Minggu kedua puluh dua, keluarga mulai mengatur rutinitas di rumah lama. Gufta mencoba rute sekolah pada dua hari berbeda. Satu perjalanan lancar, satu lagi terlambat karena kendaraan umum penuh. Ia mencatat waktu berangkat dan tiba, lalu membandingkannya dengan jadwal pelajaran.
Giana bertanya apakah ia ingin kembali ke rumah sewaan sampai semester selesai. Gufta menjawab ia ingin tinggal di rumah lama, tetapi meminta mereka membuat rencana cadangan jika perjalanan mengganggu ujian. Rahma mendukung. Mereka menetapkan bahwa Gufta boleh menginap di rumah sewaan kerabat dekat selama ujian jika perjalanan terlalu berat, tanpa menganggapnya kegagalan pindah.
Giana membuat anggaran perbaikan rumah. Mereka menunda pengecatan, membeli lampu untuk ruang belajar, dan mengganti satu keran yang bocor. Ia membayar dari dana keluarga yang sudah direncanakan. Tidak ada pinjaman dari Gama. Rahma menyimpan kuitansi dan memperbarui daftar biaya yang nantinya dibahas dengan paman.
Paman mengirim pesan menerima daftar pengeluaran yang telah diverifikasi, tetapi mempertanyakan satu biaya atap. Giana meminta petugas hukum mengatur pembahasan tertulis. Mereka tidak bertengkar melalui telepon. Petugas membantu mencocokkan nota dan bukti pembayaran. Paman menyetujui sebagian, sementara sisanya dicatat masih diperselisihkan.
Gama bertanya apakah Giana ingin bantuan membandingkan biaya perbaikan. Giana menjawab ia sudah memperoleh dua penawaran dan memilih tukang berdasarkan harga serta jadwal. Gama tidak meminta melihat dokumen. Ia berkata ia menghormati pilihan itu.
Mereka bertemu pada akhir pekan untuk makan. Giana bercerita tentang rumah, kelas, dan perjalanan Gufta. Gama mendengarkan tanpa menjadikan semua hal sebagai masalah yang harus ia selesaikan. Saat Giana mengeluh modul pembukuan penuh istilah, Gama bertanya apakah ia ingin bantuan belajar. Giana menolak dan mengatakan ia akan bertanya kepada pengajar.
Gama menerima jawaban itu. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Geraldi; kondisi ayahnya masih sama dan jadwal perawatan berjalan. Ia tidak menggunakan kabar itu untuk meminta simpati. Giana mendengarkan dan berkata ia berharap perawatannya berjalan baik, tanpa menganggap hal itu menyelesaikan sejarah mereka.
Di rumah, Rahma bertanya apakah Giana nyaman bertemu Gama. Giana menjawab ia menikmati percakapan mereka, tetapi masih memperhatikan apakah batasnya dihormati. Rahma berkata ia tak perlu terburu-buru menamai hubungan. Giana menyetujui.
Giana membuat jadwal mingguan di papan kecil dekat dapur. Ada waktu berangkat sekolah Gufta, kelas daringnya, jadwal kerja, belanja, dan satu malam untuk istirahat. Rahma mengingatkan jadwal harus bisa berubah jika ada kebutuhan kesehatan. Giana menambahkan ruang kosong, supaya mereka tidak mengisi setiap jam dengan kewajiban.
Gufta menguji rute sekolah selama satu minggu. Pada hari hujan, ia terlambat karena harus menunggu kendaraan berikutnya. Ia pulang dengan seragam basah dan berkata rute itu mungkin melelahkan jika terus begitu. Giana tidak menyuruhnya bertahan demi rumah lama. Mereka membandingkan ongkos transportasi dan kemungkinan berangkat lebih awal.
