Pagi itu suasana masih terasa nyaman karena bebrapa murid sudah masuk ke dalam kelas dan hanya menunggu guru masing masing datang ke kelas mereka. Dan kini Key sudah duduk rapi di kelas dengan buku yang ia baca karena nanti akan ada pelajaran bu Ayu. Namun karena bu Ayu ada urusan sebentar, ia hanya menyuruh membaca ulang buku saja.
Sebenarnya Key malas untuk membaca. Namun ia tenga bosan dan memilih belajar sesaat. Walau ilmu yang didapat tak ada. Namun lengkingan tajam langsung membuat Key terkejut ditambah kehebohan yang terjadi pada bangkunya dan bangku sebelahnya.
"Lo tau nggak, si Joe ternyata CEO!!! Mati gue, mati gue. Dia tuh dah ganteng. Eh, sekarang ada kabar dia CEO. Kaget gak Lo? Kagetkan?!" pekik Jessie dengan nafas terengah engah.
"Kyaaa" Key pura pura menjerit ala gadis kartun tapi ia memasang wajah datar. Ia malas menanggapi Jessie yang kadang berlebihan dalam menyampaikan informasi. Terkhusus seorang pemuda. Kenapa sih harus banget heboh begitu. Key dulu pacaran juga gak heboh gitu kalau pacarnya lewat. Malah dulu saat ia masih berpacaran. Keduanya saling meludahi. Katanya itu sapaan yang keren dan lain dari yang lain.
Maaf, memang keduanya emang rada bodoh
"Ih lo tuh ya, Key gue heran banget. Semua cowok lo anggap sepele. Itu ganteng, berkarisma, tajir. Apa lagi yang kurang"
"Kenapa harus nunggu cowok yang kaya? Kenapa gak diri sendiri aja yang dibuat kaya. Toh, lo mau di perbudak sama cowok kalau cowok itu kaya tapi b*****t? Di dunia ini kalau kita gak berpikir logis kita bisa mati dengan cara yang bodoh, Jes. Makannya selektif. Kalau cewek gak bisa sembarangan cari cowok. Emang dianya harus bagus memilih cowok. Kalau sekedar kaya lo sendiri bisa kaya"
"Lah! di ceramahi gue. Iya, yang udah pernah hidup dengan berbagai asam manisnya hidup"
"Iyain biar cepet. Susah ngomong sama orang g****k"
Jessie mengernyit lalu duduk di samping Key. Noel sedang pergi ke perpustakaan. Ia mau mengambil buku Teknologi Informasi yang disuruh oleh Bu Ayu. Maka dari itu Key duluan perginya.
"Hai, selamat pagi calon pacar"
Key mengernyit lalu pura pura ingin membuang air liurnya. Joe hanya tertawa dengan kepala di topang pada bangku lalu menghadap Key yang duduk di belakangnya. Wajah gadis itu sudah jelek pagi ini hanya karena kartu paketnya habis dan orang yang berjualan paket data tutup karena istrinya melahirkan. Di tambah lagi dengan kehadiran Joe lengkap sudah emosinya.
"Gue tadi malam w******p lo. Kenapa gak aktif?"
"Paket gue abis, Tapasya! Gue main game. Setan lo! Bikin emosi aja"
Joe terkekeh lalu mulai mengeluarkan uangnya, "Beli paket data sana. Entar malam gue mau teleponan sama lo sampai lama"
"Mau ngapain?"
"Nanya, link yadong paling mantep yang mana?"
"Setan!"
Joe terkekeh kuat. Ia memegang perutnya lalu mengusap pipinya yang sudah mengeluarkan air mata. Gadis itu tetap saja imut walau sedang kesal. Bagaimana ia bisa marah tapi wajah seperti kelinci begitu? Ah, keimutannya membuat siapapun jadi ingin mencubit pipi gembul gadis itu.
"Bukannya nanti malam ada jadwal Liverpool ya? Gak bisa gue"
"Nobar lah, jing. Lo video call sama gue"
"Nggak usah pakai anjing lah jing. Maksud lo apa jing? Lo minta mata lo terbelah jadi 6 bagian?"
"Hati gue aja belah mau nggak? Biar Lo tau siapa yang ada di hati gue"
"Najis!"
Pemuda itu kembali tertawa sampai wajahnya merah. Jessie ikut tertawa. Bukan karena omongan Key. Gadis itu tertawa karena suara tawa Joe menggema. Pemuda itu tertawa sambil menepuk tangan dan memukul meja. Padahal Key tidak berencana untuk melawak. Namun pemuda ini mempunyai jiwa lawak yang standar. Jadi hanya gitu saja sudah tertawa terbahak bahak.
Noel masuk kelas. Pemuda itu duduk saat Jessie kembali ke tempatnya. Joe memandang Noel manis. Pemuda itu tersenyum lalu mengusap kepala Key dengan kasar. Membuat Key tak berhenti mengumpat pada pemuda itu. Noel hanya menatap datar. Joe memancingnya dan itu jelas sekali. Ia malas juga berdebat terus.
"Bu Ayu kan bentar lagi cuti mau melahirkan. Kira kira mingu depan dan hari ini jadwal terakhir dia. Lo kok kerjain tugas sih?"
