Malam ini, aku mulai bernyanyi kembali. Aku pun sudah kembali ke kost-an. Kini, aku sedang memoles wajahku didepan cermin.
Malam ini temanya "sweet and love". Lagu-lagu era 1990 hingga 2000-an akan menjadi playlist malam ini. Aku senang jika sedang membawakan lagu lama. Long lasting, simple, easy listening tapi suka bikin baper.
Walaupun era itu aku masih kecil tapi lagu-lagu lama memang enak didengar. Bahkan sering dibuat recycle atau di cover penyanyi masa kini.
Sambil bersiap, aku pun sambil memutar lagu dan menghafal kembali beberapa lagu yang nanti akan kunyanyikan.
Lagu Kahitna *Cerita Cinta * pun diputar.
???
' Hey ye iye....
Berawal dari mata indahnya senyuman
Mengapa harus resah
Berawal tatap mata hangatnya sapamu
Mengapa jadi gundah
Tak kusangka kita sama
Telah menyimpan getar cinta cinta iye e
Biar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita uwo uwo
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Kini rindu yang kupunya hanya untukmu
Hanya padamu
Apabila kita memang mesti bersatu
Mengapa harus ragu
Tak kusangka kita sama
Telah menyimpan getar cinta cinta iye e
Biar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita uwo uwo
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Dunia seakan bercanda (oh ho)
Melihat cerita kita
Cinta uwo
Biar cinta gelora di d**a (biar cinta)
Biar cinta madukan kita uwo uwo (biar cinta)
Cerita cinta pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita
Biar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita uwo uwo
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita (hey)
Cerita cinta (ye iye ye iye)
Cerita cinta (hey oh)
Cerita cinta (ye iye iye ye)
Cerita cinta kita (hey)
Jangan pernah berakhir cerita cinta kita'
-----
Setelah siap tuk pergi, kumatikan tablet yang biasa menemaniku bernyanyi. Menjadi songbook saat tampil atau saat ku berlatih juga briefing seperti tadi. Ku masukan tas gandongku dan bersiap tuk melaju ke tempatku bernyanyi malam ini.
Sepanjang perjalananku diatas motor, masih terngiang percakapan kami kemarin dirumah Doni. Aku masih belum bisa menerimanya menjadi 'seseorang' dalam hidupku. Kuminta waktu untuk memantapkan hati. Agar apapun yang nanti akan datang dihubungan kami, aku siap untuk berjuang. Selama dia pun mau berjuang bersama.
Namun tak dapat dipungkiri. Hati ini merindu.
-----
Sampailah aku. Setelah memarkirkan motor, aku masuk ke waiting room. Ruangan khusus untuk anak-anak band atau DJ bersiap dan menunggu giliran on stage. Saat sedang menyiapkan playlist lagu bersama anak anak, notif WA-ku berbunyi.
[I'll be waiting for you. I'm in the same table as always. Semangat ya, Non!] tulis Vino.
Ternyata dia masih di Bandung. Mungkin sambil mengurus bisnisnya disini. Aku ingin menyapanya sebelum bernyanyi tapi lima menit lagi harus sudah naik.
Kubalas [Will catch u later!]
Sesi pertama dimulai. Kojek, Maya dan aku bergantian membawakan lagu-lagu slow. Tak terasa satu jam sudah dan kami pun break diselingi DJ selama 1/2 jam kedepan. Membawakan lagu-lagu remix era yang sama.
Aku pun menghampirinya. Malam ini dia memakai t-shirt putih, jeans dan sepatu kets. Simple memang, as always. Namun penampilannya terlihat kalau dia bukan seseorang yang harus berjibaku dengan debu jalanan dan terik matahari yang akan menghitamkan kulit. Sangat terawat,wangi dan tentunya membuat wanita sekitarnya melirik dan saling berbisik. Aku tahu, beberapa tamu wanita sering melirik diam-diam. Bahkan ada yang berani mengajaknya berkenalan dan meminta nomer teleponnya. Namun entah apa yang dia lakukan atau ucapkan sampai akhirnya wanita itu kembali ke mejanya dengan tangan kosong dan wajah yang muram.
"Orange juice with vodka?" ucapnya sambil tersenyum padaku yang baru duduk disampingnya. Aku hanya mengangguk.
"How are you today? Masih ada yang dirasa sakit? Masih lemes? Makan gimana?" cecarnya membabi buta.
"Ini Abang Vino apa dokter sih? Banyak amat nanyanya. I'm fine! Aku harus gerak. Tidur terus juga bikin lemes. Makan dah oke. perut udah aman. Makanya dah bisa dibeliin vodka orange." jelasku.
