Vino mengangkat teleponnya sembari berjalan keluar kamar. Aku perhatikan wajahnya sangat serius tapi aku tahu dia sedang menahan emosinya.
Setelah menutup teleponnya, Vino kembali masuk lalu duduk disampingku yang sedang menonton TV. "Lun... Apa kamu siap bertemu orang tuaku?" tanya Vino.
Akhirnya hari itu tiba. Aku harus mengarungi badai ini untuk bisa bersama Vino. Kamu bisa, Lun! Just be your self. "Aku gak tau bisa diterima atau gak sama orang tuamu, Bang. Dengan semua perbedaan kita, aku harus siap menghadapinya. I will fight for you!" balasku.
"Kamu mungkin akan terluka. Tapi aku gak akan melepasmu. Walau mungkin aku akan diusir dari keluarga Jayabarata, aku gak akan menyesal!" ungkap Vino.
"Bang..., aku gak pernah melihatmu karena nama belakangmu. Aku cinta kamu karena pribadimu. Jika nanti kamu bukan lagi seorang Jayabarata, tak apa. Selama kamu bisa jadi diri sendiri. Selama kamu bahagia sama aku, itu jadi kebahagiaanku juga. Uang bisa di cari, Bang. Aku tau kamu bisa. Jadi kita harus saling menguatkan ya, gak boleh ada yang menyerah!" ujarku sambil menatapnya.
"Minggu ini kita ke Jakarta. Kamu bisa ijin 'kan sama Doni?" tanya Vino.
"Iya. Nanti aku bilang sama kang Doni."
-----
Selepas maghrib aku pun bersiap untuk bekerja. Vino sedang asik menonton TV dengan santai.
"Sayang..., bentar lagi aku selesai. Sebelum ke PUB, kita makan dulu. Tadi, kan, cuman makan siang aja." pintaku.
"Boleh. Aku juga laper. Mau makan dimana?" tanya Vino.
"Di Ciwalk aja. Biar gak usah jalan lagi. Langsung masuk PUB nantinya." jawabku sambil membereskan barang yang harus dibawa. Dia pun mengangguk. Band-ku memang sedang menjadi reguler band di salah satu PUB di Ciwalk. Disana juga banyak pilihan tempat makan, jadi menghemat waktu.
Sesampainya kami di Ciwalk,aku mengirim pesan di WAG. "Aku keur di Ra Cha... Lamun udah pada datang, kadieu makan heula. Sakalian aya nu rek diomongkeun." (Aku lagi di Ra Cha... Kalau udah pada datang, kesini makan dulu. Sekalian mau ada yang diomongin.)
Masih ada waktu satu setengah jam sebelum kami harus bekerja. Mereka juga tinggal tak jauh disekitaran sini. Jadi tak harus nunggu lama, semua sudah berkumpul di tempat makan. Aku pun mulai menjelaskan, "Gini bro n sist... Abang, kan, mau buka clothing line tuh di Dago. Nah, kita ditawarin Abang buat jadi model katalognya. Fee-nya lumayanlah bisa buat cicil motor, hahaha..."
Seketika wajah mereka ceria. "Yang bener, Bang. Kojek jadi fotomodel ini? Terpampang nyata!" ucap Kojek dengan ekspresi konyol.
"Kapan Bang pemotretannya? Aku mau bikin status di sss. Coming soon... Jody sang Basist alih profesi jadi model!" ujar Jody sambil menyuap makanan yang sudah dua kali dia pesan. Dia memang doyan makan tapi tak pernah gemuk. Dia kalau sudah di atas panggung itu energik, soulmate banget sama Kojek. Sama-sama kayak cacing kepanasan.
"Kasih tau jadwal kalian kapan kosongnya! Nanti kita atur waktu." balas Vino sambil tersenyum.
" Owh iya, Don. Aku mau minta izin buat Luna gak nyanyi hari minggu ini. Bisa 'kan?" tanya Vino pada Doni.
"Boleh aja, Bang!" balas Doni.
"Iya, Kang. Aku mau ke Jakarta soalnya. Mau nemuin Big Boss. Do'ain gak Game Over, wkwkwkwk...!" ucapku sambil terkekeh.
"Wah, sist! Semangat... Aku mah yakin, moal bisa nolak kamu mah. Makhluk langka kayak kamu mah wajib dilestarikan soalnya. Menantu idaman." goda Maya padaku.
