Key tengah menyulangi Azizah makanan. Azizah masih terlihat lemah dan pucat. Matanya ditutup oleh kasa steril akibat robekan itu yang sangat besar. Ketakutan yang dirasakan kedua orang itu masih terasa. Azizah terkadang ketakutan saat jendela kamar rawat dibuka dengan lebar. Ia akan menjerit seakan nyawanya terancam. Itu hal yang wajar pasca apa yang terjadi padanya. Namun kata dokter, lambat laun akan kembali membaik dan Azizah akan tenang seperti biasa.
“Dimana, Noel? Apa tidak ada kabar?"
Key menggeleng perlahan sembari merapikan rambut Azizah,”Belum ada Bunda. Kayaknya kerjaan dia disana banyak banget sampai gak sempat pulang”
“Kalian bertengkar?” ucap Azizah dengan tatapan yang sendu.
Key sempat diam sejenak. Kemudian ia kembali tersenyum. “Nggak kok, Bunda. Emang suasana sekarang agak gak kondusif. Perusahaan Noel lagi memperebutkan hak cipta yang Key gak tau itu apa. Semoga aja gak kenapa napa ya Bun”
Azizah mengangguk dan membenarkan selimutnya. Ia paham kalau mereka berdua tengah bertengkar. Terlihat wajah dan mata sendu itu tercetak dengan jelas. Keduanya hidup dengan waktu yang cukup lama. Wajar jikalau ada perasaan sedih saat kedua anak remaja ini bertengkar.
Azizah tersenyum. Sudah berapa tahun ia membiarkan putrinya tidur sendiri tanpa nyanyiannya. Kapan terakhir kali ia menyuapi anak kecilnya itu. Dan kapan terakhir kali ia menyisir rambut halus berwarna hitam pekat itu. Sungguh lama dan mampu membangkitkan rasa sakit hati dan berdosa atas apa yang ia lakukan dulu. Bedtapa berdosanya ia saat tangan yang seharusnya menyayangi putrinya ini malah berubah menjadi iblis.
“Sayang”
Panggilan itu membuat Key menaikkan kepalanya dan menatap mata sang Bunda. Sudah lama sekali ia tak mendengar panggilan itu. Matanya menyelami manik hitam yang sekarang berderai dengan air mata itu. Tangan Key bergetar dengan hebat.
“Bunda panggil Key apa tadi?”
“Sayang, kesayangannya Bunda”
Key langsung beranjak dan tidur disamping sang Bunda. Memeluknya erat dan mencium aroma lavender yang selalu dipakai Azizah. Katanya aroma ini adalah aroma kesukaan ayahnya dulu. Betapa bahagianya ia sekarang saat sang Bunda kembali menjadi dirinya dahulu.
“Kayaknya Bunda sudah berdosa besar sama kamu”
“Nggak Bun. Ada saatnya kita memang menjadi pribadi yang menakutkan karena patah hati yang teramat hebat. Dan itu terjadi sama kejadian yang kita alami sekarang, Bun”
Azizah tersenyum lalu menyuruh putrinya itu ikut berbaring di tempat tidurnya. Kemudian wanita paruh baya itu mengusap punggung anak gadisnya. “Anak Bunda apa kabar?”
“Baik, sangat baik. Apalagi ketika tau Bunda udah sembuh” kata Key dengan suara parau. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di d**a sang Bunda. Ia menangis saat mengingat betapa hangatanya pelukan sang Bunda. Memang benar, jika ibu adalah hal segalanya yang ia punya.
“Bunda gak tau kalau kamu udah sebesar ini. Bunda tau kalau Bunda banyak salah dulu. Betapa jahatnya tangan yang seharusnya melindungi ini malahan menghancurkan kehidupan kamu. Jika waktu bisa diputar, Bunda ingin di minta kesempatan agar bisa melihat kamu tumbuh dengan baik. Sekarang kamu akan dewasa. Bunda terlambat” ungkap Azizah dengan air mata yang tak bisa ia tahan. Suaranya sudah terisak dengan nafas sedikit tersengal. Tangannya tak henti mengusap punggung anak gadisnya tersebut.
