Key menelungkupkan kepalanya di meja belajar. Ia duduk di samping Jessie. Gadis itu sudah melewatkan satu harian pelajaran dan memilih ke UKS. Walau jam pulang sekolah sudah berkumandang, Key tak berniat beranjak darisana. Ia masih lemas. Kakinya rasanya lunglai. Sepertinya dia demam. Belakangan banyak tugas dan ia juga sudah menjadi penulis bayaran. Maka dari itu banyak kelelahan belakangan ini. "Lo kenapa sih? Cerita dong sama gue. Lo anggap gue temen gak sih, Key? Lo banyak banget yang di sembunyikan dari gue" Key menghela nafasnya berat. "Gue... berantem sama Noel" Jessie mendengus, pasalnya mereka berdua memang sering bertengkar. Lalu kenapa Key kacau hanya perkara itu. Di pikir lagi, Noel tidak masuk hari ini. "Lo berantem sama dia udah jadi rutinitas kelas yang selalu ngeliatin adegan itu. Trus kenapa sekarang sedih? Paling baikan lagi ntar" Gadis itu mengeluarkan suaranya dengan kuat. Keadaan kelas yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja membuat Jessie agak panik. "Aduhhh Key. Lo jangan bikin parno dong. Ini tuh lo kenapa? Lo bilang dong sama gue. Biar gue tau dan paham. Kalau lo pendam sendiri, itu bakan nyakitin lo Key. Gak salah lo cerita. Beneran gak salah akan hal itu. Setiap manusia punya hak buat bicara kan? Dan lo, aduhh Key. Udah nangisnya kok malah kuat?! Oke oke gue gak bakalan maksa" Jessie memeluk Key dan menepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya. "Noel itu makin aneh, Jes. Dia tuh udah kayak orang kesetanan kalau gue bersosialisasi. Dia terlalu protektif dan ngekang gue. Setiap pergerakan gue selalu di pantau dan bikin gue makin heran sama dia. Oke,dulu gue senang karena gue rasa dari gue aman untuk dunia luar. Tapi makin hari dia makin gak manusiawi. Bahkan dia bisa langsung mukul siapapun, bentak siapapun yang dekat gue. Gue takut dia obsesi sama gue dan suka sama gue" "Key, gue udah pernah bilang kan kalau cowok sama cewek itu gak selamanya bisa sahabatan. Nggak sama sekali. Mungkin ada yang bisa. Tapi sedikit Key. Gak banyak asal paham aja nih ya" Key menggeleng, "Nggak, Jes. Gue yakin dia gak cinta sama gue. Dia nyembunyiin sesuatu dari gue" "Key lo-" "Dia gak marah waktu gue pacaran berapa kali. Dia santai,Jes bahkan cowoknya b******k gimanapun di-" "DIA MUKULIN PARA MANTAN LO KEY! LO GAK TAU!" Key terdiam dengan mengepalkan tangannya. Matanya kembali mengabur dengan deraian air mata. Rasanya kepalanya sakit sekali sekarang. Kenapa harus memikirkan hal seperti ini sih? Key menghindari topik ini tapi ternyata tersulut juga ketika ditanya oleh Jessie. "Gue gak pernah denger" lirih Key bahkan suaranya sangat kecil. Jessie kini memandangnya dengan tatapan sendu. "Karena dengan rapinya dia sembunyikan semuanya Key. Serapi itu sampai lo gak tau trik mainnya dia" "Gimana bisa lo tau Noel lakuin itu Jes? Gue gak bakalan percaya sama apa yang baru di bilang" Jessie menghela nafasnya. Menyampirkan rambutnya ke telinga yang dihiasi anting kecil. Tangannya memukul pelan bibirnya yang sudah asal bicara. Kalau Noel tau dia bakalan mati sekarang. "Key, kita bicara yuk" -/- "Minum ini dulu biar ngantuknya hilang" Key mengambil kopi itu. Ia meneguknya dengan pelan. Kembali tatapannya tertuju pada danau sekolah. Tangannya masih bergetar. Hidungnya juga masih memerah. Teringat kejadian tadi malam dimana bahkan Noel mendorongnya dengan sangat kuat hingga tangannya terkena pinggiran meja. Dia tak peduli dan malah mengatakan Key tak tau diri. Pergi begitu saja tanpa