Joe menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia kemudian berlari menerjang dan memukul orang yang ada di hadapannya. Kepalanya ia tekan ke bawah membuat korban makin susah bernafas. Setelah dilihatnya bahwa pemuda itu sudah pingsan, Joe menyuruh anak buahnya membuang pemuda itu ke jurang. Agar bukan dia yang membunuh. Binatang buas saja yang melakukannya. Bahkan manusia itu masih setengah sadar.
"Kita gak bisa diam aja, Joe. Ini dia pasti lagi rencanakan hal yang lebih parah. Keluarga Noel itu bahaya buat perusahaan kita"
"Gue tau, Ar. Tanpa Lo kasih tau gue juga paham. Tapi ini gak segampang yang Lo pikir. Perlu banyak strategi lainnya yang kita buat biar nih orang mati secara keseluruhan. Kalau kita merencanakan sabotase buat bunuh dia. Kita yang bakalan berabe. Mereka itu licik. Gerakan permusuhannya gak kebaca sama sekali. Gue baru paham pas sekretaris gue kasih analisis data. Mereka udah terlalu jauh”
“Itu lo tau!” Ari memekik lalu menonjok wajah Joe, “Lo tau mereka udah gerak cepat tapi kenapa lo buat semuanya lambat anjing!” seru Ari kembali menerjang Joe. Pemuda itu terhuyung jauh dan membuat ia susah untuk berdiri. Joe sebenarnya bisa melawan. Tapi ia malas menanggapinya.
“Sabar! Gue masih atur strategi buat nyerang mereka juga. Gue udah buat robot tentara itu dan lo tenang aja kenapa sih? Sumpah heboh bangetin lo!”
"Ya mau lo gimana lagi?! Ini kita udah kelamaan mau bunuh dia. Lo paham Joe?! Batas waktu buat bunuh keluarga Noel udah lewat"
"Gue lebih tau apa yang harus gue lakukan" ucap Joe dengan nada datar.
Pemuda itu menaiki mobilnya kembali. Menyusuri jalanan sepi yang sepertinya sudah tak terasa asing lagi bagi Joe.
Sepi kini melingkupi d**a dan pikirannya. Ia merindukan keluarga hangatnya dulu. Dimana setiap malam ia akan disuguhi cemilan juga segelas s**u putih oleh Mamanya. Atau bermain PS dengan ayahnya. Rasanya dadanya benar benar sesak memikirkan hal itu. Joe benci saat ia menjadi lemah seperti sekarang.
Ia menyesali kenapa orangtuanya mau bekerja sama dengan keluarga Noel? Kenapa harus mereka yang baru saja di kenal? Rasanya Joe ingin menangisi dirinya saat ia mendengar kasus pembunuhan orangtuanya setelah rapat pulang dari kantor Robert, ayah Noel.
Di tengah gundah gulana yang pemuda itu rasakan, ia melihat satu sosok cantik yang sedang menari dibawah hujan. Melompat tidak jelas lalu tertawa keras.
"Ngapain Key sendirian disitu?" lirih Joe lalu menepikan mobilnya di pinggir jembatan. Terlihat Key yang berdiri lalu berputar dibawah hujan. Ini hujan deras sekali. Kenapa gadis itu berani memakai baju sepotong dengan rok pendek selutut? Apa dia tidak kedinginan?
Joe cepat cepat berjalan ke arah Key. Mungkin gadis itu mau berendam di sungai? Ah, pikiran Joe sudah gila dirasa. Tapi mau apa gadis itu di malam hari dengan hujan deras yang menimpa tubuh kecil nan rapuhnya.
"KEY!"
"Joe?"
Joe berlari lalu memberi payung pada Key. Gadis itu menatap Joe yang sangat tinggi. Bahkan ia hanya sebatas d**a Joe saja. Tapi, kenapa pemuda ini kemari? Apa ada yang perlu di bicarakan? Ah, kalau Noel melihatnya dia bisa ngamuk gak jelas nih. Lebih baik Key langsung pergi saja. Namun, saat ia pergi, tangannya di cekal oleh Joe.
"Lo mau kemana basah gini? Key, Lo bisa sak-"
"Jangan perduliin gue lagi, Joe. Gue gak mau berantem sama Noel. Lo tau kan dia gimana. Kita jaga jarak aja ya. Gue gak mau Noel salah paham lagi, Joe"
Joe mengepalkan tangannya erat. Egonya terguncang akibat perkataan dari Key. Dia tidak pernah ditolak oleh siapapun. Tapi hanya perkara bersahabat ia merasa dicampakkan. Apakah Key memang tidak punya sopan santun sama sekali.