“Bunda, gak ada kata terlambat. Semua hal yang kita lakukan sekarang itu kita pikirkan. Masa lalu itu kita jadikan pelajaran berharga buat dimasa depan”
“Iya sayang”
-/-
“Kamu udah ketemu Noel?”
“Emm belum, oh iya Joe kamu tau darimana aku disini?”
Joe kemudian memutar tubuhnya. Kaki kanannya ia naikkan ke atas dan kaki kirinya tetap dibawah. Tangannya yang kiri ia letak dikepala dan tangan kanan ia gunakan untuk menyampirkan rambut kekasihnya itu.
“Kebiasaan putar cerita”
Key tertawa, “Ya, habisnya kamu sih. Aku gak tau kalau kamu mau kesini. Dan lebih herannya lagi, aku gak tau kamu tau darimana letak ini alamat”
“Banyak mata mataku”
“Uwohhh, Tuan, im soooo scary!”
Joe mencubit pipi Key lalu kembali menyisir rambut halus itu. Kenapa rambut yang katanya jarang shampoan ini sangat halus dan wangi? Bahkan Jessi mengatakan kalau Key termasuk manusia yang jarang mandi. Namun kenapa ia tetap cantik dan wangi walau bajunya sering berantakan. Aura gadis ini tak diragukan lagi. Kalau di kasih daster mungkin ia masih sama cantiknya. Wajah dengan bentuk bulat dan pipi yang menggembul. Apalagi kalau tertawa. Gadis ini memiliki healing smile yang sangat terasa manisnya. Matanya juga bundar walau agk sipit. Benar benar gadis yang sabgat cantik.
“Awannya bagus ya belakangan ini. Kayaknya polusi udara sekarang gak terlalu parah. Udah agak lumayan. Seenggaknya gak banyak asap yang buat manusia jadi susah ngeliat sesuatu” kata Key memulai obrolan dengan pemicaraan random.
“Wajar, sebagian kendaraan udah ganti dengan tenaga matahari. Asapnya udah gak banyak dan sebagian lagi akan di akumulasikan ke transportasi udara. Kamu tau kan bakalan ada perilisan hoverboard yang bisa terbang? Itu buat para anak sekolah biar mereka gak pakai motor buat ugal ugalan”
“That’s so wonderful. Dunia makin canggih dan kita masih gini gini aja. Nothing different in my life. As always flat and bored” cibir Key. Kemudian Joe menjepit bibir itu. Key tertawa lalu menidurkan kepalanya di bahu Joe. Wah, pemuda ini pastinya memakai parfum mahal. Wanginya maskulin sekali. Key bahkan tak sadar malah memblusuk ke d**a Joe. Untung saja taman tak begitu ramai karena keduanya memilih di taman belakang yang agak lumayan sepi.
Pemuda itu tertawa keras lalu menoyor kepala Key, “Itu karena kamu nolep. Setiap diajak jalan jalan keluar emangnya kamu mau? Selalu nolak dengan banyak alasan yang aneh dan bikin greget”
“Aku suka heran sama orang orang yang mau keluar rumah dengan enaknya. Aku kalau mau keluar rumah kayak mikir bakalan capek banget”
Pemuda itu menghela nafasnya kuat. Memang kalau bicara dengan gadis ini harus memerlukan tenaga ekstra. Banyak sekali sanggahan yang akan ia berikan. Itu mampu membuat Joe kadang kesal dan ingin sekali mencabik wajah Key kalau saja gadis itu tak memberi senyuman mautnya.
Tolong di perjelas. Key sangat manis dan cantik jika tersenyum.
“Bunda kamu baik baik aja?”
