Jalanan yang basah akibat siraman hujan yang menyergap pagi ini membuat suasana menjadi lebih syahdu dan sendu. Key merasa kalau pagi ini adalah pagi yang sangat mendukung suasana hatinya yang sangat kacau sejak tadi malam. Itu bisa di lihat jelas dari kerutan dan bengkak di mata gadis yang kini melengkungkan bibirnya melawan gravitasi.
Mata bengkak nya tak henti-hentinya mengalirkan butiran air yang entah kenapa jatuhnya malah menyesakkan dirinya. Noel tak menghiraukan dirinya daritadi. Ia di biarkan diam berlarut larut tanpa alasan yang jelas. Noel tak memberi kesempatan Key untuk bicara. Bahkan tak menatap mata Key untuk sekedar menyapa seperti biasa. Kebiasaan lama yang sering dilakukan entah kenapa sekarang berbeda. Kenapa marahnya sebesar itu?
Key itu bukan paranormal yang paham dengan hanya menatap mata dan langsung tau apa yang dibicarakan atau dilakukan oleh orang lain. Pelajaran tentang pergerakan tubuh Key tak sejauh itu karena ia sendiri adalah tipe yang tak memperdulikan sekiar. Menurutnya masalah yang ia alami saja susah. Mengapa harus melihat masalah orang lain lagi?
"Key!" panggil Joe yang tengah berjalan pulang dari perpustakaan. Pemuda itu membawa buku Sejarah Indonesia. Tangannya megang bahu Key dan menghadapkan ke dirinya. Mata tajam itu sibuk menelisik pada Key namun Key hanya memberi respon datar saja pada pemud ayng kurang ajarnya tinggi sampai 182 cm ini.
Huhu, gue kacau banget kayak orang sinting
Ini lagi si gubluk ngapain lagi sih lu?
Matanya bengkak, hidungnya merah, rambutnya terkuncir tak rapi. Benar benar kacau membuat diri gadis itu terlihat dumel. Bibir gadis itu sekarang terisak mengeluarkan suara tangisan yang lumayan kuat. Sial, Joe benci seorang gadis menangis.
“Sumpah persis banget sama gembel” celetuknya yang mampu membuat Key memukul kepala pemuda di hadapannya itu dan langsung mendengus beranjak pergi dari sana. Ia lagi malas bertengkar tapi masih saja mencari masalah padanya.
Tapi tak semudah itu kabur dari manusia jangkung ini. Key ditarik lalu dihadapkan kembali ke Joe. Pemuda itu menangkup wajahnya dan membuat Key memonyongkan bibirnya.
"Lo bisa bilang gak sama gue kenapa Key? Gue gak suka lo nangis gini! Siapa yang buat lo nangis? Ayo cerita Key"
Key menubrukkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Joe. Rasanya ia ingin menjerit dan mengatakan bahwa ia tak kuat menjalani hidupnya. Bundanya bahkan tadi pagi memarahinya kembali. Menjambak dan menampar wajahnya sambil mengatakan hal hal tak pantas. Kenapa rasanya hidupnya terasa hampa dan merasa menyakitkan.
"Key, gak bisa tenang dulu, ini lo nggak di cerita sama gue lo kenapa? Oke oke gue biarin dulu lo nangis sepuasnya setelah itu cerita sama gue"
Dia menggeleng pelan lalu semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Joe. Ya sudah lama tak merasakan pelukan ini. Rasanya seperti nyaman tapi tak ada yang bisa melebihi nyamannya pelukan Noel. Namun, Joe entah kenapa membuatnya merasa nyaman sekarang. Ingin dipeluk lebih erat lagi rasanya.
