Pagi hari datang dengan cepat.
Seperti biasa, Wendri Abas bangun sebelum matahari terbit. Setelah membantu ibunya menyiapkan sarapan sederhana, ia mengenakan seragam kurir dan bersiap berangkat kerja.
Di meja makan, Marni memperhatikan putranya beberapa saat.
"Akhir-akhir ini kamu sering melamun."
Wendri tersenyum tipis.
"Mungkin karena kurang tidur."
Marni menghela napas.
Ia tahu anaknya masih memikirkan banyak hal.
Namun ia juga melihat sesuatu yang berbeda.
Meski lebih dingin dari sebelumnya, setidaknya Wendri tidak lagi terlihat sehancur beberapa hari lalu.
"Itu bagus," katanya pelan.
"Yang penting jangan menyerah."
Wendri mengangguk.
"Baik, Bu."
Sesampainya di kantor logistik, suasana tidak jauh berbeda dari biasanya.
Beberapa rekan kerja sedang bercanda sambil menunggu pembagian rute pengiriman.
Namun kali ini Bakara tiba-tiba datang dengan wajah heboh.
"Woi!"
Wendri yang sedang memeriksa daftar paket mengangkat kepala.
"Apa?"
"Sahammu bagaimana?"
Wendri hampir tersedak air minumnya.
"Pelan sedikit."
Bakara tertawa.
"Aku cuma penasaran."
"Kapan aku bilang aku punya saham?"
"Malam tadi Andra cerita."
Dari kejauhan, Andra langsung mengangkat kedua tangan.
"Bukan aku!"
"Itu jelas kamu."
Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil.
Namun Wendri memilih tidak mengatakan apa-apa mengenai jumlah uang yang ia investasikan.
Jika mereka tahu hampir seluruh tabungannya ada di sana, kemungkinan besar mereka akan menganggapnya benar-benar gila.
Saat jam perdagangan dibuka, Wendri sedang mengantar paket ke sebuah gedung perkantoran.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Panel sistem muncul.
> [Peringatan Informasi]
PT Surya Mineral (SMT)
Pergerakan Besar Akan Terjadi Dalam 48 Jam.
Tetap Pertahankan Posisi.
Mata Wendri menyipit.
Ini pertama kalinya sistem memberikan informasi seperti itu.
"Pergerakan besar?"
Ia tidak tahu apa maksudnya.
Namun sejauh ini semua informasi dari sistem selalu benar.
Karena itu ia memutuskan untuk mempercayainya.
Di sisi lain kota.
Sebuah gedung tinggi menjulang di pusat bisnis.
Lantai paling atas.
Ruang kerja yang luas dengan pemandangan seluruh kota.
Seorang wanita muda sedang membaca laporan investasi.
Namanya Alicia Wijaya.
Putri tunggal pemilik Wijaya Group.
Salah satu konglomerat terbesar di negara itu.
Di atas meja terdapat sebuah berkas tipis.
Isinya hanya beberapa lembar.
Namun semua lembar itu membahas orang yang sama.
Wendri Abas.
Alicia membaca perlahan.
"Kurir?"
Nada suaranya terdengar heran.
"Ya, Nona," jawab asistennya.
"Data sementara menunjukkan dia bekerja sebagai kurir."
Alicia menatap foto Wendri yang terlampir dalam berkas.
Wajah biasa.
Pakaian biasa.
Tidak ada yang istimewa.
Namun justru itu yang membuatnya penasaran.
"Orang seperti ini membeli SMT tepat sebelum kenaikan?"
"Itu yang kami temukan."
Alicia mengetuk meja dengan jarinya.
"Saya tidak percaya pada kebetulan."
Asisten itu mengangguk.
Karena di dunia investasi, kebetulan memang jarang terjadi.
"Teruskan penyelidikan."
"Baik, Nona."
Sementara itu.
Di kantor Keyla.
Melani masuk sambil membawa beberapa dokumen.
Namun sebelum sempat meletakkannya, ia melihat Keyla sedang menatap layar ponselnya.
"Tidak fokus lagi?"
Keyla tersenyum pahit.