Key mengangguk lalu membetulkan duduknya. Ia menghela nafas kuat sekan akan itu menjadi nafas terakhirnya. Terkadang kelakuan Key ini agak diluar nalar sebenarnya. Saat Joe kesini tadi, Gadis itu tengah salto dikamar Bundanya. Katanya lagi pemanasan. Memang apapun yang dilakukan Key membuat semua orang menggelengkan kepalanya.
“Baik kok. Dia juga udah mulai sembuh dari depresinya. Dia mampu mengenali aku lagi kayak dulu. Walua masih agak linglung kalau mengenali orang orang disekitarnya. Tapi itu udah lumayan bikin aku semangat agar Bunda sembuh seperti dulu”
“Kamu bahagia banget kayaknya” tanya Joe dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Joe, gak ada yang lebih membahagiakan seorang anak ke ibunya. Ibu itu seakan menjadi bagian dari hidup anak. Gimana kita dulunya manja dengan selalu meluk dan seakan kita selalu merengek sekeras apapun. Ibu adalah tumpuan utama yang gak pernah mengeluh dan bilang bosan saat merawat kita. Itu keajaiban Tuhan yang bahkan gak bisa dimilki hampir seluruh anak di dunia ini. Ibu, yang bahkan kalau kamu tukar sama seluruh harta karun di dunia ini gak bakaln bisa membalasnya. Makannya aku sayang sama Bunda apapun yang dia lakukan sama aku. Indahnya hidup karena ridha orangtua”
Joe tersenyum dan meniup poninya. Ia tiba tiba rindu sang Mama. Keajaiban mempunyai ibu memang tidak ada yang bisa menandinginya. Tidak semua anak merasakan rasa mempunyai ibu. Tempat bermanja, tempat menangis, tempat mengadu. Ibu adalah hal utama yang diyakini akan menjadi tempat yang bahkan akan dirindukan seorang anak sekalipun dia sudah tiada di dunia ini. Ibu yang bahkan jika hanya beberapa hari tak kita lihat membuat kita merasa sedih dan kesepian.
“Tiba tiba kangen Mama, Key. Dulu dia tuh rajin banget marahin aku karena memang aku kalau kecil suka banget main tanah di tempat tetangga. Dia bakalan datang terus jewer kuping aku. Entar nyuruh aku mandi terus nangis minta maaf karena udah jewer aku” kekeh Key lalu menarik tangan Joe. Mencium tangan kanan pemuda itu yang melingkar di lehernya. Joe menumpukan kepalanya pada kepala gadisnya itu.
Oh sial, kenapa dia bersemu hanya dengan kata ‘gadisnya’?
“Dia cantik banget pasti”
“Sangat cantik. Lebih cantik dari siapapun orang di dunia ini. Dia adalah bidadari yang sebenarnya bidadari. Gak tau deh. Bahkan kalau senyum kadang hampir mirip banget sama kamu. Persis matanya melengkung kayak gitu” kekeh Joe dengan mengusak kepala gadis itu.
Key duduk dengan benar lalu menatap wajah Joe, “ Mau peluk erat nggak?”
Joe tertawa sejenak. Pemuda itu langsung berhambur kepelukan Key. Pelukan yang ia rindukan dari dulu. Pelukan yang ia harapkan akan hadir kembali dalam hidupnya. Betapa ia sangat merindukan sosok sang Mama. Akibat keserakahan dunia, orangtuanya tewas dan itu benar benar menyakiti Joe sampai sekarang.
Namun pelukan gadis ini mampu membuat ia merasa pulang. Tempat sandaran yang ia rindukan selama ini sudah ada sekarang. Gadis yang awalnya jadikan target pembunuhan keluarga Noel. Malahan menjadi tempat pelabuhan bahkan sandaran dikala ia sedih sekarang. Gadis ini seakan menjadi tempat persinggahan saat ia kesal, marah sedih. Key akan merangkulnya dan menenangkan dirinya. Joe benar benar merasa pulang kerumah.
