May I convice you?
Ucapan itu terngiang terus di kepala Key. Rasanya ia akan meledak sebentar lagi. Bagaimana bisa cinta pada pandangan pertama itu ada di dunia ini? Oh, demi apapun itu tidak mungkin dan sangat mustahil. Pikiran Key tetap berkelana pada kejadian yang barusan. Kini ia meraba bibirnya kembali. Sensasi itu masih jelas terasa sampai sekarang. Joe mencuri ciuman pertamanya. Senyuman itu juga tak bisa ia elakkan sekarang.
Tangan Key yang menyusun piring dan gelas di tempatnya terhenti saat pintu terketuk pelan. Gadis itu membasuh tangannya lalu mengusapkan pada handuk kecil dekat wastafel. Dengan derap langkah pelan gadis itu membuka pintu. Terlihat sosok lelakiseparuh baya dengan setelan rapi dan senyum yang sedikit menakutkan. Key mundur secara perlahan lalu tersenyum.
"Anda mencari siapa, pak?" tanya Key sopan. Mana tau dia agen pemberi uang dadakan. Lumayan juga uangnya buat kuliah nanti bukan?
Lelaki berumur seperti papa Noel itu tersenyum ramah, "Perkenalkan, aku Ken jendral dari Belgia. Teman dari Mario, ayah Noel"
Key terkejut. Seorang Jendral datang kerumahnya yang lusuh. Astaga, seharusnya Key tadi mengganti pakaiannya dengan pakaian lebih normal. Kenapa ia dengan berani memakai baju Naruto dengan bangganya. Demi apapun, ini sedikit membuatnya bingung. Ayolah, yang ditemui seorang Jendral kebesaran. Dan dengan aneh ia memakai pakaian kartun yang ia sukai dari kecil itu.
"Bolehkah aku duduk di dalam? Kakiku sudah cukup lelah dalam usia senja ini. Jika kau mengizinkan, nak"
Key mengangguk pelan lalu membuka pintunya sedikit lebih lebar. Dengan langkah tegap pria itu masuk dan langsung duduk di sofa lusuh miliki Key. Oh tidak, maksudnya milik orang tuanya. Key belum punya uang sebanyak itu untuk membeli sofa ataupun rumah.
"Kamu berteman baik dengan, Noel?" Tanyanya dengan suara yang ramah. Pria ini sangat berwibawa pikir Key.
“Ah, iya ya kami sudah berteman bahkan dari umur 7 tahun. Ya walaupun dia sedikit nakal. Oh ralat, dia sangat nakal. Aku pernah dimasukkan ke dalam comberan hanya untuk observasi menurutnya. Pemuda gila yang bodohnya aku masih berteman dengannya. Well, terlepas dari itu semua setiap kami keluar untuk makan aku tidak perlu membayar apapun. Simbiosis mutualisme juga bukan?"
Jendral Ken tertawa dengan suara yang lembut. Khas seorang ayah yang mendengar putrinya berceloteh ria.
"Well, bahkan semakin dewasa dia semakin sarkas menurutku. Apa kamu tahu dia sudah turun sebagai dokter spesialis di umurnya yang sangat muda ini. Bahkan dia melakukan penelitian untuk menambah darah artifisial bagi negara yang membutuhkan darah. Untuk anak umur 18 tahun itu sungguh hal gila yang bisa ia lakukan. Walaupun sebenarnya masih banyak anak yang lebih pandai atau setara dengannya. Namun pemuda itu sangat istimewa. Dia mempunyai wibawa bagi seorang raja"
"Permisi paman, ah maksudku Jendral Ken"
"Panggil aku paman, nak. Jangan terlalu formal denganku. Kita bukan sedang di forum atau persidangan. dan kamu juga bukan sedang berhadapan dengan algojo. Jadi berhentilah untuk formal kepadaku"
"Ah, oke" Key berdehem pelan, "Bagi aku yang sudah hidup dengan Noel selama bertahun-tahun. Aku enggak pernah tuh ngeliat dia melakukan hal istimewa seperti itu. Menurutku dia gadungan dan hanya hobi menggangguku saja. Kalau tidak menggangguku dia seperti ingin mati rasanya. Makanya setiap hari bahkan dia berani melempar jendela kamarku dengan batu kerikil. Dia pemuda gila paman"
Ken kembali tertawa mendengar gerutuan anak gadis itu. Wajahnya yang imut membuat guratan di wajahnya tak terlihat seperti tua. Dia seperti anak gadis yang umur 10 tahun namun mempunyai badan yang sedikit gemuk. Ok, dia tak akan menanyakan mengapa badan gadis itu sedikit gemuk dengan pipi gembul yang menghiasi wajahnya. Pasti pemuda pemaksa itu telah melakukan cekokkan setiap harinya untuk gadis di depannya ini.
