"Oh jadi dia kelemahannya si pangeran. Cantik juga kalau dilihat-lihat" ucap Ari sambil melihat foto Key. Foto dengan penampakan gadis berkuncir dua tersenyum manis ke arah kamera beserta seorang lelaki yang tersenyum hangat. Tampaknya keduanya sangat bahagia. Ah, layaknya tokoh dalam cerita. Joe adalah penganggu yang berperan sebagai antagonis. Karena dengan sekali lihat foto tersebut, bahkan Malvin tau hubungan apa yang dijalin keduanya.
Joe hanya tersenyum membalas perkataan sahabat masa kecil itu. Memang kalau dilihat gitu memang Key itu cantik. Kulit putih dengan mata berwarna coklat. Surai lembut berwarna hitam membuat siapapun terpesona dengan kecantikannya. Bahkan untuk pertama kalinya Joe melihat gadis secantik itu. Dan kelakuannya benar-benar polos.
Lucu saja tadi pagi. Di situ dimarahi oleh ibu Mira. Ya kesalahan dia tidak mengerjakan PR. Dia mengatakan bahwa pr-nya dimakan oleh tikus. Sontak saja itu membuat satu kelas ricuh dan tertawa karena tingkah aneh gadis itu. Bahkan Ibu Mira hanya menghela nafas ketika melihat tingkah aneh murid satunya itu. Dia perempuan tapi kelakuannya seperti jantan.
"Gue cuman peringatin sama lo. Jangan sampai ikutan masuk ke perangkap ini. Enggak boleh juga jatuh cinta sama dia. Ingat tujuan awal kita. Orang tua gue juga terlibat di dalamnya. Gue nggak mau sampai kejadian itu juga terlibat bagi orang tua gue. Karena gue tahu keluarga Noel udah mewanti-wanti keluarga gue juga. Keluarganya bener-bener gila. Gerakannya cepet dan gak terbaca sama sekali”
"Tenang aja. Gue nggak bakalan menghianati apa yang udah kita sepakati. Ya walaupun gue rada gemes juga sama tuh cewek. Kelakuannya bener-bener polos kayak anak kecil"
Ari mengangguk lalu meninggalkan Joe sendirian. Dan kini pemuda itu menatap foto Key hingga seringaian muncul di bibirnya.
"You're so cute"
-/-
"Bunda ayo makan nanti bunda sakit. Ini Key udah buatin soto ayam buat bunda. Bunda harus makan setelah itu kita minum obat"
Gadis itu menyodorkan semangkuk soto ayam beserta piring yang sudah diisi nasi. Bundanya yang cantik itu harus makan. Tidak ingin bundanya itu sakit. Cukup dirinya saja yang sakit melihat bundanya. Bunda harus sembuh supaya mereka bisa jalan-jalan sama-sama lagi. Key benar-benar merindukan sosok sang Bunda. bundanya yang selalu setia menemaninya kapanpun dan dimanapun. Selalu mengajarinya bermain piano dan bermain seruling.
Tak selang berapa lama Bundanya itu sudah keluar dengan baju tidur berwarna kuning. Dan rambutnya tidak terikat rapi. Setelah duduk dengan tenang, Key langsung mengikat rambut san Bunda dengan lembut. Sama saat dulu ia di ikat juga rambutnya agar kelihatan rapi.
Azizah nama sang Bunda. Kini ia telah menatap bundanya yang sangat lahap memakan masakannya. Rasanya senang sekali. Jarang-jarang bundanya mau memakan masakan Key. Dan Kalau dia mau memakan masakan Key, berarti bundanya sedang senang hatinya.
"Oh iya Bunda, tadi malam ada yang ngirim bunga untuk bunda. Kalau nggak salah sih namanya Zara. Itu siapa ya Bun?"
"Keponakan saya"
Azizah memang selalu menggunakan kata-kata formal jika berbicara dengan Key. Tak apa, Bundanya mau berbicara dengannya saja itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya. Setidaknya bundanya ini lambat laun membuka hatinya dan tidak menyiksa Key lagi.