“Kenapa sih lo harus banget nurutin apa yang dilakukan oleh Noel buat lo? Gue kurang apa sama lo?”
“Kita kurang kenal dan gue gak mau debat panjang lagi sama Noel. Jangan gara gara lo gue berabe sama Noel ya, Joe”
Pemuda itu saat Key mencoba melepaskan pegangan pada pinggang Key. Gadis itu menatap tatapan tajam dari Joe. Ah, benar-benar ya, pesona pemuda ini memang susah untuk di patahkan. Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin agar tak melihat wajah itu. Namun tiba-tiba, Joe menghampirinya dan membisikkan sesuatu padanya.
"I like your voice"
Bisikan itu membuat Key panas dingin dibuatnya. Dengan cepat ia mendorong d**a pemuda itu. Rasa-rasanya ini tidak benar. Iya takut jatuh cinta pada orang lain. Namun jantung yang tak bisa diajak kompromi walau sebentar.
"Lo itu soalnya mau ngapain sih? jangan gara-gara lo ya, gue berantem lagi sama Noel"
"Kenapa lo mesti takut sama Noel? Dia bukan siapa siapa lo, Key. Jangan mau di perbudak"
"Gue gak merasa gitu. Udah ya, males ngomong sama orang berlagak kayak lo. Mending Lo pergi, hush hush"
Joe tersenyum simetris. Dia mengangkat tubuh Key lalu di bawa tubuh itu berputar-putar. Key menjerit kuat lalu tangannya menjambak Joe. Kini pemuda itu meringis dan menjatuhkan Key dengan kuat. Sial, pinggang Key bisa patah kalau begini.
"LO TUH YA! GUE JAMIN NIH SAMA LO! LO BAKALAN SUKA SAMA GUE, b******k!"
Key berlari sambil mengacungkan jari tengahnya. Joe tertawa terbahak-bahak kemudian ia langsung merubah raut wajahnya. Kenapa ia sempat tertawa tadi? Biasanya ia akan diam dan tak peduli. Sekarang ia mau tertawa dengan alasan sederhana.
Key, gadis riang yang kadang tidak punya malu
Gadis itu manis dan lugu. Membuat siapapun ingin menendangnya ke planet Mars kalau bisa. Tapi, dia cantik dan manis. Joe benar benar merasa gadis itu punya aura kuat untuk sekitarnya. Karena ia telah masuk juga di dalamnya.
-/-
"Mandi hujan lagi? Buset! Key, Lo tuh udah gede. Jaga sikap sama perilaku dikit napa sih"
"Belom gede, Noel. Belum pas"
"m***m lo, anjir!" Ucap Noel dengan menekan kepala Key lalu mendorong gadis itu masuk kamar mandi. Noel duduk selonjoran di balkon menunggu sahabatbyabitu selesai mandi. Gadis itu memang takkan pernah melewatkan satu kalipun hujan. Bahkan walau hujan sedikit saja Key akan langsung berlari dan bermain hujan. Gadis aneh, tapi menggemaskan.
"Gue laper banget, Anju! Seblaknya tadi gak jualan. Gue udah laper sampai ke sumsum tulang belakang. Kenapa coba dia gak jualan? Jadi dia tuh apa? Coba deh bisa jelasin secara detail ke gue gitu"
"t***l"
"Gak usah sok pinter dan ganteng kalau lo jomblo, b*****t"
Key langsung berlari kearah kamar mandi. Ia menyiram tubuhnya setidaknya lima kali. Tanpa menggunakan sabun, bahkan ia tidak membersihkan badannya dengan handuk, Key langsung menyambar baju dan memakainya. Ia keluar lalu tersenyum pada Noel yang sedang duduk di balkon kamarnya. Gadis itu berjalan mengendap lalu memukul kepala bagian belakang Noel.
Noel langsung menoyor pipi gadis itu. Rasanya ingin sekali ia mencomel bibir gadis itu lalu di buang ke comberan biar Key tau rasa. Kalau bicara tidak pernah yang namanya bener. Selalu buat emosi saja setiap harinya. Kalau melakukan kelakuan selalu aneh dan sangat aneh. Kelakuannya seperti manusia purba. Eh, emang gimana manusia purba?
