Sudah 4 hari aku berada di rumah Doni. Walau tidak harus rawat inap, tapi kesehatanku masih belum pulih. Masih lemas. Makanku masih bubur karena sepertinya lambungku menolak makanan lain.
Sejak pesan WA saat itu, aku belum bertukar kabar dengan Vino. Semua WA , sms dan telepon darinya kuhindari. Entah kenapa dengan diriku. Bukankah aku menyukainya? Berharap rasa yang mendalam, sering kangen,tapi saat pertanyaan itu muncul, sepertinya hati ini tidak siap. Apalagi sekarang Vino sering menghubungiku.Bukan seperti biasanya yang menghilang saat dia di Jakarta. Kenapa berubah?
"Neng, emam heula buburna, teras eueut obatna!" (Neng, makan dulu buburnya. terus minum obatnya!) Risna masuk membawa semangkok bubur kekamarku.
"Nuhun, Teh.Puntennya ngarepotkeun wae. " ( Makasih, teh. Maaf ngerepotin terus) ujarku sambil mulai melahap bubur yang disiapkan Risna untukku.
"Ah, jiga ka saha wae. Teteh resep aya baturna mun si akang keur nge band."(Ah, Kayak ke siapa aja. Teteh seneng ada temennya kalo si akang lagi nge band) jawab Risna.
Kami berbincang sebentar. Lalu Risna membiarkan ku bersitrahat.
"Sok tidur,istirahat! Biar cepet sembuh"
"Iya, Teh. Nuhun. " ucapku sambil kembali membaringkan badan.
Selama aku sakit. Posisiku digantikan oleh vocalist pengganti dan itu sudah menjadi hal yang biasa. Jadi bukan suatu kekhawatiran jika aku tidak bisa bernyanyi.Dipikiranku hanyalah VIno.
Apa pantas si langit dan bumi ini bersama. Apa umur kita yang beda 10 tahun ini akan jadi penghalang?
Tapi aku memang selalu menyukai lelaki yang lebih tua. Sosok ayah hanya kurasakan sampai umur 2 tahun saja. Tidak banyak kenangan yang bisa diingat. Itupun hanya tahu dari cerita almarhumah mamah atau kakakku, gimana masa-masa kecilku bersama papah.
Hanya kakakku tempat aku mencari kasih sayang sosok ayah. Namun saat kakakku menikah, tidak etis rasanya aku terus mengikatnya dan mengharuskannya menjadi sosok ayah bagiku.Apalagi saat kakakku akhirnya memiliki seorang anak.
Mamah meninggal 3 tahun yang lalu. Saat itulah akupun memilih untuk mandiri. Walau terjadi perdebatan karena kakakku menilai aku masih adik kecil baginya,yang kala itu masih berusia 19 tahun dan memutuskan ingin hidup terpisah. Tapi dia tahu, tidak ada yang bisa menang dengan si keras kepala ini. Dia percaya adiknya bisa menjaga diri. Dia juga selalu mendukungku. Kakakku bilang, akan selalu membuka pintu jika aku ingin kembali. Aku percaya diriku sendiri mampu mandiri. Saat itu aku pun sudah mulai bernyanyi dengan band ku yang sekarang. Jadi aku sudah punya penghasilan sendiri.
Saat awal aku nge-kost, kakakku bersikeras membayarkan uang sewa selama 3 bulan pertama. Dia bilang, agar aku bisa menabung dari hasil bernyanyi dan membeli apa yang kuingin kan untuk membuat kamar ku nyaman.
Umurku dan kakakku yang bernama Jaka ini beda 8 tahun. Jadi kalo aku bersama Vino, kakakku masih lebih muda dibanding Vino. Apa kata dunia??
Walau sebenarnya aku adalah orang yang tidak peduli apa yang orang katakan atau pandangan orang lain terhadapku,tapi si keras kepala ini semakin bimbang. Banyak pertanyaan yang muncul di otakku ini.
Aku ini orang yang jika menyayangi akan sepenuh hati dan saat terluka akan sangat tersakiti. Apa aku siap sakit hati nanti? Tapi apa aku sepengecut itu untuk takut menjalin hubungan lagi dengan lelaki?