Setelah selesai dengan acara makan malam mereka. Kini gadis itu membaringkan sang Bunda untuk tidur. Kemudian ia bergegas ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Dari tadi Noel sudah menerornya dengan telepon agar mengerjakan pekerjaan rumahnya itu. Bisanya Noel itu membuat dia marah setiap harinya.
Ia membuka buku seni budayanya. Ada kuis besok dan Key harus belajar agar tidak di omeli oleh Noel pun agar ia tak kesusahan saat ia ingin mengajukan beasiswa nantinya.
Key memikirkan Joe sekarang. Entah kenapa dia tiba-tiba mengingat pemuda itu. Tampaknya saja sangar. Ternyata dia mempunyai luka sedalam itu. Hampir sama dengan dirinya. Memang luka seperti itu susah untuk disembuhkan. Bukan perkara hanya diluar bahkan hati dan pikiran tidak bisa bekerja sama. Hati mencoba ikhlas pikiran tidak memberi kesempatan untuk melupakan kejadian kejadian masa lalu. Maka dari itu mungkin manusia memiliki dendam karena pikiran yang terus menghantuinya.
Kini telepon berdering menampilkan sosok pemuda yang baru saja ia pikirkan. Oh, kebetulan macam apa ini? Padahal ia hanya memikirkannya tiba-tiba saja pemuda itu menelponnya. Tolong jangan bilang mereka adalah jodoh. Karena Key mengenyahkan pikiran itu.
"Halo Joe?"
"Wah, lo kayak nunggu gue tiba-tiba udah ngangkat telepon gue aja"
"Buset, pemikiran lo itu udah terlalu tinggi. Gue memang tipikal orang yang gak bisa orang lain nunggu gue lama-lama ngangkat telepon atau nerima pesan. Jadi ada apa ini?"
"Gue lagi sendirian aja sih. Mau telepon lo aja kayaknya lagi kangen nih"
"Jayus banget lo anjir. Gue nggak langsung terpikat loh sama lo. Skip lah, omongan lo kayak bapak bapak penikmat f*******:”
"Gue serius. Entah kenapa gue kangen banget sama lo. Masa sih Gue suka sama lo”
Key tertawa mendengar perkataan Joe. "Pemikiran lo mengerikan. Yang beneran aja lo suka sama gue. Gue gak percaya. Maaf nih, gue bukan tipekal perempuan yang asik langsung diajak pacaran dan iya dalam waktu itu juga” ucap Key dengan nada bercanda dan juga suara tawa yang menggema.
"Gue... Serius"
“Oh, plese! I know you just kidding me. So, gue gak bakalan ambil pusing sama perkataan lo”
“Hahaha, serius ih, gue gak bakalan bercanda kaya gini. Murahan dan jayus banget kalau gue bicara kayak gini”
“Gue serius! Gue tau ini cepet dan terkesan maksa. But, im seriously told you”
Suara berat itu membuat Key tertegun. Sepertinya Joe serius dengan perkataannya. Oke, sekarang kepercayaan diri Key tiba-tiba meningkat. Dia masih cantik itu makannya banyak orang yang menyukainya bukan?
Oh tolong ingatkan Key bahwa dia bukan secantik bidadari
"Lo bisa nggak jauh dari Noel?"
"Maksud lo apa?" Key mengernyitkan alisnya tajam. Sungguh ia tak paham dengan perilaku dua orang ini. Kenapa menyuruh Key menjauh dari salah satu diantara mereka? Apa yang Key tak tau hingga ia disuruh memilih hal yang seharusnya bukan pilihannya.
"Gue bener nggak suka lo deket sama dia. Rasanya gue pengen marah pengen ngamuk tapi gue paham kalo lo sama dia itu adalah sahabat dekat bahkan sangat dekat. Sangking dekatnya gue nggak percaya kalau kalian nggak punya perasaan satu sama lain"
Key menghela nafasnya. Itu kalimat kian kali dari orang-orang setiap dirinya dan Noel bersama. Padahal mereka tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi diantara keduanya. Key menganggap Noel adalah kakaknya sendiri. Pasti Noel juga begitu. Tapi kenapa orang-orang selalu saja mengatakan mereka berpacaran. Memangnya terlihat seperti itu ya?
