"Sabtu ieu, urang aya maen nya. Event di TSM, acara launching motor. Kostum pantai. Mawakeun lagu-lagu Reggae jeung Rock weh. Ngke lagu party ditukang mun rek alih ka DJ. Urang maen jam tujuh peuting nepi anggeus. Stanby jam genep. Tong telat." (Sabtu ini, kIta ada main ya. Event di TSM, acara launching motor. Kostum pantai. Bawain lagu-lagu Raggae sama Rock aja. Nanti lagu party dibelakang kalau mau pindah ke DJ. Kita main jam tujuh malem sampai beres. Standby jam enam. Jangan telat.) ujar Doni di waiting room setelah kami selesaikan sesi tiga dan bersiap pulang.
Anak-anak hanya mengangguk dan bersiap untuk pulang kerumah masing-masing. Saat aku keluar dari PUB, Vino sudah menungguku di pintu depan.
Melihatku keluar, dia menghampiriku sebelum aku melangkah untuk mengambil motorku.
"Aku anter pulang ya, tapi kita makan dulu!" titahnya.
Tanpa menjawabnya aku memanggil Maya. Kebetuan motornya rusak. Sementara ini, selalu diantar jemput oleh Kojek .
"Mayaaaaa... Kadieu!" ( Mayaaa.... Kesini!)
Maya pun bergegas menghampiri.
"Naon?"( apa?) sahutnya.
"Yeuh, bawa weh motor urang. Urang rek dianter si Abang!"(Nih, bawa aja motorku. Aku mau dianter si Abang!) seraya memberikan kunci dan STNK.
"Siapp...! Bang, jagain ya. Jangan sampe retak. Soalnya dia mah barang pecah belah, hahahah... " Maya menggodanya.
"Tenang, May. Abang gendong kalo bisa biar gak jatuh, hahahaha.... Hati-hati ya! Salam buat yang lain."
Mayapun hanya mengangguk dan berlalu. Aku pun berjalan dengannya menuju mobil. Lagu Rude dari Magic terdengar dari audio tape mobilnya dan reflek kami berdua bernyanyi bersama mengikuti nada sambil sesekali saling menggoda. Sampai di tempat makan, kami langsung mengambil makanan, pesan minum lalu duduk.
"Ada aja ya tempat makan walau jam segini. Bandung emang gak ada matinya."
"Ceu' Mar ini dah lama jualan begini. Emang yang pada jualan sampe subuh gini ya targetnya orang-orang yang balik dugem. Bermanfaat juga buat kita yang kerjanya juga malem. Jadi abis kerja, ya makan. Sampe rumah tinggal tidur. Perut dah kenyang." jelasku padanya.
"Iya ya. Kamu weekend ini ada acara?" tanya Vino sambil mulai menyantap makanan yang ada di atas piring.
"Sabtu ini ada event di TSM, Bang. Stanby maghrib sih. On stage jam tujuh sampe selesai."
"Kalo siangnya nonton dulu, mau gak?" tanya Vino
"Ayok aja. Dah lama juga gak nonton bioskop." jawabku setuju.
"Ya udah. Pokonya selama aku di Bandung, biar motor sama Maya ya.Abang bakalan anter jemput kamu. Gak apa kan?" tanya Vino.
"Iya deh. Cuman seminggu 'kan? Lagian kasian, motor Maya juga lagi dibengkel. Owh ya, ngomong-ngomong toko abang nanti dimana?" tanyaku sambil menyeruput teh hangat yang baru saja diantar.
"Abang buka didaerah Dago, FO semua ada disitu. Abang dapat dekat Kartika Sari. Nanti abang ajak kesitu. Hari minggu mau? Sambil Car Free Day."
"Mauuuu... Can't wait to see it!" jawabku senang.
Kami selesaikan makan lalu melaju pulang.
Kali ini aku meminta izin untuk memutar lagu dari ponselku.
"Bang... Aku Bluetooth, yah? Mau muter lagu dari HP."