"Lagi berat banget ya masalahnya? Gue tahu lo bisa kok gue tahu lo kuat. Semua masalah itu pasti tertimpa pada orang-orang. tapi setelah gue lihat lo, lo itu adalah manusia yang paling kuat yang pernah gue lihat. Jangan pernah merasa sendiri, Key. Lo bisa cerita apapun sama gue. Gue bakalan dengerin apapun yang Lo pengen bicarain"
Ia kembali mengangguk dan lebih mengeratkan lagi pelukanya. Mendengar perkataan Joe setidaknya membuat hatinya maringan walau sedikit. Bagi sebagian orang yang tidak pernah curhat kepada orang lain mungkin membuka hati untuk berbicara tentang hatinya itu susah. Mereka ingin berbicara sambil menangis tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Bagaimanapun orang-orang yang sering tertawa bahagia bukan menjadi orang yang paling bahagia juga. Dibalik tawa yang menggema terkadang terasa getaran di bibir karena menahan tangis. Maka dari itu tidak ada orang yang sempurna di dunia ini dan semua orang juga membutuhkan orang lain.
Menjadi sok kuat juga bukan menjadi hal yang utama
Menjadi sok kuat juga bukan hal yang paling mudah
Ada saatnya orang-orang juga bisa melampiaskan kemarahan dan kesakitannya dalam bentuk apapun. Dan benar, putus asa itu adalah hak segala manusia. Tidak ada yang berhak menghakimi ada tidak ada yang berhak mencercanya. Terlebih-lebih lagi orang-orang yang dengan gampangnya mengatakan cerita orang lain itu membosankan yang tidak penting.
"Gue berantem sama Noel. Tadi malam lo kan nelpon gue. Noel tiba-tiba masuk ke kamar gue merampas ponsel gue. Maka dari itu dia marah-marah karena gue masih berhubungan dan telepon lo. Gue nggak tahu masalahnya ada di mana nih kalian itu ada masalah apa. Noel sampai marah dan tidak mau melihat gue. Gue nggak sanggup di diemin sama Noel. Cuman dia yang bisa ada untuk gue. Hadir di hari-hari gue. Selalu tahu kapan gue sedih, senang dan kecewa. Dia kecewa sama gue hanya perkara sepele. Gue nggak ngerti dan nggak paham sama apa yang dialami. Gue gak kuat kalau didiemin terus sama Noel"Kepalan di tangan Joe entah kenapa tiba-tiba mengepal dengan kuat. Ada sedikit sentilan di hatinya ketika Key mengatakan Noel adalah segalanya. Kenapa tak hadirkan dia dalam ceritanya? Bukan, bukan Joe menyukainya bahkan mencintainya. Ia heran saja kenapa harus ada Noel di hatinya. Tidak bisa Kak isikan satu lembar cerita tentang Joe? Dia benar-benar muak dengan Noel.
"Gue nggak tahu dia sepenting apa di hidup lo. Tapi gue cuma mau ngasih tahu satu hal sama lo Key. Gue di sini untuk lo. Jangan pernah merasa sendiri atau hanya Noel yang ada di cerita hidup lo. Cobalah pandang gue juga. Mungkin aja lo tertarik dan mau jadi cewek gue"
Key Ingin melepaskan dirinya dari pelukan Joe. Namun pemuda itu menariknya lebih erat lagi sambil terkekeh. Bener-bener ya, lagi sedih-sedih dan malah digombalin. Tapi Key tak terkekeh juga karenanya.
"Udah lega belum? Kalau belum nangis lagi sih gak ada gue masih lebar nih"
"Ah anjing lo! Rese banget sih lo jadi cowok. Gue tampar bolak-balik juga lo ya lama-lama"
Joe hanya tertawa mendengar makian itu. Ia menatap kembali Key dan menatap mata bulat itu. Otak Joe menepis apa yang ia lakukan. Namun ttapan mata Key mampu menyihirnya terlalu dalam. Otak dan tubuh tidak sesingkron itu. Joe mendekatkan wajahnya ke hadapan Key dan memejamkan matanya. Gadis di depannya juga ikut menutup matanya. Lucu, benar benar lucu.
“Joe”
“Yes, babe?”
“Stop it!” Key mendorong tubuh Joe dengan pelan. Ia mendongak lalu memalingkan wajahnya ke samping kanan. Ia menahan rasa gejolak dihatinya kaibat kelakuan mendadak yang Joe ciptakan.
Joe pamit dan lalu membalikkan badannya tanpa mengucap satu katapun. Key menatap sendu punggung yang lebar namun terlihat rapuh. Susahnya dewasa. Harus kuat saat hati meringis. Harus tersenyum saat hati merasa sakit. Drama menjadi dewasa memang menyiksa.
