Minggu kedua puluh empat, Giana mengajak Gama bertemu di rumah lama setelah kelasnya selesai. Ia meminta Rahma dan Gufta tetap di rumah, tetapi menjelaskan bahwa ia ingin bicara tentang komitmen sebelum mereka mengabarkan apa pun kepada keluarga. Gama datang tepat waktu dan menunggu di ruang depan, tanpa membawa hadiah atau dokumen.
Giana menyiapkan dua gelas teh. Mereka duduk berhadapan di meja yang dulu dipakai keluarganya. Beberapa barang belum kembali ke tempat semula, dan cat dinding masih kusam. Namun, rumah itu kini mereka tempati atas keputusan keluarga, bukan karena seseorang memberi izin sementara.
"Aku ingin memastikan kita membicarakan hal yang sama," kata Giana. "Aku memilih hubungan ini karena aku ingin mengenalmu dan membangun sesuatu. Bukan karena kontrak, rasa kasihan, uang, atau karena ayahmu terlibat dalam kecelakaan."
Gama mengangguk. "Aku juga ingin memilihmu sebagai dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu menjadi penenang keluargaku atau menggantikan siapa pun."
Giana mengatakan ia bersedia berkomitmen sebagai pasangan, tetapi tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai tenggat. Mereka masih harus membangun kepercayaan, menjalani kehidupan sehari-hari, dan memastikan kebutuhan masing-masing dapat dibicarakan. Ia tetap bekerja dan melanjutkan kelas. Ia akan membantu Rahma dan Gufta sesuai kemampuannya.
Gama juga menjelaskan tanggung jawabnya: ia akan terus membantu perawatan Geraldi dan mendukung Diandra sebagai anak, tetapi keputusan keluarga tidak boleh dibebankan kepada Giana. Ia tidak mengharapkan Giana pindah ke rumah keluarga Pradipta atau menyerahkan penghasilannya. Jika mereka kelak tinggal bersama, mereka akan membicarakan biaya, lokasi, jadwal, dan perawatan keluarga sebelum menentukan apa pun.
"Kalau ada yang berubah, kita bicara sebelum membuat keputusan untuk yang lain," ujar Gama.
Giana mengangguk. "Dan kalau aku bilang tidak, kamu tidak akan memakai ancaman atau nama keluargamu untuk mengubah jawabanku."
"Tidak. Aku akan menghormati jawabanmu."
Mereka sepakat menjalani hubungan sebagai pasangan secara terbuka, tanpa mengumumkan tanggal pertunangan atau pernikahan. Giana ingin memberi tahu Rahma dan Gufta sendiri. Gama akan berbicara kepada Diandra ketika Giana siap, dan ia tidak akan meminta ibunya menghubungi keluarga Giana tanpa izin.
Sebelum pulang, Gama bertanya apakah ia boleh menggenggam tangan Giana. Ia menunggu hingga Giana mengangguk. Tidak ada cincin atau janji besar. Mereka hanya duduk beberapa menit sambil membahas jadwal kelas Giana dan kunjungan berikutnya ke rumah sakit.
Gama mengatakan kondisi Geraldi masih sama. Perawatan berjalan rutin, tanpa perubahan kesadaran. Petugas hukum juga mengabarkan bahwa perkara Juardi masih dalam proses; beberapa tanggung jawab administrasi masih diperiksa dan belum ada keputusan akhir. Giana berkata ia ingin menerima kabar yang relevan melalui jalur resmi, tetapi tidak akan menunggu perkara itu selesai untuk menjalani hidupnya.
Setelah Gama pulang, Giana bicara dengan Rahma dan Gufta. Ia mengatakan mereka telah sepakat menjadi pasangan, tetapi belum membuat rencana pernikahan. Gufta bertanya apakah ia perlu tetap mengawasi jadwal Giana. Giana tertawa dan berkata tugasnya tetap belajar serta menjaga dirinya sendiri. Rahma menerima kabar itu tanpa memberi ucapan selamat berlebihan; ia hanya bertanya apakah Giana merasa aman dengan keputusan tersebut.
