Zachary berdiri di atas atap bangunan tinggi. Iaberada di tengah kota yang sangat maju dari segi pembangunan ataupun teknologi. Walaupun hampir gelap, semua orang di sana juga terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Banyak layar yang menampilkan gambar-gambar di antara gedung-gedung. Ia melihat bangunan-bangunan tinggi berdiri megah dengan arsitektur menakjubkan. Jika dilihat sekilas pun tempat yang ia datangi kini jauh berbeda dari tempat tinggalnya di area keluarga rendahan.
“Sebenarnya, tempat apa ini? Banyak sekali hal-hal yang belum aku lihat sama sekali. Seperti sebuah keajaiban, bangunan tinggi pun di mana-mana!”
Setelahnya, ia melihat rangkaian besi seperti burung yang mengudara. Dengan kecepatan kilat rangkaian tersebut menjauh dan pada saat bersamaan membuat Zachary kebingungan.
“Tidak mungkin ... apakah ada sihir besi yang dapat menciptakan rangkaian seperti itu dan menerbangkannya?” Zachary bertanya-tanya.
Sepertinya Zachary ingin mencoba menggunakan sihir miliknya untuk meringankan tubuh dengan dilapisi sihir angin. Namun, usaha itu tidak berhasil. Ia juga merapalkan banyak mantra tetapi hasilnya nihil.
“Astaga, kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir sama sekali di sini?”
Zachary pun kembali melihat sekitarnya yang terus ramai dengan orang-orang berlalu-lalang. Semua orang terus bergerak seolah tak pernah berhenti.
Mendadak Zachary membuat ekspresi terkejut dengan kelopak matanya yang melebar. “Ya ampun, aku baru sadar! Di tempat ini tidak ada aliran sihir sama sekali. Ah ... aliran itu ada, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan terasa seperti aliran sihir yang jahat.”
Hal mengejutkan lainnya kembali datang. Orang-orang yang tadinya tampak sibuk dengan urusannya masing-masing kini berteriak sambil berlarian. Karena Zachary tengah berada di atas bangunan tinggi, ia dapat melihat batu raksasa diselimuti hawa panas yang bergerak dari atas langit dan segera menghantam permukaan.
“A- apa yang terjadi ... aku tidak tahu apa-apa dan kini seolah semuanya akan hancur,” gumam Zachary.
Booomm!
Zachary amat terkejut ketika batu raksasa yang baru saja ia lihat benar-benar menghantam permukaan dan ledakannya begitu besar. Kembali ia melihat ke atas langit dan batu-batu lainnya menyusul sudah seperti menunggu giliran.
Kini Zachary sudah seperti orang-orang lainnya yang berada di sana, panik dan tak tahu harus berbuat apa. Sekarang, dari jarak yang benar-benar jauh. Zachary melihat gelombang tsunami yang begitu tinggi yang dapat menghantam seluruh bangunan-bangunan tinggi yang ada.
“Apakah ini akhir dari dunia? Mau dilihat dari sisi mana pun tidak ada celah untuk dapat selamat. Aku hanya dapat pasrah ....”
Namun, seseorang tiba-tiba berteriak sangat kencang. “Zachary!”
Zachary terpejam dan ketika membuka matanya ia sudah kembali ke kamarnya di penginapan. Lalu yang berteriak itu adalah Hans.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Hans.
Zachary masih terengah-engah karena baru saja bangun. Ia perlu beberapa saat hingga akhirnya dapat menenangkan diri.
“Sudah mendingan?” Sekali lagi Hans bertanya.
“M- memangnya aku kenapa?”
“Jangan bertanya kepadaku, kau sepertinya baru saja mengalami mimpi yang begitu buruk,” ujar Hans.
“Astaga, jadi itu hanya sebuah mimpi. Tapi untunglah, mimpi itu sangat menyeramkan.”
“Mimpi seperti apa itu? Sampai-sampai kau membuatku khawatir.”
“Itu seperti akhir dari kehidupan. Kehancuran datang ketika hal menakjubkan berdiri tegak. Intinya mimpi itu sangat menakutkan.”
“Sekarang lebih baik kau membersihkan tubuhmu. Lihat itu, berkeringat tetapi ada serbuk es di mana-mana. Aku heran mengapa itu dapat terjadi.”
“Serbuk es ini bagaikan kerikil yang dingin, tetapi jika disentuh seperti langsung mencair. Sudahlah, aku ingin membersihkan tubuhku dulu.”
“Jangan terlalu lama, tadi Julian menghubungiku melalui telepon dan mengajak kita semua untuk bertemu di suatu tempat makan,” kata Hans.
“Ah, baiklah. Aku tidak akan lama.”
Setelahnya Zachary langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Zachary di kamar mandi, Hans masih saja membaca buku yang ditemukan dari ruangan rahasia perpustakaan sekolah. Bagaikan tiada hari tanpa membaca buku itu untuk Hans.
Beberapa saat berlalu, kini Zachary dan Hans sudah siap untuk pergi. Mereka keluar dari kamarnya dan langsung mengunci pintu. Sebuah kebetulan saat mereka keluar, Sera dan Siria pun tengah bersiap untuk pergi.
“Hai, apa kalian ingin mendatangi Julian juga?” tanya Siria dengan senyuman.
“Ya, kami juga akan pergi ke sana.” Zachary menjawabnya dengan wajah yang datar saja.
“Apa bisa kita berangkat bersama?” tanya Sera.
“Tentu, kenapa tidak?” Zachary berkata.
“Kalau begitu, ayo kita pergi!” seru Hans.
Mereka berjalan bersama di pagi hari, di tengah lingkungan area warga biasa. Semuanya sama dan sepertinya akan terus begitu. Hanya pedagang dan pembeli atau pekerja yang berlalu-lalang lalang mendominasi jalanan area ini.
“Siria, apakah benar tempat kita bertemu itu di sebuah taman bunga?” tanya Hans sambil mereka berjalan bersama.
Siria pun mengangguk. “Dari yang kudengar sendiri seperti itu. Aku sudah mencatat letak tempatnya. Dan seharusnya tempat itu sudah tidak jauh dari sini,” ujar Siria sambil menunjukkan sepotong kertas yang berisi tempat pertemuan mereka dengan Julian yang pastinya bersama Redd.
“Baiklah kalau begitu, mohon bantuannya untuk menunjukkan jalan,” ucap Hans. Semuanya pun tertawa di saat yang bersamaan.