Teringat kembali masa pacaran dengan mantanku yang bernama Boy. Awal-awal nge-band,aku kenal dengannya. Tak lama setelah kenalan,kami pun berpacaran.Dia adalah manager band yang juga menjadi band pengisi di tempatku bekerja sekarang. Kami berpacaran 2 tahun lamanya. Dia berkhianat dengan berselingkuh dibelakangku. Alasannya? Aku terlalu naif katanya.Dia menginginkan gaya pacaran seperti anak muda masa kini...Free sex..
Oh no... i'm still virgin...i appreciate my self dengan jaga keperawananku. Jadi dia merasa bosan denganku yang hanya sebatas ciuman, pelukan dan gak lebih. Dia menganggapku sepele karena profesiku yang penyanyi di PUB, berteman malam dan minum juga menghampiri tamu,harusnya bisa dia jamah diriku semaunya.
Ah...sudahlah. Aku sudah tidak mau mengingat dia lagi. Sudah setahun ini aku sendiri. Boy adalah pacar pertamaku. ciuman pertamaku.Tapi meninggalkan kenangan pahit yang malas lagi kuingat tapi masih bisa kurasakan sakitnya.
Notif WA berbunyi. Lagi-lagi dari Vino.
"Are you oke? Kenapa kamu ngilang? Apa aku salah karena aku bilang cemburu? Lun, aku minta maaf klo bikin kamu gak nyaman. Tapi please ,balas lah! Kamu dah sehat atau belum.?"
Nah.. Aku.. Kamu...Udah gak ada lagi gw..lo...
I know it's serious... Dia gak becanda. Dia serius saat bilang cemburu, bukan cuman sekedar ledekan atau gurauan semata. Harusnya aku senang atas sikap dia ini. Tapi.... Nanti sajalah.Masih belum siap aku balas pertanyaannya.
-----
Besok paginya saat aku keluar kamar untuk mandi,Doni memanggil dan menyuruhku duduk di hadapannya di ruang tamu.
"Geus cageur can? Masih leuleus? "(Sudah sembuh belum? Masih lemes? )tanya Doni padaku.
"Dah segeran ,Kang.
Besok dah bisa nyanyi deui. Tiduran wae ge jadina leuleus wae. Kudu digerakkeun. " (Dah segeran, Kang.Besok dah bisa nyanyi lagi. Tiduran terus jadinya juga lemes terus. Harus digerakin) jawabku.
"Tadi peuting aya si bang Vino ka PUB. Nanyakeun didinya. Kumaha jeung kunaon? Pasea?Emang bobogohan kamu teh jeung bang Vino? (Tadi malem ada bang Vino ke PUB. Nanyain kamu. Gimana dan kenapa? Berantem? Emang kamu pacaran ma bang Vino?) tanya Doni.
Aku kaget bukan kepalang. Dia ke Bandung? Nyariin aku? Sampai nanya Doni? Senekat itukah,hanya karena aku gak pernah balas pesannya.
"Ah henteu,Kang!bobogohan timana... Emang ngomong naon kitu?" (Ah enggak, Kang. Pacaran dari mana.... Emang ngomong apa gitu?) tanyaku penasaran.
"Nanyakeun kabar. Soalna didinya teu ngabales wae WA na. Matak manehna ka Bandung ." (Nanyain kabar. Soalnya kamu gak ngebales WA nya. Makanya dia ke Bandung)
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Vino sampai ke Bandung hanya untuk mencariku.
"Mandi heula ah, Kang." aku berlalu agar tidak memerpanjang obrolan kami yang tidak mau ku jawab.
Saat keluar kamar mandi dan menuju kamar, aku kaget bukan kepalang. Melihat lelaki yang sedang duduk di teras ditemani Doni.
Vino? Duh.. Kenapa dia sampai kesini sih. Bisikku dalam hati. Aku bergegas masuk kamar dan bersiap.jantungku berdegup kencang. Aku sudah tidak bisa lagi mengelak darinya.
Aku sapa dia diteras,"Eh,Bang Vino.Maaf nunggu lama. "
Doni seketika meninggalkan kami agar bisa berbicara empat mata. Aku tahu dia mengerti ada sesuatu yng harus aku selesaikan berdua dengan Vino tanpa campur tangan orang lain. Dia sangat mengerti aku.
