Bapak hanya meminta kacamatanya. Benda itu berada di meja yang terlalu jauh untuk diraih dari kursinya. Aku menyerahkannya, lalu mengomel sedikit karena dia selalu meletakkan sesuatu di tempat berbeda dan menganggap aku akan tahu di mana mencarinya.
'Bapak sedang melatih ingatanmu,' katanya.
Aku menatapnya. Dia segera mengangkat tangan, menyadari ucapannya.
'Maaf. Bercandanya tidak bagus.'
Aku menghela napas, kemudian tertawa kecil. 'Memang tidak bagus, Pak.'
Dia menerima koreksi itu tanpa membuat seluruh ruangan menjadi canggung. Aku membetulkan letak gelas di dekatnya, lalu kembali membantu Kaivan merapikan barang Bintang. Ibu Rieka sudah bersiap pulang ke kota setelah memastikan kami mempunyai bantuan yang diperlukan. Dia ingin kembali pada urusannya sendiri, dan aku berterima kasih tanpa memintanya terus tinggal karena aku takut.
Beberapa hari setelah Bapak pulang, rumah menemukan kebiasaan sementara. Ada jadwal perawatan, waktu beristirahat, percakapan dengan keluarga, dan Bintang yang membuat semua orang berhenti berbicara hanya karena mengeluarkan suara baru. Kaivan mengatur pekerjaan yang masih perlu diselesaikan, memberi tahu kapan dia sibuk dan kapan dapat mengambil alih urusan rumah.
Lalu datang malam Juli yang sejak lama kuhafal dalam ingatan.
Televisi membicarakan Neowise. Nama itu terdengar dari ruang tengah ketika aku sedang mengambil air. Tanganku berhenti pada botol. Dalam kehidupan awal, suara berita yang serupa mengisi rumah yang terlalu lengang sesudah pemakaman Bapak.
Malam ini Bapak duduk di kursi. Kaivan sedang melipat pakaian kecil, dan Bintang berada dalam pengasuhan kami, cukup dekat untuk kudengar gerakannya.
Namun, tubuhku tetap mengenali urutan lama: televisi, air dingin, lemari hias, foto pernikahan, lalu pekarangan belakang.
Aku berjalan ke lemari dan memandang foto kami. Aku tidak mengambilnya dari tempat Bapak menyimpan. Dalam gambar, dia masih tertawa di salah satu sisi, sementara Mama berdiri dengan wajah yang berusaha menahan tangis. Hari pernikahan kami pada 2018 tetap berada di sana, tidak digantikan oleh foto yang pernah kubawa ke luar dalam kehidupan lain.
'Aku mau duduk di belakang sebentar,' kataku kepada Kaivan.
Dia mengangkat wajah. Aku melihat dia memahami alasan aku perlu mengatakannya dengan jelas.
'Kamu ingin ditemani?'
'Sebentar sendiri. Nanti aku panggil.'
Dia mengangguk. Aku tidak membawa rencana untuk menghilang. Pintu kubiarkan terbuka agar suara rumah tetap dapat kudengar. Di bangku besi, dingin menyentuh tubuhku melalui pakaian, begitu akrab sampai aku harus memegang ujung dudukan dan mengingatkan diri di mana aku berada.
Aku pernah duduk di tempat ini dengan foto pernikahan pada tangan. Aku pernah meminta Bapak hidup lebih lama dan berharap tidak pernah menikah dengan Kaivan. Sesudah kehilangan dalam percobaan yang lain, aku pernah meminta kembali ke masa sebelum dia mengenalku.
Keinginan-keinginan itu tidak lahir karena aku tidak mencintai siapa pun. Justru karena aku mencintai, aku begitu ingin membatalkan segala hal yang terasa telah merampas mereka.
Aku menyentuh liontin di dada.
Ingatan bergerak, bukan sebagai halaman baru yang belum pernah kulihat, melainkan sebagai bagian-bagian yang akhirnya dapat berada dalam satu pandangan. Kamar kos pada April 2017. Buku pelajaran di rumah sakit pada 2009. Ruangan tempat aku mencoba meminta sebuah tanggal. Dua suara telepon yang mengabarkan dua kehilangan berbeda.
Aku tidak pernah pulang dengan pengetahuan lengkap. Aku membawa rasa sakit, pilihan yang pernah kucoba, dan potongan ingatan yang saling mendahului. Lalu setiap kali merasa gagal, aku mengira harus mencari titik yang lebih awal agar seluruh hidup dapat diperbaiki dari sana.
