Malam mulai turun menyelimuti kota.
Wendri Abas duduk sendirian di teras rumah sambil menatap layar ponselnya. Sejak membeli saham PT Surya Mineral siang tadi, ia belum berhenti memeriksa pergerakan harga.
Naik sedikit.
Turun sedikit.
Naik lagi.
Turun lagi.
Tidak ada perubahan besar.
Namun karena hampir seluruh tabungannya sudah masuk ke sana, setiap pergerakan kecil terasa seperti menghantam jantungnya.
"Aku benar-benar sudah gila..."
Wendri menggeleng pelan.
Jika teman-temannya tahu apa yang baru saja ia lakukan, pasti mereka akan menganggapnya kehilangan akal.
Dan mungkin memang benar.
Siapa orang waras yang menginvestasikan hampir seluruh uang tabungannya ke satu saham yang bahkan tidak dikenal?
Namun saat mengingat panel misterius itu, keraguannya sedikit berkurang.
Sistem tersebut belum menghilang.
Sesekali panel hitam itu masih muncul.
Seolah mengingatkan bahwa semua ini bukan mimpi.
> [Status Investasi]
PT Surya Mineral (SMT)
Estimasi Kenaikan: Tetap Positif
Tingkat Kepercayaan: 96,8%
Wendri menghela napas.
Ia masih belum mengerti dari mana sistem itu berasal.
Namun untuk saat ini, ia hanya bisa mengikuti arus.
Saat itulah ponselnya berdering.
Nama yang muncul membuat tatapannya membeku.
Keyla Salim.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mengangkat panggilan itu.
"Halo."
Suara Wendri tetap datar.
Di seberang sana terdengar keheningan sesaat.
"Wendri..."
"Ada apa?"
"Aku dengar kamu mulai bermain saham."
Wendri langsung mengerti.
Pasti ada seseorang yang memberitahu Keyla.
Entah siapa.
Namun ia tidak terlalu peduli.
"Lalu?"
Nada dingin itu membuat Keyla kembali terdiam.
"Aku hanya khawatir."
"Tidak perlu."
"Pasar saham itu berbahaya."
"Aku tahu."
"Kalau uangmu habis bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Wendri tersenyum tipis.
Namun senyuman itu tidak mengandung kehangatan.
"Uang itu memang awalnya untuk masa depan."
Keyla tidak menjawab.
Karena ia tahu maksud kalimat itu.
"Tapi sekarang masa depan itu sudah tidak ada."
Suara Wendri terdengar tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru karena itulah hati Keyla terasa semakin sakit.
"Wendri, aku tidak pernah ingin semuanya jadi seperti ini."
"Aku tahu."
"Kamu marah padaku?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat Keyla semakin tidak nyaman.
Karena terkadang seseorang yang sudah tidak marah justru lebih menakutkan.
Artinya ia sudah mulai melepaskan.
"Aku hanya ingin kamu berhati-hati."
"Aku akan berhati-hati."
Setelah mengatakan itu, Wendri mengakhiri panggilan.
Ia tidak ingin melanjutkan percakapan tersebut.
Bukan karena membenci Keyla.
Tetapi karena setiap kali mendengar suaranya, luka itu kembali terasa.
Di sisi lain kota.
Keyla menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
Perasaannya semakin kacau.
Melani yang masih berada di ruang kerja memperhatikan ekspresi atasannya.
"Pak Wendri lagi?"
Keyla mengangguk pelan.
"Aku khawatir dia mengambil keputusan karena emosi."
Melani terdiam beberapa saat.
Kemudian berkata hati-hati.
"Jujur saja, Bu."
"Hm?"
"Kalau saya berada di posisi Pak Wendri, mungkin saya juga akan terluka."
Keyla menunduk.
Ia tidak bisa membantah.
Karena semua yang dikatakan Melani adalah kenyataan.
Keesokan harinya.
Pasar saham dibuka seperti biasa.
Wendri sedang mengantar paket ketika ponselnya bergetar.
Ia segera menepikan motornya.
Kemudian membuka aplikasi saham.
Matanya langsung membelalak.
Harga saham SMT naik.
Bukan satu atau dua persen.
Melainkan hampir delapan persen sejak pembukaan pasar.
"Apa?"
Jantungnya berdegup kencang.
Ia segera melihat panel sistem.
> [Pergerakan Awal Sesuai Prediksi]
Jangan Panik.
Potensi Kenaikan Belum Berakhir.
Wendri menelan ludah.
Untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa sistem ini benar-benar memiliki kemampuan luar biasa.
Namun ia belum tahu.
Kenaikan delapan persen itu hanyalah permulaan.
Sementara itu, di sebuah kantor investasi kecil, beberapa analis mulai memperhatikan pergerakan aneh saham SMT.
"Kenapa saham ini tiba-tiba naik?"
"Tidak ada berita apa pun."
"Aneh."
Tidak ada yang menyadari bahwa sebuah gelombang besar sedang mulai terbentuk.
Dan di tengah gelombang itu berdiri seorang kurir biasa bernama Wendri Abas.
Pria yang hidupnya baru saja hancur.
Namun perlahan sedang diberi kesempatan untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar.
Wendri Abas masih berdiri di pinggir jalan sambil memandangi layar ponselnya.
Angka hijau yang terus bergerak naik membuatnya sulit percaya.
Beberapa menit yang lalu, saham PT Surya Mineral hanya naik delapan persen.
Sekarang sudah mendekati sepuluh persen.
Bagi investor berpengalaman mungkin itu biasa.
Namun bagi Wendri yang baru pertama kali membeli saham, kenaikan sebesar itu terasa luar biasa.
Terlebih lagi karena hampir seluruh tabungannya berada di sana.