Yang lain saling menimpali menggodaku habis-habisan. Vino hanya tertawa mendengar celotehan teman-temanku.
---------
"Kita istirahat dulu, ya!" Vino memarkir mobilnya didalam area parkir di Rest Area KM 57.
Ya, hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana aku harus bertemu orangtua Vino. Sebelumnya, aku ijin dan minta do'a dari kakakku. Walau kami tidak serumah, aku sering meneleponnya. Dia orang yang tidak mau ikut campur masalah orang walaupun adiknya sendiri. Apapun keputusanku, dia selalu mendukungku. Apalagi ini masalah hati karena dia tahu adiknya sudah bisa menentukan sikap dan jalan apa yang ingin aku tempuh.
Kami masuk ke mini market. Dia membeli rokok, aku mengambil s**u kesukaanku dan roti sebagai cemilanku. Lumayan bisa menahan lapar, juga agar berenergi menghadapi Big Boss nanti. Vino membayarnya dan kami pun keluar. Dia menyalakan rokoknya setelah kami dapat tempat duduk . Aku duduk dihadapan dia sambil meminum s**u dingin yang lumayan membuat tenggerokanku adem di cuaca panas seperti sekarang ini.
"Are you ready, Non?" tanya Vino padaku.
"Aku deg-degan nih, Bang. Tapi aku harus pecaya diri. Cuman itu yang bisa aku lakuin." balasku sambil kembali menyeruput s**u dinginku.
"Just be yourself. Mamaku bakal jatuh cinta kok sama kamu. Aku yakin karena Mama selalu dukung apapun keputusanku. Owh ya,mungkin kamu bakalan ketemu adik perempuanku. Dia sih orangnya cuek, gak mau tahu. Hobinya traveling, makanya bisnis besar keluarga aku yang urus. Namanya Yasmin." ujar Vino padaku.
" Kok Abang baru cerita punya adik cewek. Beda berapa tahun usia kalian?" tanyaku.
"Beda lima tahun. Aku bukan gak cerita tapi belum. Kalau sekarang Abang kasih tahu, kan karena mau ketemu. Yang kamu harus luluhkan hatinya adalah Papaku karena Mama dan Yasmin selalu mendukung apapun yang aku lakukan." ucap Vino sembari mematikan rokoknya.
"Oke. Aku dah pantas 'kan pake baju ini buat ketemu keluarga Abang?" tanyaku cemas.
Vino tersenyum dan berkata, "You always beautyfull. Kamu bangun tidur aja cantik, walau banyak ilernya, hahahah!" Vino menggodaku.
"Biarin ileran. Kamu juga ngorok tetep aku cinta!" balasku tak mau kalah darinya.
Hari ini aku memakai long sleeve dress berwarna lilac bermotif bunga. Rambut panjangku hanya kusematkan jepit mutiara di satu sisi. Kubiarkan rambut ikalku ini terurai. Aku tak suka memakai aksesoris yang berlebihan. Aku merasa penampilanku cukup sopan. And this is who i am.
Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuanya. Kunyalakan audio tape dan kali ini penyiar radio sedang mengudara. Lalu mulai diputar lagu "Pernah Muda " yang dinyanyikan BCL.
-----
Saat memasuki kawasan Pantai Indah Kapuk, aku semakin cemas. Pikiranku berkecamuk. Jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba Vino menggenggam tanganku.
"Tarik nafas, Non! Kamu, kan, cewek pemberani dan mandiri. I trust you can face this!" Vino mencoba menenangkanku.
Aku pun menenangkan diri. Akhirnya kami tiba dirumah yang megah dan mewah. Ah, tak usah ku tuliskan bagaimana bentuknya. Aku belum penah memasuki rumah semewah dan semegah ini. Didepan pintu, ternyata mamanya menyambut kami. Vino langsung memberikan pelukan padanya dan mengecup pipinya. He so adorable. I know he's a family man. Lalu dia mengenalkanku pada mamanya.
"Ini Luna, Ma! Cantik kan?" ujarnya seraya tersenyum.
