Keduanya masih melakukan hal yang sama hingga Key melepas ciuman tersebut duluan. Ia menarik nafasnya dalam dalam dan menatap Joe yang masih terpejam dengan tangan yang terus bertengger di pipinya. Mata tersebut menyendu seiring waktu. Tanpa ada kata pembuka setelah adegan ciuman tersebut. Tanpa ada kata yang seharusnya terlontar. Waktu yang sebenarnya tak boleh di biarkan berhenti oleh kebisuan yang tercipta.
Keduanya hanya diam dengan detik yang berlalu. Entah semakin cepat atau lambat. Nyatanya, keduanya entah sedang mengatur kata atau rasa.
“Udah ya. Jangan marah” ucap Key dengan nada sumbang. Tangannya sibuk mengusap punggung kekasihnya. Ia sering bertengkar dengan Noel dan cara efektif adalah mengusap punggung atau bahu untuk sekedar menurunkan emosi yang bergejolak dalam hati dan pikiran.
Dan cara itu berhasil juga oleh Joe. Pemuda yang kini memeluk Key dengan erat. Mengeluarkan suara isak tangis yang menjadi tanya bagi Key. Apa sebenci itu Joe pada Noel hingga dia mau Noel lebih baik pergi dari dunia?
“Jangan ke rumah sakit, Key. Kamu bisa jauhi dia mulai sekarang” ucap Joe dengan tangan yang masih memeluk kekasihnya itu. Dia juga lelah dalam banyak hal yang kadang tak ia tak ketahui secara pasti.
“Gak bisa. Dia itu sahabat aku, Joe. Demi apapun aku gak bisa jauhi dia”
“Dia suka kamu kan? Kamu juga tau itu tapi kamu pura pura gak tau”
“…”
“Aku juga tau kamu menerima aku supaya kamu mengenyahkan pemikiran tentang Noel. Menampik rasa yang menghampiri diri kamu. Perubahan status yang gak kamu inginkan dan mencari alternative dengan mendekati aku. I know that. You can’t lie. I can see in your eyes how much you love him”
Key mengeluarkan tangisnya kembali. Melepaskan pelukan mereka dan menutup wajahnya. Awal yang ia inginkan untuk ke depannya ternyata menyiksa banyak orang. Apa yang Key lakukan sepertinya adalah karma yang harusnya ia dapat. Tak mau melukai kedua orang tersebut namun memberi harapan dan tak mau ditinggalkan. Egois menyergap di kepalanya.
Key pantas di hakimi seperti ini. Namun, perkataan dari seseorang membuat dia menjadi lebih ingin mengendalikan perasannya pada Noel. Ia bukan tak mau mencintai pemuda itu. Key benar benar mencintai sosok pemuda yang bahkan rela mempertaruhkan nyawanya. Sudah berapa lama Noel hidup bersamanya. Bayangkan saja berapa banyak momen yang mereka buat agar mereka bisa terus bersama. Berapa hari bahkan jam dan detik yang mereka lalui untuk bahagia ataupun sedih bersama. Bukan perkara mudah untuk meninggalkan pemuda itu dalam hidupnya. Bukan perkara mudah ia melakukan aksi pacaran di depan pemuda yang ia cintai. Ia menyakiti perasaan pemuda itu. Namun bukan itu niat yang sebenarnya. Ia hanya ingin menampik sebelum merasakan sakit yang teramat dalam nantinya.
Mata Joe menatap ia dengan sangat lembut. Betapa jahatnya Key melibatkan orang lain dalam perasaannya. Dan sialnya, ia terjebak dengan perasaan yang awalnya hanya ia buat buat. Namun sekarang perasaan itu lambat laun menjadi ketulusan yang terjadi di antar ketiga orang yang terlibat juga.
Kepala Key rasanya sakit dan tak bisa memikirkan banyak hal. Jiwa dan pikiran sangat lelah. Banyak hal yang tak ia ketahui dan sekarang sudah terkuak satu persatu. Sebelum ia cegah dan minta, perasaan yang tak seharusnya ia rasakan sekarang menjadi bom untuk dirinya sendiri. Egois yang menyergap dulu sekarang menjadi penyesalan terdalam yang ia rasakan. Seharusnya bukan jalan ini yang ia lakoni. Banyak jalan yang bagus walau lama namun dirinya mengambil jalan yang cepat namun menyedihkan di setiap jalan yang ia setapaki.