penjelasan yang pasti. Membuat Key tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Noel. Dadanya masih sesak. Walau sudah dipukul berapa kali pun tetap saja sesaknya terasa. Kepalanya pening menandakan ia sudah kebanyakan menangis. Namun, untuk berhenti dari tangisan itu dia tak bisa. Membuat dirinya makin lelah sekarang. "You need my shoulder? " Key menggeleng kemudian meneguk kembali minumannya. "Gue gak yakin apa perkiraan gue beneran atau salah. Lo berantem sama Noel?" "Emm" "What happened? You Can tell me everything. Im sure to listen your story'" Key tersenyum manis lalu menatap Joe. Pemuda itu tampan sekali. Tatapan matanya tajam namun terlihat damai. Senyuman dari bibir tebal itu juga sangat manis. Untuk perempuan manapun pasti merasakan bahagia jika menjadi pacarnya. "Key, gak semua hal bisa lo sembunyikan. Ayo cerita biar lo lega" lirih pemuda itu dengan nada yang lembut membuat Key tertegun. Tangan Joe mengelus tangannya dengan gerakan yang membuat Key tenang. Key memeluk Joe dengan erat. Menangisi segalanya. Kenapa dengan Noel? Mengapa dia begitu. Semuanya ia ceritakan agar hatinya tak sakit. Joe menepuk pelan punggung gadis itu. Menenangkan agar gadis itu tak menangis lebih kuat. Joe hanya takut Key sakit nanti. Ah, bukan takut. Ia malas berurusan dengan gadis sakit sakitan. Tolong jangan katakan hal yang lain. Dia masih dijalan misinya. Tapi rasa nyaman ini juga hadir di sela kebenciannya. Kenapa rambutnya sangat halus. Kenapa tangisnya menyayat hati. Dan kenapa ia bisa merasakan ketenangan dari wajah sendu itu. "Key, gue sayang sama lo. Sayang banget Key" Joe melepaskan pelukannya, "pacaran yuk” Joe dan Key menatap satu sama lain. Joe mendekatkan wajahnya lalu mengecup kedua mata yang sudah basah akibat air mata itu. Rasanya sesak saat Key masih terisak isak. Ia memeluk tubuh itu dan mencium keningnya kembali. Joe kemudian iseng dan mengangkat tubuh Key dengan mengangkat dari pinggang. Key memekik kuat lalu memukul d**a Joe. "Joe, turunin gue. Banyak yang lihat ntar" pelok Key namun ada suara tawa dari bibir manisnya itu. Dengan tubuh yang masih di gendong oleh Noel. Joe mengecup bibir itu perlahan. Key memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya di leher Joe. Pinggangnya masih di angkat oleh Joe. Gadis itu tersenyum di sela sela ciuman mereka. Keduanya tertawa lalu Joe kembali memutar tubuh gadis itu. Key tertawa puas lalu Joe menurunkan gadis itu. Key melihat kesana kemari takut ada yang melihat mereka melakukan hal tadi. "No, udah jam pulang Key. Lagipula ini udah sore. Gak ada yang disini kecuali emang mau mojok" Key melotot lalu berusaha melepaskan diri dari Joe. Dengan sigap ia berdiri lalu merapikan rambutnya yang di terpa angin. Bukannya dapat solusi, ia malah digoda oleh Joe. "Jendral Ken dari Belgia datang kerumah lo semalam dan cerita banyak hal yang bahkan lo gak ngerti sama sekali. Seakan akan dia menjadi penghubung dimasa depan. Benar dugaan gue?" Gadis itu melotot lalu menatap tajam pada Joe yang duduk dengan kaki kanan di atas paha kiri dan tangan yang di sedekapkan. Terlihat santai dan main main. Tapi Key harus tau secara gamblang apa yang sebenarnya terjadi. "Gimana bisa lo tau? Apa lo udah komplotan juga sama dia?" Dengan langkah kaki yang berderap karena sekarang ia berdiri, Joe menatap Key dengan menundukkan kepalanya, "Heh! Dia bukan orang sembarangan yang bisa ikut acara bertengkar kayak gitu" "Gue juga di datangi dia. Dia ngomong yang nggak gue ngerti