"Iya, Nek. Kalau suatu hari aku berubah pikiran, aku tetap boleh berubah pikiran."
"Tentu," jawab Rahma. "Pilihanmu bukan kontrak yang tidak bisa dihentikan."
Mereka juga membicarakan hal-hal praktis yang belum selesai. Giana akan menyimpan tabungannya sendiri dan membayar kelas dari penghasilannya. Jika suatu hari mereka tinggal bersama, mereka akan membuat anggaran berdua dan tetap menyediakan ruang untuk kebutuhan Rahma, Gufta, serta Geraldi tanpa menganggap satu pihak wajib menanggung semuanya. Gama setuju bahwa keputusan finansial harus dibuat bersama dan dapat ditinjau ulang. Mereka tidak menetapkan jumlah atau tanggal tertentu malam itu. Giana meminta agar hubungan mereka tidak menjadi alasan untuk mengambil alih urusan rumah yang sedang ia selesaikan. Gama menjawab ia akan menunggu sampai diminta, sebagaimana pada bantuan lainnya. Percakapan itu tidak membuat masa depan mudah, tetapi membuatnya lebih jelas.
Beberapa hari kemudian, Giana, Rahma, dan Gufta pergi ke makam orang tua mereka. Mereka membawa bunga sederhana dan membersihkan batu nisan. Giana berdiri cukup lama di depan nama ayah dan ibunya. Ia tidak mencoba tersenyum untuk meyakinkan Rahma bahwa ia baik-baik saja.
"Aku kangen Mama dan Papa," ucapnya. Suaranya bergetar dan ia menangis. Ia tidak meminta maaf karena masih berduka, tidak pula berjanji akan selalu kuat. Rahma merangkulnya dari samping, sementara Gufta berdiri dekat mereka dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berbagi kenangan kecil: bekal berlebihan dari ibu, ayah yang memasang ayunan, dan Gufta kecil yang selalu mengambil lauk paling besar. Cerita itu membuat mereka tertawa lalu menangis lagi. Tidak ada yang menyebut bahwa masa depan baru menghapus masa lalu.
Sebelum meninggalkan makam, Giana merapikan bunga dan mengucapkan selamat tinggal tanpa merasa harus mengakhiri dukanya. Rahma membacakan doa, sementara Gufta menceritakan kabar sekolah dan kelas tambahannya. Mereka tidak tahu apakah orang tuanya akan menyetujui pilihan yang mereka buat, tetapi mereka tahu pilihan itu lahir dari kasih dan keadaan yang mereka hadapi bersama. Giana menyeka wajahnya dan menggenggam tangan Rahma. Tangisnya belum sepenuhnya reda ketika mereka berjalan ke kendaraan, dan itu tidak apa-apa. Ia tidak perlu menunggu sampai berhenti menangis untuk kembali menjalani hari.
Dalam perjalanan pulang, mereka singgah di rumah lama. Giana membuka jendela ruang depan agar udara masuk. Modul kelasnya menunggu di meja, jadwal kerja tertempel di dinding, dan kunci rumah tergantung di tempat yang mudah dijangkau. Ia masih harus menyelesaikan urusan dokumen properti dan menunggu kabar proses Juardi. Geraldi tetap dirawat. Tidak semua hal berakhir rapi.
Namun, hidup Giana tidak lagi ditulis oleh peran kakak palsu, ancaman klien, atau keputusan orang lain atas rumahnya. Ia bekerja dengan namanya sendiri, belajar dengan waktunya sendiri, dan memilih bersama siapa ia ingin berjalan.
Kontrak itu telah selesai. Masa depan mereka tidak dibeli. Giana melangkah masuk ke rumah bersama Rahma dan Gufta, membawa dukanya, harapannya, dan pilihan yang kini benar-benar miliknya.
TAMAT