Aku mengulurkan tangan sambil sedikit membungkuk, "Luna...,"
"Ayo masuk! Papa sudah menunggu di ruang makan." Tangannya tak lepas dari tanganku, aku di giringnya masuk. Wanita yang hangat. Diusianya yang tidak muda, Mamanya Vino terlihat elegan. Rambut sebahu, memakai midi dress berwarna salem dan anting berlian kecil. Sangat sederhana tanpa aksesoris berlebihan. Dijemarinya pun, ia hanya memakai cincin kawinnya.
Ku lihat Papanya sedang berdiri didepan jendela. Memandangi halaman belakang rumahnya yang juga luas. Lelaki yang hampir seluruh rambutnya berubah menjadi putih tampak memakai kemeja biru muda, rapih dan masih terbilang gagah untuk umurnya yang diatas enam puluh tahun. Aku tahu darimana ketampanan Vino didapat.
"Pa, kenalin. Ini, Luna!" seraya mengantarku untuk lebih dekat dengan papanya.
"Luna," ujarku seraya menjulurkan tangan dan sedikit membungkuk.
Lalu mamanya mempersilahkanku duduk. Tak lama adik perempuannya datang bergabung. "Hai.. Kenalin, aku Yasmin!" Kami pun berjabat tangan. Dia duduk di sisi kananku dan Vino di sisi kiriku. Berhadapan dengan orang tuanya.
Papanya mulai bertanya, "Kamu kuliah?"
"Gak, Om. Saya nge-band. Saya ketemu bang Vino di PUB tempat saya dan band saya bermain." tegasku.
Vino tidak berkata apapun. Dia membiarkanku berjuang sendiri. Dia tahu, aku harus mengutarakan jati diriku terlebih dahulu.
"Wah, suara lo bagus dong, ya?" Yasmin mencoba mencairkan suasana.
"Masih kalah sama Agmes Monica, Ka!" balasku.
"Berapa usiamu sekarang?" Papanya bertanya kembali.
"Dua puluh dua tahun, Om." jawabku singkat.
"Jadi kamu beda sepuluh tahun sama Vino? Apa gak risih? Orang-orang pasti mikirnya kamu sama om-om. Gak malu?" cecar Papanya Vino.
Aku pun menjawab pertanyaan Papanya, "Pertanyaan itu juga muncul di pikiranku, Om. Tapi Bang Vino bilang,
hati itu tempatnya perasaan berkembang tanpa logika dan saat saya menerima Bang Vino jadi pasangan saya, begitu juga harus bisa menerima ujian dan cemoohannya. Saya sudah siap."
"Apa kata orang tua kamu tentang ini?" tanya Papanya sambil mengernyitkan dahi.
"Saya yatim piatu, Om. Papa Meninggal umur saya 2 tahun. Mama meninggal 3 tahun yang lalu. Saya punya kakak laki-laki satu, sudah berkeluarga. Belum pernah bertemu Bang Vino. Tapi dia selalu mendukung apapun keputusan saya. Karena dia tau, adiknya bisa menjaga dirinya sendiri." jawabku dengan lugas.
"Kenapa kamu mau sama Vino? Apa kamu tahu, Vino itu sudah punya tunangan?"
Berapa lagi pertanyaan dan interogasi ini berlangsung. Tapi aku gakkan menyerah. Aku jawab semua pertanyaannya tanpa berfikir panjang. Aku pun berkata, "Sudah tahu, Om. Saya sudah terima tamparan dari Ka Shela. Tapi saya tidak merebut Bang Vino dari siapapun. Bang Vino menentukan sikapnya dan menghargai saya. Itu kenapa dia membatalkan pertunangannya yang dia juga tidak sukai."
Vino tersenyum mendengar perkataanku pada Papanya. Mamanya dan Yasmin hanya mendengarkan percakapan kami berdua tanpa berkata apa-apa.
"Maaf atas kelancangan saya, Om. Saya tidak melihat Bang Vino karena nama belakangnya. Saya mencintai Bang Vino karna pribadinya. Walau saya bukan perempuan berpendidikan tinggi tapi saya tau bagaimana bersikap. Saya hanya ingin Bang Vino bahagia. Dia bilang, sayalah yang bisa membuatnya tenang dan menjadi diri sendiri. Saya berjanji untuk memperjuangkan hubungan ini dengan Bang Vino dengan konsekuensi apapun. Tapi saya tetap menghargai keputusan Om sebagai Papanya untuk menyukai saya atau tidak, itu hak Om. Yang hanya bisa saya ubah dengan ketulusan saya ini. Saya gak akan melakukan hal lain selain menjadi diri sendiri dihadapan keluarga Bang Vino!" tegasku pada Papanya.
