Pagi hari.
Langit kota masih diselimuti awan tipis ketika Cynthia Armand berdiri di depan gedung Pratama Capital.
Gedung setinggi empat puluh lantai itu terlihat megah.
Namun pagi ini, Cynthia merasa langkahnya jauh lebih berat dari biasanya.
Semalam ia hampir tidak bisa tidur.
Karena satu hal.
Leonard Pratama mulai mencurigainya.
Ia menarik napas panjang.
Lalu masuk ke dalam gedung.
Di lantai paling atas.
Leonard sedang berdiri di depan jendela besar sambil memandang kota.
Tanpa menoleh, ia berkata,
"Kamu terlambat dua menit."
"Maaf, Pak."
Cynthia menunduk sedikit.
Leonard akhirnya berbalik.
Tatapannya tajam seperti biasa.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ia sedang mengamati.
Bukan hanya mendengar jawaban.
Tetapi mengamati perubahan kecil di wajah Cynthia.
"Kamu sudah cukup dekat dengan Wendri?"
Cynthia berusaha tetap tenang.
"Cukup."
"Bagaimana orangnya?"
"Dia berhati-hati."
"Bukan orang yang mudah percaya."
Leonard mengangguk pelan.
Lalu berjalan mendekat.
"Kamu menyukainya?"
Pertanyaan itu membuat Cynthia membeku.
Beberapa detik.
Namun ia segera menggeleng.
"Tidak."
Leonard menatap matanya beberapa saat.
Lalu tersenyum tipis.
Senyuman yang justru membuat Cynthia semakin tegang.
"Bagus."
"Aku tidak suka bawahanku melibatkan perasaan."
Setelah Cynthia keluar dari ruangan.
Leonard kembali duduk di kursinya.
Kemudian memanggil seseorang.
"Masuk."
Seorang pria berjas hitam masuk.
Namanya Arsen Kurnia.
Tangan kanan Leonard.
"Pak."
"Awasi Cynthia."
Arsen tampak sedikit terkejut.
"Nona Cynthia?"
"Ya."
"Diam-diam."
Arsen mengangguk.
"Baik."
Leonard kembali melihat foto Wendri di atas meja.
Instingnya mengatakan sesuatu sedang berubah.
Dan selama bertahun-tahun.
Instingnya hampir tidak pernah salah.
Sementara itu.
Wendri sedang bekerja seperti biasa.
Namun pikirannya masih memikirkan peringatan sistem.
> Konflik Besar Akan Terjadi.
Estimasi: 7 Hari.
Ia tidak tahu konflik seperti apa.
Tetapi jika melibatkan Leonard...
Maka masalahnya tidak akan sederhana.
Saat sedang beristirahat.
Panel sistem tiba-tiba muncul.
> [Misi Kedua]
Temukan Peluang Multibagger Pertama.
> Waktu Tersisa: 7 Hari.
> Target:
PT Nusantara Teknologi Digital (NTD)
> Status:
Momentum Akan Tiba.
Mata Wendri langsung menyipit.
Momentum?
Beberapa detik kemudian.
Muncul informasi tambahan.
> Dalam 3 hari akan terjadi peristiwa penting.
> Probabilitas kenaikan besar: 95%.
Jantung Wendri mulai berdetak lebih cepat.
Ini kesempatan besar.
Mungkin kesempatan terbesar sejak SMT.
Namun...
Ia juga tahu.
Semakin besar peluang.
Semakin besar risiko.
Malam hari.
Wendri menerima telepon dari Alicia Wijaya.
Sudah beberapa hari mereka tidak berkomunikasi.
"Halo."
Suara Alicia terdengar santai.
"Apa kamu sibuk?"
"Tidak."
"Aku mendapat informasi."
Wajah Wendri langsung serius.
"Informasi apa?"
"Leonard mulai bergerak lebih agresif."
"Aku menyuruh orang mengawasinya."
"Dan..."
Alicia berhenti sejenak.
"Dia mulai mengawasi Cynthia."
Wendri terdiam.
Berarti sistem benar.