Rahma menyarankan mereka menginap di rumah sewaan dua malam sebelum ujian, lalu kembali setelahnya. Giana setuju. Ia tidak ingin Gufta merasa harus memilih antara rumah keluarga dan sekolah. Mereka akan mencoba jadwal sementara, kemudian meninjau ulang bersama.
Pekerjaan atap selesai setelah pemeriksaan lanjutan. Tukang memberikan kuitansi dan daftar bahan. Giana mencocokkan jumlah dengan penawaran awal dan menanyakan satu selisih biaya. Setelah mendapat penjelasan, ia menyetujui pembayaran dari anggaran keluarga. Rahma mencatat pembayaran dan menyimpan bukti.
Paman juga mengirim catatan sewa yang ditemukan di antara barangnya. Beberapa bulan tercatat, beberapa tidak. Giana dan Rahma menyerahkan salinan kepada petugas hukum untuk ditinjau, bukan menuntut paman membayar jumlah yang belum mereka pahami. Mereka berencana membuat kesepakatan tertulis jika ada penggantian biaya.
Di kelas, Giana mulai mengerjakan tugas pencatatan arus kas. Ia menggunakan contoh usaha kecil, bukan data kantor klien. Farel menawarkan contoh kosong dari program latihan internal, tetapi Giana memilih memakai skenario yang disediakan pengajar. Ia ingin memastikan semua tugas belajar tidak memuat informasi rahasia.
Gama mengajak makan malam. Giana melihat kalender dan menawarkan hari lain karena malam itu ia harus menyelesaikan modul. Gama menjawab, "Tentu. Kita atur setelah kelasmu selesai." Ia tidak mengeluh atau mengirim hadiah untuk meyakinkannya. Giana merasa jadwalnya benar-benar dihormati.
Mereka akhirnya bertemu akhir pekan. Gama bertanya bagaimana rute sekolah Gufta dan menerima jawaban tanpa menawarkan kendaraan. Giana berkata mereka sedang menimbang ongkos dan waktu. Gama mengatakan jika suatu hari ia diminta mengantar, ia akan bertanya apakah Gufta dan Rahma nyaman, bukan menganggap bantuan itu otomatis diterima.
Rahma bertanya apakah kelas itu akan mengubah waktu mereka memasak bersama. Giana berkata ia bisa belajar setelah makan, dan mereka akan menyiapkan makanan sederhana pada hari kelas. Gufta menempel jadwal sekolah di samping jadwal Giana. Ia menulis waktu berangkat dan waktu pulang, lalu menambahkan nomor kontak darurat. Giana mengingatkan bahwa ia tak harus melapor setiap menit. Keluarga mencoba tinggal di rumah lama beberapa malam. Pada pagi hari, Gufta berhasil sampai sekolah tepat waktu setelah berangkat lebih awal. Ia berkata ia bisa melanjutkan, tetapi ingin membawa bekal agar tidak perlu membeli makanan. Giana dan Rahma menyepakatinya.
Giana membawa Rahma ke rumah sewaan untuk mengambil sisa pakaian dan peralatan dapur. Mereka membandingkan ruang yang tersedia di dua tempat dan memutuskan barang besar dipindahkan setelah pemeriksaan terakhir. Rahma menyebut ia tak ingin meninggalkan kenangan, tetapi juga tak mau membayar sewa lebih lama dari yang sanggup mereka tanggung. Mereka menghitung biaya secara realistis, lalu memilih akhir bulan sebagai waktu evaluasi.
Pada akhir pekan, Giana membuat satu daftar barang yang masih berada di rumah sewaan dan satu daftar yang sudah ada di rumah lama. Rahma memeriksa tiap baris dan mencoret panci yang ternyata sudah dipindahkan. Mereka menyepakati barang kenangan tidak perlu ditata hari itu. Pindahan bukan perlombaan, dan mereka ingin tetap punya tenaga untuk mengurus sekolah serta pekerjaan.
Gufta mencatat waktu tempuh dan menyimpan hasilnya di papan jadwal keluarga.