Cahaya menyentuh wajahku ketika pagi datang. Untuk satu detik, tubuhku menegang sebelum mata terbuka. Aku pernah mengenali cahaya seperti itu sebagai awal dari dunia yang tidak lagi berada pada tahun yang sama.
Tetapi yang pertama kudengar adalah Kaivan berbisik kepada Bintang agar membiarkan aku tidur sedikit lebih lama. Usahanya jelas tidak berhasil. Anak kami mengeluarkan suara, lalu Kaivan tertawa pelan seperti seseorang yang baru saja kalah dalam perundingan penting.
Aku membuka mata.
Kamar di rumah Bapak masih sama seperti semalam. Cincin masih berada di jariku. Di layar ponsel, tanggal sudah berganti satu hari, tetap pada Juli 2020. Ada foto-foto Bintang, pesan dari Hara, dan kalimat terakhir yang kutulis sebelum tidur.
Aku tetap tinggal.
Kaivan menoleh ketika melihatku bergerak. 'Selamat pagi.'
Aku menatapnya sampai dia mendekat, sedikit khawatir. Lalu aku tersenyum dengan mata yang mulai basah.
'Selamat pagi, Kai.'
Tidak ada perayaan besar karena waktu tidak kembali. Ada bayi yang perlu dirawat, air yang harus diambil, dan suara Bapak dari luar kamar menanyakan sarapan. Aku bangkit dengan tubuh masih lelah, tetapi rasa lelah itu milikku pada pagi ini, bukan sisa dari hidup yang tiba-tiba dirampas dariku.
Di ruang makan, Bapak mengingatkan bahwa dia belum diizinkan melakukan semua hal sesuka hati. Kaivan menertawakannya karena kalimat itu diucapkan sambil berusaha mengambil sesuatu yang sebenarnya dapat kami ambilkan. Aku meletakkan piring dan mengomel sebentar.
Bapak tersenyum. 'Mau Bapak masakkan apa kalau sudah lebih kuat nanti, Git?'
Aku memegang tepi meja.
Ada sebuah kehidupan ketika pertanyaan itu hanya dapat kudengar dari ingatan. Pagi ini aku dapat menjawab, memilih makanan, lalu berubah pikiran karena Kaivan mengusulkan sesuatu yang berbeda. Aku tidak perlu menahan seluruh percakapan agar tidak lewat. Aku hanya perlu hadir di dalamnya.
Kami kembali ke kota setelah keadaan dan pengaturan bantuan Bapak cukup jelas. Perawatannya diteruskan. Ada kunjungan, kabar lewat telepon, dan waktu ketika rencana harus disesuaikan. Bapak tidak menjadi orang yang tidak mungkin sakit lagi, tetapi dia tidak lagi diminta menyembunyikan keluhan demi menjaga kami tidak khawatir.
Sisa 2020 berjalan tanpa menghapus bekas yang kubawa. Kadang aku masih terbangun sedih. Kadang sebuah tempat mengembalikan wajah Bintang dari kehidupan yang lain. Aku tidak menuntut ingatan itu berhenti agar dapat menyebut diriku bahagia. Aku belajar membiarkannya lewat bersama dukungan yang tetap kumiliki.
Kaivan dan aku masih bertengkar sesekali. Ada jadwal yang tidak cocok, cucian yang terlupa, dan kata-kata yang perlu diperbaiki. Tetapi kami tidak memakai kesulitan sebagai alasan untuk membuat orang lain takut berada di rumah. Ketika salah, kami berusaha memperbaiki tindakan, bukan hanya mencari kalimat yang terdengar menyesal.
Aku tetap bekerja. Ada tanggung jawab baru yang dapat kuambil dan ada kesempatan yang kutunda setelah membicarakan keadaan keluarga. Menunda tidak selalu berarti kalah, seperti menerima pekerjaan tidak selalu berarti meninggalkan anak. Kami membuat pilihan berdasarkan hidup yang sedang dijalani, lalu meninjaunya kembali ketika perlu.
Urusan Pak Idrus tetap berada pada tim penanganan yang berwenang. Tidak semua masalah selesai secepat harapan, tetapi laporan lengkap tetap menjadi dasar, fasilitas baru tidak pernah diberikan hanya karena tekanan, dan aku tidak perlu lagi membawa seluruh perkara pulang sebagai beban yang harus kutanggung sendiri.
