Biasanya kalau malam begini Azizah akan sibuk meminta membuat jus mangga. Namun, malam ini rasanya entah kenapa perempuan itu tak keluar rumah untuk mencari kesukaannya. Bukankah ini terlalu aneh karena biasanya dia tak pernah absen untuk meminta jus mangga.
Key yang penasaran langsung ke kamar Bundanya dan mengetuk pintu. Dengan perlahan ia membuka kamar itu lalu mendapati Azizah memakai mukena dan sujud di sajadah. Key merasa hatinya di remas. Sang Bunda dulunya sangat rajin ibadah dan sekarang, perempuan itu kembali? Perempuan yang ia banggakan sampai sekarang.
Key berjalan perlahan karena ia takut sang Bunda terganggu. Setelah selesai, Azizah menaikkan kedua tangannya. Sambil terisak ia meminta doa.
"Ya Allah, betapa kejamnya kedua tangan hamba sudah memukul putri hamba. Hilangkan rasa amarah ini padanya Ya Allah. Cukup sudah penderitaan yang kau berikan ini. Hamba selalu berhalusinasi bahwa anak hamba itu adalah penjahat"
"Ya Allah, berilah ketenangan jiwa dan raga pada diri hamba. Ikhlaskanlah hati hamba hanya untuk berserah diri padamu. Ampuni hamba dan keluarga hamba. Amiin"
"Amiin," sahut Key yang langsung membuat Azizah menoleh ke belakang. Perempuan itu mengangguk menandakan Key untuk mendekat. Gadis itu berlari lalu langsung memeluk ibunya. Tangisannya meraung deras. Rasa sakit yang teramat membuat dirinya merasa bahwa sudah berapa kali ia menyakiti putrinya ini.
Pikiran pikiran jahat selaku menghantui Azizah. Ia merasa bahwa semua orang jahat dan ia harus di bunuh. Dan Key adalah target utama. Perlahan tapi pasti. Dirinya akan sembuh atas kehendak Tuhan. Karena dari dialah kita memohon pertolongan.
"Bunda Key udah baikan? Bunda Key udah sehat lagi?"
Azizah mengangguk lalu mengelus surai anaknya. Dengan perlahan ia mengecup kening anak gadisnya lalu memeluk kembali. Ia tak mengatakan apapun. Namun, hati Key benar benar hangat karena kebaikan sang Bunda sudah pulih.
Ia tak berharap banyak dulunya. Bundanya selalu menjerit di jam tertentu. Selama ini, ia bersembunyi di kamar lalu di pukuli ketika keluar rumah lama. Namun, belakangan ini Azizah terlihat normal. Bundanya itu walau cuek mau menyayangi dirinya kembali. Jadi ia merasa sangat bahagia karenanya.
"Key udah buatin jus mangga buat Bunda. Tadi Key kira Bunda gak mau minum. Kan aneh biasanya langsung ke dapur buat ambil jus eh gak ada di ambil. Jadi Key masuk dan lihat Bunda lagi sholat"
"Cerewet" lirih Azizah membuat Key terkekeh. Gadis itu mencium kening sang Bunda lalu tersenyum manis padanya. Kini, gadis itu menatap figura foto yang terletak di lemari kecil. Rasanya membahagiakan walau ia tak tau kapan akhir lagi dari ceritanya ini. Setidaknya ia bersyukur masih bisa merasakan Azizah, bidadarinya yang masih mencintai dirinya.
-/-
Mario dan Noel kini berdebat di ruangan yang sudah menjadi tempat sang Ayah melakukan pekerjaanya. Baru tadi Mario dan Noel juga para ilmuwan lain datang dan merapatkan hasil dari apa yang mereka buat. Awalnya Noel tak merasa aneh denegan gelagat sang papa. Namun lama kelamaan pembahasan yang dilakukan sudah menjadi keanehan. Mereka akan membongkar tunuh manusia dan menjadikan mayat itu menjadi robot tentara mengalahkan Joe yang sudah mengerjaknanya dengan hampir selesai.
