Pada awal minggu kedua puluh tiga, Gama meminta izin untuk berbicara serius dengan Giana. Ia menanyakan apakah ia lebih nyaman bertemu di rumah baru atau tempat umum. Giana memilih taman dekat rumah, pada siang hari. Ia memberi tahu Rahma dan berkata ia akan pulang sebelum kelas daring malam.
Gama datang tanpa hadiah. Ia mengatakan ia ingin menyampaikan niatnya dengan jelas, bukan meminta jawaban di tempat. Ia masih ingin membangun hubungan jangka panjang dengan Giana, jika Giana juga menginginkannya. Ia tidak menghubungkan niat itu dengan kontrak, uang, rumah, atau kesalahan keluarganya.
Giana bertanya apa arti jangka panjang bagi Gama. Ia menjawab ia membayangkan hidup bersama suatu hari nanti, tetapi tahu mereka perlu lebih dulu membangun kepercayaan, membicarakan tanggungan, pekerjaan, keluarga, dan cara menyelesaikan konflik. Ia tidak meminta pertunangan atau tanggal.
"Aku tidak ingin kamu memilihku karena merasa aku membantu soal Juardi atau rumah," kata Gama. "Aku juga tidak ingin kamu merasa harus mengganti rasa bersalahku dengan hubungan."
Giana mendengar sampai selesai. Ia mengatakan ia masih memiliki luka dan tidak akan menyembunyikannya demi membuat hubungan tampak mudah. Ia juga belum siap berjanji untuk menikah. Namun, ia ingin melanjutkan hubungan mereka secara terbuka dan bertahap.
Gama bertanya apakah ia ingin mereka menyebut diri pasangan. Giana menjawab ia bersedia mencoba hubungan yang eksklusif, selama mereka bisa membicarakan batas dan mengubah keputusan bila keadaan berubah. Ia sendiri yang memilih itu, bukan sebagai imbalan atas permintaan maaf.
Gama mengatakan ia setuju. Ia bertanya apakah boleh menggenggam tangan Giana. Giana mengangguk. Mereka duduk sebentar dalam diam, tanpa ciuman atau pengumuman besar. Giana merasa langkah itu cukup untuk hari tersebut.
Mereka membahas jadwal kelas dan tanggung jawab keluarga. Giana tidak akan berhenti bekerja atau belajar untuk menyesuaikan diri dengan keluarga Pradipta. Gama menyebut ia akan menjaga waktu pertemuan sesuai jadwal, dan jika ada perubahan ia akan bertanya lebih dulu. Mereka sepakat tidak membahas pernikahan sampai keduanya siap.
Sebelum pulang, Giana berkata ia ingin memberitahu Rahma sendiri. Gama tidak meminta ikut. Ia mengatakan akan berbicara dengan Diandra tentang hubungan itu hanya setelah Giana merasa nyaman dan mereka sepakat waktunya.
Gama berkata ia tidak datang untuk meminta jawaban malam itu. Ia ingin memastikan Giana tahu niatnya dan dapat mempertimbangkan tanpa tekanan. Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak akan meminta keluarga atau perusahaan menyiapkan jalan bagi mereka. Jika hubungan ini berkembang, mereka harus menyusun keputusan bersama sebagai dua orang dewasa.
Giana bertanya bagaimana Gama membayangkan tanggungan keluarga ke depan. Gama mengatakan ia masih bertanggung jawab pada ayahnya dan ingin membantu ibunya, tetapi tidak mengharapkan Giana mengambil alih perawatan atau menjadi penghubung keluarga. Giana berkata ia juga bertanggung jawab pada Rahma dan Gufta. Mereka perlu membicarakan waktu serta uang sebelum membuat janji besar.
Mereka membuat daftar topik yang kelak harus dibicarakan: tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan Giana, kebutuhan keluarga, dan cara menghadapi konflik. Daftar itu tidak menjadi kontrak; hanya pengingat bahwa kasih sayang tidak otomatis menyelesaikan semua perbedaan.
Gama berkata ia tertarik menjalani hubungan eksklusif, tetapi akan menerima jika Giana ingin waktu lebih lama. Giana mengakui ia juga ingin mencoba, setelah memastikan pilihannya tidak dipengaruhi rasa bersalah. Ia menyebut ia sudah hidup tanpa kontrak kerja dengan Gama selama berbulan-bulan dan bebas menolak pertemuan.
"Aku memilih karena aku ingin mengenalmu," kata Giana. "Aku belum menjanjikan pernikahan. Aku ingin hubungan ini tumbuh dengan jujur, dan kalau ada bagian yang tidak cocok, kita harus berani mengatakannya."
Gama mengatakan ia menyetujui semuanya. Ia bertanya apakah ia boleh menggenggam tangan Giana, lalu menunggu jawabannya. Giana mengangguk dan mereka bergandengan sebentar. Tidak ada cincin, hadiah, atau janji di depan orang lain.
Setelah percakapan, Giana pulang sendiri dan menceritakan keputusan itu kepada Rahma. Ia meminta neneknya tidak merasa harus menerima Gama hanya karena hubungan keluarga mereka pernah bersinggungan. Rahma menjawab ia akan menilai Gama dari cara ia memperlakukan Giana dan keluarga, bukan dari nama atau hartanya.
Giana tidur dengan perasaan gugup. Ia tidak tahu apakah hubungan itu akan bertahan, tetapi ia tahu keputusan untuk mencoba adalah miliknya. Ketidakpastian tidak membuat pilihannya kurang nyata.
Giana meminta Gama menunggu sampai ia selesai menjelaskan batasnya. Gama mengulang kembali: hubungan eksklusif untuk saat ini, tanpa janji pernikahan, dan keduanya tetap mempertahankan pekerjaan serta keluarga masing-masing. Mereka juga sepakat jika ada informasi baru tentang perkara Juardi, dokumen internal tidak akan dikirim kepadanya; petugas hukum yang menyampaikan hal yang boleh diterima keluarga korban. Gama tidak akan menghubungi Diandra atau Aninta atas nama Giana. Giana senang telah mendengar niatnya, tetapi ingin melihat bagaimana mereka menjalani hari biasa. Mereka meninggalkan taman tanpa menetapkan langkah berikutnya selain saling memberi kabar secara wajar.
Giana berkata ia tidak ingin eksklusivitas berarti mereka harus memberi tahu semua keluarga setiap perkembangan. Mereka boleh menjaga privasi, tetapi tidak berbohong tentang status jika ditanya langsung. Gama setuju. Ia bertanya apakah Giana ingin ia menyampaikan kepada Diandra bahwa mereka mulai menjalin hubungan. Giana menjawab belum sekarang; mereka akan membicarakannya sebelum mengabarkan siapa pun. Gama tidak tersinggung dan menyatakan ia dapat menunggu sampai Giana siap.
Mereka tidak membuat daftar aturan sebagai kontrak romantis. Giana berkata percakapan mereka harus terus berjalan dan kebutuhan dapat berubah. Gama setuju bahwa tidak ada satu keputusan hari ini yang menghapus kemungkinan mereka berbeda pendapat nanti. Ia bertanya apa yang ingin Giana lakukan minggu depan. Giana menjawab ia ingin fokus pada ujian modul dan mengundangnya bertemu setelah itu jika jadwalnya cocok.
Gama tidak menuntut jawaban lain dan membiarkan percakapan selesai di sana.
Ia merasa tenang karena batas itu disampaikan dan dihormati sejak awal.
Ia pulang tanpa merasa berutang jawaban kepada siapa pun.
Pertemuan itu berakhir sesuai waktu yang mereka pilih.