"Ini benar-benar naik..." gumamnya.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena terkejut.
Selama ini ia bekerja keras mengantar paket dari pagi hingga malam untuk mendapatkan penghasilan bulanan yang tidak seberapa.
Namun dalam hitungan jam, keuntungan yang muncul di layar sudah mendekati hasil kerja kerasnya selama beberapa minggu.
Rasanya tidak nyata.
Saat itulah panel sistem kembali muncul.
> [Status Investasi]
PT Surya Mineral (SMT)
Potensi Kenaikan Saat Ini: Masih Berlangsung
Saran: Tetap Tenang
Jangan Menjual Terlalu Cepat
Wendri mengernyit.
"Jangan menjual terlalu cepat?"
Ia mengulang kalimat itu dalam hati.
Jika sistem mengatakan demikian, berarti kenaikan ini belum berakhir.
Namun tetap saja, rasa gugup mulai muncul.
Bagaimana jika tiba-tiba turun?
Bagaimana jika semua keuntungan ini menghilang?
Wendri menggeleng kuat.
Ia harus bekerja.
Tidak mungkin terus memandangi layar seharian.
Setelah menarik napas panjang, ia memasukkan ponselnya ke saku dan kembali mengantar paket.
Namun sepanjang hari pikirannya tidak pernah benar-benar fokus.
Sore harinya.
Pasar akhirnya ditutup.
Begitu selesai bekerja, Wendri segera membuka aplikasi saham.
Matanya langsung membelalak.
Harga SMT kembali naik.
Total kenaikannya hari itu mencapai lebih dari dua belas persen.
Belum pernah dalam hidupnya Wendri melihat uang bertambah secepat itu.
Ia menatap angka keuntungan yang muncul di layar.
Untuk beberapa saat ia hanya diam.
Bukan karena serakah.
Melainkan karena bingung.
Kemarin ia masih memikirkan bagaimana menghadapi kegagalan pernikahannya.
Hari ini ia justru melihat secercah harapan yang tidak pernah ia bayangkan.
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Bakara Saputra.
> Bro, malam ini nongkrong nggak?
Wendri menatap pesan itu.
Biasanya ia selalu ikut.
Namun akhir-akhir ini ia lebih sering menyendiri.
Setelah beberapa detik berpikir, ia akhirnya membalas.
> Di mana?
Balasan langsung datang.
> Tempat biasa. Anto dan Andra juga ada.
Wendri menatap langit senja.
Mungkin ia memang perlu bertemu teman-temannya.
Setidaknya untuk mengalihkan pikirannya dari Keyla.
Malam hari.
Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan.
Bakara, Anto, dan Andra sudah duduk di meja ketika Wendri tiba.
"Eh! Orang hilang datang juga!" seru Bakara.
Wendri hanya tersenyum tipis.
"Kalian berisik."
"Setelah putus malah jadi dingin."
"Itu wajah atau tembok?"
Andra ikut tertawa.
Biasanya Wendri akan membalas candaan mereka.
Namun sekarang ia hanya duduk dan memesan kopi.
Perubahan itu tidak luput dari perhatian ketiga sahabatnya.
Anto yang paling tenang akhirnya bertanya.
"Masih kepikiran soal Keyla?"
Wendri terdiam sesaat.
Lalu mengangkat bahu.
"Sudah lewat."
Jawaban singkat itu justru membuat mereka semakin yakin bahwa belum benar-benar lewat.
Bakara menghela napas.
"Kalau memang nggak jodoh ya sudah."
"Benar," kata Andra.
"Kamu masih muda."
Wendri hanya mengangguk.
Ia tidak ingin membahasnya.
Melihat itu, ketiga sahabatnya akhirnya mengganti topik.
Mereka mulai membicarakan pekerjaan, berita viral, dan berbagai hal lainnya.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, suasana hati Wendri sedikit membaik.
Namun tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan dari kejauhan.
Di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari warung.
Seorang wanita duduk di kursi belakang.
Tangannya memegang foto yang baru dicetak sore tadi.
Foto Wendri.
"Jadi ini orangnya..."
gumam wanita itu pelan.
Di kursi depan, seorang pria berjas berkata hormat.
"Nona, informasi yang kami dapat masih terbatas."
"Teruskan penyelidikan."
"Baik, Nona."
Wanita itu kembali melihat foto Wendri.
Ia baru saja menerima laporan mengenai seorang investor baru yang masuk ke SMT dengan jumlah cukup besar tepat sebelum pergerakan saham itu naik.
Awalnya ia tidak terlalu peduli.
Namun insting bisnisnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang menarik.
Dan instingnya jarang salah.
Sementara itu.
Di rumah keluarga Salim.
Keyla baru saja selesai makan malam ketika Kirana membuka pembicaraan.
"Kamu masih memikirkan Wendri?"
Keyla terdiam.
"Bu..."
"Apa yang salah dengan keputusan Ibu?"
Kirana melanjutkan.
"Ibu hanya ingin masa depanmu lebih baik."
"Tapi Wendri sudah berusaha."
"Berusaha saja tidak cukup."
Kalimat itu membuat Keyla menundukkan kepala.
Entah kenapa.
Untuk pertama kalinya.
Ia mulai mempertanyakan apakah keputusan yang diambil keluarganya benar-benar tepat.
Dan jauh di tempat lain.
Wendri yang sedang tertawa kecil bersama teman-temannya tidak mengetahui bahwa hidupnya perlahan mulai menarik perhatian orang-orang yang sebelumnya berada di dunia yang sangat berbeda darinya.
Dunia para investor besar.
Dunia para konglomerat.
Dunia yang sebentar lagi akan membuka pintunya untuk seorang kurir