Tangan Vino meraih tanganku. Dia menggenggam tanganku diatas meja makan yang besar ini. Aku tahu papanya melihat sinis padaku, seperti menahan amarah. Kami melakukannya sambil melahap makan siang super mewah ini. Aku takut Papanya tersedak mendengar perkataanku tadi, hahahahah...
Tidak ada pertanyaan lagi sampai kami menyelesaikan makan siang kami. Setelah itu, Papanya masuk kekamar diikuti Vino dan Mamanya. Aku diajak Yasmin bersantai dihalaman belakang. Sambil menikmati angin dari arah laut dan harum dari bunga yang sedang bermekaran, aku dan Yasmin berbincang.
"Baru kali ini, gw liat Abang gw happy kayak gini. Baru kali ini juga ada cewek yang gak munafik depan Papa. Yang sok baik, ayu, dll. Padahal gw tau aslinya gimana, hahahaha... Salut. Meskipun lo jauh lebih muda dari gw dan Abang tapi gw acungin jempol. Gak salah Bang Vino pilih lo." ucap perempuan dengan kulit eksotis karena sering terpapar sinar matahari. Seperti yang Vino bilang, dia senang traveling. Lebih berjiwa bebas. Karena anak perempuan stigmanya tidak harus meneruskan kerajaan bisnis keluarga. Dengan mini dress berwarna marun membalut tubuhnya yang ideal, rambut pendek, membuat dia terlihat lebih muda, seperti seumuranku.
"Ka Yasmin tahu 'kan kalo Bang Vino tertekan? Gak bisa jadi dirinya sendiri. Aku kadang kasian saat tahu bahkan dia tidak nyaman harus berpakaian rapih, kaku karena harus bekerja dan menjaga imagenya. Padahal pribadinya sangat hangat dan simple." jelasku padanya.
"I know. Kadang gw suka suruh dia kabur aja, hahahah... Tapi yah, anak laki-laki yang harus menjalankan bisnis. Gw sebetulnya bukan gak mau tapi Papa juga lebih percaya kalo Abang yang pegang. Gw hanya memegang bisnis kecil yang gak mengikat. Karena gw lebih suka traveling. Sejak umur 25 tahun, Abang harus sudah kerja. Mengejar lulus kuliah dibidang bisnis, di training langsung oleh Papa. Pokoknya dipersiapkan dan Abang gak boleh nolak. Gw sama Mama yang kasian liat Abang. Papa itu keras. Tapi hanya keras dimulut aja, berambisi. Tapi dia bukan tipikal orang kasar kok, biasanya nanti lama-lama luluh juga. By the way, gw lebih setuju Abang sama lo dibanding sama Shela. She's a man eater. Lo gakkan ngecewain Abang gw 'kan? Gw sih yakin itu." ujar Yasmin sambil mencium satu tangkai mawar putih yang sedang merekah saat itu.
"Aku selalu memegang komitmen. Sebelum nerima Abang, berhari-hari aku harus bertanya sama diri sendiri. Kalau belum sanggup, aku gak akan terima bang Vino." jawabku.
-----
Sementara dikamar terjadi percakapan antara Vino dan papanya.
POV Vino
"Apa sih yang kamu liat dari Luna. Dia masih muda. Beda sepuluh tahun dari kamu. Penyanyi malam, gak kuliah, yatim piatu. Dia juga berani sama Papa. No manner!" ujar Papa dengan nada tinggi.
Aku pun membalas, "No manner sebelah mananya, Pa? She just answer your question and she's honest. Dia gak berpura-pura demi diliat baik sama Papa. Jangan liat usia mudanya yang jauh dibawah aku, Pa. She so mature. Papa belum kenal dia. Dia mandiri, bisa jaga diri dan kehormatannya. Emang dia penyanyi tapi bukan wanita malam. Belum pernah aku liat dia mabuk. Dia jauh lebih terhormat daripada Shela, Pa. Hanya karena apa? Harta? Apa gak cukup harta kita selama ini, Pa? Apa Papa gak mau liat aku bahagia? Selama ini aku nurutin kemauan Papa walau itu bukan keinginanku. Aku akan lepasin semuanya, Pa. Aku cuman ingin bahagia. Dan itu hanya dengan Luna!"