"Gue nggak tahu kalau orang-orang mau punya pemikiran seperti itu. Dan gue juga coba untuk nggak peduli. Karena gue tulus berteman dengan Noel. Di luar dari itu, bukan seharusnya gue memikirkan hal itu. Mau gue kasih klarifikasi supaya orang-orang tahu yang sebenarnya, Percuma aja juga kan? Mereka udah terlalu banyak memakan konsumsi publik tanpa pembenaran dari pihak terkakit. Sesuai hukum alam. Netizen lebih milih yang terdengar gak masuk akal tapi seru daripada kejujuran”
"Gue paham dan mengerti apa maksud lo. Tapi gue sayang sama lo Key. Gue nggak pernah percaya sama cinta pada pandangan pertama. Tapi jujur, bersama lo untuk menceritakan masalah gue itu membuat gue tenang. Semacam feromon yang bisa membuat gue merasa bebas dan tenang. Noel punya segalanya Key. Tapi gue sendirian. Hampir sama kayak lo. Lo bisa nggak lebih perhatian ke gue daripada Noel? Gue tau kalau gue kesannya sangat maksa. Tapi jujur, menurut lo gue lebih harus diperhatikan daripada Noel kan?”
"Gue..."
Brak
Ponsel itu dibanting oleh Noel. tetapan pemuda itu sekarang tajam mengarah pada Key. Terlihat guratan terlintas di wajah pemuda itu. Terlihat sekali bahwa Noel tengah menahan amarahnya. Oh, bukan tengah tetapi sudah marah dan mamp;u membuat Key ketakutan dengan wajahnya yang sangat membuat ia gemetaran. Key bahkan tidak paham apa yang terjadi sekarang karena ia sudah menatap ponselnya yang sudah mengenaskan.
"UDAH GUE BILANG JAUHI DIA KEY!"
Bentakan itu membuat Key kaget. Kini wajah Key sudah terlihat ingin menangis. Bentakan Noel mampu membuat dia kaget sekaligus tidak paham. Kenapa semua permasalahan harus dia perbesar. Kenapa hal yang bahkan bisa dibicarakan dan dapat penyelesaian dengan baik malahan menjadi begini.
Key hanya ingin punya teman. Tapi kenapa Noel selalu saja mencari perkara dengannya. Apa maksud dari perbuatan Noel ini. Semua hal yang Key lakukan adalah salah. Ada titik dimana Key juga bisa sangat lelah dengan keadaan dimana ia terlalu kuat dipasung dan harus berlagak menjadi orang bodoh.
"Gue cuman mau berteman Noel. Kenapa sih lo gak bisa pahami gue? Semua orang yang dekat-dekat dengan gue lo singkirin. Emangnya kenapa sih? Itu terlalu menganggu buat lo?”
"Gue nggak ngekang lo oke. Gue nggak pernah ngekang lo. Gue cuman mau kasih tahu sama lo apa yang sebenarnya terjadi. Dan lo dengan seenak yang enggak bisa dengerin gue"
"Maksud lo apa?” Key maju satu langkah ke depan dan berteriak di depan Noel, “MAKSUD LO GUE HARUS JAUHI SEMUA ORANG! YA KAN?! LO MAU GUE GAK PUNYA TEMAN"
"DIAM LO!"
Bentakan itu berakhir saat tangan Key menampar Noel. Keduanya menatap tajam lalu Key menyeret Noel keluar dari kamarnya. Ia kesal. Sangat kesal dengan pemuda yang melindungi dirinya itu. Egois kata yang selalu di sematkan untuk Noel. Key benar benar tak mengerti dengan pemuda itu.
“Lo keras kepala Key!”
“Lo lebih dan sangat keras kepala Noel! Gue benci sama lo!”