Pada awal minggu ketujuh belas, kantor pencatatan mengirimkan salinan riwayat rumah lama. Nama ayah Giana dan Rahma tercantum sebagai pemilik bersama. Tidak ada pengalihan kepemilikan yang tercatat setelahnya. Giana membaca halaman itu dua kali, lalu menyerahkannya kepada petugas hukum untuk memastikan ia memahami istilah yang digunakan.
Petugas menjelaskan bahwa catatan tersebut mendukung hak keluarga, tetapi belum menyelesaikan siapa yang berhak menempati rumah saat ini atau apa dasar paman tinggal di sana. Mereka perlu mengirim surat resmi untuk meminta dokumen dan mengusulkan pertemuan. Giana meminta agar surat itu tidak menyebut paman sebagai pencuri atau menyatakan ia melakukan pelanggaran.
Rahma membaca riwayat itu di rumah. Ia menangis sebentar ketika melihat nama suaminya, lalu mengusap wajah. Giana tidak berkata semuanya akan kembali seperti dulu. Ia mengatakan mereka telah menemukan dasar untuk bertanya, dan langkah berikutnya tetap harus dipikirkan.
Mereka menyiapkan salinan catatan, kuitansi pajak, serta surat tagihan. Giana menambahkan kronologi: kapan paman membawa map, kapan keluarga pindah, kapan mereka meminta kunci. Setiap bagian diberi sumber—dokumen atau ingatan Rahma. Tidak ada keterangan yang disamarkan sebagai fakta resmi.
Gufta memeriksa jadwal sekolah dan mengatakan ia akan membantu setelah kelas pada hari pertemuan. Giana mengingatkan ia tidak harus ikut. Gufta menjawab ingin mendengar langsung apa rencana keluarga, tetapi tetap akan pulang sebelum malam. Mereka mengatur ia membawa buku pelajaran dan meminta Rahma menjemput bila pertemuan molor.
Petugas hukum mengirim surat kepada paman melalui alamat rumah lama. Surat itu meminta klarifikasi tentang pengelolaan properti, salinan dokumen yang ia pegang, dan waktu untuk bertemu. Giana membaca isinya sebelum disampaikan. Tidak ada ancaman atau tuntutan pindah segera.
Paman menjawab lewat pesan bahwa ia bersedia bertemu, tetapi tidak ingin diperlakukan sebagai orang asing. Rahma membaca balasan itu dan berkata mereka juga tidak ingin bertengkar. Giana menjawab mereka akan berbicara berdasarkan catatan, sekaligus mendengarkan penjelasannya.
Mereka memilih kantor konsultasi sebagai tempat netral. Giana meminta paman membawa semua dokumen rumah yang masih ia simpan. Ia tidak tahu apakah pertemuan itu akan menghasilkan kesepakatan, tetapi kini mereka datang dengan salinan resmi dan tujuan yang jelas.
Petugas hukum meminta Giana memastikan apakah riwayat tersebut benar-benar salinan resmi. Mereka kembali ke kantor pencatatan dan memperlihatkan tanda terima permohonan. Petugas loket mencocokkan nomor berkas, lalu memberikan halaman tambahan yang menunjukkan tidak ada catatan perubahan sejak orang tua Giana terdaftar. Namun, kolom keterangan pemegang dokumen fisik kosong. Itu berarti arsip tidak memberi tahu siapa yang menyimpan sertifikat saat ini.
Rahma melihat nama suaminya tercetak jelas. Ia mengingat mereka membeli rumah itu setelah bertahun-tahun menabung dan memperbaiki sendiri beberapa bagian. Ia tidak ingat semua proses administrasi, tetapi yakin suaminya tidak pernah mengatakan rumah diberikan kepada adiknya. Giana bertanya apakah ia bersedia membuat pernyataan tertulis tentang ingatan itu. Rahma menjawab iya, asal ditulis bahwa itu ingatan, bukan dokumen.