"Boleh donk, Sayang. Pairing ajah." jawabnya.
Sayang??? Duh, dia dah mulai manggil sayang. Makin cinta aku sama laki-laki satu ini. Dia tuh laki-laki yang lembut tapi berkarakter. Aku makin lemah, pasrah hati ini. Baru aku merasa seperti ini, bahkan dengan Boy dulu aku cenderung cuek. Apalagi setiap bertemu, dia pasti ingin mengajak 'berbuat'. Aku sayang Boy tapi muak dengan pikirannya yang selalu berusaha untuk meniduriku. Mungkin dulu aku bisa lama bertahan dengannya karena band-ku dengan band yang dia pegang menjadi talent di event yang sama dan itu event road show beberapa kota. Jadi kami selalu dekat.
Akhirnya aku sudah bisa memutar lagu dari ponselku tersambung ke audio tape mobilnya. Aku pilih lagu "Bella Luna" dari Jason Miraz sebagai lagu pertamaku. Sayup -sayup lagunya mulai menemani kami didalam mobil.
"Ini lagu Jason Miraz? Kok aku baru denger. Enak ya, Non. Biasa denger lagu dia nge-beat."
"Iya, Bang. Emang bukan lagu yang booming sih. Tapi aku seneng lagu ini. Selain karena judulnya Bella Luna, mirip namaku. Aku suka ngerasa lagu ini tuh mistis. Kayak apa ya? Susah jelasinnya, bikin addict. Kalo aku lagi pengen rileks, lagi penat ya lagu ini yang aku dengerin." ujarku sambil sedikit menambah volume.
"This will be my favorite song, too. Selain emang beneran enak didenger. It will remind me of you." ucap Vino sambil melirikku.
Tuhkan, dia bikin hatiku makin meleleh. Cewek mana yang gak seneng diperlakukan kayak gini.
Kali ini kita berdua nikmatin banget lagunya sampai selesai. Walau aku hafal banget liriknya. Tapi aku gak mau nyanyiin lagu ini. Cukup mendengar dan meresapi setiap nada juga liriknya. Setelah lagunya selesai, lanjut lagu Coldplay 'Fix You'.
Di lagu ini,dia menggengam tanganku. Sambil kita berdua bernyanyi, lalu Vino berkata, "You fix me, Lun!" Dan disambung lagu-lagu lainnya. Selama perjalanan kita, dia gak pernah lepasin genggamannya. Sampai kita dah didepan kost-an.
"Makasih Bang, udah anterin aku. Abang hati-hati balik ke hotel. Call me if u already in bed. Kalau ternyata gak diangkat, berarti aku udah ngiler, hahahah...." ucapku bercanda.
Sebelum aku sempat berbalik untuk membuka pintu. Dia menarik tanganku yang dia genggam agar aku lebih dekat dengannya dan dia kecup keningku.
"I'm so happy. Thanks for today!" ucapnya lembut. Dia memelukku dan tak lama melepaskannya. Hatiku berbunga-bunga.
"Vin, semoga ini bukan sekedar awal yang indah. Terus seperti ini ya, Vin." bisikku dalam hati. Dan aku pun melihat mobilnya berlalu meninggalkan kost-an.
Sekitar setengah jam berlalu dia menelepon ku. "Eh, belom tidur? Masih blom ngiler nih? Hahahah....." terdengar suara tawanya.
"Cepet banget udah sampe lagi. Aku aja baru beres bersihin make up, cuci muka, gosok gigi dan ganti baju. Terus lagi pake handbody yang Abang kasih. Emang beda ya kalau produk mahal,hahahah..." balasku.
"Wahh..., pasti wangi. Tapi gak pake itu juga kamu dah wangi kok, dah cantik banget. Beruntung aku, kamu mau sama aku." puji Vino.