-/-
"NOEL. UDAH IH NGAMBEKNYA! STRES INI MAH UJUNG UJUNGNYA!"
Noel tetap tak menggubris perkataan dan teriakan dari Key. Membiarkan gadis itu mengejarnya. Wajahnya tertekuk tak mempedulikan teriakan yang bisa memekakkan telinga itu. Suaranya kalau bernyanyi ya bagus. Tapi kalau menjerit seperti tikus kejepit. Oh sial, entah kenapa memikirkan suara tikus membuat Noel tiba-tiba ingin tertawa. Tolong mulut bisakah kau berkonsentrasi sebentar? Dia perlu memasang wajah datar untuk meyakinkan dan memberitahu Key kalau dia sedang marah dan kecewa.
"Sumpah demi Tuhan ya, Noel. Kalau lo nggak berhenti gue bakalan berdiri di tengah jalan. Lo tahu kan gue cewek yang nekat"
Noel tak menggubrisnya. Mana mungkin Key berani. Dia menyeberang saja masih takut-takut. Apalagi ia harus berdiri di tengah jalan. Tidak mung-
"WOI KALAU MAU MATI JANGAN DISINI"
Teriakan pengendara membuat Noel mengalihkan wajahnya melihat Key yang sudah menangis di tengah jalan. Bener-bener gadis yang keras kepala dan ingin sekali rasanya Noel menebas kepala itu. Pemuda itu langsung menarik Key dan memeluknya erat. Dadanya bergemuruh saat mata Key sembab. Seberapa banyak air mata yang dikeluarkan gadis ini untuknya?
"LO GILA!" Teriak Noel sambil melepaskan pelukannya dan menatap Key dengan lamat lamat. Namun ia tahu apa yang ia katakan itu salah. Pemuda itu mengelus dadanya sebentar kemudian memeluk Key kembali.
"Jangan marah sama gue lagi Noel” Key mendongakkan kepalanya tanpa melepas pelukan itu. Key tetap memegang pinggang Noel dengan kedua tangannya dan Noel memegang kepala dan pinggang gadis itu juga. “Jangan lagi, jangan lagi, jangan lagi. Gue nggak bisa kalau marah sama gue Noel. Jadi gue mohon sama lu jangan lagi memalingkan wajah dari gue. Sumpah demi apapun gue nggak sanggup"
Noel mengangguk pelan lalu mencium puncak kepala gadis itu. Rasanya dadanya benar-benar sesak mendengar tangisan dari gadis yang disukainya itu. Walaupun Key b**o, tulalit dan lemot. Noel tetap menyayanginya. Key yang ada disaat masa tersulit dan masa ia merasa rendah. Key mampu membuat energinya kembali hanya dengan mendengar ocehan tidak jelas dari gadis itu dan kelakuan aneh lainnya. Key sangat mampu membuat Noel yang tidak peduli menjadi peduli walau hanya pada teman dekatnya saja.
“Lo senekat itu?” tanya Noel. Mereka belum melepaskan pelikannya. Ah, mungkin lebih tepatnya tidak berniat karena jalanan sore itu sudah lumayan sepi.
“Gue takut,” Key merengut kecil, “Gue tadi sebenarnya emang mau nyebrang ngejar lo. Tapi entah kenapa dengar suara klakson itu gue jadi berhenti dan nggak sanggup jalan dengan benar”
“Sifat teledor lo kapan hilangnya, hm?” tanya Noel dengan tangan yang berada di tengkuk gadis itu. Noel mengelusnya pelan dan mampu membuat Key tersenyum senang. Mood Noel sudah lumayan membaik sepertinya.
"Gue sayang banget sama lo Key. Jangan pergi dari gue. Bisa enggak lo tepati janji itu?"
"Pasti. Pasti Noel. Gue sayang banget sama lo"
Keduanya berpelukan erat tanpa berniat menjadikan diri mereka menjadi sepasang asing seperti tadi. Key dan Noel masih ditahap labil dan kejadian semalam adalah emosi yang memang dialami remaja pada umunya.