Hari ini, Vino akan kembali ke Jakarta. Seminggu sudah kita berdua makin mengenal satu sama lain. Tapi kenapa hatiku masih merasa ada yang janggal tentang Vino. Aku mengenal Vino saat dia di Bandung. Tapi aku tak mengenal Vino yang berada di Jakarta.
[Sayang... Maaf aku gak ketemu kamu dulu sebelum berangkat, ya. Karena aku gak mau bangunin kamu tidur. Pagi sekali aku sudah harus ke Jakarta. I'm gonna miss you.]
Begitulah isi WA Vino untukku, yang k*****a dengan mata setengah terbuka.
Kubalas pesannya, [Gak apa, Bang. Dah sampaikah? Aku baru bangun nih. Nanti sore aku latihan sama anak-anak.]
Kutunggu sampai sore, tak ada balasan. Aku hanya bilang pada diriku sendiri. "Mungkin dia sibuk."
[Bang.. Sibuk?]
[Dah makan? Aku baru beres latihan.I miss u!]
[Call me if u can!]
[Dah tidur? Kok gak ada kabar?]
Dan rentetan pesan lainnya yang tak ada satu pun dibalasnya.
Sampai pagi tak ada balasan. Banyak pertanyaan muncul di otakku sekarang. Apa mungkin dia sudah menikah? Atau dia kecelakaan? Atau dia cuma mempermainkan perasaanku? Percuma saja aku bertanya pada diri sendiri. Hanya Vino yang bisa menjawab semua pertanyaanku.
-----
Tiga hari berlalu tanpa kabar darinya. Aku pun tak lagi berusaha menghubunginya karena hanya kekecewaan yang aku dapat. Aku sedang berada dirumah karena penat berada dikost-an. Setidaknya keponakanku yang lucu bisa mengalihkan pikiranku tentang Vino.
Sore ini cuaca mendung. Seolah tahu, hatiku juga sedang kelabu. 'Ku pasang earphone di telingaku. Aku mulai memutar lagu "Foolish" dari Ashanty.
???
"See, my days are cold without you
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more
I keep on running back to you
See, my days are cold without you
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more
I keep on running back to you
… Baby, I don't know why you're treating me so bad (treat me so bad)
You said you love me, no one above me and I was all you had (all you had)
And though my heart is beating for you, I can't stop crying
I don't know how I allow you to treat me this way and still I stay
… See, my days are cold without you (without you)
But I'm hurting while I'm with you (oh, oh)
And though my heart can't take no more
I keep on running back to you (keep on running back to you)
See, my days are cold without you (without you)
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more
I keep on running back to you
… Baby, I don't know why you wanna do me wrong (do me wrong)
See when I'm home, I'm all alone and you are always gone (always gone)
And boy, you know I really love you, I can't deny
I can't see how you could bring me to so many tears after all these years
… See, my days are cold without you (my days, yeah)
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more (no more, no more)
I keep on running back to you
See, my days are cold without you (without you)
But I'm hurting while I'm with you (without you)
And though my heart can't take no more
I keep on running back to you (I keep on running back to you)
… Ooh, I trusted you, I trusted you
So sad, so sad what love will make you do
All the things that we accept
Be the things that we regret
So all of my ladies (ladies)
Feel me, come on, sing with me
… See, when I get the strength to leave
You always tell me that you need me
And I'm weak 'cause I believe you
And I'm mad because I love you
So I stop and think that maybe
You can learn to appreciate me
Then it all remains the same
That you ain't never gonna change
Never gonna change, never gonna change
… See, my days are cold without you (my days are cold, baby)
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more (no more, no more)
I keep on running back to you
See, my days are cold without you (without you)
But I'm hurting while I'm with you
And though my heart can't take no more (no more, no more)
I keep on running back to you
… Baby, why you hurt me, leave me and desert me?
Boy, I gave you all my heart and all you did was tear it up
Looking out my window, knowing that I should go
Even when I pack my bags, there's something always holding me back"
Gak sadar air mataku jatuh.I've been foolish right now... Berharap terlalu banyak dengan perasaan ini. Ternyata Vino hanya mempermainkanku. Tapi hati ini tetap merindunya.
Ah, entahlah... Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku saat ini. Otakku lelah memikirkannya, hatiku sakit merasakannya.
Cuaca semakin muram, mataku pun semakin berat. Tak lama aku pun tertidur.
-----
"Dek... Bangun! Dah maghrib." kakakku membangunkanku.
Aku lepaskan earphone dari telingaku dan matikan lagu yang sedang diputar. Kulihat ada WA masuk... Vino.
[My Bella Luna.. I'm sorry i can't replay all your message. Ada urusan yang harus aku selesaikan disini dan emosiku sedang tidak stabil. I don't want to hurt u or make u sad. Aku bakal jelasin nanti. Miss u so bad. I need u!]
