Key tersenyum saat ia sudah selesai dengan urusan sang Bunda. Azizah sudah tertidur dengan lelap sekarang. Ia sudah tenang sesaat setelah makan tadi. Key merasa tenang sekarang. Mereka tak mampu membayar pembantu maka dari itu Key bekerja sambilan menjadi penulis dan menjual s**u. Bukan untuk pembantu. Namun untuk membeli obat dan terapi sang Bunda agar wanita itu cepat sembuh dan normal. Ia hanya ingin kembali ke masa lalu saat mereka berdua berbagi cerita bersama di setiap malamnya. Selalu menceritakan banyak hal dan mampu membuat dirinya tertawa setiap hari.
Kejadian masa lalu memang sangat pahit jika di ingat. Bagaimana saat Azizah di perkosa dan ayahnya dibunuh dengan kejinya. Key bahkan mengingat dengan jelas mata yang meminta pertolongan itu. Ia mau menolong namun tak bisa karena dia masih kecil dan tubuhnya di pasung sangat ketat. Dari situ setelah ayahnya dinyatakan meninggal, Azizah menjadi pribadi yang pendiam dan lama lama menjadi depresi, itu mampu membuat Key terpukul saat mengingat masa lalu yang terjadi padanya dan keluarganya.
Azizah selalu memukulnya dan menyiksa Key dengan keras. Namun Key tak pernah mundur dan terus maju agar Azizah kembali normal. Gadis itu mengambil Job dengan waktu yang sangat fleksibel. Bahkan bisa dibilang Key sangat rusuh dengan mengumpulkan uangnya. Itu membuat gadis itu kadang merasa sepi. Bagaimana tidak sepi? Kalau ia bahkan tak pernah menumpahkan perasannya dan terlalu sibuk mencari uang daripada memikirkan tentang perasaan. Ia terlalu lelah untuk membuka rasa karena tau hasil dari itu hanyalah ketidakpastian belaka.
Setelah memakai sepatunya, gadis itu membuka tas dan mengambil handsanitizer. Mengusapnya pada telapak tangannya lalu merapikan seragamnya yang agak terlipat. Setelahnya berjalan lalu menyipitkan mata melihat sosok pemuda yang kini menatap ponsel dengan segala u*****n yang nyaris sangat kasar.
“Bisa gak kalau pagi itu menyebut nama Tuhan bukan mengumpat gitu?” tegur Key yang hanya di respon dengan delikan dari Noel. Key hanya mendengus lalu menepuk kepala pemuda itu.
Key menatap wajah Noel yang terlihat murung. Sebal sekali di cuekkin begini. Mungkin salah dirinya yang tidak mengerti perasaan Noel. Pemuda itu sensitif jika Key di dekati pria. Alasan jelasnya tak pernah Key ketahui hingga gadis itu memilih bungkam ketimbang bertanya. Bisa berabe kalau dia nanya sama Noel. Yang ada di sembur dah.
"Rok lo potong lebih pendek aja. Biar sampai paha atas lo keliatan"
"Mck! ngamuk mulu buset! Bisa gak sih kalau bicara gak usah naikkin nada bicara lo"
"Gak bisa! Lo mau naik apa gimana?"
Key yang tak sabar pada Noel kini menjambak pemuda itu hingga Noel terjengkang. Rasanya ingin sekali Key mencabut kepala Noel sekarang. Kenapa sih semua hal harus di bawa marah? Kan bisa dibicarakan baik baik. Key tau Noel sangat sayang padanya. Tapi kalau gini terus kapan Key punya pacar lagi? Walau sebenarnya ia juga tak terlalu nyaman terlebih lagi entah kenapa semalam nomor handphone Key sudah ada pada Joe. Pemuda itu tak sungkan menghubungi dirinya dan menganggap pertemanan secara sepihak.
Tangan itu lepas dari rambut hitam lebat milik Noel. Rasanya ia ingin sekali mengelus rambut itu tapi dia masih kesal. Gengsi geng.