seakan-akan dia itu Tuhan. Lo gak usah percaya apa kata dia. Kita nggak tahu kebenaran dan dia langsung ngungkapin semua seakan-akan itu adalah fakta" Key tertegun lalu mulai berpikir bahwa Ken seakan mengatur hidup mereka. Pria tua itu seakan mengerti masa depan mereka seperti apa. Awalnya kita mau paham akan tetapan yang terpancar di wajah pria tua itu. Namun, mendengar pernyataan Joe membuat dirinya seakan paham apa maksud pria itu. Reinkarnasi -/- Noel memandang keluar jendela menetap rumah yang berada di ujung komplek. Rumah yang masih sepi. sepeda juga belum ada di depan rumahnya pertanda pemilik rumah belum pulang. Pemuda jangkung itu khawatir setengah mati dari tadi malam. Bahkan tidurnya tidak nyenyak sama sekali oh lebih tepatnya dia tidak tidur. Pikirannya berkecamuk atas kejadian semalam. Jelas gadis itu terluka. Goresan di tangannya terbuka lebar dengan darah bercucuran di lantai. Wajar saja ujung tempat tidur itu terbuat dari kayu yang sedikit runcing di ujungnya. Dan tadi pagi perban yang melingkupi lengan sahabatnya itu menampakan betapa besar luka yang diberikan oleh Noel. Noel merasa dirinya seorang b******k Tatapannya kembali melihat keluar. Suara kayuhan sepeda disusul dengan tawa bahagia terdengar sampai ke pendengarannya. Iya hafal dengan suara itu. Dan jelas, terlihat Ki turun dari sepeda lalu berdiri menatap Joe yang sangat tinggi. Pemuda itu mengusap lembut rambut Key kemudian mencium kening itu dengan sangat lama. Terlihat betapa cintanya pemuda itu pada gadis di depannya. Kepalan tangan Noel semakin kuat. Saat kedua pasangan itu saling tatap dengan penuh cinta kemudian berpisah dengan melambaikan tangan dengan mesra. Key masih memandangi punggung yang perlahan menjauh itu. Lalu pandangannya tertuju pada lantai rumah Noel. Tempat di lantai 2 di kamar Noel keduanya saling bertatapan namun tak lama Key melengos pergi. Sepertinya, Noel melakukan kesalahan besar Oh atau memang Joe yang memancing amarahnya. Belum puas pemuda b******k itu untuk menghancurkan keluarganya. Sekarang ia pasti akan memanfaatkan kebodohan Key yang sangat bodoh itu. Gadis itu terlalu naif hingga ingin sekali Noel menjedotlan kepalanya pada dinding. Dengan langkah cepat ia keluar kamar dan menuju pekarangan rumahnya. Terlihat Joe yang masih berjalan dan kini berhenti sesaat. Dengan tangan yang di masukkan di dalam saku sekolah, ia membalikkan tubuhnya dan menatap remeh pada Noel. "Hey, dude. Kayaknya gue menang kali ini. Gadis lo, udah mandang gue" Guratan marah itu terlihat jelas pada wajah Noel. Dengan cekatan ia menonjok wajah Noel dengan kuat. Hingga pemuda itu terhuyung dengan kuat. Tak henti sampai disitu. Perut pemuda itu ia tendang hingga bunyi debaman kuat menghantam Joe. Kaki Joe ia pijak dengan kuat hingga pemuda itu meringis. Pemuda yang tengah menjadi korban itu kini membalikkan tubuhnya dan menendang perut Noel. Pipi pemuda itu ia jotos lebih kuat hingga semburan darah keluar dari mulut Noel. Joe menatap nyalang pada pemuda di hadapannya itu. Hingga keduanya terengah-engah dengan posisi terlentang. Diam menjadi hal terakhir yang terjadi. Keduanya menatap pada langit malam yang tampaknya bintang sedang berhamburan dengan banyaknya. "Gue cinta Key, jangan sakiti dia" "Gue juga, haha ini beneran cinta segitiga? Ngerebutin cewek tulalit itu?" Noel tersenyum lalu menutup matanya. Jantungnya sakit karena hantaman itu. Ia tak mau kelihatan lemah dan sekarang ia menutup matanya untuk menyamarkan rasa sakit itu.