Leonard memang mulai curiga.
"Kamu harus hati-hati."
kata Alicia.
"Leonard bukan orang yang mudah menyerah."
Wendri mengangguk meski Alicia tidak bisa melihatnya.
"Aku mengerti."
Setelah telepon berakhir.
Wendri berdiri di depan jendela kamarnya.
Melihat langit malam.
Pikirannya bercampur aduk.
Saham NTD.
Misi sistem.
Cynthia.
Dan Leonard.
Semuanya datang bersamaan.
Tepat saat itu.
Panel sistem muncul.
Namun kali ini...
Warnanya emas.
> [Misi Tersembunyi Diperbarui]
> Lindungi Cynthia Armand.
> Bahaya akan datang lebih cepat dari perkiraan.
> Estimasi:
72 Jam Lagi.
Tatapan Wendri langsung berubah.
Tiga hari.
Hanya tiga hari.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia merasa tidak bisa hanya duduk diam menunggu.
Karena kali ini...
Jika ia terlambat mengambil keputusan.
Mungkin ia akan kehilangan seseorang yang baru saja mulai mempercayainya.
Malam itu, Wendri Abas tidak bisa tidur.
Tatapannya terus tertuju pada panel emas yang melayang di depan matanya.
Wendri menghela napas pelan.
Tiga hari.
Waktu yang sangat singkat.
Namun masalahnya...
Ia bahkan belum tahu bahaya
seperti apa yang akan datang.
Apakah Leonard akan memecat Cynthia?
Mengancamnya?
Atau melakukan sesuatu yang lebih buruk?
Semua kemungkinan itu membuat pikirannya semakin berat.
Pagi hari.
Seperti biasa, Wendri berangkat bekerja.
Namun hari ini ia lebih sering membuka sistem.
Ia berharap ada petunjuk tambahan.
Dan benar saja.
Saat sedang mengantar paket, panel sistem tiba-tiba muncul.
> [Prediksi Masa Depan Singkat]
> Dalam 3 hari,
Cynthia Armand akan dipaksa memilih:
> 1. Tetap setia pada Leonard.
2. Meninggalkan semuanya.
> Jika gagal:
Kemungkinan kehilangan Cynthia: 81%.
Jantung Wendri berdetak lebih cepat.
Jadi ini inti masalahnya.
Cynthia akan dihadapkan pada pilihan besar.
Dan Wendri tidak ingin wanita itu menyesal.
Siang hari.
Wendri mengirim pesan pada Cynthia.
> Lagi sibuk?
Tak lama kemudian balasan datang.
> Sedikit.
> Ada apa?
> Bisa ketemu malam ini?
Beberapa menit kemudian.
> Bisa.
Namun anehnya...
Pesan itu terasa lebih singkat dari biasanya.
Malam hari.
Mereka bertemu di taman yang sama.
Namun kali ini Cynthia tampak murung.
Wajahnya lelah.
Bahkan senyum kecil yang biasanya selalu ada kini menghilang.
"Kamu baik-baik saja?"
tanya Wendri.
Cynthia terdiam.
Lalu menggeleng pelan.
"Leonard mulai curiga."
Wendri sudah menduga.
Namun mendengarnya langsung tetap membuatnya serius.
"Apa yang dia lakukan?"
"Belum apa-apa."
"Tapi aku mengenalnya."
Cynthia tersenyum pahit.
"Kalau beliau mulai curiga, artinya beliau sedang mencari bukti."
Wendri terdiam.
Lalu berkata pelan.
"Kalau suatu hari kamu harus memilih..."
Cynthia menoleh.
"Memilih apa?"
"Antara tetap berada di sisinya."
"Atau meninggalkan semuanya."
Tubuh Cynthia sedikit menegang.
Karena pertanyaan itu tepat mengenai apa yang ia pikirkan beberapa hari terakhir.
"Aku tidak tahu."
jawabnya jujur.
"Aku berutang banyak padanya."
"Tanpa beliau..."
"Aku mungkin sudah hidup di jalanan."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi aku juga lelah."
Wendri memandangnya.