Kubalas pesannya, [I don"t know what u goin' trought dan aku gak akan paksa Abang untuk cerita. Aku akan tunggu Abang di Bandung atau saat Abang bisa telepon aku. Miss u crazy, Lelakiku!]
Walau masih banyak pertanyaan di otakku. Tapi setidaknya aku tahu dia sehat, tidak terjadi hal buruk. Aku pun mulai bersiap untuk bernyanyi malam nanti.
-----
Malam ini temanya HITS INDO. Jadi kita bawakan lagu-lagu dari penyanyi dan band Indonesia yang pernah HITS. Memang setiap weekend akan ada tema, kostum dan lagu yang harus disesuaikan.
Sesi satu pun dimulai. Setelah DJ menurunkan volume, itu tandanya band harus mulai bermain. Lagu pertama malam ini, Kojek membawakan 'Lagu Rindu' dari Kerispatih. Lagunya ngewakilin banget sih. Aku kangen banget sama Vino. Apalagi komunikasi kita gak baik.
Lalu di lanjut Maya menyanyikan lagu "Firasat" nya Dewi Lestari. Melow bener nih playlist malam ini. Tapi emang sesi pertama, kita pasti bawain lagu slow. Makin galau makin asik, hahahah... Ah malah aku over thinking di stage. Pikiranku hanya VIno, Vino dan Vino.
Lagu pertamaku malam ini dari Reza Artamevia, 'Cinta Kan Membawamu'
"I wish u were here, Vin...!" dalam hati berbisik.
Tiba-tiba muncul sosok laki-laki yang saat ini sedang kurindukan. Ah, mungkin lagi halu saking kangennya. Eh, tapi aku, kan, gak minum apa-apa. Sadar banget. Dari kejauhan dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Bisa 'k*****a gerak bibirnya. "Kamu cantik malam ini."
Cinta memang membawamu, Vin. Aku senang kamu datang.
-----
Satu jam sudah berlalu. Saatnya break, aku langsung menghampiri Vino. Tak segan-segan aku memeluknya.
"I miss you so bad, Bang. Peluk aku 5 menit saja!" pintaku.
Sambil memeluk dan mencium keningku dia pun berkata, "I will hug you forever. Maaf, aku menghilang kemarin. Aku akan jelaskan nanti. Pulang dari sini ya."
Akhirnya selesai pekerjaanku. Seperti biasa, motorku biar Maya yang bawa. Karena motor dia masih butuh waktu lama untuk diperbaiki. Entah apanya yang rusak. Turun mesin atau apa dan sparepartnya harus indent agak lama.
Aku sudah dalam mobil bersamanya. Kali ini sesampainya di kost-an aku menyuruhnya masuk untuk berbicara.
"Kamarmu nyaman ya. Rapi, bersih." puji Vino.
"Iyalah, Bang. Aku, kan, pengennya kalo abis capek nyanyi ya istirahat ditempat yang bikin nyaman." jawabku sambil meneteskan teraphy oil ke difuser. Tak lama wangi dari campuran oil itu keluar. I love the scent.
"Aku cuci muka dan ganti baju dulu ya, Bang. Abang mau kopi, teh atau mineral?"
"Give me coffe, Non!" pintanya.
Aku langsung membuatkan kopi, mengantarkannya lalu langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Saat selesai dan keluar kamar mandi, dia sedang melihat sekeliling kamarku. Melihat kolase foto yang 'ku panjang di dinding.
"Kamu emang cantik dari kecil ya, Non. Tinggi lagi dan manis. Mirip Papamu!" puji Vino.
"Iya donk, cantik. Mojang Bandung, kan, ceweknya cantik-cantik!" aku membalas pujiannya sambil mengambil s**u dari dalam kulkas.
"Orang tua kamu pasti bangga. Tau anak ceweknya sangat bisa jaga diri." Vino memujiku lagi.
"Bang... What's wrong?" tanyaku.
"Sini duduk sebelah Abang!" pintanya.
Aku pun dengan patuh duduk disampingnya. Lalu dia bergeser hingga posisi kita saling berhadapan. Dia memegang kedua tanganku.
"Ada yang belum 'ku ceritakan selama ini. Aku harap kamu gak marah dan ninggalin aku. But, you deserve to know the truth." Vino mulai dengan wajah serius.
Saat ini, hatiku merasa cemas. Entah kenapa. Apa rahasia yang akan dia katakan padaku? Yang pasti aku harus mempersiapkan diri untuk menerimanya.
"Sebelum aku ketemu kamu malam itu, aku sudah punya tunangan," ucapnya.
