Sekolah dan Dukungan Tim
Pagi hari, Tiara bangun dengan rasa lemas dan pegal di sekujur tubuh. Bukan hanya karena aktivitas basketnya, tetapi juga karena amarah yang mengendap setelah konfrontasinya dengan Joko yang angkuh kemarin.
Ia melihat Kakak Sulungnya sedang menyiapkan sarapan. "Pagi, Kak."
"Pagi, Tiara," balas Kakaknya. "Kenapa kamu lemas begitu?"
"Kalah, Kak, kemarin," jawab Tiara, menunduk. "Padahal dikit lagi juara satu."
Kakaknya menoleh, tersenyum hangat. "Ya sudah, kan itu cuman permainan, Tiara. Kamu harus lebih giat lagi latihannya, tetap semangat."
"Iya, Kak, makasih," Tiara mengambil roti.
"Tapi kan SMA kamu dapat juara dua, enggak jelek-jelek amat, Tiara," Kakaknya tertawa. Tiara ikut tersenyum tipis. "Hehe."
"Sudah sana berangkat, nanti terlambat," usir Kakaknya dengan nada bercanda. Tiara buru-buru berangkat ke sekolah seperti biasa.
Di sekolah, saat masuk ke kelas, Tiara disambut sorakan.
"Ini dia! Pemain terbaik kita!" celetuk Nela, teman setimnya, diikuti sorak gembira anak-anak lain. Meskipun kalah, teman-temannya tetap menganggapnya pahlawan. Hati Tiara sedikit menghangat.
Namun, di tengah-tengah pujian itu, pikiran Tiara kembali tertuju pada Joko. Bayangan Joko yang meremehkan kemampuannya jauh lebih menyakitkan daripada kekalahan di lapangan. Kebencian terhadap Joko menjadi motivasi barunya.
Bel berbunyi, menandakan pulang sekolah. Evan datang menghampiri Tiara di pintu kelas.
"Hai, Tiara. Permainan kamu hebat banget kemarin," sapa Evan, dengan senyum khas playboy yang memesona.
"Lah, emang kamu nonton?" tanya Tiara, terkejut.
"Iyalah, ada kamu, ya pasti aku nonton, kan kamu adalah belahan jiwaku," jawab Evan santai.
Evan adalah teman sekolah Tiara tapi beda kelas. Evan adalah sosok yang ganteng dan tajir, tetapi terkenal playboy. Tiara tidak menyukainya. Sifat flirty Evan justru mengingatkannya pada sisi santai dan meremehkan dari Joko, hanya dalam versi yang lebih manis.
Tiara segera memotong pembicaraan. "Makasih, Evan. Tapi aku harus segera pergi. Ada urusan mendesak," Tiara bergegas membereskan tasnya.
"Lah, kan kita bisa jalan bareng," desak Evan, meraih lengan Tiara dengan lembut. "Aku anterin kamu deh."
Untungnya, Nela datang. "Hai Tiara, jadi gak?"
"Jadi dong!" sahut Tiara cepat. "Maaf, Evan, aku beneran ada acara." Tiara berjalan dengan Nela menjauhi Evan, yang terlihat cemberut.
"Untung ada kamu, Nel," kata Tiara begitu mereka menjauh.
"Eh, kenapa sih lu ngejauhin Evan?" Nela menuntut. "Dia itu tinggi, ganteng, tajir lagi! Wuih, kalau aku mah udah klepek-klepek kalau dia yang mendekati aku."
"Sana, lu aja!" balas Tiara. "Gue enggak suka anak manja seperti dia yang apa-apa dibeliin ortunya. Dia playboy, dan dia nggak tahu arti susah. Aku benci orang yang meremehkan kerja keras."
"Lu suka ya sama Evan?" Pipi Nela memerah.
"Ya udah, nanti kubilangin!" goda Nela.
"Eh, jangan! Gila aja lu!" sergah Tiara. "Masa cewek suka cowok duluan?"
Keduanya terbahak-bahak sembari meninggalkan sekolah, sejenak melupakan kekalahan dan kebencian.
Pertemuan di Jalur Lari
Pukul 4 sore. Tiara tiba di taman kota terdekat. Ia mengenakan tracksuit dan headset dengan volume penuh. Ia memulai jogging. Setiap sore memang Tiara selalu melakukan jogging. Gara-gara kalah kemarin, jogging-nya diperpanjang sampai Taman Cendrawasih. Ia menggunakan disiplin fisiknya agar tidak lembek di lapangan, karena Tiara begitu mencintai basket.
Saat ia mulai kecapean, ia memperlambat langkahnya. Matanya menangkap siluet seseorang yang ia kenal—dan benci.