"Good. Aku seminggu di Bandung. Aku dah dapat tempat untuk clothing lineku, lagi mau renov. Nanti kuajak liat, temenin aku seminggu ini ya?"
Ucapan yang keluar dari mulutnya membuatku kesal, rasanya seperti dia booking aku. "Hhhmmm... Kok rasanya kayak di booking ya, Bang... Aku 'kan bukan cewek panggilan!" nadaku ketus.
"Oh no, Lun. Masa aku nganggap kamu kayak gitu. So sorry... Tapi bukan gitu maksudku. Be my tour guide, ya? Seperti waktu dulu. Sekalian aku pengen ngabisin waktu sama kamu selama aku di Bandung. Kamu mau tau 'kan aku ini siapa dan seperti apa? Katanya banyak banget yang pengen kamu tau tentang aku. I will tell you one by one. Deal?" pinta Vino sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Oke. Tapi jangan selipin lagi duit di saku jaketku. Cukup traktir aku makan dan antar jemput. Lumayan 'kan seminggu gak kena debu, wkwkwkw... Disupirin sama seorang Alvino. Kapan lagi coba!" jawabku sambil menerima uluran tangannya. Menandakan kami sepakat.
"Oke, deal! Perbaikan gizi buat anak kost yang baru sakit. Owh iya, I got something for you. Tadi sempet gabut masuk Mall. Aku beliin kamu ini!" ucapnya sambil memberiku paperbag dengan tulisan Victoria Secret.
"Lingerie? Ih m***m banget sih," gumamku dalam hati. Kubuka paperbag itu dan isinya adalah satu set body care dan parfume. OMG...!
"Bang... Ini 'kan mahal. Ngapain sih gabut beli segini banyak. Aku gak enak nerimanya." Ingin ku tolak tapi jiwa perempuanku juga senang bukan kepalang dapat hadiah seperti ini.
"Gak lah, Non. Apa yang aku kasih gak ada nilainya karena cuman kamu yang berharga buatku!" ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Meleleh rasanya hati ini, diperlakukan seperti ini. Tapi ya namanya orang penjajakan, pasti gombal dan romantis kayak gini. Nanti kalau udah dapet pasti berubah.
"Aku baru tau, Abang bisa gombal juga ya. Dah berapa korban yang kena gombalan abang ni?" ledekku.
"Kamu yang bikin aku gombal. Lagian juga itu bukan gombalan, Non. Beneran, I'm being myself and feeling so free when i'm with you . Cuman kamu yang bisa bikin aku ngerasa kayak gini selama 32 thn hidupku." tegasnya.
"Really? Padahal aku gak pake jampi-jampi loh. Emangnya Abang selama ini gak jadi diri Abang sendiri. Terus jadi apa? Jadi Hulk? Iron Man? Apa jadi pak Tarno? Hahahaha..." godaku.
"Sialan... Masa jadi Pak Tarno! Biasanya Abang harus banyak menahan diri dari keinginan sendiri demi orang banyak. Menjaga image keluarga. Bisnis Abang banyak. Beberapa bisnis keluarga, Abang yang handle. Tapi clothing line ini bener-bener usaha Abang sendiri. Abang bisa mengekspresikan apapun yang Abang mau disini. Tanpa harus memikirkan pendapat orang lain atau keluarga Abang."
Ternyata, dia adalah jiwa yang gak bebas juga ya. Harta yang melimpah juga bukan jaminan dia bahagia dan bisa berbuat sesuka hati. Sedangkan aku, tidak berlebih dalam materi tapi aku bisa lakukan apa yang aku mau. Ternyata lelaki yang ada dihadapanku ini tidak sesempurna yang kubayangkan. Saat itu, aku ingin membuatnya bahagia.
"Bang, aku kerja dulu ya. Dah mulai nih sesi dua." ucapku pamit.
Kojek membuka sesi kedua dengan lagu 'gerangan Cinta" dari Java Jive...
???
"Malam kian terasa larut dan dingin
Hasrat pun ingin terus bersama
Sinar bulan yang terang berbayang
Terbias indah di matamu
Hingga tiada satu kata yang bisa kuucapkan
Biar kau tahu yang kurasakan
Getar jiwa terguncang buaikan
Bersatu genggam di jarimu
'Ku tahu jawabnya
Inikah gerangan cinta
Yang menghiasi kisah manusia
Sepanjang masa
Gairah pun dibuai terlena
Nikmati manis kata asmara
Damainya terasa di dalam jiwa
Mari bercinta
Hingga tiada satu kata yang bisa kuucapkan
Biar kau tahu yang kurasakan
Getar jiwa terguncang buaikan
Bersatu genggam di jarimu
Inikah gerangan cinta
Yang menghiasi kisah manusia
Sepanjang masa
Gairah pun dibuai terlena
Nikmati manis kata asmara
Damainya terasa di dalam jiwa
Inikah gerangan cinta
Yang menghiasi kisah manusia
Sepanjang masa
Gairah pun dibuai terlena
Nikmati manis kata asmara
Damainya terasa di dalam jiwa
Inikah gerangan cinta
Yang menghiasi kisah manusia
Sepanjang masa
Gairah pun dibuai terlena
Nikmati manis kata asmara
Damainya terasa di dalam jiwa"
-----
Selama Kojek membawakan lagu ini. Hatiku bergetar sambil memandangi Vino yang terkadang ikut bernyanyi dari tempat duduknya. Dia pasti hafal karena ini lagu-lagu di eranya remaja.