Lalu berkata perlahan.
"Berutang budi tidak berarti harus menyerahkan seluruh hidupmu."
Kalimat itu membuat Cynthia terdiam.
Karena beberapa hari lalu...
Wendri juga mengatakan hal yang hampir sama.
Dan anehnya.
Semakin sering mendengar kata-kata itu.
Semakin ia merasa...
Mungkin selama ini dirinya memang hidup untuk memenuhi harapan orang lain.
Bukan untuk dirinya sendiri.
Malam semakin larut.
Saat hendak pulang.
Tiba-tiba panel sistem muncul.
Warnanya merah terang.
> [PERINGATAN DARURAT]
> Bahaya Bergerak Lebih Cepat.
> Arsen Kurnia sedang mengikuti Cynthia.
> Jarak:
150 Meter
Tatapan Wendri langsung berubah.
Ia segera melihat ke sekeliling.
Dan benar saja.
Di seberang jalan.
Sebuah mobil hitam terparkir.
Meski kacanya gelap.
Namun sistem menunjukkan tanda merah di atasnya.
> Arsen Kurnia
Tangan Kanan Leonard.
Tingkat Bahaya: Tinggi.
Jantung Cynthia langsung berdegup kencang.
Karena ia mengenali mobil itu.
"Itu..."
Suaranya bergetar.
"Mobil Arsen."
Berarti...
Leonard benar-benar sedang mengawasinya.
Beberapa detik kemudian.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria tinggi berjas hitam keluar.
Tatapannya dingin.
Ia berjalan perlahan ke arah mereka.
Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.
Sedangkan Wendri tetap berdiri di tempatnya.
Arsen berhenti beberapa meter di depan mereka.
Lalu tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak terasa ramah.
"Nona Cynthia."
"Pak Leonard ingin bertemu Anda."
Suasana tiba-tiba menjadi tegang.
Karena semua orang tahu.
Ini bukan undangan.
Melainkan perintah.
Dan jika Cynthia pergi malam ini...
Mungkin hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Sementara itu.
Panel sistem di depan Wendri kembali muncul.
> [Pilihan Penting]
> Apakah Anda Akan:
> 1. Membiarkan Cynthia Pergi.
2. Menghentikan Arsen.
> Tingkat Pengaruh:
Sangat Tinggi
Wendri mengepalkan tangannya perlahan.
Karena ia tahu.
Apa pun keputusan yang ia ambil malam ini...
Akan menjadi titik balik terbesar sejak ia mendapatkan sistem.
Angin malam berembus pelan.
Namun suasana di taman itu terasa sangat menekan.
Arsen Kurnia berdiri dengan tangan di dalam saku celananya.
Tatapannya dingin.
Sementara Cynthia terlihat gugup.
Sedangkan Wendri...
Masih menatap panel sistem di depan matanya.
Wendri menarik napas perlahan.
Lalu...
Ia melangkah maju.
Berdiri di depan Cynthia.
"Aku rasa malam ini dia tidak ingin pergi."
Suara Wendri tenang.
Namun cukup membuat Arsen sedikit terkejut.
Ia memandang Wendri dari atas sampai bawah.
Seorang kurir.
Pria biasa.
Namun berani menghalangi perintah Leonard Pratama.
Arsen tersenyum tipis.
"Tuan Wendri."
"Aku menyarankan Anda tidak ikut campur."
Wendri tetap tenang.
"Aku juga menyarankan Anda tidak memaksa."
Untuk sesaat.
Suasana menjadi sunyi.
Cynthia memandang punggung Wendri.
Dan entah kenapa...
Dadanya terasa hangat.
Selama bertahun-tahun.
Ia selalu menghadapi masalah sendirian.
Namun malam ini...
Ada seseorang yang berdiri di depannya.
Melindunginya.
Arsen mengeluarkan ponselnya.
Kemudian menelepon seseorang.
Tidak butuh waktu lama.
Suara Leonard terdengar dari speaker.
"Cynthia."
Wanita itu langsung menunduk.
"Pak..."
"Kemarilah."
