Fahri dan kedua sahabatnya saat ini sedang berada di kelas, menunggu sang dosen untuk memberikan materi.
Suasana di kelas begitu riuh terdengar tatkala sang dosen cantik memasuki kedalam kelas, ya. Sang dosen tersebut Tidak Lain adalah Maira Az-Zahra sang bidadari Kampus. Hal itu sontak juga menghentikan obrolan sang tida sejoli yang saat ini tengah duduk berhadapan.
Sang dosen berjalan dengan langkah gontai namun tetap tegas, wajahnya yang indah sama sekali tidak memberikan senyuman pada para mahasiswa.
Maira memang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tegas, namun entah mengapa setiap kali Fahri bertemu dengan Maira, selalu memberikan senyum ramah yang tentu saja menambah kecantikan dan keindahan sang ciptaan Tuhan tersebut.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh, pagi semuanya" ucap sang dosen hendak memulai pelajaran dan disusul dengan jawaban para mahasiswa dengan antusias
"Hari ini kita akan membahas materi tentang strategi pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Berhubung pada program jurusan ini, kita semua dipersiapkan untuk menjadi seorang pendidik. Untuk itu, pembahasan kali ini sangat penting, karena sebagai seorang pendidik, kita harus mengetahui strategi pendidikan agar semua yang kita ajarkan kepada siswa siswi kelak bisa tersampaikan dengan tepat sasaran...." Tutur Bu Dosen seraya menjelaskan panjang lebar kepada para mahasiswa di kelas tersebut.
"Baiklah, sekarang saya kasih kesempatan kepada Teman teman untuk bertanya ataupun memberikan Pernyataan terhadap pembahasan yang barusan" ucap sang dosen mempersilahkan kepada para mahasiswa untuk bertanya
"Saya Bu.." ujar Fahri sambil mengangkat lengannya
"Iya silahkan !" Tutur sang dosen sambil melirik sedikit ke arah Fahri
"Oh, Fahri. Silahkan mau bertanya atau memberi pernyataan ?" Ujar Bu dosen sambil sedikit tersenyum. Entah mengapa dari pertama bertemu pada insiden kemarin maira sedikit merasa kagum pada sosok Fahri tersebut, sosoknya yang tenang, tatapannya yang teduh, membuat siapa saja betah melihatnya.
"Sebenarnya saya mau bertanya Bu" jawab Fahri
"Iya silahkan" ucap maira mempersilahkan
"Jadi gini Bu, kebetulan saya seorang guru di lembaga Sekolah Menengah Atas. Masalah Yang kerap saya hadapi sebagai seorang pendidik adalah ketika siswa yang sering kali tidak semangat dalam belajar. Hal itu bagi saya sangat berpengaruh besar terhadap penerimaan pelajaran yang tidak maksimal. Karena kesemangatan belajar sendiri sangat penting terhadap masuknya ilmu pada pemahaman para siswa. Yang hendak saya tanyakan adalah, bagaimana caranya menumbuhkan kesemangatan belajar pada siswa. Terimakasih" tutur Fahri
"Hmm, pertanyaan yang bagus. Jadi gini, kalau misalkan kita mendapati para siswa tidak ada kesemangatan dalam belajar. Maka coba buat pola belajar yang interaktif. Jadi pembelajaran yang menggunakan cara dialog ataupun diskusi dalam pembelajaran. Kita tsebagai pendidik jangan hanya menjelaskan panjang lebar materi, tetapi kita memberikan kesempatan para siswa untuk mencari tahu terlebih dahulu tentang pelajaran yang akan dipelajari dan juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengungkapkan hal yang diketahuinya tentang materi tersebut. Kita sebagai pendidik harus bisa menjadi mediator yang baik bagi para siswa ketika belajar, dan terakhir baru kita jelaskan tentang materi yang telah didiskusikan tadi. Dan jangan lupa, kita harus memberikan reward bagi para siswa agar antusias dalam diskusi tersebut. Bisa reward berupa nilai atau apapun yang sifatnya dapat menambah motifasi belajar. Bisa difahami ?" Tanya Maira setelah memberikan penjelasan yang panjang atas pernyataan Fahri yang membuat lelaki tersebut sungguh sangat menambah kekaguman pada sang dosen cantik di depannya tersebut.
Entah mengapa, melihat maira yang sedang menjelaskan pertanyaan Fahri membuat lelaki itu tak bisa berpaling dari sosok indah di depannya.