April 2017 menjadi tempat yang begitu kuat karena di situlah pertemuan dewasa dengan Kaivan mulai menentukan arah yang kuingat. Tahun 2009 terbuka dalam permintaan yang lebih jauh, sebelum pertemuan pertama yang bahkan sempat kulupakan. Aku tidak memiliki rumus untuk menjelaskan bagaimana waktu mengikuti ketakutan itu. Tetapi aku mulai memahami apa yang terus kubawa melewatinya.
Keinginan untuk mempunyai hidup yang tidak pernah kehilangan.
Aku menangis tanpa memanggil siapa pun dahulu. Bukan karena akhirnya menemukan cara mendapatkan hidup tersebut, melainkan karena aku harus menerima bahwa mencintai tidak memberiku kuasa untuk meniadakan setiap kemungkinan berpisah.
Aku teringat gadis yang menulis dengan tangan gemetar, meminta Kaivan pergi karena tidak sanggup melihat semua wajahnya sekaligus. Aku ingin dapat duduk di sampingnya dan mengatakan bahwa suatu hari dia tidak perlu menghadapi semua itu sendirian. Tetapi aku tidak akan kembali hanya untuk membuat masa laluku menerima penjelasan yang baru sanggup kupahami sekarang.
Tulisan-tulisannya sudah sampai kepadaku. Orang-orang yang menyimpannya sudah mengatakan apa yang mereka ketahui. Sebagian jawaban memang tidak lengkap, tetapi aku tidak harus terus mengorbankan hidup yang sedang berjalan demi menagih kesempurnaan dari hari yang sudah lewat.
Aku melepaskan genggaman pada liontin, membiarkannya jatuh kembali ke dadaku. Untuk pertama kali, aku tidak merasa harus menggenggam sebuah benda agar seluruh orang yang kucintai tetap berada di dunia.
Ada sesuatu berkilau di atas pekarangan. Cahaya itu menyentuh penglihatanku, dan untuk sesaat suara rumah terasa jauh. Aku mengenali sensasi yang dahulu mendahului gelap, kekosongan yang membuatku merasa seolah tidak lagi mempunyai tubuh di tempat mana pun.
Tanganku mencengkeram ujung bangku.
Aku dapat membayangkan kata-kata yang pernah begitu mudah terucap: seandainya aku memilih jalan lain, seandainya aku dapat kembali sebelum semuanya dimulai. Malam ini masih ada ketakutan yang dapat memberiku alasan untuk mengatakannya lagi. Bapak tetap sakit. Bintang tetap seorang anak yang tidak bisa kulindungi dari seluruh dunia. Kaivan tetap manusia yang dapat membuat kesalahan.
Tetapi dari dalam rumah terdengar suara suamiku memanggil namaku.
'Git, kamu masih di situ?'
Aku mengangkat wajah. Pintu masih terbuka. Cahaya ruang tengah jatuh ke rumput, dan aku mendengar Bapak bertanya apakah aku sudah minum. Suara Bintang menyusul, kecil dan nyata, tidak menunggu aku menyelesaikan perundingan dengan langit.
'Aku di sini,' jawabku.
Kalimat itu membuat napasku kembali terasa sampai ke dada. Aku tetap duduk beberapa saat, membiarkan kilau di penglihatan memudar. Tidak ada permintaan untuk mengganti suami, anak, atau diriku dengan versi yang tidak pernah menanggung luka.
Ketika Kaivan muncul di pintu, aku berdiri. Dia tidak menarikku sebelum aku melangkah sendiri. Aku menghampirinya dan meletakkan tangan pada lengannya, merasakan hangat yang tidak berasal dari sebuah ingatan.
'Apa yang kamu minta?' tanyanya pelan.
Aku menggeleng. 'Aku tidak meminta kembali.'
Kaivan menatapku dengan mata basah. Kami masuk bersama. Bintang memerlukan perhatian, Bapak menginginkan air, dan ada pekerjaan kecil yang belum selesai sejak sore. Aku menyambut semuanya dengan rasa lega yang begitu besar sampai kembali menangis.
Malam itu, sebelum tidur, aku menuliskan tanggal pada halaman kosong. Di bawahnya hanya ada satu kalimat: aku tetap tinggal.
Lalu buku kututup, lampu dipadamkan, dan tanganku mencari tangan Kaivan di dalam gelap yang kali ini tidak membawaku pergi.