"Gak salah? Emangnya aku gak tau, Abang banyak dilirik cewek-cewek. Sampe ada yang berani ngajak kenalan 'kan ke table Abang waktu itu. Tapi kok dia kayak gak happy balik ke table dia. Emang abang apain?" tanyaku penasaran.
"Iya, dia ngajak kenalan, ngajak jalan. Tapi kubilang, sorry, gw kesini buat liat cewek gw nyanyi. Tuh yang lagi on stage. So, gw gak bisa nemenin lo jalan." jelas Vino.
"Padahal 'kan cakep, Bang. Lagian waktu itu kita 'kan blom barengan." ujarku.
"Cewek cantik banyak, Non. Tapi belum tentu bisa bikin nyaman. Lagian waktu itu 'kan aku dah punya feeling sama kamu. Masa iya masih jelalatan. I'm not that type of a man." tegas Vino.
Dan akhirnya aku tahu kenapa cewek itu balik badan dengan cemberut. Ternyata gara-gara aku, hahahah... "Puas kau, Nona! Gak berhasil kau rayu lelakiku." bisik hatiku bangga mendengarnya.
Kami mengobrol selama sejam. Lalu sama-sama sepakat untuk tidur. Jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Sudah masuk hari Jum'at. Ah besok aku bakalan nonton bareng dia. Our first date, can't wait.
-----
Saat siang, seperti biasa dia mengajakku makan lalu mengantarkanku kembali ke kost-an. Selain anter jemput dan bersamaku, dia akan berada di toko yang sedang dia renovasi. Sesekali dia tanya aku sedang apa, menyempatkan memberi kabar disela-sela kesibukannya.
Sampai akhirnya, sabtu pun tiba.
Nada deringku kini kuganti dengan lagu 'Happy ' nya Pharell Williams, sama dengan suasana hatiku yang lagi happy banget, akhirnya berdering.
"Sayang, i'm on my way ya. Kamu dah ready?" tanya Vino.
"Ay ay Captain.. Tinggal nunggu prince charming datang jemput." jawabku girang.
"Wait ya. Prince charming lagi melewati kemacetan kota Bandung ini." balasnya.
Tak lama mobilnya sudah sampai depan kost-anku. Walau kost-an ini bebas berkunjung tapi Vino masih jaga privacyku. Mungkin juga karena aku belum pernah mengundangnya masuk. Ah, aku belum siap.
Aku bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Kamu cute banget hari ini. Aku suka." puji Vino melihatku dengan baju bernuansa bunga, sepatu kets dan ku kepang rambut ikalku.
"Masa sih? Masih cute mana sama Winnie The Pooh?" tanyaku sambil menggodanya.
"Kamu seimut piglet, hahahah...,sebelum nonton kita makan dulu ya. Di TSM aja. Biar gak habis waktu dijalan." ujarnya sambil mulai menyalakan mesin.
"Setuju. Mau request lagu apa hari ini? Buat nemenin perjalanan kita dari Suci ke TSM." tanyaku sambil aku mulai membuka ponselku untuk memutar lagu selama perjalanan kita.
"Happy by Pharell Williams." ujarnya.
"Dukun, ya? Kok bisa milih lagu ini. Ini 'kan ringtone HP-ku." ucapku sambil menatapnya.
"Masa? Ya ini 'kan kayak suasana hati aku sekarang, happy. Seriusan itu ringtone HP kamu? Coba aku miss call," ujar Vino penasaran.
Belum sempat 'ku tolak. Secepat kilat dia meneleponku. Hah? Dia tekan nomer satu untuk quick dial dan itu adalah aku.
Muncul 'Lelakiku ??' dilayar audio tape beserta suara ringtoneku. Aku seketika malu. Memerah wajahku ini. Dia hanya tersenyum. Aku intip layar ponselnya, tertulis 'Bella Luna ?'.
"Eh iya, bener. Ringtonenya Happy. Berarti kita emang sehati, Non. Jadi aku Lelakimu nih?" godanya padaku.
"Masa iya wanitaku. Abang 'kan laki." jawabku sambil tersipu malu.