Joe melepaskan pelukan Key. Mereka agak mundur ke belakang. Key di naikkan ke pangkuan Joe. Pemuda itu menatap Key dengan senyuman manisnya. Ia menarik rahang gadis itu lalu mencium bibir yang menjadi perhatiannya sejak tadi. Bibir yang kalau bicara asal asal saja bisa begitu pedas. Namun jika di buat untuk memberi motivasi, Key akan berubah menjadi pribadi yang manis dan penyabar.
“Joe” lirih key. Joe menarik dirinya sejenak. Namun sejurus kemudian ia kembali mengeratkan pelukan pada pinggang Key dan mencium bibir mungil itu kembali. Saling melenguh dan membuat suara itu keluar. Key tertunduk malu sekarang. Ia tersenyum lalu memeluk leher Joe. Joe kembali mencium leher gadis itu dan membuat Key terkejut. Gadis itu lalu melepaskan pelukannya nnamun belum turun dari pangkuan pemuda itu. Ia masih berdiam disana dengan tangan yang masih setia di leher Joe. Key kemudian menyatukan keningnya dengan kening Joe.
“Kalau ada yang tanya kamu pacar siapa. Bilang ya, pacarnya yang si ganteng sekolah Joe namanya”
Key tertawa lalu mencium kening Joe. Pemuda itu masih dalam pelukan hangat Key, “Yahhh jangan dong. Entar aku gak dapat cowok baru kalau bilang begitu”
“Heh! Nakal banget”
Keduanya tertawa dengan sambil mengucapkan kata kata cinta dan harapan yang lain lain. Tanpa keduanya ketahui bahwa kamera sudah terpasang disisi taman.
-/-
Noel bangun dari tidurnya. Tangannya terkepal saat melihat kedua pasangan itu menatap satu sama lain seperti orang yang benar benar merasa jatuh cinta. Rasanya kepala Noel ingin pecah sekarang. Melihat senyuman itu bukan untuknya lagi.
“Kalau gue dulu kasih tau sama lo apa yang gue rasakan, apa lo bakalan menerima gue dan tersenyum kayak gitu juga Key?”
Panggilan telepon berdering membuat Noel bangun dan beranjak dari sofa. Ia mengambil ponsel satunya lagi dan tertera nama Key disitu. Noel baru saja meikirkan gadis itu. Padahal Noel sudah membentaknay dan mengatakan yang tidak tidak. Nmaun tetap saja Key mau menghubunginya.
“Noel, udah makan?”
“Udah”
“Jangan kecapekan ya. Jangan lupa vitaminnya. Itu kalau misalnya keluar rumah jangan lupa singletnya dipakai. Disana dingin kan?”
“Lumayan, udah sehatan Bunda?”
“Alhamdulillah udah, Noel. Bunda nanyain lo. Katanya kenapa gak pulang. Noel, kapan pulang?”
“Gak tau. Ada alaasn gue untuk pulang?”
Key diam sejenak. Hingga suara isakan tangis keluar dari bibir gadis itu. Noel merasa bersalah. Hastinya serasa di remat. Namun, tak urung ia menyuruh Key berhenti menangis.
“Gue pikir kita gak ada perasaan apapun. Tapi gue merasa sakit saat lo bilang gue bukan rumah lo lagi seperti dulu. Lo yang selalu bilang kalau gue adalah rumah lo yang bakalan wajib lo singgahi”
“Gimana bisa gue singgah di hati lo. Sedangkan lo sendiri menutupnya buat gue. Usaha gue untuk mengetuk pintu itu lo jadikan percuma yang sekedar aja lewat. Lo tanya sama hati lo Key. Siapa yang lo pengen menjadi rumah lo buat bersandar?”
“Gue gak pernah menutup bahkan-“
“Lo tutup, Key. Tanpa lo sadar lo nyuruh gue pergi secara perlahan. Tanpa lo sadari lo menjauh dengan tegasnya sama gue”
“Noel, jangan bilang gitu. Lo berarti buat gue. Gue gak bisa tanpa lo. Suatu saat tanpa lo minta gue bakalan pergi. Bahkan dari dunia ini”