“Lo aja yang terlalu perfeksionis,” sindir Stella dan menatap aneh Angkasa yang sedang merapikan buku-buku di perpustakaan Kingdom.
“Lo bilang ginian rapi? Tidak, ini sangat menganggu, bagaimana bisa mereka menumpukkan buku tidak sesuai dengan judul, abjad, dan bahkan jenisnya? s**l, ini terlalu berantakan.” Ucapan Angkasa membuat Nayla yang awalnya tidak tertarik menjadi menatap dengan menyelidiki teman satunya itu.
“Sejak kapan lo peduli hal-hal kecil Sa?” Nayla mencoba menguloang ingatan tentang tingkah Angkasa, ia tidak ingat bahwa Angkasa merupakan sosok yang seperpeksionis itu. Bagaimana mungkin Nayla melupakannya?
“Nggak penting banget pertanyaan lo,” balas Angkasa lalu pergi menempatkan buku-buku yang ada di meja ke rak-rak lemari tinggi yang ada di perpustakaan tersebut.
“Katanya lo temenan sama dia dari kecil, tapi kok lo seakan nggak tau apapun?” tanya Stella yang datang kembali ke tempat meja mereka sedari tadi duduk, Stella baru saja mengambil sebuah buku yang menurutnya cocok dengan bahasan mereka sekarang.
“Ntahlah, gue lupa. Gue benar-benar nggak ingat kalau Angkasa punya sifat seperti itu, atau gue yang lupa ya?” Stella mencerna pekataan Nayla dan ia sedikit memicingkan matanya dan memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Stella melihat sekelilingnya, lalu mengisyaratkan Nayla untuk mendekatkan telinganya. “Bisa ada tiga hal kemungkinan kalau kondisinya begini, bukan? Pertama, bisa jadi lo emang nggak pernah peka dan notis kalau Angkasa sebenarnya perfeksionis. Kedua, bisa jadi karena sikap Angkasa berubah oleh waktu dan pengalamannya, atau ia bukan Angkasa. Ketiga, bisa jadi lo lupa karena sudah memakan racun ciptaan Starlight School yang dimasukan ke makanan.”
Nayla dengan sangat lemot merespon ucapan Stella, ia berpikir dunianya sekarang seperti drama fantasi, tetapi mau bagaimana lagi? Hal yang dibilang Stella sangat mungkin terjadi, mengingat ia sekarang tinggal di tempat dimana kata mustahil itu hampir tidak ada disebutkan.
“Kayaknya yang ketiga deh, tapi yang kedua bisa jadi sih karena Angkasa belakangan ini sikapnya emang banyak berubah. Dan yang pertama? Itu juga kayaknya mungkin juga benar, karena gue emang kurang peka dan tidak pedulian.”
Stella menjauhkan kempali dirinya dari Nayla, ia bersandar pada kursi panjang berbahan kayu dan kapas, itu tentu saja membuat siapapun akan nyaman dan betah duduk berlama-lama di perpustakaan Kingdom.”Bisa saja semuanya terjadi, tetapi tetap aja itu hanya kemungkinan, dan gue emang random. Jadi nggak usah lo percayai kata-kata yang keluar dari mulut gue,”
“Dih, random apaan? Ucapan lo barusan logikanya main banget tau, gimana gue nggak percaya? Mana 60% benar lagi.” Nayla membuang napasnya kasar seraya menyandarkan kembali dirinya di bangku panjang berbentuk sofa tersebut.
Tidak lama setelah mereka membicarakan Angkasa, Angkasa kembali dari kegiatannya menyusun buku perpustakaan. “Sini lo cepat!” seru Nayla tidak sabar melihat sahabatnya yang terlalu lama tersebut.
Angkasa tida memperdulikan perkataan Nayla dan hanya tetap berjalan santai, kenapa? Karena Nayla yang terlalu lebay menyuruh Angkasa buru-buru, padahal jarak Angkasa ke tempat mereka berada hanya sekitar sepuluh langkah saja. Sebaik sampai di tempat, Angkasa duduk tepat di samping Nayla yang meliriknya dengan sinis.
“Napa lo?” celetuk Angkasa.
“Perlu ditanya?”
“Oh..”
“Kok lo jadi aneh sih Sa?”
Setelahnya mereka berdua hanya saling terdiam begitu juga dengan Stella yang bingung dengan keadaan mereka berdua. Bagaimana tidak? Beberapa hari yang lalu ia melihat kalau Angkasa dan Nayla sangat romantis, bahkan seperti lebih dari sahabat. Lihatlah sekarang, Stella hanya melihat sosok manusia yang emosional dengan satu sosok manusia yang tidak pedulian.