Lagi-lagi dia menggengam tanganku. Sambil mencium tangan yang digenggamnya dia berkata, "My Bella Luna. Makasih dah bikin aku menjadi laki-laki yang bahagia. I will make you happy, too!"
Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Laju mobil kembali cepat setelah melewati kemacetan. Sampailah kami di TSM. Kami pun naik ke Food Court untuk makan sebelum nonton Film di bioskop nanti. Kami saling menggoda dan bersenda gurau sambil menghabiskan makanan yang sudah dipesan tadi. Setelah selesai makan, aku pamit untuk ke toilet.
Keluar tolilet, saat ingin kembali ke mejaku ternyata Boy sudah menunggu dan menghadangku. "Ma siapa kamu? Main om-om ya? Udah pasti bukan seumuran, keliatan. Naif banget. Pura-pura gak mau sama aku, taunya matre. Open BO ya kerjaan kamu sekarang?" hina Boy padaku.
"Jaga mulutnya, ya! Kamu penghianat. Aku gak mau ada urusan lagi sama kamu. Aku biarin kamu karena aku males layanin orang kayak kamu dan anak-anak band kamu juga baik sama aku. Jadi aku gak mau masalah kita jadi panjang. Lagian kita dah putus lama. Kamu gak ada hak ikut campur sama hidup aku sekarang. Minggir! Kamu ngehalangin jalan aku!" sambil 'ku dorong tubuhnya agar menyingkir dari hadapanku. Dia membuatku muak. Bisa-bisanya dia mengeluarkan kata-kata kotor seperti itu. Apalagi dia bukan siapa-siapa lagi buatku. Aku bergegas kembali ke mejaku dengan muka kesal.
"Kamu kenapa,Non? Kok balik dari toilet malah cemberut." tanya Vino karena melihat mukaku yang ditekuk.
"Ketemu mantan tadi, Boy namanya. Dia managerin band yang sekarang main juga di event ini. Dulu band-ku sama dia road show bareng. Makanya aku bisa pacaran sama dia, dua tahun lamanya. Tapi dia selingkuh, makanya kita putus. Paling benci aku sama penghianat dan tukang selingkuh." jelasku dengan sedikit emosi.
"Owh, pantesan cemberut. Udah gak usah dipikirin, ya. Kita nonton aja, yuk! Kamu yang pilih filmnya. Biar mood kamu bagus lagi. Nanti 'kan mau nyanyi, masa di stage mukanya ditekuk. Aku gakkan terusik sama mantan-mantan kamu. Yang pasti kamu dah sama aku sekarang." ujar Vino menyemangatiku.
"Aku cuma pacaran sama dia. Gedeg banget pacar pertama aku kayak dia. Ya udah, yuk! Ngadem di bioskop biar aku jadi adem." ujarku sambil berjalan menuju bioskop.
-----
Dua jam setengah akhirnya selesai juga kami berdua menonton film didalam bioskop. Tak terasa sudah jam lima sore. Vino menyuruhku untuk bilang anak-anak gabung di Coffe Beans sambil menunggu giliran kami main nanti.
Pagi tadi anak-anak sudah cek sound tapi hanya personel dan Kojek. Aku dan Maya tidak harus datang. Kojek udah tahu karakter sound kami masing-masing. Aku mengirim pesan di WA group,"Aku dah di venue. Nungguan di Coffe Beans, ma Abang. Kesini weh nanti yang dah pada dateng."
Tak lama, mereka pun berdatangan. Saat Vino pamit untuk ke toilet, aku pun berbincang dengan yang lainnya.
"Lun, aya si Boy 'nya tadi. Urang panggih di hareup jeung barudak band-na oge. Maenya ngagosipkeun maneh cewek panggilan ceunah jeung om-om demi meunang duit, goblog pan. Aing nafsu ngan ditahan Kang Doni." (Lun, ada si Boy ya tadi. Aku ketemu di depan sama anak band-nya juga. Masa ngegosipin kamu cewek panggilan katanya sama om-om demi dapet duit, g****k 'kan. Aku nafsu tapi ditahan Kang Doni,) ujar Kojek.
