Zachary, Hans, Sera dan Siria masih terus berjalan mencari taman yang dimaksudkan oleh Julian. Mereka tidak kunjung menemukan tempatnya karena jalan yang mereka lewati seperti dikelilingi taman yang tak ada habisnya.
“Siria, kau benar-benar membaca alamat yang diberikan Julian, kan?” tanya Zachary.
“Tentu saja, sudah jelas aku sedang memegangnya.” Siria menunjukkan kertas berisi alamatnya tepat di depan wajah Zachary.
“Apa kau yakin tempatnya tidak salah?” Hans ikut bertanya-tanya.
“Percayalah padaku memang tempat pertemuannya ada di dekat sini. Namun, aku tidak menduga jika tempat ini merupakan area terbuka dengan banyak taman di sekelilingnya.”
“Tidak salah juga, sejak tadi kita memang hanya melihat taman tanpa henti. Yang membuat bingung adalah nama taman yang diberikan Julian tidak kunjung kita temukan,” ujar Sera.
Mereka terus berjalan tanpa henti untuk menemukan tempat yang dituju. Sepertinya mereka tidak akan berhenti sebelum benar-benar menemukannya. Hingga pada akhirnya mereka menemukan sebuah taman yang namanya cocok dengan yang tertulis pada potongan kertas milik Siria.
“Apakah kita sudah sampai di tempatnya?” tanya Hans sambil menghempaskan napasnya.
“Ya, ini sudah benar tempatnya.” Siria mengkonfirmasi nama tempatnya. “Sudah sama seperti yang tertulis di kertasku.”
“Akhirnya kita sampai juga. Namun, bukankah tempatnya agak berbeda daripada taman-taman lainnya yang sepanjang jalan kita lewati tadi?” tanya Zachary.
“Ya ... ini sangat-sangat berbeda,” ujar Hans.
Taman yang dituju ternyata memiliki dinding pembatas yang cukup tinggi dengan gerbang tertutup, tetapi tanpa atap yang menutupi langit-langit.
“Ayo kita masuk, aku akan mengetuk pintunya.” Zachary berinisiatif sendiri.
Zachary mendekati pintu tersebut lalu mengetuknya beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan ada seorang yang membukakannya.
“Apakah empat orang dengan nama Zachary, Hans, Sera dan Siria?” tanya orang yang membukakan pintu tersebut.
Zachary mengangguk. “Betul, itu kami.”
“Baik, silakan masuk. Tuan Julian dan Redd sudah menunggu di dalam.”
“Teri kasih,” ujar Sera yang mengikuti Zachary dan yang lainnya memasuki taman.
Mereka akhirnya menemukan Julian yang tengah duduk sambil menikmati minuman. Lalu mereka ikut duduk pula mengelilingi satu meja yang sama.
“Astaga, mengapa kalian lama sekali? Sampai-sampai aku sudah memegang gelas keduaku.” Julian bertanya.
“Kami kesulitan menemukan tempat ini karena banyak sekali taman-taman di sekitar sini.” Siria berterus terang tentang apa yang terjadi kepada Julian.
“Apa kalian tidak melihat orang-orang yang menjaga setiap pintu taman? Tanyakan saja alamatnya pada mereka, tidak mungkin mereka tidak tahu,” ujar Julian.
Zachary dan yang lainnya malah saling menatap satu sama lain.
“Ya ... sepertinya kami melewatkan hal tersebut. Lagi pula kami sudah berada di sini. Jadi untuk apa memikirkan hal itu,” ujar Hans.
“Minumlah terlebih dahulu. Minumannya hampir tak dingin lagi,” kata Redd.
“Omong-omong apa yang ingin dibicarakan sampai membawa kami ke tempat ini?” tanya Zachary.
“Mudahnya kita hanya mengobrol santai. Lalu, aku sudah memesankan tiket kepulangan kita besok pagi.” Julian berkata. “Apa salahnya kita bersantai sejenak untuk satu hari? Aku juga merasakan lelah terus memikirkan segala permasalahan setiap harinya,” sambungnya.
“Astaga, apakah jadwal pulang kita esok hari?” tanya Hans.
“Jika sesuai tanggal seperti itu, besok kita harus meninggalkan penginapan. Aku hampir lupa akan hal itu,” ujar Siria.
“Ya ampun, tidak terasa sudah cukup lama kita berada di sini,” kata Sera.
Zachary menghela napasnya. “Baiklah, mari beristirahat dengan menikmati hari ini. Sebelumnya, terima kasih Julian sudah mengajak kami ke tempat ini,” tutur Zachary.
Julian tersenyum tipis. “Sama-sama, entah mengapa saat ini seperti kurang jika tidak ada kalian.” Julian berkata.
“Tunggu, apa aku tidak salah dengar?” tanya Hans dan setelahnya semua tertawa bersama.