Mereka meminta petugas hukum memisahkan tiga hal dalam berkas: catatan kepemilikan, penggunaan rumah setelah kematian orang tua, dan pengeluaran yang diklaim paman. Petugas mengatakan pertemuan keluarga dapat membantu mengumpulkan informasi, tetapi bila terjadi sengketa, mereka mungkin membutuhkan proses lebih lanjut. Giana tidak menganggap berita acara konsultasi sebagai keputusan final.
Di rumah, mereka menyusun surat undangan kepada paman. Kalimat pembuka menyebut bahwa catatan resmi masih mencantumkan nama orang tua Giana dan Rahma, lalu meminta klarifikasi tentang pengelolaan rumah. Mereka meminta salinan dokumen yang dibawa paman dan mengusulkan bertemu di kantor konsultasi. Tidak ada tuntutan untuk mengosongkan rumah.
Rahma membaca surat itu dengan cermat. Ia khawatir paman akan merasa keluarga tak mempercayainya. Giana berkata kepercayaan perlu dibangun dengan keterbukaan; meminta salinan dokumen bukan berarti mereka sudah memutuskan niatnya buruk. Rahma menyetujui pengiriman surat setelah mereka menyimpan salinan.
Paman menerima dan menulis bahwa ia bersedia datang. Ia meminta Rahma tidak membawa orang luar. Giana menjelaskan petugas hukum bukan pihak lawan dan hanya membantu mencatat. Paman tidak membalas, tetapi tidak membatalkan pertemuan.
Di akhir hari, Gufta bertanya apakah berita rumah itu berarti mereka dapat berhenti menyewa. Giana berkata belum. Mereka masih harus memahami hak, kondisi rumah, dan biaya. Gufta kecewa sebentar, lalu bertanya apakah boleh membantu memeriksa barang-barang yang masih ada. Giana mengatakan ia boleh ikut nanti jika sekolahnya tidak terganggu.
Giana menyimpan salinan resmi di map properti dan mengunci lemari. Untuk pertama kalinya, ia memiliki dokumen yang dapat dibawa ke meja pertemuan, bukan hanya ingatan tentang paman membawa map.
Giana bertanya kepada petugas apakah catatan itu mencantumkan siapa yang tinggal di rumah. Petugas menjawab tidak; registrasi pemilik dan penguasaan fisik adalah dua hal berbeda. Mereka juga belum tahu apakah paman pernah membuat perjanjian sewa atau mengurus biaya atas persetujuan keluarga. Giana meminta agar perbedaan itu dijelaskan dalam surat yang akan dikirim.
Rahma bercerita bahwa setelah mereka pindah, paman kadang mengirim kabar singkat bahwa rumah aman. Ia tak pernah menerima rincian perbaikan. Giana tidak ingin menghapus bantuan yang memang diberikan, tetapi ia juga ingin tahu mengapa keluarga tidak bisa masuk. Mereka menyusun pertanyaan yang tidak menyimpulkan niat paman.
Paman membalas surat dengan meminta mereka menjelaskan apa yang dimaksud “klarifikasi”. Giana menuliskan bahwa mereka ingin melihat dokumen kepemilikan dan pengeluaran serta membicarakan akses. Ia menyatakan mereka tidak akan datang ke rumah tanpa izin. Paman menjawab ia akan mencari kuitansi.
Rahma menyimpan balasan itu bersama surat resmi. Giana mengingatkan bahwa pesan singkat hanya membuktikan mereka pernah berkomunikasi, bukan bahwa rumah sudah diserahkan. Mereka meminta petugas hukum menyertakan semua korespondensi dalam kronologi, dengan tanggal dan konteks.
Rahma bertanya apakah pertemuan dapat dipindah jika paman membatalkan. Petugas berkata mereka dapat menjadwalkan ulang dan menyimpan semua surat sebagai bukti komunikasi.
Giana menyimpan nomor surat resmi di bagian depan map.
Mereka menunggu jawaban resmi tanpa membuat dugaan baru.