"Naha sih si Boy teh. Meni jiga teu ridho urang senang teh. Jiga awewe deuih ngagosip." ( Kenapa sih si Boy. Kayak gak ikhlas aku seneng. Kaya perempuan ajah ngegosip.) balasku dengan nada emosi.
Tak lama Maya datang dengan tergopoh.
"Sist, itu si Boy lagi ngebacot ma si Abang di depan."
Aku pun langsung berlari mencari mereka. Kang Doni dan anak-anak pun mengikutiku.
Terdengar Boy berkata, "Jadi lu, om-om yang jadi sugar daddy-nya Luna, ya? Bayar berapa? Dulu kagak mau gw tidurin, taunya karena dia mainnya sugar daddy ya. Gw jadi gak percaya kalo dia masih perawan atau dia jual sama lu. Berapa duit?"
Seketika emosiku meningkat
, darahku mendidih. Ini laki kok lemes banget ya mulutnya. Sebelum aku sempat melabraknya, Vino membalas dengan santai tapi nadanya tegas, "Sudah bukan urusan lo apa yang dilakukan Luna. Dan gw bersyukur dia lepas dari laki-laki macam lo. Cewek berharga kayak Luna emang gak pantes bersanding sama cowok otak d***o kayak lo! Dan penilaian gw tentang Luna ternyata benar kalau dia bukan cewek gampangan. And i really apreciate her. Gak ada materi yang bisa bayar tubuh dia. None! Karena dia bisa jaga diri dengan baik. Walau banyaknya orang akan under estimate sama profesinya. For me, it's not a big deal. So, BACK OFF! Sekarang Luna jadi orang yang spesial buat gw. Kalo lo macem-macem lagi sama Luna. Gampang banget buat gw ngancurin hidup lo. Lain kali tuh mulut jangan lemes amat, tar dikata BANCI!"
Belum sempat Boy membalas perkataan Vino, dia sudah ditarik oleh personel band-nya. Doni pun sama, menarik anak-anak agar kembali ke coffe shop tadi.
Aku yang masih mencerna kejadian tadi masih tidak bergeming sampai saat dia kembali menggengam tanganku. "Ayok, Non. Kasian anak-anak mau ngopi blom jadi. Udah, gak usah dipikirin. Dia cuman kerikil yang mesti dibuang. Aku malah berterima kasih dia udah ngebacot kayak tadi. Now, i know who you are dan aku salut, kamu bisa jaga diri kamu dengan baik."
-----
Aku masih berusaha profesional walau muak melihat muka Boy yang ada di back stage. Leader band-nya meminta maaf padaku. Aku pun enggan membuat masalah. Ini akan berdampak pada band-ku nanti. Kami sedang bekerja. Harus bisa menahan emosi dan tidak mengecewakan EO.
Akhirnya hari itu dilalui dengan baik. Sekarang, aku sedang dalam perjalanan pulang bersama Vino. Enggan mengeluarkan ponsel, malas berbicara. Aku hanya diam. Rasanya lelah sekali hari ini. Mungkin juga karena menahan emosi tadi. Muak aku lihat muka Boy tadi. Lama-kelamaan aku pun tertidur.
"Non... Sayang... Udah sampe. Kamu capek, ya? Istirahat ya! Jangan over thinking. Nanti aku WA aja. Biar kamu istirahat. Kalau aku telepon pasti panjang lagi kita ngobrol. Kasian sayangnya aku." ucapnya lembut membangunkanku sambil mengelus rambutku.
Aku hanya mengangguk. Dia mengecup keningku seperti biasa. Dengan lunglai aku turun dan masuk ke kamarku. Rasanya malam ini untuk menghapus make up saja sudah habis tenagaku.
-----