"Are you fine now, Lun? Dah sehat? " aku bisa lihat ada kecemasan di matanya.
"Much better, Bang. Mungkin besok,aku udah mulai nyanyi lagi. " balasku.
Hening sesaat... Aku pun terus menundukan kepala, tidak bisa menatapnya. Berusaha menyembunyikan perasaanku yang campur aduk.
Akhirnya dia kembali bertanya,"Kenapa kamu gak balas semua WA ku, sms ku dan tlp ku? Kenapa menghindar? Apa karna ucapanku saat kubilang cemburu? But it's true, Lun. Entah kenapa saat kamu sakit dan ada lelaki yang nemenin kamu ,aku tiba-tiba merasa cemburu.Berharap aku bisa disitu, nemenin kamu. Ngurus kamu yang lagi sakit. I think I love You, Lun...,and it's not a joke! "
Keheningan menghampiri lagi. Kami sama-sama diam. Dia memandang jauh kedepan dan aku masih tertunduk tanpa sepatah katapun.
Sampai akhirnya aku bisa mengangkat kepalaku.Sambil menatapnya ku berkata,
"Bang... Beberapa hari ini perasaanku campur aduk. Aku pun gak ngerti apa yang sebenernya aku rasain waktu Abang bilang cemburu,apalagi barusan Abang bilang cinta. Aku masih takut jatuh cinta. Masih enggan terluka,Bang! Apalagi aku gak tau apapun tentang Abang.Abang selalu menghilang tanpa kabar jika sudah berada di Jakarta. Tapi saat sama aku di Bandung, semua perhatian Abang bikin aku nyaman tapi juga penuh tanya. Apa sebenarnya yang terjadi. Berkali-kali aku menahan perasaanku sendiri dan berucap pada hatiku, jangan berharap lebih! He just a guest like others. Apalagi perbedaan usia kita yang lumayan jauh. Kita itu bagai langit dan bumi. It'not easy to forget you but it's also not easy to love you. Apa iya kita bisa deket lebih dari sebelumnya? "
Akhirnya semua isi hati ku yang beberapa hari ni kupendam, bisa tercurahkan semua. Aku merasa lega sekaligus masih waswas, apa jawaban dia atas semua pertanyaanku
"Aku juga gak bisa jelasin kenapa bisa. Ini hati, tempat perasaan berkembang tanpa logika, Lun. Aku juga gak bisa nahan perasaan. Sekarang, aku ngerasa kehilangan saat kamu gak mau balas semua WA-ku. Aku sadar, kenyamanan yang aku butuhin selama ini ya kamu. Aku gak bisa banyak jelasin. I will explain to you someday, one by one. Tapi perasaan aku udah gak bisa manggil lo dan gw. Karna sekarang, aku pengen kita menjadi aku dan kamu. Can we? "dengan menatapku dalam-dalam, Vino pun mencurahkan perasaannya.
Haruskah aku mencoba hubungan ini? Aku tahu dengan benar perbedaan kami yang besar dan semua ujian yang akan terbentang disetiap langkah kita berdua nanti. Apa aku sanggup menjadi 'seseorang'bagi seorang Vino?
Kami berdua sama-sama terdiam. Kami tahu bahwa ternyata perasaan kami sama. Tapi ada tembok yang menghalangi. Aku tidak ingin terlalu cepat membuat keputusan .Walau sebenarnya kian hari, perasaanku untuknya semakin mendalam.
Sayup terdengar dari dalam rumah Doni, lagu "Bimbang" milik Melly Goeslow
???
"Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam telah datang
Terkadang ingin kutulis semua
Perasaan
Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak kupikirkan
Untuk kubenci saja dirimu
Namun sulit 'ku membenci
Pejamkan mata bila
Kuingin bernapas lega
Dalam anganku aku berada
Di satu persimpangan
Jalan yang sulit kupilih
Kupeluk semua indah hidupku
Hikmah yang kurasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku
Pejamkan mata bila
Kuingin bernapas lega
Dalam anganku aku berada
Di satu persimpangan
Jalan yang sulit kupilih"
-----