Wajah Noel daritadi hanya murung lalu merengut dan begitu seterusnya. Tak ada rona kebahagiaan atau sekedar menjadikan dirinya manusia bahagia. Noel selalu saja menjadikan dirinya manusia aneh dengan segala hal tak terduga yang terjadi padanya. Key bahkan sudah lelah dengan sifat Noel yang kdan tak bisa ditebak. Mungkin robot yang mampu melihat apa yang ingin dilakukan pemuda ini.
Contohnya juga ini. Pemuda itu sudah berguling guling ria dengan arah yang tak jelas sekarang. Itu mempu membut sahabatnya bertanya apa yang sedang terjadi pada pemuda yang mendadak t***l dengan piyama tayo si bus kecil.
"Gue gak mau ya jadi salah satu pemberi saksi atas kematian hewan kayak lo,” ucap Dave yang menatap wajah Noel tak enak. Pemuda itu uring uringan seperti anak kecil saja. Dave yang melihatnya bahkan bergedik ngeri saat tatapan pemuda itu seperti kucing nelangsa. Ingat ya, ini tuh si Noel. Cowok paling s*****l dan susah diatur. Masa mukanya kayak nelangsa gitu. Sama sekali tidak cocok dengan kepribadian dirinya.
Pemuda bernetra cokelat itu kini mendengus sebal lalu melempar ponselnya. Key beneran pergi tanpa memberitahu hal itu padanya. Kenapa sih buat kesal saja? Tidak bisa menurut. Anak itu minta di pukul pakai gagang sapu biar paham sepertinya. Atau kalau mau ia bisa mematahkan kaki gadis itu agar tidak ganjen jalan jalan dengan lelaki lain. Kenapa hobinya selalu memancing amarah daripada memancing duit.
“Gue pengen banget bunuh orang sekarang. Gak tahan banget gue mau matahin tangan orang sekarang juga” lirih Noel dengan memeluk guling yang sangat nyaman berada di pelukannya. Pemuda itu menghadap ke kepala tempat tidur lalu menggaruk tempat tidur tersebut.
"Eh, akhi. Ngomong lo di filter coba" kata Dave dnegan membawa dua gelas soda dengan es batu yang sudah dicampur tersebut.
Noel memakan biskuit lalu menggigitnya kuat. Wah, sepertinya memang dia sedang emosi pasti. Tatapan Noel bahkan tajam namun entah kenapa lucu saat melihatnya. Dave yang melihatnya kini tersenyum sambil menatap pemuda yang nelangsa itu. Masalah pasti tidak jauh dari Key. Hanya gadis itu yang bisa membuat seorang Noel uring-uringan seperti sekarang. Itu punya daya magnet yang bahkan tiada satu orangpun bisa lepas dari gadis itu.
"Sekarang kenapa lagi bro? Cerita aja dong mana tahu lo bisa nangis" ucap Dave sambil menatap remeh pada Noel. Pemuda yang menjadi sepepunya itu jarang menunjukkan emosi yang berarti. Ia selalu saja menjadi manusia pasif yang jarang memberikan waktu pada dirinya untuk mengungkapkan rasa atau perasannya. Lebih cenderung memahami orang lain daripada diri sendiri.
Pemuda yang tadi hanya memakan biskuat sekarang menoleh tajam pada Malvin. Ia mendelik lalu memberikan jari tengah pada Dave. Dengan kasar ia kembali menggigit makanan tak berdosa itu.
“Ini si Joe pandai banget Tarik perhatian Key ganjen bin menel itu? Udah berapa kali gue bilangin susah setengah mati gitu? Apa Joe pakai pelet?” tanya Noel pada diri sendiri dengan tangan yang masih memakan biskuatnya.
"Ngawur aja mulut lo. Gini deh, itu si abang Joe ganteng nya setengah mati cuy. Matanya biru, kulitnya maskulin, bibir tebal, suaranya kalau ngomong ngebass. Sekarang gue tanya sama lo. Kalau dapat cowok kayak gitu siapa sih nggak mau? Secara penampilan dan fisik dia itu sempurna. Apa kabar sekarang cewek-cewek itu ya deketin dia. Lah Si Key, itu cewek rada ganjen alias liat yang bening dikit langsung iya aja” ungkap Dave dengan kata kata yang tepat menohok di dalam hatinya.
Noel melempar bantal kearah Dave. "Sembarangan aja lu bilang kayak gitu. Gue bacok kepala lo" Dave terkekeh saat mendengarnya. Kini kakinya diletakkan di atas meja lalu bersandar di sofa. Rumah Noel selalu nyaman menurutnya.