"Nak, Aku tidak tahu umurku berapa lama. Tapi aku hanya ingin memberitahu satu hal kepadamu. Apapun yang kau lakukan di masa depan. Tolong dukung Noel apapun hal yang terjadi padanya. Tolong percaya padanya dan jangan tinggalkan dia sendirian. Terlepas dari sifat dia yang sungguh kekanakan dia hanya membutuhkanmu. Maka dari itu aku selaku pamannya ataupun sahabat dari ayahnya. Jaga putraku, nak. Aku menitipkan dia dan hatinya padamu"
Key mengernyit heran saat ucapan pemuda di hadapannya ini terlihat sendu. Dengan senyuman simetris yang terlintas di wajah bulat itu. Key menganggukkan kepalanya perlahan dan kemudian tersenyum lebih lebar lagi hingga lesung pipitnya terlihat dengan sempurna.
"Tanpa Paman bilang, aku bakalan ada dia sampai kapanpun itu. Dan tetap menyayanginya lebih dari apapun"
"Aku percaya padamu nak"
Ketukan di pintu kembali terdengar dengan kerasnya. Key takkan menyangkal kalau itu adalah orang yang selalu mengganggunya. Dengan gerak langkah kasar gadis itu membuka pintu yang sudah diketuk secara brutal. Noel tak menghiraukan Key yang menatapnya. Ia melangkah masuk dan langsung menuding wajah pria yang dengan santainya meminum kopi. Key memang sudah menyediakan kopi untuk dirinya sendiri. Namun, Ia terlalu malas untuk membuat kopi kembali. Maka dari itu Ia memberikan kopi yang baru ia seduh itu kepada Jenderal Ken.
"Aku sudah mengatakannya jenderal, Jangan libatkan Key dalam urusan kita. Hentikan sikap ikut campurmu itu. Kau sudah tua. Setidaknya pikirkan umurmu saja. untuk apa kau repot-repot melihatku dan menatapku seakan akan aku masih kecil. Berhenti layaknya seperti paman yang sangat baik padaku. Apapun yang kau lakukan, kau sudah mengikuti ayahku yang melakukan penelitian seakan-akan membunuh orang"
Ken tersenyum santai lalu berdiri tegap dihadapan pemuda yang umurnya 40 tahun di bawahnya. Pemuda ini punya tatapan tegas. Tatapan yang hanya akan diberikan kepada musuhnya dan tatapan lembut yang akan diberikan kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Noel seperti hewan liar yang akan jinak jika di depan majikan.
"Lo tuh ya Noel. Otak lo ketinggalan atau gimana? Bisa-bisanya lo nunjuk-nunjuk orang tua dengan nggak sopan nya. Pikirannya lo ke mana? Udah gila beneran lo?"
"Dengerin,” Key membalik tubuh Noel agar menghadapnya, “Dengerin gue. Dia itu bukan orang baik. Dan berapa kali gue bilang sama lo. Jangan membuka pintu buat orang yang enggak lo kenal. Maksud lo apa ngelakuin hal itu? Kalau tiba-tiba dia nyulik lo. Terus lu dibunuh dan kita semua nggak ada yang tahu. Gimana? Nggak mau hal itu terjadi sama lo?"