"Sakit setan! Ganas banget sih!"
"Makannya gak usah ngambek gitu sih! Lo tuh kalau gue deket sama cowok jangan posesif gitulah. Bikin gue makin sensi tau nggak sih!"
Pemuda itu kini menatap Key. Tatapan tajamnya melunak dan sekarang ia menghembuskan nafas. Lelah sekali berperang dengan hati. Key itu dia anggap adik. Tapi malah dianggap lebih. Tapi anak ini membuat Noel makin panas dingin hanya perkara pertemuan menyebalkan dirinya dengan Joe. Kepalanya panas. Ingin sekali dicabut lalu di lepaskan sebentar.
"Maaf," lirih Noel. "Gue tuh emang gak suka lo deket cowok lain ya karena gue jaga lo lebih dari apapun. Lo tau kan segimana sayangnya gue sama lo? Cukup Bunda lo yang sakitin lo Key. Jangan yang lain. Gue kenal Joe makannya gue sinis duluan"
Key menghela nafasnya lalu menarik tangan itu dari genggaman Noel. Malas sekali mendengar perkataan itu. Semua cowok yang di gituin. Bukan satu aja loh. Gimana Key gak ikutan sensi?
"Udah ah. Kita ke sekolah. Selesaikan nanti"
"Sekarang! Gue gak mau lo ngambek dan berakhir jatuhin gue. Gue minta maaf,oke"
"Iya"
"Kok kayak gak ikhlas gitu"
"Rese banget sih anjir!"
Noel tertawa lalu mengulurkan helm pada Key. Gadis itu mendengus lalu tersenyum manis. Walau dongkol, ia mana bisa marah kalau Noel saja senyum semanis itu. Seperti anak kecil. Gemas rasanya. Pengen cabut nyawanya. Oke Key! Kamu kejam banget.
Sesampainya di sekolah, mereka duduk dengan khidmat tanpa menoleh pada Joe yang tengah menatap keduanya dengan sinis. Senyum pemuda itu membuat Key merinding dan memalingkan wajahnya. Oh sial, mungkin dia harus mulai percaya pada Noel. Tapi wajah Joe gimana ya? Gak bisa di tolak kegantengannya.
"Gak usah sok cantik! Muka lo rata!"
Key mendengus lalu memukul kepala Noel dengan keras. Semuanya hanya melengos malas karena sudah sangat biasa pada dua insan tersebut. Sudah muak mengklaim keduanya saling suka tapi masih sama sama menyangkal.
Kini Joe berjalan lalu duduk di hadapan Key. Dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, pemuda itu menatap Key lalu mengenggam tangan Key. Sontak itu membuat satu kelas menjadi heboh. Biasanya tak ada yang berani melakukan hal ini padanya. Apalagi di depan Noel. Mereka akan berhati hati dalam menyikapi hal agar tak menyinggung pemuda Archandra itu.
Tapi Joe punya nyali besar sepertinya.
Key bahkan tak berkutik saat jari itu mengelus punggung tangannya. Tadi malam mereka berbicara banyak dan membuat Key sedikit nyaman walau tidak terlalu. Pemuda ini seperti ingin melancarkan aksi pendekatan namun secara terbuka. Membiarkan dirinya ditatap Noel dengan sangat bringas. Joe mampu mengimbangi tatapan mata tajam Noel.
"Lo gak lupakan tadi malam gue ngajak lo kemana?"
Key mengangguk lalu menatap Noel. Gadis itu bahkan tak menyingkirkan tangan Joe membuat Noel berdecih. Emang kegatelan nih cewek mau aja di pegang pegang Joe. Kini matanya menatap lurus pada Key yang cengengesan.