Di bangku kayu di bawah pohon rindang, duduk Joko. Dia memakai hoodie gelap dan celana jeans yang simple, tetapi terlihat rapi. Tingginya yang semampai dan bahunya yang atletis—hasil dari pekerjaan manual—membuatnya tampak menonjol. Di depannya, terhampar buku-buku tebal, catatan, dan laptop yang menyala. Dia tampak fokus, serius, dan—yang paling membuat Tiara jengkel—cerdas dan penuh semangat dalam kesibukannya online.
Tiara berhenti tepat di depannya, terengah-engah. Ia melirik notes di laptop Joko yang penuh grafik dan istilah akademik.
Joko mendongak, matanya bertemu dengan Tiara yang berkeringat. Ekspresinya langsung berubah dari serius menjadi sinis.
"Wah, lihat siapa yang jogging nih," sapa Joko, tanpa repot-repot menutup laptopnya. "Aku harap kamu tidak akan menyenggol minumanku",. Tiara membalasnya dengan senyum sinis.
"Bercanda kali," kata Joko, lalu menggeser tempat duduknya. "Duduk sini." Tiara duduk di sebelah Joko.
"Ngerjain apa, Kak?" tanya Tiara, nadanya kini lebih ingin tahu daripada menyerang.
"Oh, ini kerja paruh waktu. Maklum lah, anak perantauan," jawab Joko santai. "Kamu mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot, Kak."
Tanpa basa-basi, Joko membelikan sebotol air mineral dan memberikannya ke Tiara. "Sudah, terima aja. Kamu kan perasaannya rumahnya di Perumahan Mekar, kok bisa jogging sampai sini?"
"Lah, kok Kakak tahu?"
"Kata Rike? Rike pacar Kakak?" Tiara menyelidik.
"Ye, bukan kali," bantah Joko, tertawa kecil. "Dia sahabat aku, orangnya baik, penuh perhatian."
"Kakak suka ya?" goda Tiara.
"Weleh, kamu bisa aja. Dia itu tajir, gue itu orang biasa, ya gak mungkin lah," jawab Joko, nadanya sedikit berubah menjadi realistis.
Joko mengalihkan topik. "Btw, gue lihat kemarin lo liatin gue terus hilang fokus. Suka ya sama gue?"
Pipi Tiara memerah. "Ih, gila aja! Ngapain gue suka cowok yang angkuh dan belum gue kenal? Kakak kuliah di mana?"
"Di STIE dekat sini."
"Oh... Kakak kerja paruh waktu?"
"Iya, Dek, buat uang jajan. Kalau malam juga kerja di Pecel Lele di dekat Islamic Center. Ya buat bayar kos sama kuliah."
Joko kembali fokus pada laptopnya, menutup tirai diskusi personal itu. Tiara menatapnya, ada campuran kebencian, kekaguman, dan rasa bersalah karena telah salah menilai pria ini.
Tiba-tiba, Joko melambaikan tangannya. "Itu Rike," kata Joko. "Ke sini, Ke!"
Rike juga sedang jogging karena rumahnya dekat Taman Cendrawasih. Rike menghampiri Joko dengan muka yang awalnya cemberut (mungkin kesal karena harus lari), tetapi pas hampir sampai, dia langsung tersenyum lebar melihat Joko. Rike sering jogging karena tahu setiap sore Joko pasti ada di taman. Jogging menjadi alasan yang pas untuk bertemu pria yang ia sukai.
"Loh, Tiara? Sudah lama di sini? Tumben nyampe sini," sapa Rike ramah.
"Ya, kemarin kan kalah sama tim kamu, jadi jogging-ku di perpanjang," jawab Tiara, sedikit canggung karena Rike baru tahu pertemuannya dengan Joko.
Joko tersenyum penuh kemenangan melihat dua gadis di dekatnya. Dah sore nih gue pulang dulu ya
Perintah Mendadak
Setelah sesi jogging dan pertemuan singkat itu, Tiara bergegas pulang. Ia mendinginkan badan dan mandi, lalu bersantai.
Tepat pukul 7 malam, ponselnya berdering. Itu Kakak Sulungnya.
"Tiara! Kamu harus segera ke Rumah Makan Bumbu Desa sekarang juga! Ini mendesak!" Suara Kakaknya terdengar sangat tegang.
"Rumah Makan? Kenapa, Kak?" tanya Tiara, bingung.
"Tolong Kakak ambilkan kotak bekal makan malam Kakak yang tertinggal di sana! . Jangan sampai kotak itu hilang, isinya ada flash drive penting untuk presentasi besok! Cepat dan jangan sampai kamu membuat masalah!"
Tiara mendengus. Sebuah kotak bekal? Tugas konyol ini? Tiara terpaksa menuruti. Ia meraih kunci motor dan bergegas, mengabaikan rasa lelahnya.