Jam sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Aku membuka mataku dan wajahnya yang teduh jadi pemandangan pertamaku pagi ini. Laki-laki ini memang tampan. Sepertinya dia tidur dengan pulas, begitu juga aku.
Pelan-pelan aku turun dari tempat tidur untuk mandi dan menyiapkan sarapan sederhana. Aku buatkan kopi dan roti untuk nya, aku lebih memilih minum s**u.
Saat semua sudah siap, aku bangunkan dia. Ku usap pelan sambil memanggil namanya,
"Abang... Sayang..., sarapan, yuk! Aku udah siapin tuh. Sama udah siapin handuk dan sikat gigi, biar abang mandi." ucapku dengan nada berbisik.
Perlahan-lahan dia membuka matanya, menggeliat dan tersenyum menatapku. Dia menarikku dan memelukku, "Morning, my princess. How lucky i am to have you. Love you so much!"
Aku tersenyum dan membalas, "Love you, too, my prince!"
Dia mulai melepas pelukannya dan masuk ke kamar mandi dengan langkah lunglai. Aku kembali menyalakan difuser dengan aroma berbeda. Menyalakan ponsel yang 'ku sambungkan ke speaker kecil di meja riasku. Mulai 'ku putar playlist untuk hari ini.
Lagu pertamaku hari ini "Kasmaran" dari pingkan Mambo.
Aku membereskan tempat tidur dan memulai rutinitasku sehabis mandi. Skincare dan Bodycare. Aku hanya mamakai make up jika bernyanyi saja. Selain itu, aku lebih senang polosan. Cukup Skincare yang menempel di wajah. Buatku yang penting itu kebersihan. Aku gak ngejar muka harus glowing, tapi bersih. Make up juga jadinya nempel bagus walau tipis. Muka jadi lebih fresh. Pekerjaanku membuat aku melek malem, tidur pagi. Gimana caranya harus selalu terlihat fresh. Dan reward buat diri sendiri kalau aku bisa jaga badan dan kulitku. Aku cantik untuk diriku sendiri.
Tak lama Vino keluar kamar mandi dengan rambut basah, dia terlihat sangat menggoda. Sempat kutelan ludah, hahahah.... "Hei, hentikan otak mesummu!" bisikku dalam hati.
"Seger banget. Kamu emang tadi ke mini market buat nyiapin alat mandiku?" tanya Vino sambil mengusap kepalanya dengan handuk.
"Gak. Aku emang selalu punya handuk baru dan sikat gigi. Aku suka beli sikat gigi yang satu pack isi tiga. Kalo handuk aku selalu gganti enam bulan sekali. Lagian Maya kadang nginep disini. Tapi handuk dan sikat gigi dia aku pisahin. Itu handuk baru." jawabku.
"Luar biasa kamu, Non. Aku gak nyangka bisa dapetin cewek kayak kamu. Owh iya, ikut aku liat toko, yuk! Sekalian kita makan siang nanti." ujar Vino yang sedang menyisir rambutnya sambil bercermin.
"Iya, makan dulu gih rotinya!" titahku.
"Bentar. Aku mau ke mobil dulu ambil baju ganti." jawabnya.
Selesai sarapan yang kesiangan, kita berdua akhirnya keluar kost-an dan melaju ke daerah Dago untuk melihat toko dia yang masih tahap renovasi. Seperti biasa, aku mulai memutar playlistku. Nampaknya sudah jadi kebiasaanku dimobilnya, hahahah...
Lagu yang mau aku putar kali ini adalah 'Hanyalah untukmu dari Ten to Five'
"Ini yang nyanyi Imela Key, 'kan? Aku suka nonton band suaminya di Jakarta." ungkap Vino.
"Owh ya, lakinya vocalist juga?" tanyaku penasaran.
"Gak, pemain Cajoon. Bagus lokh! Nama band-nya Mike's." ungkap Vino.
Sesampainya di lokasi, Vino memarkirkan mobilnya. Lalu kami pun turun dan melangkah masuk. Vino mulai menjelaskan,
"Inilah alter egoku. Kamu tahu 'kan aku senang hal simple. T-shirt, Jeans or Denim dan sepatu Kets. Kalo udah di Jakarta sehari-hari aku pake Kemeja or Suit. Kaku."
Baru 'ku tahu. Bahkan dia gak nyaman akan dirinya sendiri saat di Jakarta bersama keluarga dan lingkungannya.
"Terus depan itu mau dibikin apa?" tanyaku penasaran. Kulihat ada mini bar yang sedang tahap finishing.