"Kelihatan ya?"
"Jelas."
Melani duduk di hadapannya.
"Lagi memikirkan Pak Wendri?"
Keyla tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Melani kemudian berkata pelan.
"Saya dengar dia mulai tertarik pada investasi."
Keyla langsung mengangkat kepala.
"Kamu juga dengar?"
Melani mengangguk.
"Katanya beberapa hari terakhir dia sering memantau pasar."
Keyla menggigit bibir bawahnya.
Ia tidak tahu kenapa.
Namun perasaannya tidak tenang.
Ia takut Wendri melakukan sesuatu karena emosinya masih belum stabil.
Yang tidak diketahui Keyla adalah bahwa keputusan Wendri justru sedang mengubah hidup pria itu sedikit demi sedikit.
Siang hari.
Pasar saham bergerak cukup aktif.
Wendri sedang beristirahat ketika tiba-tiba aplikasi sahamnya menunjukkan sesuatu yang membuatnya tertegun.
SMT kembali naik.
Naik cukup tajam.
Keuntungan di akunnya bertambah lagi.
Untuk beberapa saat, Wendri hanya memandang layar.
Dulu ia harus bekerja berhari-hari untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
Sekarang angka itu muncul dalam hitungan jam.
Perasaan aneh mulai tumbuh di dalam dirinya.
Bukan keserakahan.
Melainkan keyakinan.
Mungkin...
Mungkin hidupnya belum berakhir.
Mungkin kegagalan pertunangannya bukanlah akhir segalanya.
Mungkin masih ada jalan lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Saat itulah sistem kembali muncul.
> [Selamat]
Nilai Aset Pengguna Telah Meningkat.
Sistem Akan Membuka Fitur Baru Setelah Syarat Tercapai.
Wendri langsung duduk tegak.
"Fitur baru?"
Ini pertama kalinya sistem menyebut hal semacam itu.
Namun sebelum ia sempat memeriksa lebih jauh, panel tersebut menghilang.
Meninggalkan rasa penasaran yang semakin besar.
Dan tanpa disadari Wendri...
Namanya mulai masuk ke radar banyak orang.
Investor.
Analis.
Konglomerat muda.
Bahkan beberapa pihak yang tidak menyukai kemunculan pemain baru di pasar.
Mereka semua belum mengenal siapa Wendri Abas.
Tetapi dalam waktu dekat...
Mereka akan mulai mendengar namanya.
Pagi hari berikutnya, Wendri Abas terbangun lebih awal dari biasanya.
Namun kali ini bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena rasa penasaran.
Sejak kemarin, pikirannya terus memikirkan satuhal.
Fitur baru.
Apa yang dimaksud sistem dengan fitur baru?
Dan syarat apa yang harus dipenuhi?
Setelah mencuci muka, Wendri segera membuka panel sistem.
Seperti biasa, layar hitam transparan muncul di depan matanya.
> [Sistem Investor Masa Depan]
Nama Pengguna: Wendri Abas
Status: Aktif
Tingkat: 1
Aset Investasi: Rp58.721.000
Syarat Membuka Fitur Berikutnya:
Tingkatkan aset hingga Rp100.000.000
Wendri terdiam.
Hampir seratus juta.
Jumlah yang dulu terasa mustahil baginya.
Namun sekarang...
Untuk pertama kalinya, angka itu terlihat mungkin dicapai.
Meski begitu, ia tidak berani terlalu percaya diri.
Pasar saham bisa berubah kapan saja.
Ia sudah membaca banyak cerita tentang orang yang untung besar lalu kehilangan semuanya dalam semalam.
Karena itu ia memilih tetap tenang.
Siang hari.
Pasar kembali dibuka.
Seperti biasa, Wendri tetap bekerja mengantar paket.
Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena mulai menghasilkan uang dari investasi.
Bagaimanapun juga, dunia saham masih terasa asing baginya.
Namun sekitar pukul sebelas siang, ponselnya bergetar.
Panel sistem muncul.
> [Informasi Khusus]
PT Surya Mineral akan menerima perhatian pasar dalam waktu dekat.