"Gue tahu lo suka sama dia. Tapi pada dasarnya cewek itu nggak suka dikekang. Persetan dengan lo melindungi dia. Nggak semua cewek nangkapnya kayak gitu. Karena kita cowok memang bener-bener gak bisa pahami kode-kode dari cewek. Ya lo paham sendirilah. Selama seumur hidup lo tinggal sama Key, lo pasti paham apa yang gue maksud"
Noel kini terdiam. Apa yang dikatakan oleh Dave memang ada benarnya. Dia tidak bermaksud mengekang hanya saja dia takut kehilangan Key lagi. Sudah cukup dulu dia tersiksa saat Key diculik. Dia tidak mau meresahkan lagi.
-/-
Di lain tempat, kedua anak manusia itu kini menatap hamparan kolam di depannya. Dengan sunyi yang mencekam di antara keduanya. Belum ada percakapan yang mereka lakukan walau mereka sudah di tempat itu selama 10 menit. Ah, Key tahu akan secanggung ini. Seharusnya dia tidak mempunyai jiwa kepo. Maka dari itu dia tidak akan berada di tempat ini. Oke ini salah siapa sih sebenarnya? Sifat jiwa kepo Siapa yang mendarah daging di dirinya?
"Bokap nyokap gue meninggal ketika kecelakaan"
Key hanya mengernyit lalu mensedekapkan tangannya di d**a menghalau rasa dingin. Ia menoleh sebentar melihat keadaan Joe sekarang. Menelisik tatapan sendu nan sayu itu membuat Key berpikir betapa lemahnya pemuda di hadapannya ini.
“Gue gak pernah menganggap kalau mereka meninggal waktu kecelakaan. Gue rasa ada orang yang pengen jatuhin mereka dan buat mereka berakhir di kematian” ungkap Joe dengan suara lirih menelan rasa kecewa dan sakit yang ia halau dengan kuatnya.
Key pernah merasa di posisi tersebut. Menyakitkan dengan rasa pahit tertahan yang ingin ia ungkapkan namun tak bisa karena suatu hal yang membuuatnya menjadi lebih menelan rasa pahit itu sendiri. Key merasakan tatapan itu dulu. Saat ia hanya bisa diam disaat itu juga ingin menangis. Namun entah kenapa ada tahanan yang melesak di dadanya dan mampu membuat dirinya merasa kosong dan sedih.
“Gue punya siasat buat dendam. Tapi bukan dengan gerakan ekstrim”
“Maksudnya?”
Joe berbalik lalu menyangga tangannya di kepala bangku dengan kaki kanan terlipat sebelah. Wajahnya menatap wajah cantik gadis di depannya ini, “Gue mau balas rasa sakit yang di derita orangtua gu-“
“No” Key menghentikan ucapan Joe. Gadis itu tersenyum lebar lalu mengikuti gaya duduk Joe. Ia menatap pemuda tersebut dengan senyuman manisnya, “You can’t reply to anything. You are not a God who has to reply anything other people do, no matter how much they hurt”
Joe tetap menatap gadis itu yang masih memberikan senyuman manisnya dan mebuat Joe tak bisa berpaling dari bibir merah muda itu.
“Gue tahu kalau yang sekarang adalah masa paling sulit yang lo jalani. Balas dendam emang gak buat lo merasa bahagia karena pada dasarnya tetap sama. Lo baklan tetap merasa kehilangan setelahnya,” ungkap Key. Tangannya jadi mengelus lembut tangan Joe, “People change anytime, mungkin aja dia udah berubah dan menyesal”
“I don’t think so. Gue masih bisa lihat dengan jelasnya dia tertawa bahagia dengan keluarganya”
“Lo tau kan rasanya gak punya keluarga?” tanya Key, “Dengan lo menghancurkan keluarga dia, lo juga menghancurkan diri lo. Bakalan ada balasan setimpal atas apa yang terjadi, Joe. Tuhan nggak maha tidur sehingga lo dibiarkan berlarut larut dalam kesedihan ini. You can do it anything”
“Kayaknya hidup lo seberat itu sampai mampu bicara begitu”
“Nggak, gue pernah aja di posisi lo makannya gue tau. Maaf kalau gue terkesan menggurui”
Joe menatap Key dengan tatapan lembut. Tangannya mengulur mengenai surai hitam kecoklatan milik gadis itu. Key definisi gadis cantik yang pernah ia temui.
"Siapa lo yang meninggal?"
"Ayah gue. Jadi ceritanya, dulu gue tinggal di panti asuhan di sekitaran umur 7 tahun gue diangkat jadi anak salah satu keluarga yang tidak bisa memiliki keturunan. Gue jadi salah satu bagian di keluarga itu. Apa sih yang bisa gue harapin selama gue hidup? Kebahagiaan yang gue impikan selama ini menjadi nyata. Tapi Tuhan berkata lain. Waktu beberapa bulan setelah gue diasuh oleh mereka, gue diculik oleh rival perusahaan keluarga gue. Ayah dan bunda gue datang ke lokasi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Dan penembakan pada ayah gue terjadi. Bunda gue diperkosa. Lo tau apa yang gue pikirin? Gue mau mati. Anak yang umur 7 tahun bisa berpikir seperti itu"
"Itu terlalu berat Key. Kalau nggak sanggup jangan ceritain lagi. Gue mohon gue nggak sanggup melihat lo nangis"
Key menggeleng pelan lalu mengusap kasar wajahnya yang sudah dipenuhi air mata. Setidaknya ia bisa mengatakan hal ini pada orang lain. Kalau dengan Noel yang ada mereka malahan bertengkar secara terus-menerus. Setidaknya walau dia tahu Joe entah tulus atau tidak padanya. Dia bisa mengatakan hal ini dan membuatnya lega.