‘Lo pake shampoo apaan dah? Wanginya tajem banget”
“Ah, shampoo biasa yang harga 500 itu ya?” lanjut Noel.
“Enak aja! Ini harganya udah 1000 ya!” pekik Key yang disambut jitakan hangat dari Noel.
"Ya, Uttaran Tapassya. Harga paket data makin mahal. Dasar guguk nih," Key langsung menatap Noel dan duduk menyamping, "Noel lo ada duit nggak? Kalau nggak ada, ayo lo harus jadi babi malam ini"
"k*****t!"
Noel mulai mengeluarkan uang seratus ribu. Besok Key akan menggedor pintu tukang paket data. Ia harus tetap nonton YouTube. Itu harga mati. Dunia KPop tak bisa ia tinggal walau sedang ke kamar mandi sekalipun.
Iya, Key bahkan walau sedang buang air juga membawa ponselnya. Dan Key yakin bukan hanya dia saja yang begitu. Hampir sebagian manusia akan melakukan hal yang sama.
"Gue pengen pelihara biawak"
"Biar apa?"
"Gak papa. Pengen aja gitu. Kayaknya keren. Kalau bosen tinggal goreng aja"
"Ngakak!" Noel memukul kepala Key dengan tangan besarnya. Membuat Key merasa terganggu lalu menampar wajah Noel dengan sendal upin&ipinnya. Keduanya tertawa dengan keras tak peduli anjing yang kini mengaum. Yang penting bahagia.
"Key, Lo mau jadi cewek gue gak?"
Key mengerjapkan matanya. Lalu memiringkan kepalanya hingga ke bawah. Kelakuan ajaib yang sepertinya sudah tidak layak di saksikan khalayak ramai.
"Gue mau boker, Noel. Bentar ya"
Gadis itu berlari meninggalkan Noel dengan bau yang benar benar membuatnya bisa pingsan. Gadis itu pemakan segalanya. Bahkan ia bisa menghabiskan makanan orang lain. Heran, tubuhnya tak pernah gemuk. Tetap saja kurus namun langsing.
Noel menghela nafasnya. Key pasti mengiranya main main tadi. Tapi, Noel juga belum pasti kalau dia menyukai Key secara utuh. Ia takut salah kaprah dan mengira dirinya itu hanya senang dan takut Key dekat dengan siapapun. Terlebih dari itu, ia hanya takut kehilangan. Hanya itu saja yang ia takutkan. Belum ada alas an kuat lainnya.
Key sudah banyak menderita dari dulu. Ia sangat menyayangi gadis itu. Maka dari itu ia selalu melindungi Key dari ancaman apapun. Dari hal kecil sekalipun ia akan melindungi Key. Setidaknya Key tak pernah merasa sendirian. Gadis itu depresi. Ibunya Selalu memukulnya. Maka dari itu. Jika ia tak di perhatikan, Key bisa bunuh diri. Ia tak mau kejadian itu terjadi pada Key. Dia benar benar tidak sanggup jika hal itu benar terjadi.
Flashback
"Kata orang orang, ayah Key udah meninggal Noel. Key sama Bunda aja sekarang. Tapi badan Key sakit dipukul Bunda. Tapi Key sayang Bunda"
"Noel sayang Key. Nanti kita buat Bunda sembuh terus kita pergi jauh ya"
"Kita mau kemana?"
"Emmm perkiraan di masa depan. Alat canggih mesin waktu bisa berkontribusi membuat kita menghilang dari bumi"
"Kita ke Saturnus aja, Noel. Key bisa main cincin disana"
"Key, nanti kamu jatuh. Wusshhh, dimakan Alien"
"Key gak mau dimakan"
"Noel sayang Key. Nanti kalau sudah besar kita menikah yuk"
"Umur kita berapa Noel"
"Kita masih 5 tahun. Entar kita hitung sama sama ya”
Noel tertawa mengingat janjinya dulu dengan Key. Lucu saja anak umur 5 tahun sudah jago mengajak menikah. Itu Noel lakukan agar Key tak sedih. Nyatanya, tangisan gadis itu membuat hatinya sesak. Noel tak sanggup melihat gadis itu menangis. Tanpa sadar ia ikut andil dalam membuat tangisan itu terlihat. Noel yang paling bisa membuat Key menangis sampai tersedu sedu.