelan ketika kami mempunyai waktu berdua.
'Iya.'
Aku tidak menambahkan kalimat lain. Kaivan meraih tanganku dan duduk di dekatku. Tidak ada sesuatu yang dapat menghapus ketidakhadiran lelaki dari kehidupan awal. Tetapi di ruang ini, malam ini, aku tidak sedang menunggu suara kendaraan sampai harapan terasa memalukan.
Hari-hari berikutnya kami jalani dengan bergantian mengurus kebutuhan rumah dan menerima kabar perawatan. Kaivan menemui Bapak ketika waktu kunjungan memungkinkan. Mereka berbicara tentang Bintang, naskah yang sedang diperbaiki, dan makanan rumah sakit yang menurut Bapak perlu lebih banyak variasi.
Saat kondisi Bapak cukup baik untuk pulang menurut dokter, aku mendengarkan petunjuk lanjutan bersama keluarga. Kami mencatat apa yang perlu dilakukan dan siapa yang akan membantu. Bapak tidak sembuh dengan satu pelukan, tetapi dia pulang bersama rencana perawatan, bukan menjadi nama yang harus kutulis pada kabar duka.
Di rumah, dia akhirnya memandang Bintang dari dekat. Kaivan duduk bersamanya dan membantu ketika diperlukan. Aku berdiri di ambang ruang tamu, melihat tangan Bapak yang sudah keriput menyentuh kaki kecil cucunya.
'Sudah besar,' kata Bapak.
'Baru lima bulan, Pak.'
'Buat orang yang menunggu foto setiap hari, ini sudah besar.'
Aku tertawa dengan mata basah. Di lemari hias, foto pernikahanku dan Kaivan masih berdiri di antara benda-benda yang disimpan Bapak. Foto dari Juli 2018, dengan wajah dan hari yang benar-benar kami jalani sekarang.
Malam mulai turun di luar jendela. Aku melihat bangku besi di pekarangan belakang, lalu mendengar Bapak memanggilku untuk mengambilkan sesuatu. Kali ini aku dapat menjawab dan menghampirinya. Rumah itu belum selesai mempunyai suara.