"Nanti malam gue sama Joe pengen jalan jalan ke Ciwidey. Temen temen dia ngajakin"
"Lo kenal dia kayaknya udah bertahun tahun ya, sampai tau aja temennya yang mana, sifat dan bahkan perilaku dia"
"Gue baik kok dan tem-"
"Siapa yang menjamin kalau lo bawa pulang Key dengan seluruh tubuh yang utuh. Bahkan keperawanan dia juga utuh"
Kelas menjadi semakin tegang akibat perkataan Noel. Key menghela nafas lalu meletakkan tangannya di depan d**a.
"Noel gak kasih ikut, Joe. Gue gak mau ikutan lo karena kita belom terlalu kenal"
"Kita bisa saling kenalan kan? Key, mau sampai kapan lo di kurung terus sama nih bocah?"
“Gue gak mau ribet dengan memulai pertengkaran konyol padahal matahari mau naik karena baru bangun tidur. Jadi, jangan buat matahari ngambek”
“Hubungannya gimana?” celetuk Eggy dari samping meja Key. Pemuda itu selalu saja membuat kaget dan emosi secara bersamaan. Ini Key bisa saja memenggal kepalanya kan? Biar dia punya pelampiasan yang benar dan tidak menggerutu dalam hati terus menerus.
Key mendengus geli lalu melampirkan rambutnya ke telinga hingga wajahnya terpatri sempurna. Kini tatapan Key melunak lalu menyuruh Joe beranjak dari duduk mereka. Key malas berdebat hingga dia memilih tidur di kelas.
Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dimulai. Pak Faisal kini sudah duduk di depan dengan wajah sangar melihat para murid yang akan presentasi. Semuanya mulai kedepan secara bergantian dan kini setelah semuanya ke depan para murid di suruh membuat kembali 10 pertanyaan dari presentasi yang sudah di jabarkan. Tadi udah nanya dan di jawab. Sekarang suruh tulis ulang lagi. Maunya apa sih nih guru? Gerutu para murid.
Bel sekolah berbunyi membuat para murid keluaran mencari makanan di kantin. Bakso Bu Winda sepertinya mampu membuat mereka kenyang. Maka dari itu Key beranjak kesana tanpa Noel. Pemuda itu tengah latihan basket dan Key lapar. Dia tak mau menunggu Noel yang siapnya kapanpun dia tak tau.
"Makan sendiri aja. Sahabat lo mana?"
Key mendongak lalu mendengus sebal. Malas sekali rasanya melihat pemuda ini ada di hadapannya. Erwin, si cowok b****k yang suka pada Key dari zaman SMP. Ditolak Key karena Erwin tidak suka minum jus mangga. Maka dari itu mereka putus. Iya, Erwin pacarnya waktu SMP. Noel yang memperkenalkan. Hanya dia pemuda yang di perkenalkan dengan Key. Entah jimat apa sampai Noel setuju dan Key mau berpacaran dengannya.
Namun ternyata selera mereka berbeda hingga Key memilih putus saja. Erwin ngamuk dan tetap mengatakan mereka pacaran. Namun setelah dapat bogeman dari Noel dia sudah tak ingin lagi menggoda Key. Jadi mantan aja udahlah. Sama aja sih pacaran atau nggak. Soalnya Key lebih nyaman dengan Noel ketimbang sama Erwin. Kalau pulang sekolah ia lebih memilih bersama dengan Noel ketika dengannya. Pacaran mereka hanya menjadi ajang saja.
"Sahabat sejati lo mana? Biasa ada aja dia"
"Basket bodoh! Lo temen dia tapi gak tau jadwal"
"Lah kan temen bukan pacar. Apalagi mantan kayak kita dua"
"Najis!"
"Najisun gini kita pernah pacaran dan hampir ciuman kan?" Ucap Erwin dengan tatapan mesumnya. Key ingin sekali mencabut nyawa pemuda ini sekarang. Kenapa dia sangat bisa dibuat emosi hah? Key malas berurusan dengan manusia satu ini. Dia lebih memilih melihat ke depan dimana Joe menatap pancuran depan sekolah dengan mata sayup. Apa pemuda itu ada masalah? Ah, jiwa kepo Key emang susah di kendalikan ya. Membuat kesal saja.