Apa? Tunangan? Jadi dia mempermainkanku selama ini? Menduakanku?Jadi aku orang ketiga? Dadaku terasa sesak mendengar Vino mengatakannya.
Lalu ia meneruskan perkataannya, "Wait, jangan marah dulu ya sayang! I don't love her. Biasalah, dikalangan kami ini akan ada perjodohan bisnis dan aku dijodohkan dengannya. Itu kenapa aku pernah bilang kalau aku banyak menahan diri di keluarga dan circleku. Saat sama kamulah aku merasa bebas."
Aku menahan diri untuk bertanya. Walau banyak sekali yang ingin 'ku katakan. Aku hanya akan mendengar semua penjelasannya. Komitmen kita dari awal adalah kita tidak saling menghianati, berbohong dan jadi diri sendiri.
"Namanya Shela. Yah, biasalah orangtuanya dan orangtuaku ingin bisnis keluarga semakin besar. Dari awal aku tidak setuju. Buatku bisnis yang sekarang ini sudah lebih dari cukup. Jangan tumbalkan anak demi ambisi orangtua. Apalagi usiaku, bukan usia untuk didikte harus apa. Saat kemarin aku minta kamu untuk jadi pacarku, tentu aku harus bertanggung jawab atas hubungan ini. Aku pun sudah berbicara kepada orangtuaku. Aku menceritakan kepada mereka siapa kamu, seperti apa kamu. Papa tentu tidak setuju. Biasalah, harga diri dia dipertaruhkan tapi Mamaku selalu mendukung apapun yang aku putuskan dan aku juga sudah bilang ke Shela untuk batalin pertunangan kita."
Aku sudah tak tahan lagi untuk bertanya, "Terus? Apa Shela setuju? Apa kamu yakin dengan pilihan kamu atas aku ini, Bang?Yatim piatu yang tidak punya gelar apa-apa. Hanya dari keluarga sederhana dan usia kita terpaut jauh. Apa kamu yakin?" cecarku.
"Sayang... Aku udah bilang, kan, hanya kamu yang bisa bikin aku tenang... I need you. Aku gak lihat kamu dari bibit, bebet, bobotmu. Buatku kamu wanita idaman. Aku salut sama kamu. Mandiri, cantik, pintar membawa diri. Pekerjaanmu pun bukan pekerjaan buruk. You have a great voice, too.You should have an album for yourself. I adore you, Lun!" dengan tegas Vino menjelaskan perasaannya.
"And Shela?" tanyaku.
"Yah, dia gak terima. Dia mungkin gak mau harga dirinya dinjak-injak. Aku ngerti, tapi aku tahu selama ini juga dia gak cinta. Dia cewek yang dimanjakan harta. Dia suka dugem, foya-foya dengan temannya. Dia juga sering berganti pasangan dari lelaki satu dan lainnya jika sudah bosan. Apa aku harus habiskan sisa umurku dengan wanita seperti itu?" ucap Vino sambil mengernyitkan dahinya.
"So, i have to face your parent and your fiance?" tanyaku.
"Maaf aku tarik kamu ke duniaku yang kacau balau ini. Maaf juga aku udah egois. Tapi aku minta kamu jangan pernah menyerah buatku. Maukah kamu perjuangin hubungan ini, Lun?" tanya Vino sambil meremas tanganku dengan wajah yang penuh harap.
Badai ini sudah dimulai. Aku harus berusaha untuk bisa melewatinya. "Aku sayang kamu dan aku bakalan berjuang buat kamu, Bang. Selama kita saling jujur dan menguatkan. Aku bakalan pasang badan. Aku akan kunci hatiku buat kamu. Makasih udah jujur." ujarku sambil tersenyum.
Kami pun saling berpelukan. Ada rasa lega bahwa dia memilihku. Tapi sekaligus cemas, tak tahu akan seperti apa nanti. Aku harus menghadapi orang tuanya, juga Shela.
Vino melepaskan pelukannya dan berkata, "Walau kita belum kenal lama. Tapi aku tahu, aku ingin habiskan sisa umurku sama kamu, Lun. Rasanya seperti kita ditakdirkan bersama."
Aku teringat kembali, mimpi-mimpi sebelumnya bersama Vino. Mungkin benar apa yang di katakan Vino. Kita memang sudah ditakdirkan bersama. Mimpi-mimpi itu jadi pertandanya.
"Aku tidur disini ya, malam ini!" pinta Vino.
Aku mengangguk tanda setuju. Kami pun beranjak naik ke tempat tidur. Aku mulai memutar lagu untuk pengantar tidur. Vino memelukku dari belakang. Dia berbisik, "I love you, Lun."
Sayup terdengar lagu 'A Thousand Years' dari Christina Perri, membuai malam kami hingga akhirnya kami pun terlelap.
-----