"Pa, itu udah illegal. Itu udah keterlaluan karena Papa kayak melawan takdir Tuhan. Aku tau yang papa pakai adalah yang sudah meninggal. Tapi, Pa Papa udah ngelakuin hal fatal"
"Bukankah kamu juga menginginkannya? Tidakkah kamu lihat betapa menderitanya gadis yang kamu cintai itu? Setidaknya berpikir tentang itu saja Noel"
"PAPA"
Mario keluar saja tanpa melihat putranya lagi. Noel mendesah keras lalu menendang pintu laboratorium ayahnya itu. Benar benar keterlaluan sekali laki laki itu. Kalau ia tak perlu menghormati sosok ayahnya itu. Mungkin saja, ia akan melempar pemuda itu kedalam kawanan zombie yang gagal dibuat oleh China.
Noel melangkah keluar laboratorium. Pemuda itu mendesah kembali melihat sosok pria di hadapannya. Oh astaga, ingatkan Noel untuk tidak terlalu banyak marah atau darah tingginya akan naik.
"Jendral Ken. Untuk apa anda kesini? Bukankah Anda perlu melakukan pekerjaan anda di Belgia tanpa harus kesini? Bukankah Anda terlihat seperti makan gaji buta?" sindir Noel dengan sarkas namun hanya dibalas sapaan hangat lalu senyuman yang ramah dari laki laki setengah baya tersebut.
"Well, aku rasa dirimu terlalu kasar. Tapi tak apa. Aku suka kesarkasanmu nak. Bisa dipakai di perang nanti saat ayahmu sudah melewati batasnya"
Tangan itu mengepal erat. Buku buku jarinya memutih menahan emosi yang berkabut di kepalanya. Ingin sekali ia menampar, menonjok bahkan mencabik pemuda di hadapannya ini. Dengan decihan kembali, ia menatap tajam pemuda itu.
"Tidakkah kalian gila dalam merencanakan hal ini? Bukankah kalian melakukan kesalahan yang bisa membuat dunia hancur? Kalian gila dengan memperlakukan manusia secara semena mena seperti sekarang" tutur Noel dengan sangat tajam dan lugas. Khas seorang Noel jika ia membenci musuhnya. Maaf, Noel bukan orang baik yang akan bertutur kata lembut dengan orang yang ia anggap bahaya. Seperti perkataannya.
Aku akan berbuat sesuai dengan apa yang orang lain perbuat padaku. Kalau dia jahat akupun akan jahat. Namun jika dia baik maka aku akan menghormatinya.
"Haha, Noel kau sangat cerdas. Aku harap kau menjadi profesor dimasa depan. Akan ku perlihatkan kepadamu kekejaman yang sebenarnya. Kau boleh membenciku sekarang, nak. Tetap saja akan kukatakan padamu. Professor, kau telah melakukan hal baik dimasa depan. Silahkan nikmati sakitmu dulu sekarang. Setelah penebusan dosamu berakhir. Terlahir kembali di masa depan. Ku jamin kau akan mengalami kesulitan awalnya. Namun aku menjanjikan kau akan bahagia. Aku bukan Tuhan. Aku merasakannya"
Tepukan di bahu itu membuat Noel tertegun. Pemuda berumur itu telah pergi dari hadapannya. Seorang Jendral yang di hormati ayahnya bahkan sebagian negeri ini. Tidak ada yang salah akan hal itu. Jendral Ken sudah banyak melakukan pembelaan terhadap rakyat kecil sekalipun. Maka dari itu ia di hormati.
“Apakah lelaki tua itu sinting?”
Tapi, apa maksud terlahir kembali?