"Subhanallah" sontak hal itu keluar dari mulut Fahri
"Apa ?" Tanya Maira sambil mengerenyitkan dahinya yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan Fahri
"Ma-maksud saya saya sangat faham apa yang ibu jelaskan barusan. Terimakasih" ucap Fahri sambil menyuguhkan senyumnya yang manis, yang membuat jantung maira berdetak tak karuan
"Haduh kok setiap liat senyumnya jantungku seakan berdetak tak karuan. Manis banget senyumnya" gumam maira dalam hati
"Iya sama sama" jawab maira
Hingga jam istirahatpun tiba, dan seperti biasa ketika sahabat itu pergi menuju kantin kampus untuk melaksanakan makan siang. Merekapun memakan makanannya setelah duduk di kursi yang disediakan kantin sambil sesekali berbincang bincang.
"Eh RI, tau gak ada yang aneh loh" Tanya Rizal pada Fahri sambil memasang ekspresi seriusnya
"Apa Zal ?" Tanya Fahri
"Gak biasanya Bu Maira tersenyum loh ke mahasiswa. Biasanya beliau itu selalu memasang tampang serius dan dingin hampir ke semua orang, terkecuali ke sahabat sahabat deketnya. Lah sama Lo dia malah tersenyum. Gua jadi heran" tutur Rizal
"Ya aku gak tau Zal, tapi kalau menurutku sih biasa aja orang tersenyum ke seseorang itu" jawab Fahri yang memang tidak tau kebiasaan maira di kampus, berbeda dengan Rizal yang mengetahui kebiasaan dosennya tersebut. Pasalnya Rizal sejak dari program S1 sudah berkuliah di Universitas tersebut dan memang sudah sangat sering maira mengajar di kelasnya dulu.
"Yah Lo gak tau sih, gua kasih tau yah...." Ucap Rizal menggantung karena melihat sosok yang dibicarakannya tersebut berada di depan meja yang mereka tempati
"Permisi, bisa saya ikut duduk disini ?" Tanya sosok tersebut
Sontak membuat Fahri dan Nayla menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka mendapati seorang Bu Maira yang tengah berdiri sambil menenteng makanan di atas nampan. Sedangkan Rizal memang sedari tadi sudah melihat Maira sehingga dia langsung menghentikan bicaranya berganti dengan senyum kikuk salah tingkah yang khawatir apabila Maira mendengar apa yang baru saja dikatakannya.
"Eh, Bu Maira. Ayo silahkan Bu" ucap Fahri mempersilahkan, sedangkan Nayla hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Maira pun mengambil tempat duduk kosong tempat di samping Fahri. Ada dua sosok yang saling pandang keherenan. Pasalnya dalam sejarah dunia kampus di universitas tersebut, seorang Maira Az-Zahra, dosen sekaligus wakil rektor yang memiliki kedudukan tinggi di kampus tersebut Sudi untuk duduk makan bersama dengan mahasiswanya.
Sedangkan Fahri sendiri benar benar gugup duduk sedekat ini dengan sang Ibu Dosen cantik tersebut. Entah mengapa, paras wanita yang duduk di sebelahnya saat ini selalu sukses membuat Fahri terpukau mengagumi keindahan Makhluk Ciptaan Tuhan yang satu ini.
Hingga merekapun kembali melanjutkan makan, dan maira pun mulai menyendokan makanannya kedalam mulut. Tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keempat insan yang sekarang tengah duduk mengelilingi meja yang sama. Ya, tepatnya ketiga mahasiswa yang duduk bersama dosennya itu tidak ada yang berani memulai percakapan.