“Jadi sekarang kita bisa lanjut tidak?” tanya Stella yang membuat keduanya melirik Stella. “Ayo aja gue mah,” jawab Nayla. “Gue ngikut aja,” timpal Angkasa sembari membuka buku kecil yang baru saja diambilnya waktu membereskan buku-buku.
“Kalian udah dapat kesimpulan belum dari apa yang kami bicarakan kemarin?” tanya Stella langsung ke topik utama mereka. Ia perlu menanyakan hal seperti itu untuk mengetahui seberapa paham mereka.
“Sudah,” jawab Nayla tidak minat. Ia menjadi tidak bersemangat karena sikap aneh dari Angkasa.
“Apa itu?” tanya Stella kembali memperhatikan mereka berdua.
“Seperti yang kalian sebutkan, Starlight School mengendalikan pikiran siswa disini dengan menggunakan makanan yang sudah diberi obat buatan mereka, begitu bukan?” jelas Angkasa. “Tepat sekali, jadi kalian udah mengerti bukan harus melakukan apa?”
“Mencari bahan dasar dari obat tersebut dan menemukan penawar racunnya,” jawab Angkasa.
“Good, sekarang coba lihat berbagai macam tumbuhan langkah ini. Kemarin kami sudah tes obat yang dimasukkan ke makanan memiliki dosis yang sangat sedikit sampai sulit dideteksi, hal itulah yang membuat reaksinya cukup lama untuk benar-benar dapat memanipulasi otak manusia. Dan setelah coba esktrak makanan dengan banyak porsi, akhirnya kami mendapatkan zar-zat tumbuhannya. Dan semua yang gue tandai dengan lingkaran merah di buku inilah zat yang sama dengan obat itu.” Stella menunjukkan buku tebal kepada Nayla dan Angkasa. Mereka berdua melihatnya dengan baik-baik.
“Ini ... banyak sekali,” ungkap Nayla seraya membolak balik halaman per halaman buku.
“Jadi sekarang tugasnya, kalian cari tumbuhan mana yang sesuai dengan obat tersebut. Bagaimana? Bisa?” tanya Stella di akhir kalimatnya.
“Bisa kok, gue juga setiap hari gabut. Jadi, setidaknya dengan ini gue lebih bisa produktif,” ucap Stella.
“Daripada membuang waktu, mending langsung kita cari saja. Yuk Nay!” ajak Angkasa. Ia bangkit dari duduknya dan pergi keluar tanpa pamit sama sekali.
“Dia kenapa sih?” lirih Nayla.
“Mungkin ada masalah, udah lo ikutin aja dulu kemauan dia. Mungkin beberapa hari lagi dia bakal beruba kok,” saran Stella yang membuat Nayla cemberut. “Iya deh iya, gue coba dulu kalau gitu. Gue pergi dulu ya sama Angkasa, see u Stella!” seru Nayla lalu pergi mengejar Angkasa yang sudah sedari tadi keluar perpustakaan.
“Menarik,” gumam Stella dengan senyum tipisnya.
***
“Eh? Bukannya itu Angkasa?” gumam Xian yang melihat Angkasa menuruni tangga Kingdom ke lantai pertama. Xian yang bertanya-tanya pun menghampiri Angkasa yang berada di tangga dengan seorang cewek? Siapa? Ia tidak mengenalnya.
“Angkasa?” tanya Xian yang berada di belakang Angkasa. Angkasa berbalik dan memastikan siapa yang baru saja menyebut namanya, “Benar lo ternyata, ada hal apa lo datang kesini?” tanya Xian.
“Ada program kerja bareng sama Stella, kenapa?” tanya Angkasa balik. Nayla hanya memperhatikan mereka berdua berbicara tanpa minat bergabung, karena Nayla tidak mengenal siapa orang yangs edang diajak Angkasa berbicara. Nayla sedikit terpana sebenarnya, karena orang yang dilihatnya tersebut sangat tampan dan sangat beribawa.
“Oh program kerja. Gue lupa kasih tau lo, kalau Starzy dan lo ada sesi konseling secara pribadi dengan gue. Dan tinggal lo sendiri yang belum, mumpung lo ada di sini, bagaimana kalau langsung saja?”
“Yaudah dimana? Nayla, lo balik dulu gih sama Stella.”
“Iya-iya,” jawab Nayla dan berlalu pergi menaiki tangga kembali meninggalkan Angkasa dan sosok yang tidak dikenalnya itu.