"Aku ingin jadiin tempat buat nongkrong aja. Ada mini barnya. Yah, bisa nyambil ngopi, nge-beer atau nikmatin cocktail. Open space, biar gak pengap. Malah sebenernya lebih gede dibandingin store-nya. Kan, kalau clothing line gak banyak makan tempat. You will like it. Tapi aku masih mikirin namanya." ujar Vino sambil menghisap rokok terakhirnya.
"Good idea. Kalau clothing line-nya udah ada namanya, Bang?" tanyaku.
"Udah. Namanya Monogram. Owh iya, gimana kalo kamu sama anak-anak foto katalog buat clothing line aku. Mau?" tanya Vino.
Aku terkejut. Apa gak salah dia menawarkan ide itu? Tapi aku menjawab, "Yakin gakkan rugi, kalau modelnya aku ma anak-anak? "
"Gak 'lah. Malah cocok banget. Aura band kamu, kan, bagus. Enak dipandang juga. Gimana? Bilang sama mereka, fee-nya bisa buat bayar cicilan motor, hahaha...," balasnya sambil tertawa.
"Hahahaha..., mereka gai bakalan nolak. Biasanya foto buat profile band atau banner. Sekarang dapet fee buat bayar cicilan motor. Nanti aku kasih tau mereka." jawabku.
"Nanti kamu kasih tau jadwal band kalian. Kalo ada yang kosong atau fleksible buat pemotretan bisa aku atur. Laper nih. Makan, yuk!" ajak Vino.
"Ayok. Di Hotel Palaise aja. Gak jauh kok. Kita jalan aja. Gimana?" ajakku.
Vino pun mengangguk. Kami pun menyusuri jalan dan seperti biasa, dia akan menggengam tanganku. Sambil sesekali kita saling menatap dan tersenyum.
Setelah kami selesai makan, kami kembali lagi ke tempat Vino. "Sayang..., kamu tunggu sebentar, ya! Rokokku habis. Aku mau beli dulu. Lupa tadi aku ke mini market. Gak apa, kan? Sekalian mau beli untuk tukang." ujar Vino sambil mengusap kepalaku.
"Iya, take your time. Aku tunggu di kursi depan." ujarku.
Tak lama Vino pergi, datang sebuah mobil Audi A7. Aku tahu harganya fantastis. Setelah terparkir, seorang wanita kira-kira usia 30an turun dari mobil itu. Dengan crop top, jeans skirt dan heels juga kacamata hitam dia menghampiriku.
"Siapa lo? Ngapain disini?" ucap wanita itu sinis.
Sontak aku mengernyitkan dahi melihat lagaknya yang angkuh. Tapi ku tahan emosiku. "Gak liat kalo gw lagi duduk... Dan gw gak harus jawab pertanyaan lo yang gak sopan ini!" jawabku.
"Heh... Lo gak tau siapa gw, ya? Gw bisa usir lo sekarang juga karena yang punya ini tempat adalah tunangan gw. Pergi sana! Cari tempat duduk yang lain. Tuh dipinggir jalanan banyak. Jangan disini! Ngotorin pemandangan gw ajah lo." ucapnya dengan nada angkuh dan menyebalkan.
"Hah... Tunangan yang punya tempat ini. Jadi, dia ini Shela. Ngapain dia tiba-tiba muncul disini. Ayo Lun, kamu kuat. Kamu bisa hadapi cewek angkuh macam dia. Oke lah dia cewek kaya tapi dia gak boleh injek-injek harga dirimu. Kamu bukan pemain protagonis dalam sinetron yang bakalan terima di sepelekan dan nangis-nangis lemah. It's not you." bisikku dalam hati.
"Jaga mulut lo, ya! Lo gak berhak ngusir gw. Terserah gw mau duduk dimana. Bukan lo yang ngatur!" jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku agar aku bisa berdiri sejajar dengannya.
Tiba-tiba ...*PLAK*
Sebuah tamparan mendarat di pipiku tanpa sempat 'ku menghindar. Rasa panas dan perih langsung 'ku rasakan, mendidih rasanya darahku. Wanita ini sangat keterlaluan. Belum sempat 'ku membalas atau berbicara, tiba-tiba dari kejauhan Vino berlari menghampiriku.
"Sayang... Kamu gak apa, kan?" sambil dia memeriksa pipiku yang merah akibat tamparan Shela.
"I'm fine. Don't worry!" jawabku.
"Shela... Lo apa-apaan sih? Dan ngapain lo disini? Tau dari siapa lo tempat ini?" hardik Vino pada Shela.
