Dua hari kemudian, Giana dan Rahma menyerahkan permohonan resmi. Aninta tidak ikut ke loket; ia telah menjelaskan bahwa ia bukan bagian dari keluarga Giana dan tidak boleh menggunakan posisinya untuk mempercepat proses. Giana menyimpan tanda terima dan nomor permohonan di dalam map biru. Petugas penerima mengatakan mereka akan dihubungi jika ada dokumen tambahan yang diperlukan.
Rahma tampak cemas setelah meninggalkan gedung. Ia bertanya apakah membuka kembali laporan berarti mereka harus mengulang semua yang terjadi. Giana menjawab tidak. Mereka hanya meminta salinan, dan bisa berhenti kapan saja. Rahma mengatakan ia ingin Giana tahu bahwa ia tidak harus membaca dokumen sendirian.
Selama menunggu, Giana bekerja seperti biasa. Ia tidak menceritakan proses itu kepada seluruh kantor. Aya tahu karena ia membantu mengatur jadwal, dan Farel hanya diberi tahu bahwa layanan tidak terlibat. Tidak ada staf yang mencari informasi melalui kenalan atau menghubungi pihak perusahaan Dea.
Pada hari kelima, petugas hukum menghubungi Giana. Ada beberapa bagian permohonan yang perlu diperjelas: apakah keluarga meminta laporan awal, daftar kendaraan, atau dokumen hasil pemeriksaan lanjutan. Giana tidak tahu dokumen mana yang tersedia. Petugas itu membantu menyusun permintaan yang lebih spesifik tanpa menjamin bahwa semuanya masih tersimpan.
Mereka kembali berkonsultasi dan menuliskan tiga jenis arsip yang hendak diminta. Petugas hukum mengingatkan bahwa salinan dapat memuat data pribadi pihak lain yang perlu disamarkan. Giana setuju menerima versi yang telah disunting. Ia tidak ingin mengetahui informasi yang tidak berkaitan dengan keluarganya.
Di rumah, Rahma membuka laci lama. Ia menemukan map dari rumah sakit, surat pemakaman, dan satu kertas tanda terima barang milik orang tua Giana. Tidak ada laporan polisi. Rahma mengingat bahwa dulu seorang petugas pernah menyebut laporan awal akan disusulkan, tetapi keluarga mereka sibuk mengurus pemakaman dan tak pernah kembali untuk mengambilnya.
"Nenek ingat kita pernah menandatangani sesuatu?" tanya Giana.
"Mungkin formulir barang. Nenek tidak mau menebak. Kita lihat tanggalnya dulu." Mereka memotret bagian depan kertas untuk mencatat, lalu memasukkannya lagi ke map. Giana menulis tanggal dan sumber dokumen di buku, bukan kesimpulan.
Aninta menghubungi Giana setelah mendengar permohonan telah diterima. Ia bertanya apakah Giana masih nyaman berbicara dengannya. Giana menjawab iya selama percakapan mereka tetap terbatas dan tidak ada informasi pasien yang dibuka. Aninta menceritakan bahwa rumah sakit tidak dapat memberikan catatan Geraldi kepada Giana, dan ia juga tidak akan meminta hal itu atas nama pribadi.
Sementara itu, Gama meminta izin kepada Diandra untuk melihat berkas lama keluarga. Ia menjelaskan bahwa permintaan itu berkaitan dengan kendaraan Geraldi dan sengketa perawatan yang pernah disebut ibunya. Diandra setuju membuka dokumen yang ia miliki, dengan syarat tidak dibawa keluar atau difoto sebelum mereka tahu statusnya. Gama berterima kasih dan mengatur waktu akhir pekan.
Saat menunggu panggilan, Giana melihat orang-orang datang dengan map dan berkas masing-masing. Ia menyadari permintaannya bukan satu-satunya urusan lama yang perlu dibuka kembali. Ia membaca ulang tujuan yang ditulis dan memastikan kalimatnya tidak menuduh pengemudi mana pun. Rahma duduk di sebelahnya sambil memegang tanda terima dokumen.