Suara Leonard tetap tenang.
Namun justru itu yang membuat Cynthia semakin takut.
"Aku..."
Ia menggenggam tangannya erat.
Belum sempat menjawab.
Wendri tiba-tiba berkata.
"Pak Leonard."
Untuk pertama kalinya.
Leonard terdiam beberapa detik.
"Kamu Wendri?"
"Ya."
"Kamu cukup berani."
"Tidak."
Wendri menjawab tenang.
"Aku hanya tidak suka seseorang dipaksa."
Di ujung telepon.
Leonard tersenyum kecil.
Namun senyumnya dingin.
"Kamu mulai menarik."
"Tapi ingat satu hal."
"Cynthia ada di posisinya sekarang karena aku."
"Bukan karena kamu."
Panggilan terputus.
Namun ketegangan justru semakin terasa.
Arsen menyimpan ponselnya.
Lalu memandang Cynthia.
"Nona."
"Besok pagi."
"Pak Leonard ingin bertemu."
"Kali ini saya tidak akan memaksa."
"Tapi kalau Anda tidak datang..."
Arsen tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia hanya menatap Cynthia beberapa detik.
Lalu kembali masuk ke mobil.
Mobil hitam itu perlahan pergi.
Meninggalkan keheningan.
Begitu mobil menghilang.
Tubuh Cynthia sedikit gemetar.
Wendri menoleh.
"Kamu takut?"
Cynthia tertawa kecil.
Namun terdengar pahit.
"Tentu saja."
"Kamu tidak mengenalnya."
"Beliau memang baik padaku."
"Tapi kalau beliau merasa dikhianati..."
Ia tidak melanjutkan.
Namun Wendri mengerti.
Panel sistem muncul.
> [Analisis Karakter]
> Cynthia Armand.
> Tingkat Kepercayaan: 41%
> Kondisi Mental:
Takut
Bingung
Mulai Bergantung Pada Anda
Mata Wendri berhenti pada kalimat terakhir.
Mulai Bergantung Pada Anda.
Ia menatap Cynthia.
Wanita itu sedang menunduk.
Mencoba menyembunyikan ketakutannya.
Namun Wendri tahu.
Saat ini Cynthia sedang menghadapi pertarungan terbesar dalam hidupnya.
"Aku akan menemanimu besok."
kata Wendri.
Cynthia langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
"Kita temui Leonard bersama."
"Kamu gila?"
Cynthia langsung panik.
"Itu kantor Leonard Pratama!"
"Kalau kamu ikut..."
"Aku tahu."
Wendri tersenyum tipis.
"Tapi kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."
Kalimat itu membuat mata Cynthia perlahan memerah.
Karena...
Sudah sangat lama.
Tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Malam semakin larut.
Setelah mengantar Cynthia pulang.
Wendri kembali ke rumah.
Namun tepat saat ia memasuki kamar.
Panel sistem tiba-tiba memenuhi pandangannya.
Tulisan emas muncul perlahan.
> [Misi Tersembunyi]
> Progres:
78%
> Selamat.
> Anda telah menjadi orang yang paling dipercaya Cynthia Armand.
Wendri sedikit terkejut.
Namun sebelum sempat berpikir.
Tulisan berikutnya muncul.
Dan kali ini membuat wajahnya berubah serius.
> [PERINGATAN BESAR]
> Besok.
> Anda akan berhadapan langsung dengan:
> Leonard Pratama
> Tingkat Bahaya:
Sangat Tinggi
> Probabilitas Konflik:
93%
Keheningan memenuhi kamar.
Wendri menatap panel itu beberapa saat.
Lalu perlahan tersenyum.
Jika dulu.
Ia hanyalah seorang kurir yang bahkan tidak mampu memenuhi permintaan mahar keluarga Keyla.
Maka sekarang...
Ia akan berhadapan langsung dengan salah satu investor paling berpengaruh di negeri ini.
Dan untuk pertama kalinya...
Wendri ingin membuktikan sesuatu.
Bahwa dirinya tidak lagi lemah seperti dulu.