"Gw bisa dapat info apapun dengan cara gw sendiri. Jadi ini, cewek yang bikin lo batalin pertunangan kita?" lalu dia menoleh kepadaku, "Gak usah mimpi bisa sama Vino. Bangun..., apa masih kurang gw tampar pipi kiri lo. Mau gw tampar lagi yang kanan?" ucapnya angkuh.
Sebelum Vino sempat membalas perkataan Shela, aku maju lebih dekat untuk buktikan padanya kalau aku bukan cewek pengecut. "Gw gak mimpi karena kenyataannya Vino sama gw sekarang. Sorry, kalo manner gw gak sopan sama yang lebih tua. Tapi lo emang gak pantes dihormati! Lo emang kaya raya tapi gak bisa beli harga diri gw dan gw gak ada diantara hubungan kalian, ya! Karena Vino dah nentuin sikap." nadaku tinggi saat mengatakannya karena emosiku sudah tak terbendung lagi.
Shela menoleh pada Vino dan berkata,
"Lo gak bisa seenaknya sama gw, Vin! Pertunangan kita gak bisa lo batalin gitu aja, apalagi karena cewek yang bukan level kita!"
"Cukup, Shel! Lo gak bisa seenaknya sama Luna. Lagipula dari awal juga lo tau gw menolak pertunangan ini. Ya gw minta maaf kalo endingnya begini. Tapi, kan, Luna gak salah apa-apa. Gw yang ngejar dia. Kalau lo mau nampar, ya tampar gw. Lampiasin amarah lo sama gw. But, never touch Luna! " Dengan penuh amarah Vino memperingatkan wanita angkuh itu.
Aku memandangi Vino saat semua perkataan itu keluar dari mulutnya. Aku gak perduli lagi jika Shela mau menghina atau menamparku lagi. Saat ini, aku tahu bahwa Vino tulus. He fight for me. Aku akhirnya semakin yakin untuk memperjuangkan hubungan ini. Aku tahu, jalan kami akan sangat berat tapi aku gakkan menyerah.
"Apa istimewanya dia? Paling dia mau sama lo karena dia liat harta lo!" ejeknya sambil melirik sinis padaku.
Belum sempat Shela meneruskan kata- katanya, Vino menegaskan keputusannya. "Gw memilih Luna untuk jadi istri gw dan lo gak punya hak nentuin apapun keputusan dalam hidup gw. So, please! Pergi dari sini saat gw masih bisa nahan diri. Gw udah batalin pertunangan kita dan gw juga udah menghadap orang tua lo karena gw masih menghargai keluarga lo. Selama ini gw tahu kelakuan lo kayak gimana dan gw gak mau menikah sama cewek kayak lo. Lo gak bisa berkomitmen, lo senang berfoya-foya dengan temen-temen juga cowok lo, yang saat lo bosen, lo ganti. Gw gak pernah hina lo. Gw diam selama ini. Jadi gw kasih tau lo sekali lagi, kita dah gak ada hubungan apa-apa! Jangan pernah usik Luna. Just walk away now! Gw gak mau ribut." tegas Vino sambil menggengam tanganku.
Dengan kesal, Shela berbalik menuju mobilnya dan pergi meninggalkan kami berdua. Aku masih terdiam dan mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi. Perkataan Vino saat dia bilang dia milih aku buat jadi istrinya lebih membuatku syok dibandingkan dengan tamparan Shela.
"Sayang... Maafin aku ya! Kamu harus melalui ini gara-gara aku. Aku gak nyangka Shela bakal berbuat seperti ini. Sakit gak pipinya? Merah gitu." ujarnya sambil mengelus pipiku.
"Gak apa-apa, Bang. Ini fase yang harus aku lalui buat merjuangin kamu. Aku bilang 'kan, aku dah siap terluka. Aku dah siap berjuang buat hubungan ini. Hari inipun semakin kuat keinginanku buat bahagiain kamu. Don't you worry, Love! Aku bukan orang yang cepat menyerah. Aku, kuat!" ucapku menenangkan dirinya.
Vino mengecup keningku lalu memelukku erat. "Lun, makasih udah berjuang buatku. Aku gakkan ngecewain kamu. I love you, Lun!"
"Love you, too!" balasku.
Hari ini buatku seperti sedang naik Roller Coaster. Perasaanku campur aduk. Satu ujian bisa 'ku lalui. Apalagi yang akan terjadi nanti?
Vino melepaskan pelukannya. "Kita pulang ya. Istirahat dulu sebelum nanti malem kamu nyanyi."
Aku mengangguk setuju dan kita pun beranjak pulang. Sesampainya di kost-an, ponsel Vino berbunyi. Sempat terlihat nama di layar ponselnya.
'PAPA'
-----