Petugas menerima penjelasan dan menunjukkan daftar pilihan yang dapat mereka minta. Giana bertanya apakah laporan awal dapat berbeda dari kesimpulan akhir. Petugas mengiyakan; berkas yang tersedia untuk keluarga mungkin hanya bagian tertentu, sementara catatan teknis dapat berada di instansi lain. Ia juga menjelaskan tidak semua dokumen tersimpan selamanya dan tidak ada jaminan hasil pemeriksaan lama masih dapat ditemukan.
Rahma berkata ia menyesal tidak menindaklanjuti dulu. Petugas tidak menghakimi; ia menjelaskan banyak keluarga tidak mampu mengurus berkas dalam keadaan kehilangan. Yang penting, permintaan sekarang diajukan dengan dasar yang benar. Giana berterima kasih karena penjelasan itu tidak membuat mereka merasa bersalah.
Mereka memperjelas permintaan tanpa mencantumkan istilah sabotase. Petugas menyarankan mereka menyebut catatan pemeriksaan kendaraan jika tersedia, bukan meminta penetapan pelaku. Giana setuju. Ia ingin tahu apa yang diperiksa, bukan menerima kesimpulan yang tidak didukung dokumen.
Di luar gedung, Rahma bertanya apakah Giana ingin membawa semua berkas ke rumah sakit untuk ditunjukkan kepada Aninta. Giana menolak. Aninta bukan petugas arsip kecelakaan dan tidak perlu memegang dokumen keluarga. Ia akan berbicara dengannya jika ada istilah medis yang membingungkan, tapi hanya setelah mereka mendapat salinan yang memang boleh dibagikan.
Mereka mencatat kapan permohonan lanjutan disampaikan dan siapa yang menerimanya. Giana membuat salinan digital untuk keperluan sendiri, menyimpan dokumen asli di rumah, serta meminta Rahma memeriksa daftar itu. Tidak satu pun halaman dikirim ke Gama. Ia tidak ingin keluarga Pradipta menjadi jalur yang mengendalikan pencarian keluarga Giana.
Giana bertanya apakah mereka dapat mengajukan ulang bila permohonan pertama hanya memberi laporan ringkas. Petugas hukum menjelaskan ada jalur permintaan lanjutan dan prosedur keberatan, tetapi ia tidak dapat memastikan hasilnya. Ia membantu menulis pertanyaan tambahan dalam bahasa yang netral. Rahma membaca setiap kalimat dan menyetujui sebelum mereka menandatangani.
Mereka menanyakan apakah Aninta boleh menjadi pendamping ketika dokumen dibaca. Petugas menjawab boleh selama ia tidak mengakses berkas sebagai dokter atau membawa salinan keluar. Giana kemudian menghubungi Aninta dan meminta kehadirannya hanya sebagai orang yang mengenal istilah medis. Aninta menerima dengan syarat petugas memahami perannya.
Rahma menyimpan salinan tanda terima di rumah dan menyerahkan dokumen asli kembali kepada Giana. Mereka sepakat tidak membahas isi laporan di depan Gufta kecuali ia sendiri bertanya.
Setelah permohonan diperjelas, petugas memberi tahu bahwa jawaban mungkin datang bertahap. Giana mencatat nomor kontak dan jam layanan, lalu memastikan Rahma memahami siapa yang akan menghubungi mereka. Mereka berjanji tidak memberikan informasi pribadi lewat telepon sebelum memverifikasi identitas petugas. Kebiasaan itu membuat proses terasa lebih lambat, tetapi aman dan dapat dipertanggungjawabkan.
Giana menyimpan bukti penerimaan dan berterima kasih kepada petugas. Ia tidak meminta mereka mempercepat berkas karena mengenal Aninta.
Mereka pulang dengan informasi yang cukup untuk saat itu.