“Aku gak bisa melakukan apa yang kamu katakan. Seperti yang kamu pikirkan, Noel terlalu berharga buat aku dan membuat aku merasakan betapa nyaman dan gak tergantikan dirinya. Joe, aku egois dan kamu tau. Jadi, berhenti berharap banyak sama perasaan yang akan kamu dapatkan ini. Kamu hanya menyiksa diri kamu saat tatapan yang harus aku torehkan sama kamu malah aku alihkan ke tempat lain” ucap Key dengan menggenggam tangan Joe. Mengusap tangan besar namun sangat halus itu.
Joe menatap datar Key, “Aku bilang jangan dekati dia lagi”
“Aku gak bakalan mau. Joe! Dia bahkan udah kayak abang aku sendiri. Orang yang berharga buat aku”
“Dia! Hanya segelintir orang yang datang di hidup kamu. Tapi kamu nganggap dia kayak seorang superhero hebat”
“Karena memang dia yang selalu ada di hidup aku dari kecil sampai sekarang. Seharusnya kamu paham dengan apa yang terjadi di masa lalu kami lalu kamu menghakimi apa yang ingin kamu hakimi”
Tatapan mata keduanya menyiratkan berbagai perasaan. Kesakitan dengan perasaan yang awalnya hanya lakonan belaka. Yang hanya ada kekecewaan di dalam mata itu sekarang. Berbagai kata bahkan bisa di ungkapkan. Namun hanya diam yang membisu seakan menjadi perantara betapa sakit rasa itu.
Joe memandang Key dalam dalam. Menyorotkan rasa sakit yang di dera selama ini. Menyesakkan rasanya melihat orang yang di sayang bahkan sudah menghilangkan rasa. Joe hanya berharap bahwa mata itu adalah kebiohongan yang di rasa Key. Ia berharap itu sebenarnya adalah tameng agar Key tak menampilkan sakitnya.
Keduanya memulai suatu huubungan dengan perasaan yang salah
Bukan sebuah rasa cinta yang membara di hati. Atau sekedar mengagumi. Awal yang di buat untuk hubungan mereka adalah sebuah pelampiasan rasa yang tak seharusnya berjalan hingga sekarang.
“Udah ya, lebih baik kita udahan aja. Kita sama sama buat hubungan ini makin runyam dan salah. Seharusnya memang kita gak memulai semuanya. Kalaui aja waktu itu aku gak gila untuk terima kamu mungkin perasaan kita gak sejauh ini. Aku cinta sama Noel. Aku minta maaf sama kamu”
“Kamu memang cinta sama dia? Kamu yakin dengan perasaan yang kamu jalani ini? Perasaan kamu bukan hanya sekedar menginginkan dia untuk sama kamu. Tapi kamu hanya belum siap menerima kalau misalnya kamu pergi dari dia. Jujur sama aku”
Key mendongak menatap Joe. Itu adalah sebuah kenyataan yang benar adanya. Namun dia masih kekeh mempertahankan kata cinta yang sebenarnya ada di dalam hati mereka. Apa dia salah mengartikan sebuah rasa yang ada di hatinya untuk Noel?
“Kamu hanya ingin dia dekat sama kamu dan gak meninggalkan kamu dalam waktu hal apapun. Perasaan kalian sama sama takut kehilangan karena terbiasa bersama dalam jangka waktu yang lama. Soal cinta kalian masih jauh dari sana. Kamu belum membiasakan diri menerima perasaan baru dari orang lain dan menyebabkan kamu seperti ini. Gak tau dalam bentuk apa perasaan kamu berlabuh. Kamu cinta sama aku tapi kamu menampik”
Hati Key rasanya sakit saat kata kata itu entah kenapa kedengaran adalah hal yang benar. Ia ingin menolak perkataan Joe namun entah kenapa lidahnya kelu. Ia hanya menatap mata cokelat itu dengan pandangan lelah. Ia lelah dengan segala hal yang terjadi pada dirinya. Ia lelah memikirkan berbagai persepsi yang memuakkan ini. Dengan itu ia pergi tanpa membiarkan pemuda itu berbicara sedikitpun kata.