Saat giliran Maya bernyanyi datang waiter menghampiri membawa kertas yang biasanya untuk menulis lagu yang harus kita mainkan.
Request dari tamu yang biasanya juga dibarengi dengan uang tips untuk band.
Request dari Vino
[Bukan Pujangga dari Base Jam. For my special person on earth... Nona Luna!] Itu yang dia tulis dikertas. Astaga...! Habis aku nanti di ejek anak-anak.
Setelah selesai Maya bernyanyi, Kojek mulai membaca semua request lagu yang masuk. Termasuk dari Vino.
"Oke... Ni ada lagi request-an dari Bang Vino... Malam, Bang...,kece banget malam ni. Macam glowing kayak lagi jatuh cinta," Kojek menggodanya. Dia hanya tersenyum. Sedangkan aku sedang salah tingkah sambil mendengarkan Kojek.
"Bukan Pujangga dari Base Jam. For my special person on earth, Nona Luna... Bang, Luna mana ini? Luna Maya atau Luna sebelahnya Maya ini?" lanjut Kojek yang kini menggodaku.
Vino hanya tersenyum lalu menunjukku yang sedang kikuk sendiri .Tapi hatiku juga senang bahwa Vino tidak berpura-pura atau menyembunyikan perasaannya padaku didepan anak-anak.
Lalu tanpa basa basi lagi, Doni memberi isyarat untuk langsung mulai membawakan lagu yang Vino inginkan.
???
"Mungkin aku bukan pujangga
Yang pandai merangkai kata
Ku tak s'lalu
Kirimkan bunga
Untuk ungkapkan hatiku
Mungkin aku
Takkan pernah
Memberi intan permata
Mungkin aku
Tak selalu
Ada di dekatmu
Ku ingin kau tahu
Isi di hatiku
Ku tak akan lelah jaga hati ini
Hingga dunia tak bermentari
Satu yang kupinta
Yakini dirimu hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah
Kata cinta untukmu
Ini diriku
Aku mungkin bukan pujangga
Aku mungkin tak selalu ada
Ini diriku apa adanya
Satu yang ku pinta
Yakini dirimu
Hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah kata cinta untukmu
Satu yang kupinta
Yakini dirimu
Hati ini milikmu
Satu yang ku pinta (bukan pujangga)
Yakini dirimu (yang pandai)
Hati ini milikmu (merangkai kata)
Semua yang kulakukan untukmu (Aku mungkin bukan pujangga)
Lebih dari sebuah (aku mungkin tak s'lalu ada)
Kata cinta untukmu (ini diriku apa adanya)
Ini diriku
Aku bukan pujangga
Aku tak s'lalu ada
(Ini diriku apa adanya"
-----
Lalu akupun bergantian menyanyikan lagu sesuai playlist yang sudah kami buat. Satu jam sudah berlalu, waktunya break kedua. Aku dan anak-anak masuk ke waiting room, sejenak melepas lelah dan meneguk minuman yang disediakan untuk menghilangkan dahaga kami.
Tiba-tiba Kojek menepuk pundakku, "Jigana aya nu keur aheuy aheuy kasmaran niye..., " (kayaknya ada yang lagi aheuy aheuy kasmaran ni ye...) dia mulai menggodaku.
"Mulai... Sok... Bully sok... Kumaha atuh? Tarima ulah? Sieun lasut euy. Apal meureun urang jelemana kumaha." (Mulai.. Sok bully sok... Gimana ya? Terima jangan? Takut gagal. Tau kali aku orangnya gimana) jawabku.
Doni menyahutiku "Ari ditingali mah bener bogoh. Lamun henteu serius mah jang naon nepi kaimah kamari." (Kalau diliat sih beneran cinta. Kalo gak serius buat apa sampe kerumah kemarin.)