Mama mengelus punggungku. Seorang ibu tahu apa yang dirasakan anaknya selama ini.
"Pa, anak kita cuman dua, Vino dan Yasmin. Selama iniipun kita gak pernah berkesusahan. Aku beruntung bisa jadi istrimu, Pa. Kamu selalu memberikan apapun yang aku mau. Kerasmu pada Vino hanya akan bikin Vino ingin lepas dari kita. Aku gakkan sanggup kehilangan Vino, Pa!" ucap Mama dengan lirih.
Sambil terisak Mama membujuk agar Papa mau menerima Luna. Papa terdiam, memikirkan semua yang terjadi. Harga dirinya akan dipertaruhkan dihadapan keluarga Shela. Tapi dia juga tidak mungkin kehilangan anak lelakinya.
"Papa akan membatalkan pertunanganmu dengan Shela. Biar harga diri Papa hilang didepan keluarganya tapi Papa gak mau kehilangan kamu. Papa belum yakin sama keputusan kamu berpacaran dengan Luna. Kamu, kan baru kenal dia belum lama ini. Menantu Papa juga harus bisa Papa banggakan nantinya. Kalau dia hanya penyanyi PUB, apa yang harus Papa bilang sama keluarga besar dan juga kolega Papa?" ujar Papa dengan nada yang lebih tenang.
"Aku akan buktikan ke Papa, kalau Luna adalah wanita yang pantas buatku.Just wait n see!" tegasku.
Dan aku pun keluar kamar untuk mencari Luna dan Yasmin.
-----
POV Luna
Akhirnya Vino menghampiri kami di taman belakang.
"Lun, kita ke pantai yuk! Gak jauh dari sini. Kita ngopi aja. Yasmin, lo mau ikut?" ajak Vino.
"Ogah gw jadi obat nyamuk. Sono berdua aja. Gw mau kangen-kangenan sama Mama. Udah seminggu gak ketemu. Soalnya baru balik dari Raja Ampat." ujar Yasmin sambil bergelayut manja.
"Pantesan dekil. Sono berendem pake pemutih. Tuh kulit nambah item aja." godanya pada Yasmin.
"Sialan lo, Bang. Kulit gw eksotis, bukan dekil. Dah pergi sono!" ujar Yasmin.
Aku pun pergi dengan Vino. Sambil menikmati Mojito dingin dan ditemani lagu-lagu Jazz, aku menikmati suasana menjelang sore ini.
"Lun... Papa setuju membatalkan pertunanganku dengan Shela." ujarnya sambil menatapku.
"Beneran ,Bang? Berarti betul kata Ka Yasmin. Papa itu bukan orang keras atau kasar. Hanya berambisi...Mmmmhhh... Pasti ada tapinya, ya?" tanyaku dengan wajah penasaran.
"Ya Papa sih bilang, seenggaknya kamu harus bisa dibanggakan kalau mau jadi menantu Papa. Bukan sebatas vocalist band."
Aku mengernyitkan dahi, "Menantu? Cepet amat bilang menantu, hahahah... Bikin deg-deg ser aja. Skillku cuman nyanyi Bang, aku cuman punya suaraku."
Vino mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan semangat, "Aku punya ide. Aku bakal kenalin produser sama kamu. Aku pernah bilang 'kan, You should have your own album. Aku percaya kamu bisa."
Siapa sih yang gak mau jadi terkenal. Kalau emang sampai aku bisa jadi penyanyi terkenal. Happy banget, impianku itu. Dengan senyum lebar aku berkata, "Beneran, Bang? Makasih sayang, semoga jalan kita dipermudah, ya. Aku gakkan ngecewain kamu."
Aku pun kembali menikmati minumanku ditemani lagu " Don't Know Why" dari Norah Jones. Sore ini semakin temaram. Matahari kian tenggelam, menciptakan suasana yang makin romantis.
Aku percaya bahwa badaiku nanti akan lebih besar lagi. Tapi pelangi akan datang setelah badai itu pergi. Seperti hari ini, aku baru saja melangkah dalam hujan lebat penuh petir. Namun di ujung senja, aku menikmati lembayung yang menenangkan hati.
-----