Hingga akhirnya sang dosen mulai buka suara
"Jadi kamu ngajar di sekolah SMA, Fahri ?" Tanya Maira pada fahri sambil melirik insan yang menjadi tujuan pertanyaan tersebut
"I-iya Bu, saya ngajar di SMA di daerah Soreang" jawab Fahri tergagap
"Oh, jauh yah. Emang kamu rumahnya dimana ?" Tanya Maira kembali
"Ya masih di daerah situ Bu. Lumayan Deket dari sekolah tempat saya mengajar" jawab Fahri
"Oh" sahut maira sambil mengangguk nganggukan kepalanya
Suasana pun kembali hening kembali, hingga ada sesosok laki laki yang tiba tiba menghampiri meja tempat mereka makan
"Bu Maira, loh kenapa makan disini. Biasanya dikantor bareng dosen yang lain ?" Tanya lelaki tersebut yang merasa heran ternyata dosen cantik incarannya itu ada di kantin yang biasa para mahasiswa makan disana
"Tidak apa apa pak, jenuh aja di kantor" jawabnya dengan datar
"Oh, kalau gitu saya juga mau makan disini. Mau pindah meja gak Bu sama saya. Tuh disana ada meja kosong" tanya lelaki itu yang terus gencar mendapatkan perhatian maira
"Tidak Pak terimakasih, saya sudah terlanjur disini" jawab maira yang masih dengan nada datarnya
"Kalo begitu kalian bertiga pindah meja sana, gak sopan kalian duduk bareng dosen" ujar pria tersebut dengan nada mengusir
"Pak Farhan, maaf yah. Saya yang meminta mereka untuk mengizinkan saya duduk disini. Jadi, bapak tidak berhak untuk mengusir mereka, karena mereka yang lebih dulu duduk disini. Kalau pak Farhan mau makan di kantin ini, silahkan pak Farhan duduk sendiri di meja yang kosong itu. Saya nyaman disini" Tutur Maira yang mulai kesal dengan tingkah teman dosennya tersebut. Pasalnya bukan kali ini saja Pak Farhan bersikap seperti itu, tapi sudah menjadi sifat lelaki itu yang arogan dan semena mena terhadap orang lain, dan hal itu tentu saja tidak disukai oleh Maira
"Bu Maira ini kenapa sih sama saya itu selalu bersikap dingin. Kasih saya kesempatan Bu buat bisa dekat sama ibu, siapa tahu kita berjodoh. Kan sama sama single" ucap Farhan sembari Menaik turunkan alisnya menggoda maira. Dan hal itu membuat maira sangat jijik dengan model model laki laki seperti itu
"Maaf Pak Farhan, tapi tidak terimakasih" jawab maira ketus, dan hal itu menampakan raut kekecewaan diwajah Farhan dan langsung berlalu tanpa kata
"Awas ya kamu Maira, suatu saat nanti aku akan membuat kamu tunduk padaku, tunggu tanggal mainnya" gumam Farhan dalam hati sambi terukir seringai jahat di bibirnya
"Hemm, Bu Maira. Maaf nih yah saya lancang. Tapi sepertinya Pak Fauzan ngebet banget sama ibu. Apa gak ibu coba aja jalanin hubungan denga beliau" ucap Rizal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Maira, dan hal itu membuat Rizal menjadi merinding dan merutuki kebodohannya karena sudah bicara demikian
"Eh. .maaf Bu maaf saya hanya bercanda" ucap Rizal gelagapan
Maira hanya mendiamkan saja pernyataan Rizal tersebut, dan saat ini pandangannya berpindah pada Fahri.
"Nanti sore kamu ada waktu gak habis selesai kuliah, kebetulan saya sedang membuat proyek sistem pembelajaran dan ingin menanyakan langsung ke orang yang memang terjun dilapangan untuk mengajar, buat bahan materi saya" tanya Maira pada Fahri
"Bi-bisa Bu bisa, insyaalloh saya ada waktu. Cuma sampai jam 5 sore saja, karena saya harus pulang, takutnya anak kembar saya nungguin" jawab Fahri setenang mungkin takut takut ada salah kata yang diucapkan pada dosennya tersebut
"Anak ?? Kamu udah nikah ??" Tanya Maira dengan nada kaget
"Te-tepatnya sudah pernah Bu, istri saya meninggal setahun yang lalu karena penyakit serius" jawab Fahri yang masih tergagap
"Oh jadi kamu single Father yah. Saya turut perihatin, kamu yang sabar yah. Yang namanya umur itu sudah ketentuan Allah, kita sebagai manusia hanya bisa menerima dengan ridho apa yang telah Tuhan tetapkan untuk kita" nasehat Maira yang prihatin mengetahui keadaan Fahri
"Iya Bu, saya sudah mengikhlaskan sejak lama. Dan saya tak pernah sedikitpun mengeluh atas apa yang telah Allah takdirkan" tutur Fahri
"Kata Fahri, dia lagi nyari ibu baru buat si kembar anaknya bu, barangkali ibu bersedia. Hehe" kata Rizal sambil terkekeh, dan sontak mendapatkan pelototan dari Fahri.
Rizal sudah mengetahui tentang Fahri dari Nayla, dia juga menceritakan pertemuan kemarin dengan Fahri kepada Rizal. Tak dapat dipungkiri, hal itu membuat Rizal sedikit cemburu. Pasalnya sedari dulu Rizal sudah menaruh hati pada sahabat sejak kecilnya tersebut, sehingga kemanapun Nayla bersekolah, pasti Rizal bersekolah di tempat yang sama dengan Nayla karena ingin selalu dekat dengan orang yang dicintainya tersebut. Sedangkan Nayla tidak pernah punya perasaan apapun karena Nayla hanya menganggap Rizal sebagai sahabat, tidak lebih. Ditambah, Rizal tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Nayla.
Pernyataan Rizal tersebut hanya dibalas senyuman oleh Maira sambil menggeleng geleng kepala.
*****