Disarankan untuk tetap mengamati.
Tidak ada penjelasan lain.
Tidak ada detail tambahan.
Hanya kalimat singkat itu.
Wendri menghela napas.
Kadang sistem ini membuatnya frustrasi.
Selalu memberi petunjuk setengah-setengah.
Namun sejauh ini semuanya terbukti benar.
Karena itu ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sementara itu.
Di gedung Wijaya Group.
Alicia Wijaya sedang menghadiri rapat investasi.
Di hadapannya duduk beberapa analis terbaik perusahaan.
Salah satu layar menampilkan grafik SMT.
"Pergerakan saham ini cukup aneh," kata seorang analis.
"Volume pembelian meningkat tanpa alasan yang jelas."
Analis lain mengangguk.
"Kami belum menemukan berita yang mampu menjelaskan kenaikan ini."
Alicia memperhatikan grafik tersebut.
Lalu ia membuka berkas yang berisi informasi tentang Wendri.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan?"
Seorang pria berjas segera menjawab.
"Masih belum ada hal mencurigakan."
"Dia benar-benar kurir?"
"Ya."
"Dan tidak memiliki latar belakang investasi?"
"Sejauh yang kami temukan, tidak ada."
Alicia bersandar di kursinya.
Semakin banyak informasi yang ia terima, semakin sulit dipercaya semuanya.
Jika Wendri hanyalah kurir biasa...
Bagaimana mungkin ia masuk ke SMT pada waktu yang begitu tepat?
Di sisi lain kota.
Melani baru saja keluar dari ruang kerja Keyla ketika ponselnya menerima pesan dari seorang kenalan di dunia investasi.
Isi pesannya singkat.
> Orang bernama Wendri Abas mulai sering muncul dalam data transaksi.
Melani membeku.
"Wendri?"
Ia membaca ulang pesan tersebut.
Lalu tanpa sadar mengetuk pintu ruang kerja Keyla.
"Masuk."
Melani masuk dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Bu Keyla... saya baru mendapat informasi."
Keyla mengangkat kepala.
"Apa?"
"Sepertinya Pak Wendri benar-benar serius di pasar saham."
Keyla langsung terdiam.
Entah kenapa, rasa khawatir di dalam dirinya semakin besar.
Namun ada hal lain yang ikut muncul.
Rasa penasaran.
Sore hari.
Pasar ditutup.
Wendri yang baru selesai bekerja langsung membuka aplikasi saham.
Detik berikutnya, matanya membelalak.
SMT kembali naik.
Keuntungan yang sebelumnya sudah besar kini bertambah lagi.
Asetnya telah mendekati tujuh puluh juta rupiah.
Wendri sampai harus melihat layar beberapa kali untuk memastikan dirinya tidak salah baca.
"Dalam beberapa hari..."
Ia bergumam pelan.
Dalam beberapa hari saja, uangnya bertambah jauh lebih cepat daripada yang pernah ia bayangkan.
Namun sebelum rasa senangnya berkembang terlalu jauh, sistem kembali muncul.
> [Peringatan]
Jangan Terlalu Percaya Diri.
Pasar Selalu Berubah.
Wendri tersenyum tipis.
Ini mungkin pertama kalinya ia merasa sistem sedang menasihatinya.
Dan ia setuju.
Jika ada satu hal yang ia pelajari dari hidupnya akhir-akhir ini...
Itu adalah bahwa segalanya bisa berubah dalam sekejap.
Baik cinta.
Maupun nasib.
Namun saat Wendri hendak menutup panel sistem, sebuah notifikasi baru muncul.
Berbeda dari biasanya.
Tulisan itu berwarna emas.
> [Misi Pertama Terbuka]
Dalam 7 hari akan muncul peluang investasi yang dapat mengubah hidup Anda.
Persiapkan diri Anda.
Jantung Wendri langsung berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya...
Sistem memberikan sesuatu yang disebut misi.
Dan entah kenapa, ia merasa bahwa hidupnya akan segera memasuki babak yang jauh lebih besar dari sekadar saham SMT.