"Noel, You so overacting. Dia orang baik. Dan dengan gampangnya nunjuk-nunjuk dia seakan-akan dia itu orangnya jahat. Lo ngelakuin hal yang salah Noel"
"Lo gak tahu apa-apa, Key. Jadi gue harap lo diem aja gak usah banyak cerita. Biarin gue yang ngurus Pak tua ini"
"Kamu memang anak yang baik, Noel. Setidaknya kamu menghawatirkan pinggangku yang sekarang sudah sangat sakit. Badanku tegap tapi kenapa pinggang ku sakit ya? Ayolah, hentikan guratan wajah kalian yang serius itu. Aku datang untuk bertamu bukan untuk membuat kegaduhan"
"Tahu begitu Kenapa Jendral tidak pergi sekarang juga? Aku benar-benar sudah muak dengan wajahmu. Setidaknya bertobatlah pada Tuhan agar kau dimasukkan surga kelak. Dirimu bahkan sudah seperti orang yang akan ditarik nyawanya"
"NOEL!"
Kan hanya tersenyum lalu menepuk pelan kepala Key. Pemuda itu lalu memeluk Noel. Kemudian berjalan perlahan meninggalkan keduanya yang masih dirundung sepi. Key merapikan gelas itu dan meletakkannya di wastafel. Hingga tarikan di tangannya membuatnya kaget dan langsung menatap tajam pada pemuda di hadapannya itu.
"Maksud lo apa nyuruh dia masuk ke dalam rumah? Lo kenal dia Key? Enggak kan? Enggak kan Key? Gini maksud lo apa untungnya nyuruh nyuruh dia masuk ke dalam rumah lo. Lo nggak takut diapa-apain dia? Berhenti jadi bodoh gue mohon"
Key memejamkan matanya perlahan menarik nafasnya. Dia melepaskan cengkraman Noel yang benar-benar kuat. Pemuda itu secara sadar melakukan kekerasan kepada Key. Gadis itu jengkel deh langsung mendorong tubuh tegap itu.
"Gue tau dia baik Noel. Gue tahu itu. jadi gue mohon sama lo. Jangan perlakukan gue seperti dulu dulu. Gue udah pintar untuk tahu mana yang baik dan mana yang benar. Lo selalu menganggap gue lemah sehingga gue nggak bisa berdiri dengan tegap nya, Noel. Lo enggak pernah bikin gue ngerasa kalau gue bisa kuat menjalani masalah gue sendiri. Lo enggak pernah ngelakuin itu Noel. Lebih dari apapun gue ngerasa tau nggak sih?" Ucap Key dengan suara yang benar-benar lirih. Tangannya sedikit bergetar dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Noel.
Noel yang melihat Key menangis langsung mendengus kasar.
"Setiap gue kasih tahu lo. Lo selalu nangis. Setiap gue nasehatin lo. Lo nangis dan marah marah sama gue. Tapi lo nggak tahu seberapa khawatir ya gue ketika gue ninggalin lo sendirian"
"Gue nggak tahu. Gue nggak tahu sama sekali. Karena gue udah menutup mata dan hati gue karena lo. Gue nggak bisa ngerasain apapun karena lo selalu melarang gue di setiap pergerakan. Gue capek sama lo, Noel. Capek banget. Rasanya mau pisah. Rasanya gue pengen gak kenal lagi sama lo. Lo paham gak sih kalau gue tertekan?” ucap Key denganh menghantam mata itu.
Noel hanya memandang sendu pada Key. Ia paham apa yang ia lakukan adalah hal yang salah. Namun itu juga alasan yang masuk akal agar Key tak kenapa napa. Ia takut kalau Key tersakiti dan itu benar benar menganggunya.
“Maaf ya,” Noel menarik tubuh Key lalu memeluknya erat. Mengusap perlahan rambut dan punggung gadis itu. Ia hanya menghela nafas lelah karena Noel akan meminta maaf namun menguolang kesalahan yang sam algi. Ia benar benar tak mau hidup dengan banyak tekanan begini. Bisa bisa ia sakit dan memilih agar jantungnya di ambil saja daripada selalu bertengkar begini.
“Gue butuh waktu buat pahami semua hal yang lo lakukan, Noel”
Noel melepaskan pelukannya lalu menatap tajam pada Key, “ Maksud lo apa sih? Gak usah kekanakan lah”
“Gue serius” kata Key dengan suara bergetar, “Gue capek karena lo gak pernah ngertiin gue dan buat gue makin pusing dengan segala hal yang ada. Gue harap lo bisa menimalisir rasa marah dan egois lo itu Noel”