-/-
Malam yang ia habiskan di rumah sakit untuk menjaga Noel. Gadis itu menonton televisi di dalam kamar inap. Membiarkan otaknya untuk sejenak istirahat dari kemelut pikiran yang mendera. Ia menonton salah satu kartun yang sangat ia sukai. Kartun yang spesifik dengan rumah nanas dan spons kuning.
Ia bahkan sudah menonton cerita ini ribuan kali dan tetap saja bosan tak pernah menghinggapinya. Ia suka part dimana ketika spons kuning itu sakit dan banyak teman yang memmbawa ia pergi berobat. Entah kenapa moodnya naik dengan menonton cerita yang bahkan telah ia saksikan ratusan kali.
Suara debuman menjadikannya menarik diri dari televisi di hadapannya. Ia berjalan perlahan keluar dan melihat siapa yang ada disana. Kamar inap Noel memang di bawah. Namun, karena sudah malam sudut rumah sakit sedikit di matikan lampunya. Itu menambah kesan horor yang membuatnya panas dingin.
Kakinya melangkah pelan dan lambat. Ia bisa melihat siapa yanga da di balkon kamar. Matanya entah kenapa berwarna dan seperti kaku saat menampilkan wajahnya. Tangan Key menjadi gemetaran dan keringatnya menjadi banyak seiring mahluk itu mendekat ke arahnya.
Tangan kaku itu mengambil pergelangan tangannya. Key makin pusing saat tangan sebelah mahluk itu menarik dagunya perlahan dan menghembuskan nafasnya ke arahnya. Tak ada angin dan tak ada apapun yang menerpa wajahnya.
“Setelah ini, jangan pikirkan apapun lagi, nak. Kamu akan mendapatkan yang terbaik. Jaga anak anakmu dengan Joe nanti. Aku harap kalian tak ada pertengkaran. Percayalah pada suamimu nanti”
“Maksud kamu apa?”
Melihat senyuman terbit dari mahluk di depannya. Entah kenapa bukan ketakutan yang menyergap di dalam hatinya. Namun perasaan seperti seorang anak yang merindukan ayahnya.
Mahluk itu adalah pria tua yang Nampak gagah. Namun entah kenapa ia bisa melihat senyuman itu hangat tapi tak sebanding dengan kenyataan saat ia melihat ke sepuluh jarinya ada yang terbuat dari besi. Ia seperti jelmaan robot dan manusia.
“Tetap bersama Joe, anakku. Ia akan membuat anak anakmu menjadi orang yang hebat. Ke depannya akan menjadi lebih sulit. Namun setidaknya mengantisipasi hal tersebut bisa di lakukan lebih awal. Jika kau mengikuti perkataanku”
Key walau sedikit heran dengan apa yang di ucapkan oleh pria tua di hadapannya. Namun hatinya sekarang lebih ringan dari tadi. Pria tua itu kembali tersenyum lalu menghembuskan nafasnya kembali.
“Astaga” pekik Key lalu duduk dengan benar, “Ah, gue mimpi? Tapi kenapa kayak nyata banget”
Key kembali menatap jarum jam kemudian mengalihkan wajahnya pada Noel. Ia tersenyum lalu memberikan sapuan hangat pada rambut Noel. Wajah itu sangat damai dan mampu membuat hati Key berdesir hangat. Pikirannya kembali dimana mereka selalu bersama tanpa memikirkan banyak hal seperti sekarang. Memikirkan semua kebahagiaan yang mereka lakukan.
Noel itu tipekal tsundere. Kalau sayang tidak pernah mau di perlihatkan. Maka dari itu pemuda itu selalu melindungi Key dari belakang. Tapi kalau sduah kelewatan ia akan mulai memukul siapapun yang menyakiti Key.
