“Apa kalian ingat orang-orang di penginapan yang terkejut karena suhu kolam renang turun drastis secara mendadak?” Zachary bertanya.
“Aku ingat, pagi itu ramai sekali di sekitar kolam renang penginapan,” jawab Siria.
“Di sanalah aku pertama kali menemukan sihir es milikku. Sera juga ada di sana waktu itu.”
“Hei, tunggu. Untuk apa kalian berduaan di kolam renang? Terlebih itu malam hari,” tanya Julian yang sudah memicingkan matanya.
Bola mata Zachary seolah membesar. Tidak ingin asa kesalahpahaman, ia langsung membantah pertanyaan dari Julian. “Tidak, kami tidak melakukan apa-apa. Aku hanya tengah berenang saat itu, mencari angin malam. Lalu, Sera datang mengucapkan terima kasih kepadaku.” Zachary menjelaskan.
“Berterima kasih untuk apa? Ayolah Kak, jika berbicara jangan setengah-setengah.” Hans mengeluh kepada kakaknya.
“Emm, aku membayarkan hutang Sera kepada Julian.”
“Kau serius?” tanya Hans yang masih tidak percaya dengan pernyataan kakaknya.
Julian tersenyum tipis. “Astaga, jadi karena itu. Syukurlah kau bisa menemukan sihirmu yang baru. Aku yakin sihirmu itu akan berguna dalam pertarungan-pertarungan berikutnya,” ujar Julian.
Beberapa saat setelahnya Zachary berdeham. “Semuanya, dengarkan aku ....”
Dan yang lainnya langsung menatapi Zachary dengan amat serius bersiap untuk menyimak perkataannya dengan baik. “Ada apa?” tanya Redd.
“... kita sudah berada di dalam permasalahan ini, untuk mencari tahu siapa dalang dibalik peristiwa yang masih janggal apa penyebabnya. Yang akan terjadi, maka kita harus menghadapinya apa pun itu.”
“Kita semua menempatkan diri kita masing-masing di dalam permasalahan ini. Jadi, risiko yang akan terjadi pun harus kita hadapi.” Julian berkata.
Hans menghela napasnya. “Jikalau bersama, aku yakin kita bisa mengusut tuntas siapa dalang di balik semua ini.”
“Jangan melupakan waktu yang terus berjalan. Kita tidak bisa terus berdiam menunggu waktu habis,” ucap Zachary.
Siria sedikit menundukkan kepalanya. “Berbicara tentang waktu, tidak menutup kemungkinan untuk para pelaku yang kini tengah bersiap untuk target selanjutnya. Kita harus tetap waspada juga,” tutur Siria.
“Terlebih lagi bisa siapa saja yang menjadi target selanjutnya,” kata Redd.
“Apakah orang-orang yang berada di sekolah bisa menjadi korban?” tanya Sera.
“Seharusnya tidak karena selama ini yang mereka incar benar-benar ahli sihir dari sekolah kita saja.” Zachary menjawabnya.
“Oh ya, Julian. Menurutmu bagaimana mereka akan melancarkan aksi mereka selanjutnya?” Kini Redd yang bertanya.
“Sepertinya masih dengan metode yang sama. Menunggu lengah dan langsung membawanya. Hanya itu cara yang paling mungkin untuk dilakukan,” jawab Julian.
Malam dengan bulan yang samar tertutup awan bersama bintang yang jarang terus berjalan. Mereka menghabiskan waktu di dalam kamar Zachary hingga hampir tengah malam. Minuman telah habis begitu pun dengan camilan yang ada, hanya menyisakan bungkusnya saja. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang akan mereka bicarakan. Julian dan Redd keluar dari kamar Zachary diikuti oleh Sera dan Siria. Sedikit aneh ketika melihat Sera dan Siria yang hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai ke kamarnya yang memang dekat dengan kamar Zachary dan Hans.
“Selamat malam, sampai jumpa esok hari!” ucap Hans.
“Hei, jangan terlalu berisik. Ingat ini sudah hampir tengah malam.” Zachary memperingati adiknya. Setelah itu, Zachary dan Hans masuk kembali ke kamarnya.
“Apakah kau sudah menemukan hal lainnya dari buku ‘The Nexus’ itu, Hans?” tanya Zachary.
“Umm, satu halaman baru yang kupelajari. Ada seperti tulisan sihir yang tidak dapat kuartikan sama sekali. Sepertinya itu merupakan mantra sihir yang amat kuat, tetapi ada catatan di bagian bawahnya.”
“Maksudmu seperti catatan kaki begitu?”
“Ya, semacam itu. Intinya dalam catatan tersebut mengatakan negara Dhenst memiliki catatan buruk di masa lalu. Dari mulai peperangan, politik, hingga k*******n. Intinya negara ini di masa lalu bukanlah negara yang baik-baik.”
“Mungkin itu hanya terjadi pada masa lalu saja. Buktinya saat ini negara kita bisa dibilang lebih maju ketimbang negara tetangga yang lainnya. Aku mulai meragukan isi dari buku tersebut,” ujar Zachary yang tampaknya mulai meragukan isi dari buku tersebut.
“Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Namun, di bagian paling bawahnya lagi memiliki tambahan. ‘Masa silih berganti, catatan hitam ditutupi, semua orang yang berada di Dhenst akan menerima balasannya. Entah balasan nyawa atau balasan sengsara.’ Bukankah itu cukup mengerikan?”
Zachary terdiam sesaat lalu ia menelan ludahnya sendiri. “Astaga, saat mendengarnya bahkan aku merinding. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan negara ini di masa lampau.”
“Ya ... karena belum begitu jelas apa yang dimaksudkan, lebih baik kita fokus dengan permasalahan yang ada di hadapan kita. Ahli sihir yang menghilang dan beberapa ditemukan tanpa nyawa.”
“Kita harus bisa mengusut tuntas semuanya!”
Malam pun terus berjalan. Semua sudah begitu sunyi entah di dalam penginapan atau di luar. Terlihat lampu-lampu area warga biasa yang sebagian menyala menghiasi setiap sudut bangunan. Tampak pula area pembangunan yang dilengkapi lampu-lampu sehingga dapat terlihat ketika malam hari dari kejauhan.
Dinginnya malam tak akan dapat membekukan Zachary yang lengannya mulai diselimuti serbuk es. Entah ada apa dan apa yang tengah terjadi. Semuanya hanya berjalan begitu saja tanpa menunjukkan setapak jalan pun.