Noel menghela nafasnya lalu menyodorkan satu kotak s**u cokelat, "Dia bilang kirim aja email. Pasti dibaca. Gue harus ikut lomba robotik ini. Papa udah nyuruh dari kemaren bahkan ikut mendonasikan dana kesana. Gue mana bisa lepas gitu aja”
Key mengangguk lalu meminum s**u kotak itu. Kemudian menyodorkan pada Noel sisanya. Kedua orang itu hanya diam dan kembali melihat buku. Kalau duduk sama Noel emang harus serius. Kalau sudah selesai pekerjaan baru boleh joget joget sekalipun tidak masalah baginya.
"Lo buat mesin waktu, Noel? Buat apaan?"
"Iseng doang”
“Iseng lo mengerikan ya” tanya Key dengan nada sarkas.
“Gue masih penasaran itu beneran ada atau nggak. Gue udah baca berbagi jurnal. Tapi teori kayak gitu kalau di cocokkan sama Tuhan kayak gak mungkin. Rata rata mereka bilang dimensi waktu bisa ke berbagai jam dan dunia. Contohnya kejadian Isra' Mi'raj"
"Tapi itu kan Nabi. Maka dari itu dia bisa. Dan itu kan mukjizat. Kalau manusia gimana?"
"Makannya itu gue masih harus cari. Gak semudah itu untuk tau teorinya. Paham kan?"
"Paham," Key mengangguk, "Tapi Noel, buat apa lo bikin ginian? Kenapa sih harus banget di sempurnakan?"
"Biar gue bisa ubah tangis lo selama ini menjadi bahagia. Gue pengen ubah masa lalu lo yang menyakitkan Key"
Key tersenyum lalu mengelus rambut Noel, "Lo bisa liat masa lalu. Tapi lo gak bisa ubah masa lalu agar masa depan lo bahagia Noel. Karena sejatinya yang bisa ubah takdir itu hanya Allah. Gak ada yang lain, bro"
"Gue paham. Tapi seenggaknya lo bisa liat kalau gue ada untuk lo, Key. Walau seandainya gue udah gak ada. Lo tetap bisa gue jamin untuk bahagia"
Key mengernyit lalu menabok pelan pipi Noel "Apa sih gak ada gak ada. Pamali tau!"
Pemuda itu hanya tersenyum lalu mengeratkan jaketnya. Cuaca tak terlalu dingin. Namun Noel kedinginan sekarang. Hujan rintik rintik di luar menjadi tanda bahwa hujan akan langsung turun. Key akan beraksi dengan bilang bahwa suara gurunya tak kedengaran. Mantap jiwa.
-/-
Key mengotak atik hasil lukisannya. Wajahnya menampakkan senyuman yang puas. Rasanya ia bahagia bisa menyelesaikan satu karyanya walau ia butuh lima bulan hanya untuk itu. Lukisannya hanya coretan namun ia butuh konsentrasi dan perasaan yang pas. Dan untuk mencapai target itu, Key butuh waktu yang bisa lama.
"Mata gue sakit banget"
Gadis itu mengucek matanya lalu menatap ke depan. Noel berlari lalu menangkup wajah gadis itu. Matanya benar benar merah akibat cat. Cat itu mengandung zat bahaya sekali tampaknya. Mata Key sudah bengkak seluruhnya.
"Jangan dikucek. Entar makin sakit"
Noel meniup mata Key. Lalu menarik tubuh gadis itu untuk mencuci wajahnya. Noel memegang rambut gadis itu lalu Key mencuvi wayahnya.
"Nanti kalau kita udah nikah. Lo jangan lupa bilang kalau lagi morning sickness ya. Biar gue pegangin rambut Lo kayak gini"
Key yang baru saja selesai mencuci wajah langsung menghadap Noel. Gadis itu menautkan alisnya karena heran dengan perkataan Noel tersebut. Pemuda itu entah kenapa semakin hari semakin gencar menggoda dirinya. Key agak risih karena pemuda itu tak pernah seperti ini. Namun, lama lama kebiasaan juga kalau udah keseringan. Tapi masih ada rasa risih juga walau dikit. Ayolah, mereka sepasang sahabat yang di gadang gadang sebagai adik kakak paling wah. Masa ada rasa cinta di antara keduanya?
"Gencar banget pak gombalannya. Belajar dari siapa sih?" Key mencubit pipi Noel sambil memijitnya. Noel tak kalah gencar, pemuda itu mendorong Key hingga mentok ke wastafel. Keadaan rumah Noel yang sepi ditambah hujan mendera membuat keduanya merasa canggung sekarang.
Noel mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "Jantung lo aman Key?"
Key langsung menginjak kaki tersebut. Kesal, ia lalu menjambak rambut tebal Noel. Pemuda itu terkekeh lalu memeluk Key dari belakang. Mengangkat gadis itu lalu diajak berputar putar. Key tertawa lepas dengan sedikit nafas terengah.
"Key," panggil Noel saat pemuda itu sudah menurunkan Key dari gendongannya.
"Kenapa sayangku?"
"Kalau gue pergi, lo bakalan sayang terus sama gue kan?"
Key mengecup pipi Noel. Lalu memeluk pemuda itu di mulai dari leher. Noel menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sahabatnya itu. Mencium aroma khas dari gadis yang sudah hidup bersamanya dari kecil.
"Kapanpun Noel. Kapanpun gue bakalan sayang sama lo. Bahkan saat lo terlahir kembali menjadi siapapun. Gue bakalan sayang sama lo"
Tanpa keduanya tahu. Ucapan mereka sudah layaknya takdir yang tak bisa di ganggu gugat. Seperti sumpah yang entah kenapa tidak bisa dicabut kembali. Karena, pemain di dalam cerita antara Noel, Key dan Joe memang takdir dari semesta.