Key ingat dulu saat ada anak laki laki yang mencoba untuk memukul dirinnya ketika dia masih SD. Awalnya Noel tak mau menolong dan malahan membiarkan anak itu memukul Key. Namun, karena Key tak bisa melawan, Noel mengambil kerikil lalu di lemparnya rambut anak tersebut dengan kerikil tadi. Kejadian itu mampu membuat para orangtua geleng geleng kepala. Siapa sangka anak itu terbyata adalah Eggy yang sekarang sudah menjadi teman mereka.
Eggy pindah sekolah semenjak SD. Dan mereka di pertemukan lagi ketika sudah remaja. Bagaimana bisa takdir selucu ini membuat mereka menyatu kembali. Kita memang tidak tau kejutan yang terjadi di kehidupan yang kita jalani.
Samar samar terdengar rintihan dari Noel. Key langsung memanggil perawat dan mereka memeriksa Noel beberapa menit. Setelah itu, Key kembali masuk karena dokter sudah berbicara pada orangtua Noel di ruangannya.
Key tersenyum saat mata Noel kini tengah terbuka lebar. Pemuda itu tersenyum dengan wajah pucatnya yang persis mirip mayat hidup. Ah, Key ingin sekali menampar dan memukul kepala itu agar ia bisa melihat wajah Noel yang merah dengan penuh kemarahan disana.
“Udah sadar, ngab?” tanya Key dengan gaya tengilnya. Noel tertawa kecil lalu berusaha ingin menjambak gadis yang sekarang tengah menopang kepalanya. Wajahnya yang manis dan pipi bulat itu berhasil membuat Noel menjadi terkesima. Gadis itu pandai sekali membuatnya menjadi salah tingkah alias salting. Oke, gini deh. Kalau kalian di tatap dengan tatapan manis gitu apa gak bisa buat stres atau kalau tidak salting? Noel saja serasa tak sanggup menatap mata bundar itu.
“Kenapa buang muka sih, nyet?”
Noel tertawa lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mencium aroma shampo yang bahkan dari kecil tak pernah di ganti aromanya oleh Key, gadis itu sangat mencintai aroma bayi yang menjadi andalannya.
“Lo gimana sehat?”
Key tersenyum kecil lalu membalas pelukan Noel, “Lumayanlah, ya walau agak stress lo gak bangun bangun”
Noel tertawa kecil lalu mengeratkan pelukannya hingga Key sesak nafas. Key menarik tubuhnya kemudian menampar kecil wajah Noel. Ya pelanlah, takutnya nanti Noel bal,ik pingsan gara gara Key menamparnya kuat. Kan gak lucu kalau begitu.
“Muka lo pucat” ucap Noel dengan mengusap wajah dari sahabatnya. Key memegang tangan Noel dengan kedua telapak tangannya. Mencium tangan itu lalu meletakkan kembali ke pipinya.
“Gue kepikiran lo. Gue pikir gue bakalan kehilangan untuk kesekian kalinya. Gue udah merasa gak punya dunia lagi saat lo bertaruh nyawa di meja operasi. Gue gak tau lagi harus gimana gue tenangi otak gue dan berapa decibel jantung yang udah terhitung saat detik detik lo di operasi. Gue cuman di liputi oleh rasa bersalah yang gak ada habisnya”
“Lo trauma atas apa yang men impa lo dulu. Gue paham lo terlalu takut buat di tinggalin lagi, Key. Tapi gue mohon sama lo. Jika gue yang di panggil duluan sama Tuhan, jangan kayak gini. Gue gak bakalan sanggup melihat lo nangis dengan kedua mata bengkak kayak gini”
“Lo gak bakalan ninggalin gue kan?”
Noel hanya tersenyum lalu menarik gadis itu dalam pelukannya lagi. Namun, Key sepertinya salah mengartikan arti senyuman itu. Senyuman yang nampaknya adalah senyuman paksaan agar lebih kuat. Key hanya berharap Tuhan sangat baik padanya agar ia bisa bersama Noel bahkan sampai mati. Sampai menua bersama dan menjalin hidup bersama. Key bahkan tidak sanggup0 jika apapun terjadi pada Noel.