-/-
Demi Tuhan, Key rasanya ingin memukul pemuda yang daritadi mengikutinya itu. Rasanya dia ingin melempari dengan batu. Benar benar kurang kerjaan daritadi mengikuti Key. Ah, dia semacam seorang penguntit. Em, well sepertinya dia bukan penguntit karena pemuda itu jelas jelas ada di dekatnya dan mengikuti dirinya. Aish, apa yang ada di pikiran Key sekarang? Kenapa harus memperkarakan hal begitu? Oke Key, setelah ini harus minum jus alpukat untuk menjernihkan otaknya.
"Baju lo kependekan. Gue gak suka"
Key mendengus sebal, "Gue gak minta pendapat lo akan apa yang gue lakukan pun apa yang gue pakai. Jadi jangan banyak bacot dan pergi dari gue. Gue gak perlu lo disini"
"Manisnya" Joe mengusak kasar rambut Key. Kemudian pemuda itu berjalan dengan menghadap ke Key. Dengan langkah mundur menatap gadis yang daritadi cemberut dengan manis itu. Bibirnya yang merah muda itu mengerucut sebal. Mata gadis itu berbinar walau sedang marah. Demi Tuhan, kenapa Key sangat menggemaskan?
"Ada saatnya penjahat harus melihat dunia yang semestinya?"
"Apa?"
"Nggak. Nggak ada. Lo mau kemana sih? Daritadi muter mulu. Pakai baju kependekan, celana lo juga pendek. Dan, rambut lo jangan di gerai lah. Kayak kuntilanak"
"Lo tuh kenapa sih? Heboh banget dengan penampilan gue ha? Gue mohon sama lo ya Joe, lo tuh kayak aneh. Lo tuh suka sama gue?"
"Nggak, atau belum. Gue masih bingung"
Key mengernyitkan dahinya lalu menatap lamat pemuda yang dihadapannya kini. Pemuda itu bahkan hanya diam lalu tersenyum manis tanpa berniat memberitahu hal lainna pada Key. Key tak mau memberikan asumsi yang tidak ia mau. Namun tatapan mata itu tengah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di pikirkan pemuda tersebut.
“Gue heran deh sama lo. Kenapa deketin gue sampai gencar dan sekarang bilang belum suka sama gue? Dengerin gue ya, gue emang gak baper tapi lama lama ada perasaan yang menyusup kesini,” Key menunjuk bagian dadanya dengan jari telunjuk, “Ada satu perasaan nyaman yang gue rasakan setiap lo goda gue dengan candaan sialan lo itu”, Key menatap lamat Joe “Jadi, jangan kasih gue perasaan yang gak seharusnya gue rasakan karena gue gak mau sakit hati dan berharap sama sesuatu yang benar benar gak pasti”
Wajah bulat itu membuat Joe semakin menarikkan senyuman yang lebar. Key menaikkan sebelah alisnya dan mendecih sarkas saat Joe hanya berbalik badan berdiri di sampingnya. Sudah dibilang bukan? Jangan percaya pada manusia yang bahkan-
Tunggu-
Key seketika lupa caranya bernafas dan hanya menutup mata saat bibirnya semakin dalam di cecap oleh pemuda yang sekarang sudah memegang pinggangnya itu. Key merasakan senyuman di bibir pemuda tersebut. Kalau saja Joe tak memegang pinggang Key, mungkin gadis itu akan jatuh meyeluruh sekarang. Hingga Key memukul d**a Joe mengisyaratkan bahwa ia sudah kehabisa oksigen. Joe melepasnya dan kini mengusap rahang gadis itu.
Key bungkam dan menatap dalam pada Joe. Bagaimana bisa pemuda itu masih tenang? Sedangkan Key saja merasa jantungan. Bahkan saat ini ia mendekat kembali pada Key. Mengusap pipi itu. Mengaitkan tangannya di pinggang kecil itu semakin erat.
Demi apapun. Suasana malam ini sangatlah dingin. Namun Key merasakan panas dari telinga hingga perutnya juga merasa kegelian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Oh, ia sering merasakan sensasi yang menggelikan di perutnya. Namun, rasa getar di bibirmya adalah hal baru yang ia rasakan baru baru ini
“May I convice you