Beberapa saat setelahnya, seorang pelayan hadir membawakan camilan dalam beberapa piring. Bukan camilan biasa, camilannya terlihat sangat mahal. Bisa dilihat dari salah satu piring saja yang berisikan roti dengan daging yang amat penuh di atasnya. Melihat dari ekspresi Zachary dan yang lainnya, aroma dari semua camilan sepertinya sangat lezat.
“Wah, semuanya tampak begitu lezat!” Seperti biasanya Sera yang paling semangat Sola makanan.
“Ayo silakan dimakan. Maaf aku hanya bisa memberikan camilan,” ujar Julian.
“Terima kasih banyak ya, Julian.” Zachary tersenyum ketika mengatakannya.
“Omong-omong Julian, sebelumnya terima kasih dan maaf jika aku terkesan tidak sopan. Bukankah harga tempat dan makanan di sini cukup mahal?” tanya Hans dengan suara yang pelan.
Julian menggeleng. “Jujur saja kali ini aku tidak perlu membayar banyak karena tempat ini milik adikku,” bebernya.
Hans mengangguk pelan. “Ahh ternyata seperti itu, baiklah.”
Semuanya malah terdiam tanpa alasan untuk beberapa saat. Redd yang langsung menyadari hal tersebut tidak tinggal diam.
“Hei, mengapa suasana di sini jadi canggung sekali? Ayolah, apa kalian tidak ingin menikmati camilannya juga?” Pertanyaan Redd tersebut berhasil memecahkan suasana yang sebelumnya canggung.
“Bolehkah aku mencicipi camilannya lebih dulu?” tanya Sera.
“Tentu saja. Tidak ada seorang pun yang bisa melarangmu.” Julian berkata.
“Julian, berarti adikmu sangat hebat ya sampai-sampai memiliki tempat di area warga biasa,” ujar Zachary.
“Begitulah dia, ia mengatakan kepadaku tempat yang ia miliki bisa digunakan sewaktu-waktu ketika ia pergi meninggalkan rumah.” Julian menanggapi.
“Semuanya, bersiap-siap untuk esok hari. Kita perlu mengemasi barang-barang kita malam ini karena esok kereta datang di pagi hari.”
“Padahal sepertinya baru kemarin kita sampai di tempat ini, tetapi besok sudah waktunya untuk meninggalkan penginapan,” tutur Zachary.
“Bukankah sama seperti yang kau katakan kemarin?” Mendadak Hans bertanya seperti itu.
“Eh, aku? Aku mengatakan hal apa memangnya?” Zachary menjadi bingung akibat pertanyaan Hans.
“Waktu terus berjalan dan kita tidak bisa hanya diam sampai waktu habis. Entah benar atau salah seingatku kau berkata seperti itu kemarin,” ujar Hans.
“Aku ingat Hans mengatakannya. Itu tidak salah, kita harus terus bergerak atau kita akan tertinggal lebih jauh daripada yang lainnya.” Redd berkata.
Zachary menghela napasnya dalam-dalam. “Apakah takdir kita memang seperti ini? Mencari tahu dalang dibalik suatu kejadian yang pada dasarnya berbahaya.”
“Hei, mengapa kau berbicara seperti itu?” tanya Siria.
“Aku hanya tidak tahu apakah yang kita lakukan benar atau salah. Sepertinya aku sedang di tengah fase ragu untuk memutuskan suatu hal,” jawab Zachary yang tampaknya benar-benar berada di dalam fase ragu tersebut.
“Hei, ada apa dengan Zachary yang kukenal? Tidak pernah rasanya aku melihat Zachary yang seperti ini. Ayolah kawan, kembalikan semangatmu seperti semula. Bukankah kau yang paling optimis bahwa kita dapat menyelesaikan semua ini?” Perkataan Julian itu membuat Zachary kembali tersenyum.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka satu sama lain. Tidak terasa waktu ternyata sudah menunjukkan petang dan gelap hampir tiba. Camilan di atas piring pun sudah habis bersih tak bersisa.
Semuanya terlihat keluar dari taman milik adik Julian tersebut. Mereka kini berjalan bersama kembali ke arah penginapan. Tampak senyuman yang begitu hangat pada wajah mereka. Cocok sekali dengan langit senja yang dilukis awan.
Setibanya mereka di penginapan, seperti biasa Tasa langsung menyapa mereka. “Hai kalian semua apa kabar? Dari yang kulihat kalian baru saja kembali dari suatu tempat.”
“Kami hanya pergi untuk makan-makan dan mengobrol seperti biasa, tidak lebih.” Siria mengatakan hal itu pada Tasa.
“Mengapa tidak kalian lakukan di lantai atas penginapan? Apa karena terlalu ramai?” tanya Tasa.
“Salah satunya itu dan kami sepertinya butuh suasana yang berbeda untuk membicarakan sesuatu,” ujar Julian.
“Baiklah kalau begitu, seingatku jadwal kalian menginap di sini berakhir besok. Sangat sedih rasanya harus berpisah, tetapi aku akan mengingatkan untuk mengemasi barang-barang kalian dan jangan sampai ada yang tertinggal.”
Siria tanpa mengatakan apa pun langsung memeluk Tasa. “Aku berjanji kita akan bertemu lagi!”
“Aku berharap kau bisa memenuhi janjimu. Kalau begitu, aku permisi terlebih dahulu. Tadi atasanku sempat memanggil untuk menanyakan data kamar. Sampai jumpa semuanya!” pungkas Tasa yang setelah itu langsung pergi.
Zachary dan yang lainnya pun langsung pergi menuju kamarnya masing-masing. Gelap telah tiba dan semuanya kini tengah mengemasi barang-barangnya masing-masing di kamar. Entah mengapa langit malam kali ini sangat indah karena hanya sedikit awan yang menutupi bintang-bintang.