"Enya. Geus weh cobaan jalanan heula, sist. Tong mikir nu aneh-aneh. Tong gara-gara Boy, didinya hayoh weh jomblo. Da ningali si Abang mah teu kaciri kolot atuh,sanajan beda 10 taun... Terawat, sist. Sugan weh babaturan urang ge jadi makin terawat... Beuki kinclong!" (Iya. Udah coba jalanin dulu, sist. Jangan mikir yang aneh-aneh. Jangan gara-gara Boy, kamu terus aja jomblo.Liat si Abang juga gak keliatan tua, walau beda 10 tahun. Terawat, sist. Kali ajah temenku jadi makin terawat... Makin kinclong!) ujar Maya padaku.
Memang sih, perbedaan usiaku dengan Vino tidak terlalu jadi masalah. Karena Vino terlihat lebih muda dari umur sebenarnya. Bukan masalah besar.
Notif WA-ku berbunyi,[Aku lagi diluar. Pengen cari angin dulu. Temenin sini, yuk! Aku di didepan.]
Bergegas 'ku hampiri dia tanpa membalas pesannya. Dia sedang berdiri sambil menghisap rokok di bawah pohon di area depan PUB. Sesekali dia menatap langit sambil menghembuskan asap. He so handsome and i'm in love. "Damn it!" aku mengumpat dalam hati.
"Hai, Non. Didalem pengap. Makin malam makin ramai, makanya aku cari angin dulu. Temenin aku bentar, ya! Kamu break setengah jam kan?" tersenyum manis ia padaku.
Aku menggangguk tanpa bersuara. Ada kursi taman diarea itu. Tak lama dia meraih tanganku untuk mengikutinya duduk. Aku hanya menuruti semua yang dia lakukan tanpa berbicara. Jantungku sedang berpacu sangat cepat. Rasanya hampir pingsan, padahal hanya dipegang tangan saja olehnya.
Kita hanya duduk tanpa saling berbicara. Menikmati suasana tengah malam menjelang dini hari yang sunyi namun terasa romantis. Seperti adegan dalam drama-drama yang ada di TV. Tangannya masih menggenggam tanganku. Sepuluh menit berlalu, akhirnya dia memecah keheningan.
"Aku pengen terus ada di momen ini. Ada kamu. Begini saja, hatiku tenang. Energiku seolah terisi. You are my Universe now, Lun. I feel life again. Jangan pernah menghindar lagi dari aku, ya! Apapun yang terjadi nanti, aku mohon kamu berjuang buatku. Mau?" pintanya.
Ada sebuah misteri dari perkataannya.Aku merasa masih banyak yang belum dia ceritakan padaku. Aku hanya tahu dia memang dari keluarga kaya raya. Seorang Jayabarata.Usaha keluarganya banyak. Salah satunya juga mempunyai beberapa SPBU di jakarta, property dan bisnis besar lainnya. Nama besar keluarganya bisa di cari di halaman Google. Ini yang bikin aku insecure. Apa aku layak mendampingi dia?
"Bang, selama ini yang aku fikirkan adalah kesiapanku untuk memperjuangkan hubungan kita. Dari status sosial, usia dan gaya hidup kita, pasti akan banyak ujian didepan. Tapi malam ini aku sudah menetapkan hati. Akan berani sakit hati lagi, berani berjuang lagi. Coz I'm In love with you. Kita harus jadi pribadi kita masing-masing saat kita berdua. Jadilah pribadi yang lepas. Jadilah diri sendiri karna aku ingin liat kamu bahagia. Gak terikat atau menahan apapun demi orang lain.
Akan sulit menghadapi aku yang keras kepala ini loh, Bang. Mungkin kamu akan kewalahan. Tapi cewek keras kepala ini jika sudah cinta, gakkan menyerah sama ujian apapun yang nanti ada buat kita. Kalaupun nanti aku akan menyerah, tolong genggam lagi tanganku seperti sekarang. Kita hadapi semua berdua!" ucapku sambil memandang wajahnya.
"Thank's ya, Non. I need you. Sekarang aku cuman bisa bilang jalan kita mungkin gakkan mudah dan aku egois untuk menarikmu kedalam kehidupanku yang amat sangat rumit. Tapi cuman kamu yang bisa ngasih ketenangan ditengah badai. I don't regret it. Be my half, so i can be complete!" ujarnya seraya memelukku erat.
Ada rasa yang sangat dalam. Kita berdua seolah tau akan ada badai menerjang. Tapi sudah sangat siap untuk menghadapinya berdua...
Sayup terdengar lagu "From This Moment" milik Shania Twain dari balik pos Security tak jauh dari tempat kami berdua. Membuat malam ini semakin syahdu. Kami hanya diam sambil saling bertatapan. Merasakan semua momen ini tanpa berkata-kata lagi. Sampai waktunya aku harus masuk dan kembali bernyanyi.
-----