"Bunda gue depresi. setiap harinya dia selalu nyalahin gue nggak takut kan kalau gue anak pembawa sial. Rasanya otak gue sakit banget. Tapi di sisi lain, gue perlu berusaha sesuai janji gue sama ayah untuk melindungi Bunda gue. Maka dari itu gue nggak pernah membalas apapun pada orang yang pernah menjadi gue dan keluarga gue dulu hancur kayak gini”
"Andai gue punya ketulusan hati seperti lo. Mungkin gak sih gue bakalan aman-aman aja"
"Putus asa itu sifat alami manusia. Tapi ingat, ada kebaikan selalu mengalami semua hal buruk sekarang. Gue ngomong kayak gini bukan berarti gue nggak pernah putus asa. Gue selalu membentengi diri gue dengan kata-kata motivasi. Tapi ya kadang gue juga bisa down. Ya, tapi Noel selalu ada aja untuk gue. Maka dari itu gue selalu berkeyakinan kalau gue bisa hidup sampai sekarang itu karena Noel yang selalu membantu gue dalam hal apapun. Walaupun mulut dia pedes banget kayak cabe. Harus terbiasa kayaknya"
Joe kini diam dan hanya menatap ke depan saja. Key adalah gadis kuat. Untuk menyingkirkan Noel dia harus memikirkan berbagai cara bukan? Karena sejak dari mobil tadi hanya Noel yang dia bahas. Seberharga itu juga ya Key untuk Noel. Setidaknya Joe punya gambaran untuk menghancurkan kan keluarga yang telah membunuh Ayah dan ibunya.
Persetan dengan apa yang di katakan Key. Ia hanya mau membalas dendam dan tidur dengan tenang nantinya.
-/-
Noel meninggalkannya. Pemuda itu berangkat ke sekolah duluan. Pasti dia marah.
Argghhh, Siapa sih yang memberitahukan hal ini kepada Noel? Belum pernah diajar apa mulutnya sama Key? Kalau sampai ngamuk lagi orang itu bakalan dia cari sampai mati. Udah tahu Noel itu paling susah banget untuk di hilangin ngambek nya. Makin dipancing lagi.
Akhirnya Key menaiki angkot dan sekarang sudah tiba di sekolah. Matanya langsung memicing pada sudut meja di mana sahabatnya itu tengah meringkuk sambil menggenggam tangannya erat. Ciri khas Noel ketika dia sedang merasa kesal.
Key menghampiri Noel lalu duduk dengan hikmat di bangkunya. Sekarang pemuda itu malah semakin merindukan badannya. Key menghela nafasnya dan langsung merasa pusing. Susah sekali ya menjinakkan Noel ini? Sekalinya ngambek bisa sampai 2 hari malahan.
"Gue gak bilang sama lo karena Gue tahu lo bakalan marah. Tapi gue mohon Noel. Di itu nggak seburuk yang lo katakan. Dia baik sama gue dan gak ngapa-ngapain gue. Jangan ngambek ntar gue bikinin sesuatu biar lo gak ngambek lagi oke"
Noel beringsut dan memeluk key dari samping. Dia tidak suka berbagi dan ada orang yang mengambil hak miliknya. Noel sekarang tahu apa yang ada di otak Joe. Kesalahpahaman yang harus diluruskan kan namun ternyata pemuda itu juga tidak bisa diajak berdamai. Jenis kekerasan bukan? Soalnya dia telah menyeret hak milik Noel.
“Gue gak tau lo bakalan sejauh ini ikutan permainannya. Gue harap gak bakalan terjadi apa apa sama lo Key. Gue beneran gak bisa hidup dan bernafas tenang kalau lo begini”
“Gue gak paham lah Noel. Gue gak paham banget kenapa kalian jadi gini? Padahal kalian baru kenal dan sekarang udah bertengkar juga buat heboh. Gue gak tau pokok permasalahan kalian. Tapi gue mohon jangan gini Noel. Gue gak bisa bergantung sama lo terus”
Hening sesaat
“Tadi malam kalian jadi pergi dan dia telepon lo bolak balik. Gue gak paham apa yang ada di otak kecil lo itu. Tapi, kalau misalnya gini terus lo bakalan tersakiti”
“Noel-“
“Gue peringati Key. Jangan lengah karena ini adalah ajang besar yang bakalan mempertaruhkan banyak nyawa kalau lo bertindak gegabah. Gue bakalan jamin itu”