Suatu sore, aku merapikan salinan surat serta rekaman yang telah kami simpan. Tulisan 2009 tetap ada. Nama-nama dan tahun yang dulu mustahil diketahui tetap berada pada tempatnya. Aku tidak perlu membakarnya untuk membuktikan sudah berhenti takut, dan tidak perlu memutarnya setiap hari agar yakin semua yang kualami bukan sekadar mimpi.
Aku menambahkan selembar kertas baru, ditulis dengan tanganku pada tahun yang sekarang. Bukan petunjuk untuk diriku yang harus kembali, melainkan jawaban kepada gadis yang pernah begitu takut melupakan.
Kamu tidak harus kehilangan semua orang agar berhak meminta pertolongan.
Sesudahnya aku menutup map. Aku tidak menyembunyikannya dari Kaivan. Kami tahu tempatnya, tahu isinya, dan tahu bahwa hidup kami tidak harus selalu dimulai dengan membukanya.
Februari 2021 tiba dengan Bintang yang tidak lagi muat dalam pakaian kecil dari rumah sakit. Menjelang ulang tahunnya, aku duduk memisahkan beberapa barang yang ingin disimpan. Kaivan menemukan baju yang pernah salah dia pasangkan, lalu mengangkatnya dengan wajah seolah baru melihat betapa kecilnya anak kami dahulu.
'Dia pernah muat di sini?'
'Kamu sendiri yang memakaikannya.'
'Aku seperti tidak ingat.'
Aku tertawa. Untuk sekali ini, melupakan sebuah ukuran tidak terasa sebagai ancaman. Ada terlalu banyak hari yang sudah kami jalani, dan sebagian akan selalu tersimpan lebih jelas daripada yang lain.
Kami merayakan ulang tahun Bintang dengan sederhana. Hara datang bersama Ferdi dan Kenzou yang belum genap setahun. Kedua anak itu lebih tertarik pada benda-benda di sekitar mereka daripada pada rencana orang dewasa mengambil foto. Aku dan Hara saling memandang, lalu tertawa dengan kelelahan yang sudah kami kenal bersama.
Ibu Rieka membantu tanpa mengambil semua pekerjaan dari tanganku. Mama dan Aries mengirim ucapan serta kabar mereka, sementara Risa dan Bu Laila menyapa lewat panggilan singkat. Meyra mengirim harapan baik tanpa perlu menjadi bagian dari percakapan tentang masa lalu. Ada orang yang hadir dekat, ada yang hadir dari jauh, dan aku tidak lagi menilai kasih sayang hanya dari siapa yang dapat berada di ruangan pada jam yang sama.
Bapak membawa hasil cetak naskah yang akhirnya selesai. Dia meletakkannya di meja dengan bangga yang berusaha disamarkan sebagai hal biasa. Aku membuka beberapa halaman, menemukan bagian yang pernah kami perdebatkan, lalu mengatakan kalimatnya sekarang lebih mudah dibaca.
'Jangan bilang Bapak tidak menerima kritik,' katanya.
Aku memeluknya. Dia masih mempunyai hal yang ingin ditulis sesudah buku itu, dan aku ingin mendengarnya.
Menjelang sore, Kaivan duduk di lantai bersama Bintang. Anak kami mencoba meraih sesuatu, gagal, kemudian menoleh kepada ayahnya dengan wajah kesal. Kaivan tertawa dan membantu tanpa menjadikan kegagalan kecil itu akhir dari usaha.
Aku berdiri di dekat mereka, menyentuh liontin bintang yang sudah begitu biasa berada di dadaku. Dahulu aku mengira kebahagiaan berarti menemukan hidup yang tidak pernah rusak. Sekarang aku melihatnya pada orang-orang yang mau tetap berbicara, memperbaiki, beristirahat, lalu mencoba lagi.
Kaivan mengangkat wajah dan mengulurkan tangan. Aku duduk di sampingnya. Bintang berpindah mendekat kepadaku, hangat, sibuk, dan penuh kehidupan yang belum dapat kami tebak.
'Dulu aku sudah bilang Leo cocok dengan Sagitarius,' bisik Kaivan.
Aku menatapnya, lalu tertawa. 'Jangan berikan semua hasil kerja keras kita kepada zodiak.'
Dia ikut tertawa dan meraih tanganku. Aku menyandarkan bahu kepadanya. Ada kebiasaan yang tetap kami kenali, ada hal yang berhasil kami ubah, dan ada hari-hari yang masih perlu dipelajari bersama.
Di luar, langit perlahan berubah warna. Aku tidak meminta bintang jatuh membawaku ke tempat lain.
Besok, aku ingin bangun di sini lagi.
TAMAT